
*Krincing.. *Krincing..
Bunyi bel yang datang dari dapur itu memecah keheningan di pagi yang cerah ini.
"Hoaamm.. Pagi Gam, kita sarapan apa hari ini?" kata Rendra datang dari ruang depan sudah rapih dengan seragam sekolahnya dan duduk di meja makan berbentuk bundar yang ada di tengah dapur. Sementara Gama, anak bungsu di keluarga itu dengan kaos yang agak kebesaran dan celana pendek sedang sibuk menata sarapan di atas meja tidak menjawab pertanyaan kakaknya dan duduk di bangkunya sambil menunggu Ady, anak tertua di keluarga itu. Namun dia tidak muncul juga.
*krincing.. *krincing..
sekali lagi Gama mencoba memanggil kakaknya, namun tidak juga muncul. Akhirnya dia pun berdiri dan pergi ke kamar kakaknya yang berada di lantai dua.
*tok *tok *tok
"yaa, sebentar" kata orang yang ada di dalam kamar itu. Namun Gama tidak menghiraukannya dan terus mengetuk pintu itu.
*klek pintu pun terbuka dan Ady muncul dari celah pintu.
"iya adik kecil, sebentar yah, aku sedang bersiap, sebentar lagi aku turun" kata Ady tenang, Gama pun akhirnya pergi dan kembali ke dapur.
Tidak lama Gama kembali, Ady pun datang lengkap dengan seragam sekolahnya.
"halo semua, pagi" kata Ady masih mengantuk dan duduk di bangku, namun tidak ada jawaban dari kedua adiknya karna Rendra sibuk dengan HP-nya dan Gama sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka.
Gama pun membagikan mereka masing-masing satu piring dan satu gelas minuman. Untuk Rendra dua lembar roti bakar dengan selai strawberry dan segelas teh tawar hangat, untuk Ady dua buah telur mata sapi dan satu buah sosis serta segelas teh manis hangat, dan untuk Gama sendiri 2 buah telur dadar tanpa daun bawang.
Selagi sarapan pun Rendra tetap sibuk dengan HP-nya entah apa yang sedang dia lakukan.
"hei adik kecil, ikut saja sekolah bersama kami" kata Ady sambil menyuap satu sendok penuh ke mulutnya,
"ya gam-gam, ayo ikut saja. Dan juga kalau soal mengurus rumah kita bisa lakukan bersama" kata Rendra ikut membujuk Gama.
"tidak terimakasih, sekolah membosankan" kata Gama datar sambil fokus dengan sarapannya.
"huuhhh.. padahal kau baru 14 tahun, tapi baiklah kalau itu memang mau mu. Lagi pula ayah juga mengijinkannya" kata Ady sambil menghela nafas panjang.
Setelah selesai sarapan, Gama pun mengambilkan bekal untuk kedua kakaknya bawa ke sekolah dan memberikannya ke mereka.
"oh terimakasih adik kecil" kata Ady sambil mengelus kepala adiknya.
"baiklah, aku dan Rendra pergi dulu yah, hati-hati dirumah" kata Ady sambil menutup pintu dan pergi bersama Rendra. Dan Gama melanjutkan mencuci piring, menyapu dan mengepel, mengelap sampai seluruh rumah bersih.
Setiap hari, mereka berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Melewati terotoar di pinggir jalan kota itu.
"huuhhh.. rasanya malas sekali, ingin tidur saja" keluh Rendra malas.
"ayolah, seminggu lagi kan ulangan semester 2, setelah itu libur panjang dan kita naik ke kelas 3 SMA" kata Ady tenang.
"Iya sih, tapi tetap saja.." katanya malas.
"lagi pun, sudah setahun ayah tidak kesini" kata Rendra lagi.
"kau tau sendiri kan kalau ayah mengurus cafe yang ada di kota sebelah, jadi pasti sibuk" kata Ady lagi.
"tapi yah. kuharap kita tidak terlibat dengan sesuatu yang berbahaya seperti tahun-tahun lalu" kata Rendra terlihat murung. Ady pun menatap langit yang masih agak kelap dan mengingat kejadian yang Rendra maksud.
"kau benar, lagi pula.. Gama sendiri yang ingin menjadi detektif. Meskipun saat kecil aku menyukai hal itu, tapi kalau tau resikonya sebesar ini, saat kita berumur 6 tahun, aku akan menghentikan Gama. tapi waktu sudah berlalu" kata Ady memejamkan matanya dan tersenyum.
Setelah Gama menyelesaikan merapihkan seisi rumah sampai tidak ada debu sedikit pun, dia bersiap untuk pergi. Dia pun bersiap dengan jaket bahan berwarna hitam dan celana bahan berwarna hitam serta topi pet kesayangannya dan memakai kacamata min 2 nya, karna dia akan pergi ke toko buku langganannya..
.
.
Karna masih belum terlalu siang jadi cuacanya tidak terlalu panas. Gama kecil yang berjalan di trotoar pinggir jalan melewati berbagai rumah, berbagai toko, dan berbagai apartemen dengan datarnya berjalan lurus sambil memasang headset besar di telinganya dengan musik yang menyala.
__ADS_1
Hanya butuh 10 menit berjalan dia pun sampai di toko buku itu, dengan pintu kaca di depannya, Gama memutar kenop pintu itu dan masuk ke dalam. Pengunjung toko hari itu memang agak ramai. Dari pintu masuk itu, di sebelahnya langsung ke meja kasir, jadi pemilik toko berada di samping jendela toko itu.
"ooh nak, kau datang lagi yah?" kata pria setangah tua menyapa Gama dengan ramahnya
Gama pun melepas headset yang ada di kupingnya dan memengalungkannya lalu mengangguk pelan dan berjalan menuju rak-rak buku novel dan masakan, dia mengambil satu buku dan duduk di meja baca yang berderet di tengah toko. Dengan memasang headsetnya kembali, dia pun memutar lagu dari alat pemutar musik miliknya. Namun tepat sebelum dai menekan tombol 'play' terdengar suara keras dari arah depan
*BRAK Sebuah gebrakan meja dari arah meja kasir membuat semua orang yang di dalam toko langsung menengok ke arah suara itu.
"Maaf Bu, saya pasti akan melunasinya. Tolong beri saya sedikit waktu lagi" kata bapak pemilik toko sambil memohon.
"HAAHH..!!?!? Dengar yah, utang mu itu sudah lama, tapi belum juga lunas. Aku tidak mau tau, hari ini kau harus bayar sekarang" kata seorang wanita dengan berpakaian mewah serba putih dengan kacamata hitam dan membawa tas tangan di tangan kirinya, serta ada dua bodyguard berbadan besar setinggi hampir dua meter berada di sampingnya.
"iya Bu maaf, tapi saya selalu bayar, dengan bunganya yang terus berjalan, hutang saya tidak akan selesai-selesai" kata pemilik toko itu gemetaran ketakutan.
"hei hei hei.. kenapa kau malah bilang begitu, kau ini tidak tau terimakasih yah. Sudah di bantu tapi malah kurang ajar" kata salah satu bodyguardnya marah sambil maju ke depan dan mengepalkan tangannya.
Sebenarnya beberapa orang disana sangat ingin membantu bapak itu. Namun melihat besarnya orang yang ada di hadapan bapak itu, akhirnya mereka pun mengurungkan niat mereka. Orang bertubuh besar itu pun berjalan semakin mendekat dengan bapak pemilik toko itu.
Jarak mereka berdua hanya di halangi meja kasir yang ada di depan. Semua orang yang melihatnya pun sudah menerka kalau dia pasti akan memukulnya. Benar saja, sebuah pukulan keras dengan tangan yang besar meluncur ke arah wajah si pemilik toko. Karna takut dia pun memejamkan matanya. Namun, dia tidak merasakan pukulan itu mengenainya.
Saat dia membuka matanya perlahan, ada seseorang yang duduk di atas meja kasir dengan santainya dan berwajah datar sambil menahan pukulan itu dengan satu tangan kanannya.
Orang bertubuh besar itu pun terkejut pukulannya dengan mudah di tahan. Bukan hanya dia, bahkan seluruh orang yang ada di dalam toko itu pun terkejut. Karna, orang yang menahan pukulannya justru seorang anak yang ukuran tubuhnya jauh lebih kecil dari dia.
"hei, nak apa yang kau lakukan" kata orang bertubuh besar itu kesal.
"Gama sedang membaca buku, dan disini tidak boleh berisik" katanya datar.
"Apa katamuu...!!!!" kata orang itu geram.
"Kenapa diam saja? tidak berani memukul lagi karna pukulan dari tangan besarmu di tahan oleh anak kecil?" sahut pengunjung disana. beberapa orang pun ikut meneriaki orang itu. Bahkan ada juga orang yang dari awal merekam kejadian itu.
Karna semakin kesal di buat malu, orang itu mencoba melancarkan pukulan lagi tepat ke wajah Gama.
Pukulan itu pun berhenti tepat di depan dahinya Gama yang masih terlihat tenang, "kali ini kau lolos, bulan depan aku akan kesini lagi" kata wanita itu sambil pergi keluar.
Setelah tiga orang itu keluar suasana di dalam toko pun mulai kembali seperti semula. Orang-orang tadi yang melihat juga ada yang melanjutkan bacaan mereka, ada juga yang langsung pergi pulang. Gama yang sudah merasa kalau masalah sudah selesai itu pun melompat turun dari meja yang dia naiki tadi
"Terimakasih ya nak" kata bapak itu.
Namun Gama tidak menjawab ataupun menghiraukannya dan berjalan kembali ke mejanya tadi.
(anak itu memang baik, kalau kakaknya tau dia pasti sudah di marahi) pikir pemilik toko itu tersenyum ramah.
.
.
Saat itu, di sekolah tempat Ady dan Rendra belajar. Ady memang tidak tertarik mengobrol dengan orang lain, jadi dia lebih memilih untuk duduk di bangkunya dan diam sambil memandang keluar jendela. Lain halnya dengan Rendra yang begitu semangat dan terbuka dengan orang lain. Tapi ketenangan bagi ady hanya berlangsung sementara.
"Ady Ady" panggil Rendra dari arah luar kelas menuju Ady yang sedang duduk di bangkunya.
"ada apa? kenapa kau ribut sekali" kata Ady malas, Rendra pun duduk di bangku yang ada di depan meja Ady.
"kau harus lihat ini, video ini langsung viral setelah di unggah 2 jam yang lalu" kata Rendra sambil menunjukkan Hp-nya.
"apa sih, kau kan tau aku tidak tertarik dengan yang begit-" kalimatnya terhenti saat dia melihat video itu. Di dalam video itu terlihat jelas semua kejadian apa yang ada di dalam toko buku tadi.
"aduh adik kecil.. kau membuat masalah lagi yah" kata Ady bingung.
"menurutmu bagaimana?" tanya Rendra bingung.
"aku juga tidak tau,semoga saja tidak terjadi hal yang panjang nantinya. Dan juga semoga ayah tidak lihat ini" Kata Ady menyodorkan kembali HP milik Rendra.
__ADS_1
"yaaa... kau benar, kalau sampai ada orang yang tau siapa Gama sebenarnya pasti buruk. Terlebih lagi kalau itu orang jahat" kata Rendra meletakkan HP-nya di dalam saku seragamnya.
.
.
Dari suatu tempat lain. Ada seorang gadis SMA yang sedang menonton video itu sambil tersenyum lebar.
"akhirnya ketemu, pasti ini orangnya" kata wanita itu masih memperhatikan video itu dari HP-nya.
"apa itu orang yang non cari selama 5 tahun ini?" tanya supirnya yang sedang mengendarai mobil itu.
"yaa.. tidak salah lagi, dari nada suaranya, bahkan cara bicaranya yang kaku, Aku yakin sekali. Aah! kalau begitu kita pulang saja pak" ucap wanita itu.
"apa tidak langsung kesana saja non? orang itu pasti masih ada disana" kata supir itu.
"emm... tidak perlu, aku punya rencana yang lain. Kemungkinan minggu depan kita baru bisa bertemu dengannya" kata wanita itu menutup HP-nya masih tersenyum.
"Baik non, kita kembali sekarang" dan mobil itu pun melaju dengan kencang.
.
.
*Tep..
Bapak pemilik toko buku itu sedikit terkejut saat dia melihat ada satu buku yang lumayan tebal ada yang meletakkannya di atas mejanya. Dia pun melihat lebih dekat dan disana ada Gama yang mau memberikan uangnya.
"tidak perlu.. kau sering kesini, dan juga mungkin untuk terimakasih karna sudah menolong ku tadi" kata bapak yang terlihat sedikit tua itu tersenyum. Tapi Gama yang wajahnya masih datar pun menggeleng dan tetap menyodorkan uangnya. Bapak itu tampak terkejut dan berkedip beberapa kali lalu perlahan tangannya menerima uang itu.
"kau serius? kau tidak perlu membayarnya loh" Katanya lagi dan Gama pun mengangguk. Bapak itu pun akhirnya mengalah dan menerima uang itu lalu membungkus buku dan memberikan uang kembaliannya.
"terimakasih, datang lagi yah" katanya tersenyum ramah. Gama pun mengangguk pelan lalu kembali memasang headset besar yang ada di lehernya ke telinganya.
Di depan toko, dia berhenti dan menatap langit cerah, dia pun memejamkan matanya untuk merasakan hembusan angin yang lembut menjalar di sekujur tubuhnya.
Ady yang duduk di dekat jendela pun menatap langit yang memancarkan cahayanya untuk menghangatkan tempat ini. Angin sejuk masuk ke dalam kelas dan memenuhi ruangan itu dan membuatnya begitu terasa nyaman
"Angin.." gumam mereka berdua sambil tersenyum.
Rendra yang duduk tidak jauh dari kakaknya pun melirik ke arah Ady yang sedang menikmati angin di luar jendela dan dia pun ikut tersenyum.
(Dasar.. tingkahnya sudah mirip sekali dengannya. Tapi.. Gama ada benarnya juga, angin yang lembut bisa menyejukkan hati seseorang) pikirnya kembali memperhatikan guru yang sedang menerangkan.
.
.
Wanita yang tadi datang ke toko buku itu menatap ke luar jendela masih dengan wajahnya yang terlihat kesal. Kedua pengawalnya yang bertubuh besar melihat bos mereka dari pantulan kaca kecil yang ada di depan mobil.
"Hei.." katanya terdengar berat.
"iya bos, ada apa?" sahut salah satu pengawalnya.
"Cari tau anak tadi, ada yang tidak beres dengannya. Berani sekali dia berurusan dengan ku. Dan aku juga merasa dia akan terlibat dengan organisasi kita nanti" katanya geram masih melihat keluar jendela.
"baik bos" kata orang itu singkat.
__________________
Yo semuanya.. salam buat kalian yang baca tulisan saya. Maaf yah kalau masih ada kata-kata yang kaku, saya masih dalam proses belajar juga hehe.. tapi yaah.. saya harap temen-temen semuanya seneng.
Oh saya akan update setiap harinya kalau memang tidak ada halangan, jadi jangan sampai ketinggalan yah. Sampai ketemu lagi, Ciao ^_^
__ADS_1