Kisah Belum Usai

Kisah Belum Usai
Bukan Aku


__ADS_3

"Benar, aku sangat tersanjung, tapi demi hadir disini aku baru saja membeli 6% saham milik tuan Anderson."


"Jadi sebenarnya kehadiranmu memang tidak penting, tujuanmu sejak awal memang tidak baik, kau pikir aku tidak tahu yang kau lakukan, seharusnya aku bahkan tidak datang padamu."


Devan berdiri memotong ucapan Willy, "Jadi begini saja, selama tiga tahun aku menjabat, apa aku membuat kantong kalian kering?." Devan beralih menatap para pemegang saham.


"Bahkan penghasilan kalian terus meningkat bukan?, jadi silahkan saja aku akan keluar dengan senang hati, tapi adakah yang bisa melakukan apa yang aku lakukan selama 4 tahun ini, kalian pikir aku sapi perah kalian, yang setelah kalian perah susunya bahkan kalian masih menyembelihku. Dan ingat aku dan keluargaku masih pemegang saham terbanyak, jadi semestinya tak perlu ada drama macam ini, perusahaan ini juga masih menggunakan nama besar kami, tangan dingin turun temurun kami yang membesarkannya, apa jadinya jika nama itu sendiri kami cabut, kalian tidak akan dapat apa- apa, dan saat itu terjadi aku tidak akan mau menginjakkan kakiku disini lagi." semua hening tak ada yang berani bicara, tiba- tiba mereka menjadi takut apa yang di katakan Devan terjadi, benar memang, selama Devan bekerja mereka bahkan semakin kaya. "Baru terpikir?." rahang Devan mengeras meluapkan segala amarah yang sejak tadi di tahannya, apalagi melihat Willy hanya tersenyum membuat nafas Devan terus memburu.


Evelyn menyentuh tangan Devan dan meremasnya pelan, mencoba untuk menenangkan amarah Devan.


Devan menoleh dan seketika menghela nafasnya, benar harusnya dia tak perlu marah. "Maaf sayang.." semua orang yang sejak tadi penasaran dengan kehadiran Evelyn mulai saling menerka siapa wanita pemilik 15% saham perusahaan ini, tidak hanya cantik wanita ini juga bisa membuat Devan seketika tenang.


Orang tua Devan saling memandang melihat putra mereka meluapkan emosinya, benar memang selama hampir 4 tahun Devan menjabat bukan hanya membuat para pemegang saham makin kaya, tapi Devan juga semakin mensejahterakan keluarganya, namun bukannya bersyukur mereka justru ingin terus meraup untung lebih dengan menjodohkan Devan dengan Diana.


Mariane melihat Evelyn yang memang wanita itu sangat cantik, tak hanya itu ternyata Evelyn mampu menenangkan hati Devan, pantas saja Devan sangat ketergantungan dengan Evelyn dan tergila- gila hingga menentang orang tuanya.


Mariane menghela nafasnya, mengingat bahwa Evelyn adalah seorang wanita panggilan, tapi Evelyn melakukan itu juga bukan karena kesenangan atau bahkan demi kemewahan, namun untuk anaknya, yang jika saja dia masih hidup tentu saja dia adalah cucunya.. Sesuatu yang sebenarnya Mariane inginkan, bagaimana tidak Devan adalah putra satu- satunya, tentu Mariane ingin Devan segera memiliki keturunan.


Tatapan Mariane yang sejak tadi tajam kini mulai melembut, apakah jika dia ada di posisi Evelyn dia akan kuat, tapi Evelyn berhasil melewati meski dengan hutang yang bertumpuk hanya untuk putranya, tidak ada yang membenarkan memang mencari uang dalam jalan yang salah, tapi tempatkan posisimu dimana tak ada pilihan lainnya, dan kamu hanya hidup seorang diri.


"Bisakah saya bicara dengan anda tuan Willy.." Devan mengeraskan rahangnya mendengar ucapan Evelyn, Devan sudah melarang Evelyn untuk berhubungan lagi dengan Willy, tapi kenapa Evelyn malah ingin bicara dengan Willy.

__ADS_1


Willy menyeringai "Tentu.." melihat tatapan Devan yang seolah ingin menelannya hidup- hidup, Willy yakin Devan sudah tahu tentang dirinya yang pernah menjadi penyewa Evelyn.


....


"Jadi apa yang kau inginkan sebenarnya?." saat mereka kini hanya berdua, Evelyn langsung bertanya tanpa basa- basi, "Kau ingin menghancurkan hidupku?"


Willy mengeryit "Mengapa bicara begitu.."


"Tentu saja, kau ingin aku menjauh dari suamiku bukan, maka itu artinya hidupku juga akan hancur."


"Katakan lah, jika perlu umumkan pada semua orang jika aku adalah mantan pel acur."


Willy menaikan alisnya "Sejak awal bukan itu niatku Eve.."


Willy terkekeh "Kau mencintainya?, bahkan setelah luka yang dia berikan lima tahun lalu?"


Evelyn mendengus "Tentu saja, dan Devan sudah berusaha memperbaiki semua kesalahannya.."


"Anakmu tidak akan kembali meski Devan berubah.." Evelyn menunduk dan memejamkan matanya.


"Benar, tapi anakku juga pasti ingin Ibunya bahagia.. Dan Dev berjuang meski aku terus menolaknya, dan kau tahu meski aku mencoba menghapus cintaku, menutupnya dengan kebencian perasaan itu tidak hilang, aku mencintainya."

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu, aku juga akan berjuang.." Willy mengepalkan tangannya.


Evelyn menggeleng "Kamu tidak mencintaiku," Evelyn menunjuk mata Willy, "Tidak ada cinta untukku disana."


"Bagaimana kamu tahu?," tatapan Willy begitu lembut, seolah mengatakan jika apa yang di katakan Evelyn salah, menunjukan bahwa ada cinta disana.


"Kamu hanya melihat istrimu.." Willy tertegun "Obsesi kamu memilikiku, hanya karena aku memiliki wajah yang mirip dengannya."


"Bagaimana kamu tahu, kamu bahkan tidak tahu seperti apa rupanya." Willy masih berusaha menyangkal, meski jantungnya kini berdebar kencang.


"Kamu tahu, saat kamu melihatku seolah kamu sudah mengenalku sangat jauh, padahal kamu melihat orang lain. Bagaimana mungkin ada pria yang hanya sekali bertemu dengan serius langsung memintanya menikah, lalu saat makan malam aku melihat sebuah foto terpajang, dan aku yakin dia adalah istrimu.." Itu alasan Evelyn sebenarnya mengajak Devan pulang dengan cepat, sebab dia tahu jika Willy memiliki obsesi padanya karena mirip wanita yang terpajang di ruangan itu, Evelyn tidak bermaksud masuk saat itu namun, melihat pintu sedikit terbuka membuatnya tiba- tiba penasaran hingga Evelyn melihat foto yang mirip dirinya disana, saat itu Evelyn tak bisa berpikir jernih, karena takut dengan ancaman yang Willy berikan padanya, namun setelah di telisik lagi benar, ini adalah alasan Willy sebenarnya. "Apa yang kau lihat dari Eve si wanita panggilan adalah orang lain, dan jelas aku yang sebenarnya bukan seseorang yang kamu sebut sebagai cinta, kamu tertarik pada wanita yang jelas bukan aku.."


"Aku menyadarinya, saat menatap Devan, tatapan itu tak pernah berubah sejak dulu, hanya saja saat itu dia belum memahaminya, seperti kamu..


Kamu juga akan memahaminya saat melihat orang yang benar- benar kamu cintai kelak, dan orang itu bukan aku."


Willy menunduk membenarkan, sejak awal Evelyn mengatakan orang itu bukan dirinya bahkan jika pun dia ingin, karena Evelyn hanya akan menjadi bayangan istrinya yang telah tiada.


"Aku sangat mencintai Devan.. Setelah sekian lama aku tidak berani bermimpi, kali ini aku ingin mimpiku jadi kenyataan, hidup bahagia bersama orang yang aku cintai.., meski mungkin kelak ada pria lain yang akan mengaku pernah tidur denganku.." Evelyn menunduk meneteskan air matanya, sudah Evelyn katakan itu sebuah noda yang tak akan hilang, tapi untuk kali ini bolehkan dia egois untuk bisa bahagia.. "Tapi aku berharap Devan terus bersamaku.."


Willy tersenyum lalu melihat ke arah Devan "Dia pasti akan terus bersamamu.. Kau menang tuan Devan." Devan yang sejak tadi berdiri di depan pintu yang sengaja di buka, masih tertegun dengan apa yang baru saja Evelyn katakan, dia sejak tadi memang mengawasi Evelyn dan Willy, karena itu syarat Devan mengijinkan Evelyn bicara dengan Willy.

__ADS_1


Devan berjalan tegap ke arah Evelyn lalu memeluknya "Tentu.. Aku akan terus bersamamu.." Evelyn menangis memeluk Devan dengan erat.


Willy menghela nafasnya, lalu berniat pergi, namun saat akan mencapai pintu perkataan Evelyn menghentikannya "Cobalah buka hatimu, Will. Aku yakin kamu akan menemukan cintamu." Willy tersenyum lalu melanjutkan langkahnya, tanpa membalas kata- kata Evelyn, dia sudah kalah.


__ADS_2