
Tak ada satu pun orang di kamar itu. Kamar itu kosong. Luna menutup kembali pintu kamar tersebut. Setelah itu ia melanjutkan mencari Lula ke kamar lain. Namun tetap saja ia tak menemukan keberadaan Lula.
"Lula sayang kamu di mana ini Mama sayang." teriak Luna sembari menuruni anak tangga
Dewi yang melihat Luna turun langsung menarik tangan Luna, ia kemudian membawa Luna keluar rumah, diikuti Bayu di belakang.
"Pergi kalian dari sini, saya kan sudah bilang Lula tidak ada di sini. Dia sudah di bawa Arkan pergi." ucap Dewi dengan emosi
Luna menangis dengan terisak-isak nya ia sungguh menyesal gara-gara dia telat jemput Lula, Arkan jadi bawa Lula pergi dari nya. Bayu yang melihat Lula menangis langsung pergi membawa Luna pulang.
"Pa, kita cari Lula dulu ya jangan pulang dulu. Pokoknya Lula harus ketemu, Luna gak mau pulang kalau Lula belum ketemu." ucap Luna dengan air mata yang terus membasahi pipi nya
"Papa janji akan bawa Lula pulang. Tapi untuk saat ini kita pulang dulu ke rumah, Lula biar anak buah Papa aja yang cari." jelas Bayu
"Enggak Pa, Luna mau cari Lula sendiri. Pokoknya hari ini Lula harus pulang ke rumah." bantah Luna ia tetap ingin mencari Lula sendiri.
"Lula....
"Kalau Papa gak mau cari Lula, biar Luna aja yang cari sendiri." potong Luna dan setelah itu ia keluar dari mobil meninggal kan Papa nya.
Bayu keluar dari mobil nya, ia kemudian menyusul Luna. Namun ia telat karena Luna telah lebih dulu masuk ke dalam taksi.
"Ya Allah Luna, kamu kenapa sih keras kepala banget." ucap Bayu ia kemudian masuk kedalam mobil dan mengikuti taksi yang di tumpangi Luna.
......................
__ADS_1
Sementara itu Lula menangis di pojokan pintu, ia sungguh kesal jika saja tadi saat Mama nya masuk ke dalam kamar nya itu, ia berteriak ia sekarang pasti sudah bersama Mama nya. Ia tadi saat Luna masuk ke dalam kamar nya itu, Lula sedang berada di kamar mandi bersama dengan Arkan. Namun ia tak berani berteriak karena Arkan mengancam nya, jika dia berteriak Luna akan dalam bahaya.
"Papa buka pintu nya, Lula mau ketemu Mama." teriak Lula dengan suara terisak-isak
Arkan yang berada di luar kamar hanya hanya diam, ia sama sekali tak membuka kan pintu kamar Lula.
"Papa jahat, Lula benci Papa." teriak Lula
"Terserah Lula mau ngomong apa sama Papa, yang jelas mulai hari ini Lula gak boleh lagi ketemu sama Mama. Lula akan bersama Papa selama nya." jawab Arkan setelah itu ia pergi meninggalkan Lula.
"Papa jahat! Lula benci Papa. Papa sudah tega memisahkan Lula dan Mama. Pokoknya Lula mau ketemu Mama, Lula gak mau di sini." ucap nya dengan terus menangis
"Mama, Lula mau pulang!" Lula terus menyebut Mama nya ia ingin sekali bertemu Mama nya dan pulang ke rumah.
Sementara itu taksi yang di tumpangi Luna, berhenti di sebuah rumah. Setelah membayar ongkos taksi itu, Luna turun dari taksi dan berjalan ke arah rumah tersebut.
"Andai dulu kamu tidak mengkhianati aku, pasti sekarang kita masih tinggal di sini bersama." ucap Luna dengan menatap rumah yang bernuansa putih itu. Sekarang Luna sudah sedikit mengingat masa lalu nya bersama Arkan. Sekarang ia sudah benar-benar sembuh.
Luna terus menatap rumah itu, ia mengingat semua kenangan yang tercipta di rumah itu. Dari mulai mereka membeli rumah itu sampai akhirnya mereka berpisah.
"Rumah ini akan jadi rumah terindah untuk aku, karena di sinilah aku merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan saat aku bersama kamu." kata-kata yang di ucap kan Arkan dulu selalu terngiang di telinga Luna. Ia tidak bisa melupakan nya.
Luna berjalan ke arah pintu depan rumah itu, ia kemudian mengambil kunci cadangan yang biasa dia bawa jika dia sedang pergi. Setelah itu dia membuka pintu tersebut. Perlahan ia masuk ke rumah sejuta kenangan itu.
Di dekat dinding atas dekat sofa masih terdapat foto pernikahan nya dengan Arkan. Foto itu masih terpajang rapi di sana. Luna menatap foto itu dengan seksama.
__ADS_1
"Aku janji akan selalu ada untuk kamu, dan gak akan mengkhianati pernikahan kita." janji yang dulu di ucap kan Arkan masih terngiang di telinga Luna. Sampai saat ini ia masih berasa mimpi, bahwa pernikahan nya telah hancur.
Luna menyeka air mata nya, ia sedih mengingat masa-masa di mana saat ia masih bersama Arkan.
"Sudah lah sayang kamu tidak perlu lagi bersedih semua nya sudah terjadi. Sekarang kita fokus aja cari Lula nya." ucap Bayu yang baru saja datang.
Luna menatap Papa nya dengan tatapan sedih. Beberapa detik kemudian ia memeluk Papa nya dengan tangis isak.
"Pa, maafin Luna jika selama ini Luna selalu menyusahkan Papa. Luna tidak bisa menjadu seperti apa yang Papa mau. Maafin Luna Pa, Maafin jika Luna telah buat Papa kecewa." ucap Luna setelah ia melepaskan pelukan nya dari Papa nya.
"Sebelum kamu minta maaf, Papa sudah lebih dulu memaafkan kamu. Papa gak kecewa sama kamu, Papa bangga karena selama ini ksmu telah menjadi anak kuat. Anak mandiri dan juga anak yang selalu tersenyum walaupun keadaan kamu lagi susah. Papa bangga sama Luna. Walaupun Luna sudah besar, Papa akan tetap menganggap Luna adalah putri kecil Papa. Karena Luna adalah permata berharga bagi Papa." balas Bayu dan itu membuat Luna tersenyum senang mendengar nya.
"Makasih Pa, Luna juga bangga sama Papa. Papa berhasil mendidik Luna menjadi anak yang kuat dan mandiri. Luna sayang Papa." jawab nya ia kemudian memeluk kembali Bayu.
"Sama-sama putri kecilnya Papa." jawab Bayu dengan membalas pelukan Luna
......................
"Nah gitu dong jadi orang tua itu yang tegas jangan diam aja. Untung tadi Mama lihat Luna ada di depan rumah kita, kalau enggak Lula bisa di bawa pergi sama Luna. Pokoknya kamu harus jaga Lula jangan sampai dia pergi dan kembali lagi sama Luna."
"Iya Ma, Mama tenang aja sekarang aku sudah punya cara bagaimana caranya supaya Lula tidak meminta pulang ke rumah Mama nya lagi." jawab Arkan dengan tersenyum licik
"Bagus!" jawab Dewi dengan tersenyum senang
Di saat mereka mengobrol ternyata ada seseorang yang mendengar mereka. Dia adalah Bibi yang bekerja di rumah itu.
__ADS_1
bersambung
jangan lupa like dan vote nya biar aku lebih semangat lagi updatenya.