
Devan mengerjapkan matanya saat merasakan tak ada Evelyn di dekapannya, Devan mengeryit melihat jam digital di atas nakas menunjukan pukul dua, kemana Evelyn di jam dua malam.
Devan mendudukan dirinya dan melihat Evelyn duduk di balkon kamar, dinding balkon yang terbuat dari kaca membuat Devan bisa melihat Evelyn yang bersandar di kursi santai sambil menyesap sebatang rokok, menurunkan kakinya bergerak ke arah balkon dimana Evelyn berada.
Melihat Evelyn hanya menggunakan kain tipis sebagai penutup tubuhnya membuat Devan meraih selimut dan melanjutkan langkahnya.
"Diluar sangat dingin, sayang." Evelyn menoleh dan melihat Devan yang menyampirkan selimut di bahunya.
Evelyn tak menggubris dan kembali menyesap rokoknya.
Devan menghela nafasnya "Sejak kapan kamu merokok?"
Evelyn bergumam "Emmh sepertinya dua tahun yang lalu.." Saat itu Evelyn sangat terpuruk ketika Damian meninggal, dan untuk pertama kalinya Evelyn melangkah lebih jauh merokok, mabuk, dan mulai belajar pole dance, sesuatu yang Evelyn anggap bisa membuatnya lupa akan kehilangannya.
Devan tahu saat itu Evelyn kehilangan anak mereka dan Devan yakin Evelyn yang hanya seorang diri membutuhkan pelarian untuk melupakan kesedihannya.
"Jangan terlalu banyak merokok, itu tidak baik." Devan mengambil satu batang rokok Evelyn di atas meja, lalu menyulutnya.
Evelyn mengangkat alisnya "Anda melarangku, tapi anda sendiri merokok."
"Aku bilang jangan terlalu banyak.."
Evelyn mendengus.
Devan terkekeh "Apa kamu selalu bicara formal pada semua pria.."
"Tidak juga.."
"Lalu kenapa kamu melakukannya padaku.." Devan meniup asap ke udara "Kamu takut?"
"Takut?"
"Takut, terpesona lagi padaku, makanya kamu membentengi dirimu, benar?"
Evelyn cemberut, dugaan Devan memang benar "Dan itu berarti tidak sepenuhnya rasa benci menutup hati kamu.." Devan tahu dia masih punya kesempatan.
Evelyn diam, tangannya yang memegang rokok mulai sedikit gemetar.
"Aku tidak."
"Jika begitu buktikan, jika kamu ingin aku seperti para pria itu, bersikap padaku seperti kamu memperlakukan mereka dan aku tidak suka di panggil tuan oleh kekasihku."
__ADS_1
"Kekasih.?" Evelyn rasanya ingin tertawa.
Hanya beberapa kali sesapan Devan menekan rokoknya ke asbak "Masuklah, disini dingin.!" Ucapan itu sarat akan perintah, terlihat dari Devan yang mengambil rokok di tangan Evelyn dan mematikannya. Devan tak ingin merubah suasana yang sudah mulai cair menjadi beku kembali, dan jangan biarkan Evelyn semakin membuat dinding pemisah yang semakin tebal.
Devan memeluk pundak Evelyn dan menggiringnya kembali ke dalam kamar.
"Rokokku belum habis.." Evelyn mengeluh, padahal Evelyn hanya ingin menghindari Devan agar tidak tidur bersama.
Jika tadi mereka bercinta hanya untuk memenuhi tanggung jawabnya, tapi untuk tidur sepanjang malam dalam dekapan Devan membuatnya takut.
Takut terbiasa dengan pelukan hangat itu dan semakin nyaman hingga akhirnya Evelyn berat untuk pergi karena terkurung perasaannya.
Benar memang perkiraan Devan, Evelyn takut.
Tapi bukankah wajar jika Evelyn takut, takut terjerumus lagi ke lubang yang sama, dimana disana ada luka.
Devan menggiring Evelyn ke arah ranjang, dan memastikan Evelyn berbaring lalu menyelimutinya.
"Tidurlah," Devan mengecup dahi Evelyn lalu duduk di tepi ranjang.
"Apa yang kau lakukan, kau tidak ingin tidur?"
"Menunggumu tidur, setelah kamu tidur baru aku akan tidur."
"Ini sudah malam, tidur saja.. kenapa harus menungguku.." Evelyn berkata lebih seperti gumaman namun masih terdengar oleh Devan.
Devan terkekeh "Okay.." Devan berjalan ke arah samping dan membaringkan tubuhnya, hingga kini nampak Evelyn yang berbaring ke arahnya.
Devan tersenyum dan mengelus pipi Evelyn.
"Kau menginginkan aku lagi.."
"Apa aku harus mengatakan itu agar kamu tetap tidur denganku."
"Tidak, hanya saja.. bukankah aku harus selalu siap kapanpun kau mau."
Devan menghela nafasnya "Kamu tahu aku selalu menginginkan kamu, karena itu aku mengikatmu, tapi aku tidak mungkin membuatmu kesakitan dengan milikmu yang bengkak."
Evelyn tertawa.. benar mereka bahkan melakukannya beberapa kali hingga lelah miliknya bahkan terasa membengkak "Baiklah jika begitu aku akan tidur nyenyak."
"Hmmm tidurlah.!"
__ADS_1
Evelyn memejamkan matanya, meski sebenarnya jantungnya berdebar kuat berusaha bersikap biasa saja di depan pria yang kita benci itu sangat sulit, namun Evelyn berusaha tetap tenang dan menyimpannya rapat, entah akan selama apa waktu dua tahun berjalan.
.
.
Evelyn duduk di kursi makan, dan kali ini dia tak hanya sendiri, di depannya Devan sedang memasang serbet dan siap untuk makan.
Melihat apa yang di lakukan Devan sekarang ternyata pria itu sudah banyak berubah, jika dulu mereka makan bersama di apartemen Devan, mereka hanya makan seperti biasa tanpa perlu terlihat anggun atau sopan.
Tapi di hadapannya sekarang Devan bahkan sepertinya tak akan membiarkan makanan meleleh ke sudut bibirnya saking anggunnya, dan yang Evelyn lihat penampilan Devan juga semakin dewasa.
"Kamu tidak suka makanannya?" melihat Evelyn yang hanya diam membuat Devan mengira jika menu yang ada di depannya bukan kesukaannya. Evelyn mengangkat alisnya, lalu menggeleng dan mulai menyuapkan makanannya.
Menurutnya cara makannya sudah sopan seperti biasanya, dia juga pernah makan di resto mewah meski hanya di traktir penyewanya, tapi Devan masih menatapnya dan berkata "Aku akan meminta seseorang untuk mengajarkan table manner padamu." Devan mengusap sudut bibir Evelyn dengan jarinya, Evelyn baru beberapa kali menyuapkan makanannya tak menyadari ada saus disana. "Jangan salah faham, aku bukan tidak suka cara makanmu, tapi jangan tunjukan itu di depan orang lain.. jika tidak mereka akan melakukan apa yang aku lakukan." Devan memasukan jarinya ke dalam mulut dan melu matnya.
Evelyn tertegun melihat bibir Devan yang menyeringai. "Untuk apa? aku juga tidak akan menghadiri jamuan makan yang memerlukan table manner.."
"Siapa bilang?" Evelyn mengerutkan keningnya "Suatu saat kamu akan membutuhkannya, dan lagipula aku sudah katakan, jangan makan seperti ini di depan orang lain, kamu tahu kamu terlihat menggemaskan"
Evelyn mendengus tak percaya dengan kata- kata Devan "Orang yang melihat cara makanmu seperti sekarang tidak akan percaya, jika kamu baru saja bicara manis padaku."
Devan terkekeh "Aku memang melakukannya hanya padamu, sayang."
Evelyn menghela nafasnya setiap kali mendengar kata- kata Devan dia seolah sedang kembali ke masa lalu, dimana pria itu memperlakukannya sangat manis dan lembut.
Lalu tiba- tiba terlintas di benaknya apa yang Devan lakukan dulu adalah tipu daya agar menjeratnya, lalu pria itu melakukan hal yang sama sekarang agar Evelyn tak mampu lagi untuk pergi.
Evelyn tertawa dalam hati, dan seperti apapun perasaannya kelak Evelyn tetap akan pergi.
Meskipun Evelyn kalah dalam perasaannya dia ingin tetap pergi.
Intinya seperti apapun Devan berusaha itu akan percuma.
Bagi Evelyn ini semua terlalu fana.
Tapi Evelyn tidak tahu jika tidak akan semudah itu dia pergi, karena kali ini Devan benar- benar mengikatnya sangat kencang.
"Bolehkah aku pergi jalan- jalan.."
"Hmm tentu, aku akan mengantar kemanapun kamu mau.."
__ADS_1
....