
Mobil Luna tiba di rumah orang tuanya bersamaan dengan Tania yang juga pulang bersama suami nya.
Luna turun dari mobil ia menghampiri Kakak nya yang masih berada di depan teras.
"Hai Kak, baru pulang?" tanya Luna
"Iya nih, oh iya kenal kan ini Dio suami Kakak kamu pasti belum kenal kan sama dia." Tania memperkenalkan Dio suami nya pada Luna. Karena saat Luna pulang ke rumah Dio tidak ada dia pergi ke luar kota urusan pekerjaan nya.
Luna mengulur kan tangan nya. "Salam kenal Kak, aku Luna." ucap Luna
Dio menjabat tangan Luna " Salam kenal juga, aku Dio." jawab Dio dengan tersenyum menatap Luna.
Setelah selesai berkenalan mereka pun masuk ke dalam. Di ruang tengah keluarga sedang berkumpul. Lula sedang main boneka bersama Selly sementara Bayu dan Rahma menonton televisi.
"Assalamu'alaikum." ucap Luna
"Waalaikumsalam." jawab Bayu dan Rahma bersamaan
Lula yang sedang asyik main langsung menghampiri Luna dan memeluk nya dengan erat.
"Ma, tadi seru deh aku tadi pergi ke taman sama Nenek, Kakek dan Tante Selly. Terus aku di beli kan es krim sama Tante Selly. Terus tiba-tiba ada Tante Windy datang. Kata Tante Windy dia udah pisah sama Papa. Apa itu benar Ma? Berarti kalau Tante Windy udah pisah sama Papa, kita bisa tinggal lagi dong bersama Papa." cerita Lula pada Luna. Namun saat Luna menyebut nama Windy seketika wajah nya dia berubah. Niat hati ingin merahasiakan semua nya pada Lula kalau Papa nya sudah pisah sama Windy. Tapi, Lula sudah tau duluan.
"Lula sayang, dengerin Mama ya, walaupun Papa udah pisah sama Tante Windy kita juga tetap tidak bisa tinggal sama Papa." jelas Luna dan hal itu membuat Lula sedih karena impian nya untuk tinggal bersama Papa nya lagi tidak bisa.
"Tapi kenapa Ma?" tanya Lula
Luna menatap Lula dengan wajah bingung ia gak tau harus bagaimana menjelaskan pada Lula.
Sementara itu keluarga nya hanya menatap kedua Ibu dan anak itu berbicara. Tak ada satu pun yang ikut bicara. Mereka hanya mendengar saja.
__ADS_1
"Karena Mama sudah tidak cinta lagi sama Papa." jawab Luna bohong sebenarnya dia masih cinta sama Arkan. Tapi karena pengkhianatan yang di lakukan Arkan membuat Luna sakit hati dan tidak bisa menerima Arkan lagi di hidup nya.
"Mama jahat Mama gak sayang sama Lula. Lula benci Mama. Gara-gara Mama sama Papa Lula di ejek sama temen-temen. Lula gak mau ngomong sama Mama." ucap Lula dengan menangis kemudian ia pergi masuk ke kamar meninggal kan Luna yang terdiam karena ucapan dari Lula barusan.
Luna berjalan ke arah sofa ia kemudian duduk di sana. "Maafkan Mama Lula gara Mama sama Papa kamu jadi di ejek sama teman sekolah kamu." ucap Luna dengan tangis pecah.
Rahma mendekat ke arah Luna ia kemudian memeluk anak bungsunya itu. Rahma tau bagaimana perasaan Luna saat ini.
"Sayang udah jangan nangis lagi. Mama yakin semuanya akan baik-baik aja. Soal Lula nanti biar Mama yang bicara sama dia." Rahma berusaha menenangkan Luna.
"Iya Ma. Oh iya apa benar yang di katakan Lula tadi, kalau dia di ejek sama teman-teman nya?" tanya Luna pada Mama nya
"Iya sayang, tadi Lula juga cerita sama Mama. Kata teman-teman nya Lula tidak punya Papa." jawab Rahma
Luna menangis dengan terisak-isak ternyata perpisahan antara dia dan Arkan, bukan hanya dia yang terluka tapi Lula juga.
"Maafin Mama sayang." ucap Luna dalam hati
...----------------...
Arkan turun dari mobil nya ia masuk ke dalam rumah yang tidak begitu besar itu. Di dalam seorang pelayan sudah menunggu nya. Arkan menghempaskan tubuh di sebuah sofa yang ada di ruang tengah itu.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya sang pelayan pada Arkan.
"Bawa kan saya minuman yang segar dan jangan lupa cemilan nya juga." jawab Arkan dan sang pelayan mengangguk ia pun pergi ke dapur membuat kan apa yang di minta Arkan.
Arkan mengambil handphone nya di saku ia kemudian menelpon seseorang.
"Aku mau kamu besok kamu ke sekolah Lula dan kamu ajak dia ke sini." ucap Arkan
__ADS_1
"Baik Bos!" jawab seseorang di seberang sana
Arkan kemudian mematikan telepon nya. Ia lalu menyalakan tv dan duduk santai sambil menunggu pelayan mengantar kan minuman dan cemilan untuk nya.
"Luna jika kamu tidak mau kembali sama aku, kamu juga tidak boleh hidup bersama dengan Lula. Karena mulai besok Lula akan tinggal bersama aku." ucap Arkan seorang diri
Tak lama kemudian sang pelayan mengantar kan apa yang di minta oleh Arkan.
"Ini Pak minuman dan cemilan nya." ucap sang pelayan dengan meletakkan minuman dan cemilan tersebut di atas meja.
"Iya makasih." jawab Arkan dan sang pelayan pergi meninggalkan Arkan.
Luna berusaha membujuk Lula supaya Lula, mau bicara dengan nya. Tapi usaha yang di lakukan Luna tidak berhasil. Luna akhirnya menyerah ia membiarkan Lula yang masih marah pada nya. Luna keluar dari kamar nya ia kemudian duduk di ruang tv.
Di saat ia lagi santai seseorang datang dan duduk di samping nya.
"Lula masih marah sama kamu?" tanya Dio yang sudah duduk di samping nya.
"Iya Kak. Lula masih tidak mau bicara sama aku." jawab Luna tanpa melihat ke arah Dio
"Kalau Kakak boleh saran sih mending kamu balikan aja sama suami kamu. Kakak kasian lihat Lula." saran Dio dan Luna langsung menatap Dio yang berada di samping nya.
"Aku gak bisa balikan lagi sama Mas Arkan. Dia udah bikin hati aku sakit. Apa yang di lakukan Mas Arkan sudah membuat aku sakit hati." jawab Luna dengan nada sedih
"Apa kamu gak kasian sama Lula? Lula masih kecil dia masih butuh Papa nya Kamu harus dengar kan apa kata hati kamu. Pikir kan Lula saat ini dia butuh sosok Papa yang selalu ada di dekat nya." ucap Dio dan apa yang di kata kan Dio membuat Luna terdiam. Dia harus pikir kan Lula, Lula masih kecil dia masih butuh sosok Papa di hidup nya.
"Makasih Kak, atas saran nya aku ke kamar dulu." ucap Luna dan pergi masuk ke kamar nya.
Luna berdiri di tepi ranjang di lihat nya Lula yang sudah tertidur pulas. Ia kemudian mendekat dan merebahkan tubuh nya di samping Lula. "Maafkan Mama Lula, Mama belum bisa jadi orang tua yang baik buat kamu. Mama janji akan selalu bahagia kan kamu." ucap Luna dengan memeluk Lula yang tertidur pulas di samping nya.
__ADS_1
bersambung