
"Apa yang kau lakukan?." Evelyn mengerutkan keningnya.
"Ada apa memangnya?," jantung Devan sedikit berdebar takut Evelyn tahu rencananya dan mendengar pembicaraannya barusan.
"Kamu tidak pergi ke kantor lagi?." Devan menghela nafasnya lega.
"Sejak kapan kamu berdiri disana.. Kemarilah!" Evelyn berjalan mendekat ke arah Devan yang mendudukan dirinya di atas ranjang, menarik Evelyn agar duduk di pangkuannya.
"Baru saja." Evelyn melingkarkan tangannya di bahu Devan.
"Jadi bagaimana ada tempat yang ingin kamu datangi?" Evelyn mengangguk.
"Baiklah malam ini juga kita pergi."
"Kamu tidak tanya kemana?" Devan mengerutkan keningnya.
"Kemana pun kamu mau aku akan turuti." Devan mengecup bibir Evelyn.
"Berapa lama kita pergi?."
"Satu minggu cukup?." Evelyn mengangguk, ya itu cukup, setidaknya dia hanya perlu membuat Devan lengah lalu pergi diam- diam untuk mencari orang tuanya.
Evelyn beberapa hari ini selalu keluar untuk berbelanja, namun di sela- sela waktu Evelyn mencari tahu keberadaan orang tuannya, Evelyn menjumpai tetangga dekat rumahnya dulu dan bertanya.
Beruntung saat melihat Evelyn mereka langsung mengenali dan mau membuka mulut tentang keberadaan orang tuanya.
Mereka juga bercerita jika beberapa tahun lalu ada seorang pria yang mencari keberadaannya, dan Evelyn yakin itu adalah Devan.
Pria itu benar- benar mencarinya.
"Dia bahkan tak hanya sekali datang, maka aku katakan saja kalian pergi ke negara Xxx."
"Lalu kemana ayah dan ibuku pergi?" Evelyn menatap penuh harap.
"Italia, tepatnya di Roma, mereka juga beberapa kali menghubungi kami, lalu mengatakan alamatnya saat kami berkata akan berkunjung, namun hingga kini kami tidak punya kesempatan untuk pergi." Evelyn tak menyangka orang tuanya akan pindah ke negara yang cukup jauh.
Awalnya Evelyn pikir akan mengunjungi negara itu beberapa bulan lagi setelah kontraknya selesai dengan Devan, namun mengingat lagi Devan mengajak nya liburan bukankah itu kesempatan bagus untuk memastikan apakah benar orang tuanya ada disana.
Evelyn hanya akan melihat dari jauh dan memastikan kedua orang tuanya baik- baik saja.
Dia tidak berniat untuk muncul di hadapan mereka, rasa bersalah Evelyn saat dulu mengecewakan orang tuanya masih sangat dalam, Evelyn hanya perlu memastikan mereka baik- baik saja, lalu pergi.
Evelyn tersenyum, bisa saja dia menunggu hingga dia bebas dari Devan tapi tetap saja itu masih lama, dan Evelyn sudah tidak sabar untuk melihat orang tuanya.
Beruntung tetangga dekat mereka masih mengasihani Evelyn dan mau memberitahu tentang orang tuannya, dia juga tak banyak bertanya tentang Evelyn, dan dari yang Evelyn kira dia mungkin sudah tahu alasan Evelyn tak bersama orang tuanya.
"Bolehkah kita pergi ke Roma.." Devan kembali mengecup bibir Evelyn.
"Tentu." Kali ini Evelyn yang mengecup bibir Devan.
"Terimakasih." Devan tertegun mendapat kecupan di bibirnya, tersenyum lalu Devan kembali mengecup bibir Evelyn, kali ini lebih lama, kecupan yang perlahan menjadi ciuman dan menekan bibirnya lebih dalam.
"Kenapa berterimakasih aku yang mengajakmu pergi."
__ADS_1
Evelyn tersenyum dan membalas dengan membuka mulutnya lalu melummat bibir merah kehitaman milik Devan, tentu dia harus berterimakasih karena Devan membuatnya pergi ke Roma tanpa menunggu lama terbebas dari pria itu.
Devan semakin menekan Evelyn merapat ke arahnya dan mengeratkan pelukannya, meremas bookongnya dan menekan ke bawah hingga Evelyn bisa merasakan miliknya mulai mengeras.
"Oh, kamu mulai mengeras.." Evelyn menggoda dengan membisikan kata- kata ejekan.
Devan berdecak "Ciumanmu terlalu panas."
Evelyn terkekeh "Itu karena kamu terlalu mudah turn on.."
Devan mengangkat alisnya "Sungguh?" Evelyn mengangguk "Baiklah kita buktikan siapa yang paling tidak tahan godaan."
Tangan Devan mulai merambat menelusuri paha dan menyelinap memasuki rok yang di kenakan Evelyn.
Ciuman masih berlanjut hingga Devan meraba keindahan Evelyn di balik benda segitiganya dan membuatnya melunguh.
"Kamu sudah basah sayang.." Devan menyeringai saat merasakan kelembaban dalam keindahan Evelyn.
"Ah, ya.." Evelyn mendongak saat Devan menyerukan bibirnya karah leher Evelyn, sebelah tangan Devan masih bergerak lembut mengelus keindahan Evelyn, dan sesekali memasukkan jarinya membuat godaan hingga Evelyn mendessah..
"Oh, Dev.." Evelyn mencengkram punggung Devan.
"Jadi siapa yang lebih mudah tergoda?."
"Kamu.." Evelyn masih tak mau mengalah.
Sebelah tangan Devan yang awalnya menahan tubuh Evelyn mulai bergerak menelusup ke dalam kaos dan menggerakkannya semakin ke atas hingga menemukan dua benda yang Devan sukai, memainkannya sesuka hati dengan meremas dan mencubit ujungnya yang mulai mencuat dan mengeras.
Evelyn melengkung merasakan jari Devan yang memasukinya bertambah, pria itu memasukan dua jarinya menusuknya keluar masuk membuatnya tak bisa lagi menahan erangan dari rasa yang tercipta.
Merasakan tubuh Evelyn melemah, Devan membalik dirinya dan merebahkan Evelyn diatas ranjang, kedua jari besarnya masih bersarang di keindahan Evelyn hingga Evelyn benar- benar berhenti bergetar.
"Masih bilang tidak tergoda.."
Devan meluumat jarinya yang mengandung madu keindahan Evelyn dan mulai mengungkungnya.
Evelyn tersenyum, namun dia tetap menggeleng, sungguh melihat gerakan Devan meluumat jarinya membuat Evelyn merasakan kembali panas di seluruh tubuhnya, hingga kembali menginginkan lebih.
Devan terkekeh "Masih keras kepala hum?, kamu bahkan sudah menumpahkan cairanmu sayang."
Evelyn tertawa kecil "Tidak aku belum kalah."
Melepas segala penghalang hingga kini tubuh mereka polos sepenuhnya.
Tangan Devan kembali bergerak ke atas, mulai mengelus dari perut hingga berakhir remasan di dua benda kembar itu dan kembali memainkannya.
"Oh, Dev.." Devan menyeringai lalu menggoda keindahan Evelyn dengan menggesek dan menyapu bagian lembut itu dengan miliknya.
Gesekan itu menciptakan kenikmatan tersendiri membuat Evelyn mendessah saat bagian keras itu menyapu titik kecil di keindahannya.
"Ah.."
Devan memasukan miliknya namun hanya setengahnya dan membuat Evelyn mengerang tak puas "Dev?" Devan terkekeh lalu menarik diri sepenuhnya, sebelum memasukan kembali namun lagi- lagi hanya setengahnya "Kau mempermainkan aku Dev." Evelyn mengerang kesal saat di rasa Devan mempermainkannya.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan sayang, untuk membuatmu tergoda." Lagi- lagi Devan menarik diri.
"Oh, sial.."
Devan menatap Evelyn dengan raut tak bersalah dan membuat Evelyn semakin kesal saat Devan hanya menggesek dari luar keindahan itu.
"Devan kau..!" geramnya, Evelyn ingin merasakan kekosongannya terisi, yang benar saja Devan sudah membuatnya basah dan berkedut namun pria itu hanya mempermainkannya.
"Apa?"
"Masukan dengan benar!" Devan terkekeh lalu tanpa aba- aba memasukan seluruh miliknya pada keindahan itu, membuat Evelyn tiba- tiba memekik terkejut.
"Dev sialan.." pekiknya saat merasakan sesuatu menusuknya tiba- tiba, namun Evelyn merasakan dirinya yang penuh membuat keindahannya di dalam sana semakin gatal karena Devan tak juga bergerak.
"Bergeraklah Dev sebelum aku yang memimpin." Evelyn tahu Devan paling tidak suka di kuasai, dan dari sekian banyak percintaan yang mereka lakukan hanya beberapa kali saja Devan membiarkan Evelyn mengusainya. Devan terkekeh lalu menarik dan menekannya keras namun dengan gerakan lambat.
"Masih belum mengaku kalah?."
Gesekan antara kelembutan itu membuat Evelyn tak tahan dan menginginkan lebih "Lebih cepat Dev."
"Kau yakin..?"
"Ya, lakukan lebih cepat."
"Seperti yang kamu inginkan sayang" Devan mempercepat gerakannya maju mundur dengan keras dan kuat hingga Evelyn terpekik sekaligus mendeesaah.
"Dev.. Oh.."
"Apakah sakit?" Evelyn menggeleng, ini sangat nikmat dan membuatnya gila, Devan memacunya dengan keras dan cepat, hingga beberapa saat kemudian Evelyn melenguh dan mencengkram punggung Devan.
"Sudah mengaku kalah..?" Kali ini suara Devan semakin serak karena kenikmatan yang tercipta, keindahan Evelyn berdenyut kencang seolah menjepitnya menandakan wanita itu baru mendapat pelepasannya.
Evelyn menggeleng..
"Oh, Eve.." Devan menggeram melihat wanita di bawahnya tak juga mengaku bahkan baru saja dia memohon agar Devan melakukan lebih.
Namun kali ini Devan tak peduli, yang terjadi adalah dia mengejar untuk mendapatkan pelepasannya, hingga beberapa saat kemudian gerakan Devan semakin gila dan cepat seiring desakan yang merambat mengaliri setiap syarafnya dan menyembur begitu dahsyat memenuhi keindahan Evelyn, bertepatan dengan Evelyn yang juga melenguh panjang menandakan dia mendapatkan pelepasan ketiganya, ya sudah tiga kali.
Devan mendongak dan menatap Evelyn yang memejamkan mata merasakan lemas di seluruh tubuhnya.
Devan mencium lembut bibir Evelyn hingga mata itu terbuka "Sudah mengaku kalah..?"
Evelyn menggeleng lemah, "Ayolah sayang tiga banding satu, itu artinya kamu kalah."
"Tidak, nilai tiga lebih besar dari pada satu kau tidak bisa berhitung.." katanya dengan nafas yang masih terengah.
Devan tertawa, dan kembali mencium bibir Evelyn "Ya, baiklah aku kalah." lalu mereka tertawa bersama, dengan sisa- sisa tenaga yang terkuras.
Dan sepertinya perumpamaan jika 'Wanita selalu benar' itu benar adanya.
"Merasa lebih baik?" Evelyn mengelus pipi Devan.
"Ya, terimakasih sudah menghiburku." Devan memeluk Evelyn dan membenamkan Evelyn di dadanya.
__ADS_1
...
Maaf akhir- akhir ini aku kecapeen gara- gara jadi kuli bangunan dadakan🤭 hingga akhirnya tubuhku tumbang, semoga setelah pulih nanti aku bisa kembali doble up, paling tidak doble up, sekali lagi maaf aku gak bisa crazy up, apalah daya ibu anak tiga ini sibuk banget apalagi sekarang nyambi jadi kuli bangunan, jadi mandornya maksudnya 😅.