
Siang itu setelah tiga saudara itu selesai makan siang. Gama anak yang paling kecil sedang membersihkan debu di sela-sela ruangan, sementara kedua kakaknya asyik bermain Game di ruang depan.
Saat Ady sedang bermain game bersama Rendra, Tiba-tiba HP miliknya yang di letakan di meja di depan mereka pun berdering. Ady melihat HP-nya ternyata itu notifikasi kalau ada uang yang baru saja masuk ke rekeningnya. Lalu tidak lama HP-nya berdering lagi, tapi kali ini ada pesan dari ayahnya.
"adik kecil, bisa kemari sebentar?" panggil Ady pada adiknya itu. Gama yang mendengarnya pun berjalan menghampiri kakaknya masih memegang kemoceng.
"tadi ayah mengirim uang bulanan untuk kita, tapi uang yang di kirimnya lebih banyak dari biasanya dan dia bilang untuk menyuruhmu membeli HP juga" jelas Ady.
"naah.. benar itu, kalau ada apa-apa sangat sulit ingin menghubungimu" sahut Rendra yang ada disebelah Ady. Setelah mendengar itu, Gama hanya mengangguk pelan mengiyakan kakaknya itu.
"yasudah ayo kita bersiap agar tidak terlalu malam" kata Ady berdiri dan meletakan konsol gamenya di tempatnya.
"eeeh... sekarang juga? masih jam 2, panas sekali.." keluh Rendra malas.
"kalau kau tidak mau ikut juga tidak apa-apa" ujar Ady membantu melepaskan ikatan celemek yang di kenakan Gama sambil berjongkok agar tinggi mereka sejajar. Tapi setelah di pikir-pikir akhirnya Rendra pun ikut mereka pergi.
.
.
Dengan berjalan, menuju toko elektronik hanya membutuhkan waktu selama 15 menit lamanya dan mereka pun langsung masuk ke toko dengan kaca di depannya, jadi orang orang yang lewat bisa melihat ke dalam isi toko itu, begitupun yang di dalam, bisa melihat ke luar toko yang ada di penggir jalan itu. Sementara Ady sedang memilihkan HP yang cocok untuk adiknya, dan Rendra berusaha membujuk Ady untuk membelikan HP baru untuknya juga namun Ady menolak, karna menurutnya itu pemborosan.
Gama yang memperhatikan kedua kakaknya dengan datar dibelakang mereka tiba-tiba merasa ada yang sedang memperhatikannya dari arah luar toko.
Gama yang merasakan kehadiran itu sangat kuat pun memilih untuk keluar dan melihat ada seorang perempuan yang lebih tinggi darinya itu sedang menatapnya sambil tersenyum dengan mengenakan gaun lebar serta topinya yang juga lebar berwarna putih agak tembus pandang.
Setelah lampu penyebrangan berganti menjadi hijau untuk pejalan kaki, wanita cantik yang memiliki kulit yang putih itu pun berjalan menyebrang dengan anggunnya. Rambut hitam panjangnya yang keluar dari topinya itu pun berkibar ke belakang karna hembusan angin yang lewat barusan.
Gama yang melihat wanita itu dengan wajah polosnya biasa saja itu pun berencana berbalik dan masuk ke dalam toko. Tapi niatnya terurungkan karna matanya langsung terbuka lebar saat dia melihat wanita itu terserempet oleh gaunnya sendiri jatuh ke depan tepat di depan Gama.
Dengan reflek Gama pun menahan tubuh wsanita yang lebih tinggi darinya itu agar tidak jatuh ke tanah dan membantunya berdiri lagi.
"hehehe terima kasih, maaf merepotkan" kata wanita itu dengan suaranya lembut. Namun wajah Gama kembali datar dan setelah membantu wanita itu Gama pun berbalik dan berniat masuk ke dalam toko kembali tanpa memperdulikan wanita itu.
"Hei tunggu dulu!!" katanya lagi, tapi kali ini ulah wanita itu yang menahan bahu Gama agar tidak pergi.
"tunggu dulu, kita kan belum berkenalan. Perkenalkan, namaku Anna!" kata Anna ramah sambil tersenyum dan memberikan tangannya untuk berjabat tangan.
Gama hanya diam disana memperhatikan tangan Anna yang menggantung di depannya.
"kata Ady Gama tidak boleh berbicara dengan orang asing" katanya datar melihat Anna.
"ooh jadi namamu Gama? kita sudah saling kenal, jadi kita bukan orang asing lagi, benarkan?" kata Anna ramah masih menunggu jabatan dari Gama. Setelah di pikir, Gama pun akhirnya membalas jabatan tangan wanita itu dan Anna pun turut senang.
"jadi.. apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Anna, Gama tidak menjawabnya dan hanya menunjuk ke arah Ady yang ada di dalam toko itu.
"ooh, dia pasti Ady yang kau maksud tadi yah? apa itu kakakmu?" tanya Anna dan Gama hanya mengangguk pelan.
Disaat mereka sedang berbincang, ada seseorang yang membuka toko itu dan ada yang keluar.
"loh, adik kecil, aku mencarimu, sedang apa kau dilua- *eh" kalimat Ady terhenti saat dia melihat ada seseorang yang sedang bersama adiknya.
"siapa kau? tanya Ady.
"oh maaf, perkenalkan namaku Anna. Aku tadi sempat ingin tertabrak mobil yang lewat, tapi di selamatkan oleh dia" kata Anna menujuk ke Gama, Gama pun dengan heran langsung melihat ke Anna karna itu bukanlah yang terjadi tadi. Ady sebenarnya meragukan pernyataan itu karna terlihat kalau Ady memasang wajah curiga.
"oh syukurlah kalau kau baik-baik saja. Kalau begitu kami pamit dulu" kata Ady tersenyum sambil menarik Gama. Tapi Anna kembali menghentikan mereka dan kembali memberitahu Ady kalau dia ingin membalas budi kebaikan Gama tadi. Karna merasa tidak enak, Ady pun menolaknya secara halus dan mengatakan kalau itu bukan apa-apa.
Tapi Anna pun tetap memaksa dan ingin membalasnya dengan membelikan Gama sebuah HP yang mau mereka beli. Ady terkejut karna menurutnya itu sangat berlebihan. Dan juga harga sebuah HP itu tidaklah semurah permen lolipop yang ada di warung.
Tapi Anna bersikeras dan mendorong mereka masuk kedalam toko itu. Rendra yang dari tadi sudah menunggu bersama dengan pemilik toko itu pun terkejut karna Ady datang bukan hanya bersama adiknya, melainkan dengan seorang wanita cantik memakai gaun putih.
Rendra pun bertanya pada Ady siapa wanita itu, dan Anna kembali memperkenalkan dirinya ke Rendra sama seperti yang dia lakukan ke Ady. Rendra yang tidak percaya itu pun langsung berbisik ke Ady kalau wanita itu sungguh mencurigakan.
"nah.. kalau begitu, pak tolong HP yang paling bagus dan terbarunya yah, oh dan juga tolong ambilkan tiga buah" kata Anna ke pemilik toko. Tentu saja dengan senang hati pemilik toko itu pun memperlihatkan HP keluaran terbaru saat itu.
"nah, kalian ini untuk kalian berdua juga" kata Anna memberikan HP itu ke Ady dan Rendra. Rendra yang senang karna menerima HP baru itu pun lembali berbisik ke Ady kalau dia percaya Anna itu orang yang baik. Karna melihat tingkah aneh Rendra, Ady pun menatapnya dengan sebal.
"aku tidak perlu, Aku juga punya. Lagi pula aku hanya bisa menggunakan HP untuk mengirim pesan dan menelpon saja" kata Ady memberikan HP itu kembali. Tapi Anna tetap memaksa dan walaupun HP itu tidak di gunakan tidak apa-apa, dia hanya ingin Ady menerimanya.
Dengan terpaksa Ady pun menerima HP itu walaupun terasa sangat tidak enak. Dan setelah berfikir sebentar, Ady akhirnya mengajak Anna untuk makan malam di rumah mereka. Anna sendiri pun turut senang karna sudah di undang dan menyetujuinya. Setelah Anna selesai membayar tiga HP itu dengan kartu ATM-nya, Ady pun memberikan selembar kertas ke Anna yang bertulisakan alamat rumah mereka.
Anna pun menerima kertas itu dan mereka berempat pergi keluar dari toko itu. Saat mereka berbincang, ada sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan mereka.
"nah, yasudah kalau begitu aku akan pulang dulu. Aku akan datang jam tujuh nanti" kata Anna pamit sambil masuk ke dalam mobil tersebut lalu pergi begitu saja.
"yasudah, kita juga harus segera bersiap. Ayo pulang" ajak Ady pada kedua adiknya.
Di dalam mobil, Anna yang duduk di belakang itu pun terus tersenyum tanpa henti.
__ADS_1
"Non.." panggil supir itu ke majikannya yang duduk di kursi belakang.
"hmm.." sahut Anna memandangi jalanan yang ada di luar jendela.
"anak yang kecil tadi.. rasanya tidak asing" kata bapak yang terlihat sedikit tua itu mengerutkan keningnya dan terus berfikir. Anna pun tersenyum semakin lebar melihat ke arah sang supirnya.
"akhirnya bapak berbicara begitu. 5 tahun yang lalu, kasus terakhir yang ku tangani- maaf, kasus terakhir yang kita tangani selama satu tahun lebih dan berakhir di Marina Bay Singapura. Orang yang selalu bekerja di balik layar membantu kepolisian dan menghilang begitu saja sejak 2 tahun terakhir, Detektif terhebat di zaman ini" kata Anna tersenyum lebar. Pak Supri yang memandang majikannya dengan tatapan tidak percaya dan berkedip pelan.
"jadi.. anak kecil waktu itu yang selalu bersama anda, detektif yang selama ini jadi rahasia negara?" tanyanya lagi. Anna yang masih tersenyum pun melihat keluar jendela.
"benar" katanya singkat. Sang supir pun kembali melihat ke depan dan mengemudikan mobilnya.
(kuharap tidak organisasi aneh lagi seperti dulu) pikir Anna kehilangan senyumnya dan melihat serius ke luar.
.
.
Anna yang baru saja sampai di rumahnya itu pun turun dari mobil dan sudah di sambut oleh para pelayan perempuan memanjang di sepanjang lorong dari tangga depan pintu luar rumahnya sampai masuk kedalam. Mereka berjejer di kedua sisi sambil membungkuk dan mengucapkan selamat datang pada wanita bergaun putih yang baru saja turun dari mobil itu.
"yaampun kalian ini, sudah aku bilang tidak perlu seperti ini, memalukan tahu" protes Anna malu sambil berjalan menaiki tangga untuk masuk ke dalam rumahnya yang besar itu.
(lagi pula kenapa sih ayah dan ibu punya rumah yang menyusahkan seperti ini, mau masuk ke dalam saja harus naik tangga dulu donk) pikirnya sebal.
Salah satu pelayan perempuan yang terlihat lebih tua darinya itu pun berjalan mendampingi Anna di sebelahnya.
"apa ayah dan ibu sudah datang?" tanya Anna pada pelayannya itu sambil merasa risih dengan gaunnya yang lebar kemana-mana, dan gara-gara itu juga dia tersandung jatuh.
"belum non, barusan tuan memberi kabar kalau mereka sedang di jalan kembali dari pekerjaan mereka di luar kota dan terjebak macet di tol" jawab pelayan itu sopan.
Anna yang berjalan menuju kamarnya di lantai dua itu pun di temani pelayan itu sampai masuk kamarnya. Pelayannya itu pun membantunya membukakan gaun yang Anna kenakan. Setelah gaun itu terlepas dari tubuhnya, rasanya sangat bebas sekali.
"mba, tadi aku sudah bertemu dengan orang itu, padahal aku sudah memakai pakaian dan berdandan sesuai dengan saran mba. Tapi sepertinya dia sangat tidak tertarik, bahkan parahnya lagi saat kami baru berpapasan dia langsung mau pergi" keluh Anna sambil menyisir rambutnya yang panjang sementara pelayannya itu merapihkan gaun tadi.
"waah... benarkah? apa seleranya sangat tinggi?" tanya pelayan itu heran. Anna pun langsung melompat ke kasur dan berbaring disana karna lelah.
"sepertinya bukan begitu deh mba, waktu aku liat matanya, ada perasaan aneh saat dia melihatku" kata Anna sambil memejamkan matanya, pelayan yang berada di kamarnya itu pun duduk di sisi kasur dengan tenang.
"kenapa bisa begitu?" tanyanya heran. Anna pun langsung bangun duduk dan melihat pelayannya itu dengan serius.
"dia itu terlihat sangat sederhana, sangaaat..... sederhana, dia hanya memakai kaus biasa dan itu pun agak kebesaran, dan juga celana pendek biasa. Padahal kalau di lihat dari kedua kakaknya sepertinya dia bisa membeli baju yang lebih bagus" kata Anna serius.
"apa dia type pria yang memang sederhana yah?" tanya pelayan itu heran. Anna pun menghela nafas panjang dan kembali berbaring sambil memeluk boneka Stitch besar miliknya.
"kalau begitu, apa nona menyukai pria itu?" tanya pelayan itu, wajah Anna menjadi sedikit merah karna pertanyaan itu.
"saya akan anggap itu iya" kata pelayan itu tersenyum meledek, Anna yang terlanjur malu itu pun langsung melempar pelayannya itu boneka yang dia peluk lalu berguling-guling ke sisi lain kasurnya, pelayannya hanya tertawa melihat tingkah majikannya itu.
"saya tidak pernah menyangka kalau orang terkaya di benua ini dan menolak banyak pria kaya lainnya malah tertarik pada pria yang sederhana, kalau begitu non, saya pikir lebih baik kalau pelan-pelan saja, coba lah berteman dengannya, karna memang cinta sejati itu tidak pernah memandang derajat dan status seseorang" kata pelayan itu sambil memberikan kembali boneka itu ke Anna.
"masalahnya, nanti malam mereka mengundangku ke rumahnya untuk makan malam" kata Anna panik, pelayannya itu pun terkejut dan langsung berdiri.
"kenapa nona tidak bilang?" katanya kaget.
"bukannya mba yang dari awal mengajakku berbicara yah?" kata Anna menyipitkan matanya.
"hehehe.. maaf, biasa perempuan. Yasudah saya juga sepertinya sudah dapat gambaran setelan untuk nona nanti. Sebaiknya nona mandi dulu saja, sisanya biar saya yang bereskan" kata pelayan itu.
"eeh... tapi ini kan baru jam tiga" kata Anna heran.
"ck.. ck.. ck.. salah, seorang perempuan itu harus mempersiapkan segalanya jauh sebelum waktunya. Karna pasti akan memakan waktu yang cukup lama" Meski terdengar aneh, Anna hanya bisa mengangkat bahunya dan pergi ke kamar mandi.
.
.
Sementara itu..
Ady dan Rendra yang sedang duduk di meja makan terus memperhatikan Gama yang sedang merenung duduk di bangku biasa dia makan. Hal ini jarang terjadi bahkan untuk mereka.
"umm.. adik kecil? apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Ady, namun Gama tetap diam tidak menjawab kakaknya.
"gam-gam? haloo.. kau masih sadar kan?" tanya Rendra, tapi Gama tetap tidak bergerak.
"apa kau kebingungan akan membuat makan malam apa nanti?" tanya Ady, di luar dugaan justru pertanyaan itu malah membuat Gama melihat Ady dengan heran.
"tidak, Gama sedang tidur tadi sebentar" katanya datar sambil melompat turun kebawah dan mengambil bahan masakan di kulkas.
Kedua kakaknya pun merasa sebal karna kejadian barusan. (kupikir dia sedang memikirkan sesuatu dari setengah jam yang lalu, ternyata dia malah tidur) pikir kedua kakaknya.
__ADS_1
"yasudah, aku akan bersiap-siap dulu" kata Ady berdiri di ikuti Rendra dan pergi ke kamarnya untuk mandi.
Dengan cepat dan gesit Gama pun memotong, mengulek, merebus, memasak sekaligus tanpa melakukan jeda. Setelah di rasa tinggal menunggu matang, dia pun pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya dan kembali turun.
Ady yang sudah berpakaian rapih pun keluar dari kamarnya, dia memakai celana dan setelan jas hitam serta rambut di sisir ke belakang. Sedangkan Rendra memakai celana panjang berwarna biru tua dan kemeja berwarna merah tua miliknya.
Ady dan Rendra yang keluar kamar bersamaan itu pun saling menatap dan tertawa karna jarang sekali mereka berpakaian rapih dan tidak pergi keluar.
Ady dan Rendra yang sudah rapih itu pun turun dan pergi ke dapur. Namun mereka terkejut melihat adik mereka yang sedang menghidangkan makanan di meja masih mengenakan kaus kebesaran dan celana pendek seperti biasa.
"adik kecil, kenapa kau masih pakai baju begini? saat kudengar kamar mu yang ada di depan kamarku itu terbuka ku pikir kau sudah ganti baju." kata Ady. Gama tidak menjawabnya malah justru merasa kalimatnya Ady membuatnya bingung. Untuk apa seseorang makan seperti ini memakai pakaian rapih.
"Ren, bisakah kau bawa Gama ke atas dan menggantikan pakaiannya? sudah mau jam tujuh, Anna sebentar lagi datang. Biar aku yang merapihkan sisa nya" kata Ady, Rendra pun mengangguk dan mengajak adik kecilnya itu naik dan pergi ke kamar Gama.
Setelah Ady menyelesaikan tugasnya menata makanan, dia mendengar ada yang mengetuk pintu rumahnya. Dengan penasaran dia pun pergi menuju pintu depan dan membukanya. Disana terlihat Anna berdiri dengan memakai dress berwarna pink yang sangat muda tanpa perhiasan dan membawatas kecil di tangannya. Awalnya Ady sempat terpaku melihat Anna yang berdiri di depannya. Namun dia pun sadar dan langsung mempersilahkan Anna masuk ke dalam.
Dengan senang hati Anna pun masuk ke dalam dan melihat ke sekeliling rumah itu. Sungguh rumah yang sederhana namun tetap terlihat indah, mungkin karna perawatannya yang sangat baik.
Tepat ketika Ady mempersilahkan Anna menuju meja makan, dari lantai dua terdengar suara ribut.
"GAM, CEPAT KESINI, KAU TIDAK PERNAH MEMAKAI INI SEJAK PERTAMA DI BELI" teriakan Rendra menggema seisi rumah.
Anna dan Ady yang keheranan pun hanya diam dan saling menatap satu sama lain.
"apa ada masalah?" tanya Anna menoleh ke Ady.
"seharusnya sih tidak" jawab Ady singkat.
suara semakin bertambah ribut sampai akhirnya mereka melihat Gama melompat dari tangga dengan cepat untuk segera turun kebawah. Hanya dengan memakai celana panjang hitam dan kaus putih bahkan rambutnya acak-acakan itu pun dia lari dan bersembunyi di belakang Ady. Tidak lama di susul Rendra dengan nafas tersenggal-senggal sambil membawa kemeja berwarna putih di tangannya. Saat Rendra melihat Anna sudah datang, dia pun menunduk sedikit dan memberi salam ke Anna dan Anna pun membalas salam itu.
Ady pun langsung mengajak mereka ke meja makan yang sudah di penuhi makanan disana. Anna dengan santai pun duduk di bangku yang sudah di siapkan oleh Ady. Gama yang masih ketakutan pada Rendra pun duduk di tengah antara Ady dan Anna.
"emm.. adik kecil, bisakah kau menjelaskan pada kami apa yang kau buat?" tanya Ady, mendengar itu Gama pun dengan rapih dan menjelaskan.
"Disana ada sepiring udang asam manis untuk masing-masing dan roti yang di balut dengan daging asap lalu di panggang. Dan untuk minumannya Gama membuat bluesky. soda biru yang di campur susu putih dan di beri sesendok eskrim di atasnya" jelas Gama, sejujurnya ini pertama kalinya Gama menghidangkan makanan yang belum pernah Ady dan Rendra lihat.
"tunggu dulu, bukankah kau tidak suka makanan laut?" tanya Ady.
"Gama membuat telur dadar" jawabnya singkat
"kau membuat ini semua?" tanya Anna terkejut, dia pun langsung mencoba memakan sesendok udang asam manis itu ke dalam mulutnya. Sesaat setelah udang itu masuk ke dalam mulutnya, Anna tertunduk diam disana. Ady dan Rendra terus melihat Anna dan menunggu reaksinya sementara Gama sudah mulai memotong telurnya.
"emm.. Anna? kau baik-baik saja?" tanya Ady penasaran. Anna yang mendengar itu pun langsung mengangkat kepalanya dan terlihat sangat gembira.
"ini enak sekali, rasa umami (gurih) dari udahnya pecah ke seluruh mulutku, di tambah dengan saus asam manis ini membuat rasa udangnya menjadi semakin kuat. Rasa gurihnya bahkan masih tersisa di mulutku padahal aku sudah mengunyah dan menelannya" jelas Anna terpana pada masakan itu. Dan karna rasa penasaran memenuhi tenggorokan Ady dan Rendra, mereka pun langsung mencoba memakan udang itu. Dan benar, semua yang di jelaskan oleh Anna benar-benar terjadi di dalam mulut mereka. Daging udang yang empuk dan lembut itu semakin terasa saat tercampur saus asam manis di dalam mulut.
Sampai akhirnya mereka pun makan secara perlahan agar dapat merasakannya lebih lama. Selesai menghabiskan semua makanannya, mereka pun bersandar di kursi penuh dengan kebahagiaan. Sementara Gama masih memainkan es krim yang ada di minumannya.
"sudah jam 9, tadinya aku masih ingin berbicara dengan kalian, tapi sudah sangat larut, kalian juga sekolah kan?" tanya Anna
"benar, kami sekolah di SMA Martabat" jawab Ady.
"benarkah? sungguh kebetulan. Aku juga bersekolah disana, sekarang aku kelas tiga loh" kata Anna.
"hah? kami juga, kau kelas 3 apa?" tanya Rendra.
"em? kelas 3-A, aku peringkat kedua disana. Kenapa?" tanya Anna balik.
"HAHAHA...!!! sungguh keberuntungan yang aneh, Ady peringkat pertama dan aku ketiga" jawan Rendra tertawa.
"apa jangan-jangan kalian yang waktu itu melempar batu ke arah kepala sekokah?" tanya Anna heran. dan Ady pun mengangkat tangannya sambil tersenyum.
"huuhhh... kau pasti punya alasan lain yah, yasudah kalau begitu terima kasih makanannya. Aku pamit dulu yah" kata Anna di temani oleh Ady dan Rendra sampai pintu depan.
"sampai ketemu lagi yah, mungkin di sekolah" kata Anna melambaikan tangannya dan berjalan pergi.
Setelah Anna pergi, Ady dan Rendra pun berbalik dan melihat Gama berdiri di belakang mereka sambil mengucek matanya karna sudah mengantuk.
"Ren, kau tolong bereskan itu dulu yah, aku akan mengantar Gama tidur dulu setelah itu aku akan membantumu" kata Ady mengajak Gama pergi ke kamarnya untuk tidur dan Rendra pun melakukan yang di perintahkan kakaknya.
.
.
Anna yang baru keluar dari rumah itu berjalan menuju mobil yang terparkir di tepi jalan. Meski sudah malam, masih ada beberapa kendaraan yangmasih melintas di jalan itu. Anna yang sampai ke mobilnya itu pun di sambut ramah oleh pak supir yang ada di dalam mobil dan mereka pun pergi pulang menuju rumah Anna.
"bagaimana non? apa berjalan lancar?" tany sang supir pada majikannya yang duduk di sebelahnya itu.
"waah.. aku hampir lupa, karna masakan yang dia buat tadi aku jadi lebih konsentrasi pada makanan ku" kata Anna terkejut.
__ADS_1
"hah? bagaimana bisa? apa mereka punya koki handal?"
"tidak tidak, yang membuatnya itu dia. Ternyata selain pintar, dia juga pandai memasak" kata Anna sambil tersenyum, supir itu pun hanya melirik melihat majikannya yang sedang senang itu.