
Arkan tidak kunjung bertemu dengan Luna dan Lula. Ia akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah. Tapi ia tidak pulang ke rumah nya dengan Windy melainkan pulang ke rumah nya dan Luna.
Arkan menatap rumah yang sepi itu. Tak ada suara Lula dan Luna yang biasa ia dengar. Arkan berjalan ke arah sudut foto di mana foto mereka bertiga di pajang kan. Di ambil nya foto tersebut lalu di peluk nya dengan erat.
"Kalian di mana aku rindu. Kenapa kalian tinggalin aku. Aku minta maaf karena telah mengabaikan kalian." Arkan berucap sendiri sambil menatap foto mereka bertiga.
Tak terasa air mata nya jatuh tepat di depan foto tersebut. Ia tak bisa menahan nya lagi, orang yang selalu membuat nya bahagia sekarang sudah pergi meninggalkan nya.
Setelah puas melihat foto itu, Arkan meletakkan nya kembali di tempat ia mengambil nya. Ia kemudian masuk ke kamar Lula. Di buka nya pintu dengan perlahan lalu ia duduk dan mengambil boneka beruang kesayangan Lula.
"Lula sayang Papa rindu. Lula di mana, kenapa Lula tinggalin Papa." Arkan berucap sendiri sambil memeluk boneka kesayangan Lula.
Arkan beranjak dari duduk nya ia kemudian keluar dari kamar Lula. Dan naik ke atas ke kamar nya dan Luna. Di buka nya pintu dengan perlahan di lihat nya sekeliling tak ada Luna yang biasa menyambut nya saat ia pulang bekerja.
Arkan duduk di kursi rias Luna. Di tatap nya dirinya di cermin.
"Apa aku sejahat ini sampai-sampai kamu tega meninggalkan aku. Aku minta maaf karena aku menikah lagi. Aku tau aku salah tapi tolong jangan pergi tinggal kan aku." ucap Arkan ia kemudian menumbuk cermin dengan tangan nya dan hal itu membuat cermin nya pecah hingga tangan nya berdarah.
"Kenapa kalian tinggalin aku." teriak Arkan
Di saat itu handphone nya berbunyi di ambil nya handphone tersebut lalu di angkat nya.
"Ada apa?" tanya Arkan emosi
"Mas, kamu di mana kenapa belum pulang?" tanya Windy
__ADS_1
"Aku di rumah Luna." jawab Arkan mendengar Arkan berada di rumah Luna, membuat Windy kesal di buat nya.
"Kamu pulang Mas sekarang atau aku yang ke sana." ucap Windy
"Terserah!" jawab Arkan lalu mematikan telepon nya.
Windy yang telepon nya di mati kan oleh Arkan merasa kesal. Ia kemudian mengambil tas dan pergi ke rumah Luna menyusul Arkan.
Windy yang tiba di rumah Luna langsung masuk. Di lihat nya sekeliling Arkan tidak ada di sana.
"Mas, kamu di mana? Kenapa sepi sekali rumah ini, kemana Luna? Windy berucap sendiri sambil menaiki tangga menuju kamar Arkan dan Luna.
"Mas, kamu di dalam?" tanya Windy namun tak ada jawaban dari dalam kamar. Karena penasaran Windy akhirnya membuka pintu, di lihat nya sosok Arkan yang duduk lemah dengan tangan yang berdarah.
"Mas Arkan kamu kenapa bisa begini?" tanya Windy kaget karena melihat Arkan yang sudah terduduk lemas di sandaran ranjang.
"Jadi kamu nuduh aku. Bukan nya kamu yang ngajak aku menikah? Kenapa jadi aku yang kamu salahin?" tanya Windy emosi
"Iya ini semua gara-gara kamu. Coba aja dulu kamu gak menggoda aku, semua nya gak akan seperti ini." jawab Arkan kemudian ia keluar dari kamar meninggal kan Windy yang masih kesal dengan nya.
"Sial! Jika begini jadi nya aku gak akan bisa minta uang seratus juta sama Mas Arkan. Aku harus cari cara agar Mas Arkan tidak marah lagi sama aku." ucap Windy ia kemudian keluar mengejar Arkan.
"Mas stop aku belum selesai bicara sama kamu." teriak Windy namun Arkan tak memperdulikan nya.
Sementara itu di tempat lain Luna sedang berbahagia karena ia bisa berkumpul lagi bersama keluarga nya.
__ADS_1
"Lula sayang Lula kenapa makanan nya gak di habis kan?" tanya Luna dan membuat semua nya menatap ke arah Lula.
"Iya kok makan nya gak di habisin sih sayang, kenapa, makanan nya gak enak ya?" tanya Rahma
"Enggak kok, makanan nya enak. Biasanya Lula makan bareng Papa tapi sekarang udah enggak lagi. Lula kangen sama Papa." jawab Lula dengan wajah sedih.
"Udah ya Lula stop! Mama gak mau lagi Lula sebut Papa. Dia bukan Papa kamu lagi!" ucap Luna membuat Lula menatap Luna takut.
"Mama jahat sama Lula. Mama gak sayang Lula, Mama sama aja kayak Papa." ucap Lula kemudian ia beranjak dari kursi dan pergi.
Rahma menatap Luna tajam. Ia kemudian pergi menyusul Lula meninggalkan ruang makan. Luna yang menyadari diri nya itu salah ikut menyusul Lula.
"Nenek kenapa Mama bilang seperti itu sama Lula? Mama sama Papa mau pisah ya Nek?" tanya Lula
Rahma terdiam ia tak tau bagaimana cara menjelaskan nya kepada Lula bahwa Mama sama Papa nya mau berpisah.
"Nenek gak tau sayang, nanti Nenek tanya sama Mama ya. Oh iya gimana kalau kita besok pergi jalan-jalan nanti kita beli es krim. Nanti Nenek ajak Kakek sama Tante Selly biar jalan-jalan nya lebih seru." ucap Rahma dan itu membuat Lula tersenyum senang mendengar nya.
"Beneran Nenek mau ajak aku jalan-jalan?" tanya Lula antusias
"Iya Lula mau kan, jalan-jalan sama Nenek, Kakek dan Tante Selly?" tanya Rahma lagi
"Iya Lula mau. Asyik jalan-jalan." jawab Lula dengan lompat-lompat kegirangan.
Luna yang tadi ingin menyusul Lula langkah nya terhenti tepat di depan pintu kamar mereka. Ia tidak jadi masuk ia hanya menatap Lula yang sedang berbicara dengan Mama nya. Ada rasa sakit di hati nya saat Lula menanyakan kepada Nenek nya tentang dirinya yang mau pisah dengan Arkan. Sebenarnya ia masih cinta sama Arkan tapi, karena pernikahan yang di lakukan Arkan bersama wanita lain membuat dirinya sakit hati. Ia sudah tidak sanggup lagi hidup berdua dengan Arkan.
__ADS_1
"Maafkan Mama ya sayang, gara-gara Papa dan Mama kamu jadi begini. Mama janji akan selalu bahagiain kamu." ucap Luna tak terasa air matanya menetes dengan cepat ia menghapus nya karena ia tak mau Lula melihat nya.
bersambung