Kisah Cinta Aluna

Kisah Cinta Aluna
episode 38


__ADS_3

Lula menyantap makanan dengan lahap tak ada satu pun makanan yang tersisa di piring nya. Ia sungguh lapar bagaimana tidak ia belum makan dari ia pulang sekolah.


"Seperti nya Lula suka sama makanannya. Makanannya enak ya?" tanya Dewi


"Iya enak seperti masakan Mama." jawab nya dengan tersenyum menatap Dewi


"Ya udah kalau Lula suka ayo tambah lagi." ucap Dewi


"Lula sudah kenyang Oma. Oh iya tadi kan Opa sudah janji mau antar Lula pulang, ayo Opa kita pulang." ajak Lula dan itu membuat Dewi menatap Aryo tajam. Bagaimana tidak ia susah-susah untuk mendapatkan Lula, Aryo malah mau mengantar kan Lula pulang.


''Pa....


Panggil Dewi dengan tatapan tajam. Aryo yang melihat tatapan tajam dari Dewi langsung takut. Ia Aryo adalah suami yang penurut ia tak pernah sekali pun membantah perkataan istri nya.


"Iya Ma." jawab Aryo


"Opa ayo antar Lula pulang." rengek Lula dengan menggoyang-goyang kan lengan Aryo.


"Nanti ya Opa capek. Gimana kalau hari ini Lula nginap sini besok pagi-pagi Opa antar pulang." bujuk Aryo namun tetap saja Lula merengek pada nya untuk minta pulang.


Aryo menatap istri dan anak nya ia ingin minta persetujuan kepada mereka supaya Lula di boleh kan pulang. Ia kasian sama Lula yang terus merengek minta pulang.


"Malam ini Lula nginap di sini besok baru Papa antar pulang." Arkan bersuara setelah ia hanya duduk diam.


"Tapi Pa....


"Lula mau nurut sama Papa atau besok Papa tidak antar kan Lula pulang." ancam Arkan


Mendengar itu Lula langsung pergi meninggalkan meja makan.


"Lula!"


"Papa jahat sama Lula. Papa gak sayang Lula. Lula benci Papa." teriak nya di dekat tangga sementara Arkan masih di meja makan.


"Itu pasti ajaran Mama nya kalau bukan Mama nya siapa lagi. Udah berani ngelawan Papa nya." ucap Dewi ia kesal dengan sikap Lula pada Arkan.


"Ma, udah jangan menambah masalah lagi. Lula seperti itu juga karena Arkan kok. Siapa suruh Arkan menikah lagi. Coba aja Arkan gak nikah lagi semua nya gak akan seperti ini."

__ADS_1


"Papa kenapa sih jadi belain perempuan itu. Dulu Papa enggak gini, bahkan dulu Papa gak setuju Arkan nikah sama perempuan itu, sekarang kenapa Papa malah belain perempuan itu." ucap Dewi dengan emosi


"Iya karena Papa udah sadar kalau Luna itu perempuan baik-baik gak seperti apa yang Papa lihat beberapa tahun lalu." jawab Aryo


"Pa, Ma udah dong kenapa kalian jadi bertengkar seperti ini?"


"Papa kamu itu yang duluan. Kemarin gak setuju kamu sama Luna. Sekarang malah belain perempuan itu." jawab Dewi dengan emosi


"Kok Papa sih yang di salahin. Orang Mama yang duluan kok." balas Aryo


"udah ah Mama capek. Terserah kalian mau antar Lula pulang atau enggak." ucap Dewi kemudian ia pergi meninggalkan mereka berdua.


Arkan yang melihat Mama nya pergi, ia pun ikut pergi sekarang tinggal lah Arkan sendiri di ruang makan.


"Anak sama Ibu sama aja. Gak pernah mau dengerin kalau aku ngomong." ucap Aryo setelah mereka pergi.


......................


Luna duduk di kamar Lula. Ia memeluk boneka kesayangan Lula. Air matanya tak berhenti keluar. Ia sungguh menyesal karena dia Lula jadi di bawa pergi oleh orang. Dia tidak tau jika Lula ada di rumah Papa nya.


"Lula sayang kamu di mana sih pulang dong Mama kangen sama Lula." ucap Luna dengan air mata yang terus membasahi pipi nya.


"Udah Bos, Lula ada di rumah orang tua nya Arkan." jawab nya


"Ya udah kirim alamat nya ke saya. Saya mau ke sana sekarang." jawab Bayu


"Baik Bos." jawab nya dan Bayu langsung mematikan telepon nya.


setelah alamat rumah nya di kirim, Bayu pergi ke kamar Luna karena dia ingin mengajak Luna juga ke sana.


"Luna, ini Papa buka pintu nya dong. Papa ada kabar gembira buat kamu. Papa udah tau di mana Lula berada." ucap Bayu di depan kamar Lula


Mendengar itu Luna langsung membuka pintu kamar nya. Ia kemudian keluar dari kamar Lula.


"Lula udah ketemu pa? dimana Lula sekarang?" tanya Luna dengan antusias


"Lula ada di rumah orang tuanya Arkan. Sekarang Papa mau ke sana. Kamu mau ikut Papa?"

__ADS_1


"Iya Pa, mau." jawab Luna dengan semangat


"oke! kita berangkat sekarang." ucap Bayu dan mereka pun pergi ke rumah orang tua nya Arkan.


Sesampainya di sana Luna dan Bayu langsung mengetuk pintu rumah itu.


"Lula sayang ini Mama. Kamu ada di dalam kan?" teriak Luna dengan mengetuk-ngetuk pintu utama rumah itu.


Tak ada satuan dari dalam. Luna mencoba lagi namun tetap saja pintu nya masih belum di buka. Namun tak berapa lama kemudian pintu terbuka dan keluar lah Dewi.


"Berisik! kalian cari Lula dia gak ada di sini. Dia sudah di bawa Arkan pergi, barusan aja mereka pergi." ucap Dewi bohong padahal sebenarnya Lula masih ada di dalam.


"Bohong! kita gak percaya." bantah Bayu


"Lula ini Mama sayang, Lula di dalam kan?" teriak Luna sembari berusaha untuk masuk ke dalam namun Dewi menahan nya dengan tangan nya.


"Udah saya bilang Lula gak ada di dalam! Kenapa sih kamu gak percaya!" ucap Dewi dengan emosi hingga ia mendorong Luna hingga jatuh ke lantai.


"Ya Allah Lula." Bayu membantu Luna untuk berdiri. Setelah Luna berdiri ia pergi membawa Luna.


Sementara itu Lula yang berada di dalam kamar nya hanya bisa melihat Luna yang ada di jendela kamar nya. Ia tak bisa keluar karena pintu nya di kunci oleh Arkan.


"Ma, Lula di sini tolong Lula." ucap nya dengan wajah sedih.


"Papa jahat!" teriak nya dengan kencang hingga Luna yang berada di depan mendengar suara teriakan Lula.


"Lula! Pa, Papa dengar kan itu suara Lula. Lula ada di dalam ayo Pa, kita masuk ke dalam." ucap Luna dengan wajah senang.


Luna berlari meninggalkan Papa nya ia kemudian menerobos masuk ke dalam rumah. Karena kebetulan pintu nya belum sempat di kunci oleh Dewi.


"Lula sayang ini Mama, kamu di mana?" teriak Luna sembari menyusuri setiap sudut rumah itu.


Dewi yang merasa kesal berusaha untuk menarik tangan Luna supaya dia keluar dari rumah nya. Namun saat ia menarik tangan Luna, ia di dorong oleh Luna dan itu membuat ia jatuh.


"Kurang ajar kamu, berani-berani nya kamu dorong saya." ucap Dewi dengan wajah emosi


Luna tidak peduli ia terus mencari keberadaan Lula di setiap sudut rumah itu. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk naik ke atas dan saat ia sudah berada di atas ia tertuju pada satu kamar. pelan-pelan ia menuju kamar tersebut hingga akhirnya ia membuka kamar tersebut dan apa yang ia lihat.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2