
Setelah dua hari berada di rumah sakit Lula pulang ke rumah. Luna dengan sigap menjaga Lula, ia tak mau Lula pergi lagi dari rumah.
Luna terlihat duduk santai menemani Lula menggambar di ruang tengah. Tak lama kemudian Arkan datang bersama Windy. Windy terlihat merangkul tangan Arkan.
"Lula sayang Papa datang." ucap Arkan namun Lula tak memperdulikan nya ia hanya menatap Arkan dengan wajah cemberut.
"Lula sayang kok lihat Papa nya seperti itu sih, emang Lula gak senang Papa datang?" tanya Arkan ia kemudian mendekat ke arah Lula dan Ingin memeluk Lula namun Lula malah menghindar dari nya membuat Arkan tidak jadi memeluk nya.
"Lula benci Papa. Papa gak sayang sama Lula. Papa jahat sama Lula dan Mama." ucap nya membuat Arkan menatap ke arah Luna, karena ia pikir Luna yang mengajari Lula berbicara seperti itu.
''Lula gak mau ketemu sama Papa." ucap Lula kemudian ia pergi masuk ke kamar nya.
Arkan menggenggam tangan Luna dengan kuat. Ia yakin Lula seperti itu karena Luna yang mengajari nya supaya Lula benci pada nya. Sementara itu Windy yang berada di samping Arkan merasa senang melihat kejadian tersebut karena itu bisa membuat Arkan lebih cepat menceraikan Luna.
"Mas, sakit tangan aku. Kamu kok kasar gitu sih?" tanya Luna dengan berusaha melepaskan tangan Arkan dari tangan nya.
"Kamu kan yang mengajari Lula bicara seperti itu. Maksud kamu apa? kamu mau Lula benci sama aku gitu?" tanya Arkan emosi
"Kamu dengar ya Mas, aku gak pernah sama sekali ngajarin Lula bicara seperti itu sama kamu. Lula bicara seperti itu karena kamu sendiri Mas yang ngajarin nya. Kamu sadar gak sih Mas, kamu udah bikin Lula bicara seperti itu. Kamu udah hancurin semua impian Lula. Kamu tau Mas Lula tadi bilang ke aku kalau dia ingin seperti teman-teman nya yang bisa jalan sama Mama dan Papa nya. Tapi apa? kamu malah sibuk urusin pelakor ini." jawab Luna dengan tatapan tajam menatap Windy.
"Stop ya kamu bilang aku pelakor, aku bukan pelakor. Mas Arkan yang duluan deketin aku bukan aku yang duluan deketin Mas Arkan." ucap Windy emosi karena ia tak terima Luna menyebut nya pelakor.
"Aku gak peduli yang jelas kamu udah bikin istana yang aku bangun seindah mungkin rusak gara-gara kamu hadir di hidup Mas Arkan. Kamu tau wanita seperti kamu yang suka merebut suami orang akan mendapat karma nya. Dan aku yakin sebentar lagi kamu akan dapat balasan nya." ucap Luna
Plak!
__ADS_1
Satu tamparan mendarat di wajah Luna. Windy sungguh kesal dengan ucapan Luna. Luna tak tinggal diam ia juga menampar balik pipi Windy.
Plak!
"Gimana sakit? itu tak sebanding dengan sakit yang kamu berikan pada ku. Kamu akan mendapatkan balasan nya." ucap Luna
"Luna, hentikan!" Arkan buru-buru menghentikan kegilaan yang di lakukan Luna terhadap Windy. Akan tetapi sebuah tamparan keras mengenai pipi Arkan. Rasa panas seketika menjalar di pipi nya.
Puas dengan apa yang telah di lakukan nya pada Arkan dan Windy. Luna mengambil handphone nya dan pergi dari hadapan mereka.
"Mas, ayo kita pulang aku gak mau di sini bisa-bisa aku babak belur di buat Luna." rengek Windy pada Arkan
"Kamu juga sih ngapain coba kamu nampar Luna duluan kan jadi begini jadi nya." omel Arkan emosi
"Kenapa kamu jadi salahin aku, Luna duluan yang mulai. Siapa suruh dia ngatain aku pelakor." jawab Windy dengan wajah kesal.
...----------------...
Di sebuah rumah yang cukup besar seorang wanita sedang menangis. Ia duduk sambil melihat sebuah foto. "Luna sayang Mama kangen Luna di mana sih, apa Luna gak ingat sama Mama." ucap Rahma dengan tangis pecah menatap foto Luna saat masih kecil.
Rahma Mama nya Luna ia yang melahirkan Luna dan merawat Luna dari kecil. Rahma mempunyai tiga orang anak Luna merupakan anak ke tiga. Dan ada dua Kakak nya yang bernama Selly merupakan anak kedua dan Tania anak pertama.
Tania sendiri sudah menikah namun dalam pernikahan nya ia belum di karunia kan anak. Tania merupakan seorang Ibu rumah tangga. Sementara suami nya seorang manajer di sebuah perusahaan. Tania berumur 32 tahun.
Selly anak kedua ia masih sendiri, padahal banyak sekali laki-laki yang mendekati nya tetapi ia tolak. Ia masih ingin belum menikah karena trauma masa lalu yang membuat ia memutuskan untuk tidak menikah dulu. Ia ingin benar-benar siap, jika ia sudah menemukan pasangan yang pas dan hati nya sudah siap baru lah ia menikah. Selly sendiri berumur 28 tahun.
__ADS_1
Bayu pradana suami dari Rahma dan Papa dari Luna, Selly dan Tania. Bayu memiliki sebuah perusahaan yang ia bangun dari hasil kerja keras nya. Bayu berumur 47 tahun sementara Rahma berumur 45 tahun.
...----------------...
Luna memasukkan pakaian nya ke dalam koper. Ia sudah tidak sanggup lagi untuk tinggal di rumah ini. Rumah yang banyak sekali kenangan nya. Setelah semua baju di masukan ke koper ia pergi ke kamar Lula.
Lula terlihat sedang tidur sebelum ia membangun kan Lula, Luna terlebih dahulu mengambil baju Lula dan memasukkan nya ke dalam tas Lula. Setelah itu dia membangun kan Lula.
"Lula sayang bangun yuk." ucap Luna dengan mengelus pipi Lula.
Lula mengerjapkan mata nya di lihat nya Luna yang ada di depan nya.
"Ada apa Ma? Lula masih ngantuk." jawab Lula dengan mata nya sedikit terbuka.
"Mama mau ajak Lula pergi, Lula ikut Mama yuk." jawab Luna
Lula kemudian bangun dan duduk. Ia menatap Luna dengan wajah bingung. Di lihat nya jam menunjukkan pukul 11.00 malam.
"Kita mau kemana malam-malam gini?" tanya Lula ia masih bingung kenapa Luna membangun nya malam-malam begini.
"Mama mau ajak Lula ketemu sama Nenek dan Kakek. Lula mau kan ketemu dengan Nenek dan Kakek?" tanya Luna membuat Lula senang mendengar nya karena ia selama ini ingin sekali bertemu dengan Nenek dan Kakek nya. Karena dulu Luna sempat bercerita dengan Lula tentang orang tuanya yaitu Nenek dan Kakek Lula.
"Iya Ma, Lula mau." jawab nya antusias
"Ya udah kita pergi sekarang ya, soal nya kalau kita pergi besok Papa pasti tidak mengizinkan kita buat ketemu Nenek dan Kakek Lula." ucap Luna dan Lula mengangguk setuju.
__ADS_1
bersambung