Kisah Kami

Kisah Kami
Hilangnya Uang Kelas 3-B


__ADS_3

"baiklah adik kecil, kami berangkat dulu yah" ucap Ady sambil berjongkok dan mengelus kepala adik kecilnya itu setelah selesai sarapan.


Ady dan Rendra yang sudah rapih mengenakan pakaian seragam putih abu-abunya itu pun berjalan menyusuri trotoar. Tapi baru beberapa langkah mereka berjalan, ada sebuah mobl yang berhenti di sebelah mereka dan kaca mobil itu pun terbuka.


"ei kalian bardua" panggil Anna sambil melambaikan tangannya dari jendela mobil bangku belakang.


Ady dan Rendra yang heran melihat Anna pun saling menatap satu sama lain dan menghampiri Anna.


"ayo naik saja, kita kan searah" ajak Anna. Meski awalnya ragu, akhirnya mereka pun ikut masuk ke dalam mobil. Karna Anna duduk di belakang, dia meminta Rendra untuk duduk di depan.


"oh iya, aku sebenarnya semalam ingin bertanya ini pada kalian. Tapi karna semalam makan terlalu lama jadi sudah malam juga" kata Anna membuka pembicaraan.


"tanya apa?" kata Ady heran melihat Anna yang ada di sebelahnya.


"ini agak aneh, kenapa kalian berdua sangat terlihat seperti seumuran?" tanya Anna. Ady yang duduk di belakang pun melihat Rendra yang duduk di depan.


"benar, aku 19 tahun, Rendra tiga bulan lagi 19 tahun, dan Gama bulan depan 15 tahun" jelas Ady.


"hah? tung- ini agak aneh, kau tau? perempuan itu ada jarak setelah melahirkan. Aku hanya pernah mendengar jarak terdekat kakak beradik itu satu tahun" kata Anna heran.


"kami bukan saudara kandung" jawab Rendra singkat sambil melihat Anna dari pantulan kaca yang ada di depan. Dia semakin heran setelah mendengar itu dan melihat Ady.


"benar kata Rendra, kami bukan saudara kandung. Awalnya ayah kami menemukan aku dan Rendra. Lalu setelah aku dan Rendran berumur 8 tahun, ayah membawa Gama yang berumur 4 tahun ke rumah" jelas Ady.


"mungkin terdengar aneh tapi.. meskipun ayah kami mengasuh kami, dia sampai sekarang belum menikah hehhe.." lanjut Ady sambil tertawa dan Anna pun mengangguk mengerti.


"lalu, dimana ayah kalian? aku tidak melihatnya kemarin?" tanya Anna lagi.


"dia membuka sebuah kafe di kota sebelah" jawab Rendra singkat sambil berbalik.


"woaah... kafe yah. Terdengar seperti kalau ayah kalian ini masih muda" tebak Anna.


"hahaha.. memang, dia itu berumur... kalau tidak salah 28 tahun ya Dy?" tanya Rendra melihat Ady, dan Ady pun menggangguk mengiyakan. Tapi Anna justru mengerutkan keningnya.


"mustahil, kalau memang di hitung ayah kalian menemukan kalian saat masih bayi, itu artinya saat itu dia berumur 9 tahun?" tanya Anna tidak percaya.


"yaa.. kalau di pikir-pikir memang begitulah kenyataannya. Kalau di ceritakan akan sangat panjang" jelas Ady bersandar di bangku mobil.


"umm.. teman - teman? sepertinya kita sudah sampai" celetuk Rendra yang menyadari kalau mereka sudah sampai di depan sekolah.


Mereka bertiga pun turun dari mobil, Rendra dan Anna yang masih mengobrol sambil masuk melewati ke dalam sekolah itu pun meninggalkan Ady di belakang. Dan saat Ady melewati bagian depan mobil, jendela kaca mobil itu pun terbuka dan terlihat sosok pria paruh baya disana memanggil Ady dan Ady pun berhenti di sebelahnya.


"terima kasih tuan. Berkat tuan, nona Anna punya seorang teman" kata Pria kurus yang sudah tumbuh kumis sedikit dengan beberapa uban yang sudah terlihat itu tersenyum ramah.


Sebenarnya Ady sedikit bingung maksud ucapan orang itu. Tapi melihat wajah yang menyejukan itu Ady pun tau kalau Anna tidak punya maksud buruk pada dia atau pun keluarganya.


"yaa.. tentu saja pak hehee.. kami akan selalu menjadi temannya" jawab Ady membalas senyuman bapak, lalu dia pun pamit dan mengejar dua orang yang meninggalkannya.


Setelah di lantai dua, Anna pun berpisah dengan Ady dan Rendra karna kelas mereka berada satu lantai lebih tinggi. Mereka berdua pun sampai di kelas 3-B, dan tenyata sudah cukup banyak orang yang datang. Tapi entah kenapa di tengah kelas itu semua murid berkumpul mengerubungi sesuatu. Ady dan Rendra yang penasaran pun menghampiri keributan itu.


"wow wow wow teman teman, tenanglah, ada apa ini?" tanya Ady mendekat. Semua murid yang ada di situ pun menoleh ke arah Ady dan Rendra yang baru saja sampai.


"oh kalian sudah datang yah" sambut Nanda yang sekarang sudah menjabat sebagai ketua kelas.


Ady pun mengangguk dan melihat Resti si bendahara sedang menangis disana.


"ini ada apa?" tanya Ady heran.


"uang bulanan *hiks yang di berikan oleh *hiks oleh pihak sekolah untuk masing-masing kelas kemarin, hilang tadi pagi" jelas Resti menangis.


"ko bisa? berapa jumlahnya?" tanya Ady lagi.


"500 ribu" jawab Rizal yang duduk di atas meja belakang Resti.


(banyak juga yah, dengan reputasi kelas yang buruk seperti ini, pasti hal ini akan menjadi sesuatu yang lebih buruk untuk kelas ini) pikir Ady.


"hei, apa kira-kira kau bisa menemukannya?" bisik Rendra.


"entahlah, sepertinya akan sulit" bisik Ady yang melihat Rendra, Rendra pun mendekat lagi dan kembali berbisik.


"apa kita minta bantuan ke Gama saja?" bisik Rendra. Semua murid di kelas itu mendengar suara Rendra dan langsung melihat mereka.


"Gama.. Gama yang kalian maksud itu detektif yang tiba-tiba hilang 2 tahun yang lalu?" tanya Nanda terkejut. Teman-teman nya yang lain pun melihat Ady dengan penuh harapan.


Tiba-tiba muncul seorang guru laki-laki di depan pintu kelas.


"KALIAN JANGAN BERISIK, uang yang hilang ulah sendir itu pasti yang mengambil salah satu dari kalian juga. Dasar binatang yang tidak bisa di beri tahu" ucapnya sambil tersenyum sinis.


Tapi senyum itu hilang seketika dan para murid yang hampir syok itu pun berubah menjadi kaget karna tadi ada sebuah pensil yang melesat cepat melewati guru itu hingga pipinya ada luka kecil akibat sayatan pensil yang lewat tadi.


"berisik, kami sedang sibuk mencari orang menyebalkan, kalau bapak tidak keberatan tolong pergi dari sini dan terus lah mengajar para anjing yang penurut itu" jawab Ady dengan wajah menunduk menahan marah dengan tangan kanannya yang terlihat lurus ke depan mencirikan kalau dia lah yang melempar pensil tersebut.


Guru itu pun sedikit gemetar lalu menunjuk ke arah kelas.


"ka-kalian lihat? karna ulah kalian, anak murid yang baik dan berprestasi ini harus masuk ke kelas ini karna ulah buruk yang kalian buat" katanya dengan suara agak gemetar. Kali ini Ady mengangkat wajahnya sedikit dan melihat guru itu, tapi dengan tatapan yang kosong seolah saat itu bukan dirinya sendiri yang berbicara.


"kalau bapak tidak mau pergi sekarang juga, aku akan melemparnya lagi dan akan ku pastikan kali ini akan tertancap tepat di bibir bapak agar tidak berisik lagi" katanya dingin.


Guru itu pun ketakutan dan langsung berlari pergi meninggalkan kelas 3-B. Bukan hanya guru itu, semua murid di dalam kelas itu pun terpaku dan sedikit takut melihat Ady. Bahkan murid yang duduk di meja pun sempat turun dan ingin mencoba menghentikan Ady. Semua murid laki-laki seakan secara insting berbicara kalau Ady yang sekarang sangat berbahaya.


Rendra yang juga terdiam melihat kakaknya itu pun perlahan mencoba menyentuhnya untuk menenangkannya. Tapi Ady pun malah berbalik ke arah mereka secara perlahan dan secara mengejutkan perasaan mengerikan itu pun hilang.


"nah teman-teman, tadi sampai mana?" tanya Ady tersenyum seperti sebelumnya.


Setelah melihat Ady seperti sudah kembali, para murid laki-laki pun menurunkan penjagaannya. Ady yang merasa dirinya di lihat tidak wajar pun mengerutkan keningnya.


"kalian kenapa? apa ada yang aneh dengan wajahku?" tanya Ady heran. semuanya saling melihat satu sama lain lalu mereka tertawa lebar dan itu membuat Ady tambah bingung.


"hahahaa.. kau itu pria yang menarik. Aku sempat melupakan kejadian ini" sahut Resti tertawa di ikuti semuanya.


"aahh...!! aku tidak begitu mengerti tapi.. aku senang kalian tidak sedih lagi seperti tadi. Dan juga.. aku setuju dengan permintaan kalian meminta bantuan Gama. Dan perlu kalian tau, Gama itu adikku dan Rendra" kata Ady tenang. Semua murid yang tertawa itu tiba-tiba diam berubah menjadi terkejut dengan sangat hebat karna pernyataan itu.


"BOHONG...!!!" teriak mereka semua, karna teriakan itu Ady jadi harus menutup telinganya.


"kalau kalian tidak mau yasudah, aku juga lebih suka dia di rumah" kata Ady meledek. Teman-temannya pun langsung menarik Ady dan memaksa adiknya itu untuk datang sekarang juga.

__ADS_1


"baik baik, aku akan mencoba menelponnya. tapi kalian semua harus janji, tidak boleh mengatakan pada siapapun, tidak boleh menceritakan kejdian ini pada siapapun, tidak boleh merekam, tidak boleh memotret" kata Ady, mereka semua pun mengiyakan dan Ady mengeluarkan HP baru nya yang di belikan Anna kemarin.


Semua teman temannya yang memperhatikan Ady pun mulai bingung. Karna sejak tadi dia hanya memandangi layar HP itu tanpa melakukan apapun.


"hei, apa ada yang salah?" tanya Rendra mendekati Ady.


"eh Ren, ini cara pakainya bagaimana yah?" tanya Ady bingung memberikan HP-nya pada adiknya itu.


"SIAAAL... KUPIKIR ADA APA" teriak Rendra kesal, dan teman-temannya yang ada di sekelilingnya pun ikut menghela napas.


Rendra pun dengan kesal merampas HP itu dan mencari kontak Gama lalu melakukan telpon dan memberikannya ke Ady lagi dan berjalan pergi keluar.


"rrrgghht... kenapa aku punya kakak yang pandai tapi sangat terlihat tua" katanya kesal sambil berjalan menuju tempat duduknya.


"hehehe jangan marah begitu, aku terbiasa memakai HP yang ada tombolnya, bukan hanya layar seperti ini" kata Ady tertawa dan menempelkan HP-nya ke telinga.


Gama yang sedang membersihkan rumah memakai penyedot debu itu pun berhenti setelah mendengar suara dari satu arah. Dia mematikan mesin penyedot debu itu lalu menajamkan pendengarannya. Dia yang awalnya berada di ruang depan berjalan menyusuri dapur dengan perlahan mengikuti arah suara itu, kali ini dia berjalan keluar dapur dan kembali ke ruang depan. dan akhirnya dia pun berhenti di tempat awal dia mematikan mesin penyedot debu tadi Dan baru menyadari kalau suara itu berasal dari saku celananya.


Dia pun merogoh saku celananya dan menemukan sebuah HP yang dia sendiri tidak ingat kapan dia meletakkannya disana. HP-nya berdering dan ada tulisan 'Ady' disana. Dia bingung harus melakukan apa, tapi setelah melihat ada gambar dengan simbol telpon dengan lingkaran hijau bertulisan geser, dia pun menggesernya lalu meletakannya di telinganya.


Ady yang berada di sebrang sana menunggu Gama menjawab telponnya, lalu dia merasa risih karna teman-temannya menempel padanya.


"kalian ini sedang apa sih" kata Ady kesal mengusir semua orang, mereka pun tertawa dan berkata penasaran dengan suara Gama yang asli. Karna dulu suara yang di gunakannya itu suara samaran.


Ady pun kembali meletakan HP-nya di telinganya, namun kali ini tidak ada nada tersambung. Hanya diam, tenang, tidak ada suara apapun disana.


"emm.. adik kecil? kau disana?" tanya Ady untuk mengetes dan Gama hanya menjawab 'ya' dengan singkat.


Ady pun menghela napas panjang.


"kenapa kau tidak mengatakan apapun?" tanya Ady.


"tapi Ady yang menelpon Gama" katanya bingung dari sebrang telpon.


"...."


"oke cukup, aku tau kau sangat sibuk sekarang. Tapi bisakah kau datang ke sekolahku? aku butuh bantuan mu" kata Ady dan Gama hanya menjawab 'iya' dengan singkat.


"kau bersiap lah, aku akan memesankan ojek online untuk mu. Ingat jangan kemana-mana yah" kata Ady lagi dan sekali lagi Gama pun mengiyakannya lalu Ady pun menutup telponnya.


Setelah menutup telpon itu, Ady langsung menengok ke arah Rendra dan Rendra pun memberi kode dengan menunjukan HP miliknya kalau dia sudah memesankan ojek online untuk Gama.


Ady pun berbalik dan melihat teman-temannya menatap padanya penuh harap.


"baik baik aku tahu, dia akan segera kemari. Lagi pula sebenarnya kalian hanya ingin bertemu dengannya kan" kata Ady menebak, dan semua teman-temannya pun tertawa malu.


Gama yang sedang di rumah pun membereskan alat bersih-bersih miliknya dan melepaskan lalu menggantung celemek yang dia pakai di gantungan baju belakang pintu keluar. Dia pun pergi ke kamarnya untuk mengenakan celana hitam bahan panjang dari lemari baju miliknya dan kembali turun lalu dengan kaus berwarna krem yang agak kebesaran itu pun dia mengenakan jaket lengan panjang berwarna hitam dan topi berwarna hitam serta kacamata min miliknya.


Dia pun keluar dan mengunci pintu, tidak lama sesosok pria yang mengenakan jaket hijau mengendarai motor pun tiba dan memarkirkan motornya di depan Gama lalu bertanya padanya mengenai costumer bernama 'Rendra'. Merasa kalau itu untuk dirinya, Gama pun mengangguk dan pria itu memberikan helm berwarna hijau pada Gama.


Ady yang menunggu adiknya datang pun keluar kelas dan berdiri di pinggir beranda lantai tiga sekolah itu sambil memandangi anak kelas yang mendapatkan jam pelajaran sekarang.


(enaknya.. bahkan pelajaran olahraga pun tidak ada) pikir Ady menyandarkan dagunya di pinggir pagar.


Angin sejuk yang menghempas pagi itu cukup kencang hingga membuat rambut Ady sedikit bergoyang. Perasaan damai yang tenang inilah yang dia inginkan sejak lama. Perasaan tanpa beban, tanpa pikiran yang terus menerus menghantuinya karna terus menghawatirkan kedua adiknya. Untuk beberapa saat Ady hampir saja tertidur sambil berdiri dan bersandar disana karna sejuknya hembusan angin yang ada. Namun perasaan itu hilang dalam sekejap karna Nanda dan Riski datang menghampiri Ady.


"berapa lama lagi dia akan sampai?" tanya Riski, laki-laki setinggi Ady ini memang sudah dekat sekali dengan Ady karna selama dua tahun sebelumnya juga mereka sekelas.


"Rendra sudah memesankan ojek online untuk Gama, sebentar lagi juga dia pasti sampai" jawan Ady malas.


"ojek online? rumah mu menuju ke sekolah kan hanya sekitar 10 menit berjalan kaki" kata Riski heran dan Nanda pun ikut mendengarkan.


"benar sih.. tapi dia buta arah. Meskipun jalanannya hanya lurus, entah kenapa dia bisa saja berbelok tanpa keinginannya sendiri" jelas Ady masih bersandar di pagar.


Riski dan Nanda pun agak terkejut dengan pernyataan itu. Rasanya tidak mungkin, orang yang di juluki detektif terhebat era ini tidak tau arah.


"sungguh mengejutkan, itu kan yang sepele" kata Nanda terkejut.


"yah mau bagaimana lagi? memang begitu kenyataannya. Kalian tau kan soal tidak ada yajg sempurna di dunia ini? begitu lah jawabannya" kata Ady masih memejamkan matanya dan bersandar di tepi pagar.


"Sebaiknya kita masuk ke dalam yu, tidak enak kalau terus menerus berada di luar kelas" ajak Ady malas pada kedua temannya ini untuk masuk ke dalam.


Sementara itu, dari ruangan seperti gudang tempat bangku-bangku yang sudah tidak bisa di gunakan. Ada seseorang yang memantau mereka bertiga dari balik pintu ruangan tersebut.


"sesuai rencana bos, mereka benar-benar tidak tau kalau uang itu ada padaku. Di tambah saya sempat mendengar suara ribut, kemungkinan mereka sempat bertengkar tadi" kata Pria yang ada di dalam ruangan itu berbicara mengenakan HT yang di pegangnya.


"bagus, terus awasi. Terutama anak bernama Ady, kalau dia bersikap tenang, itu artinya bisa jadi dia sudah punya rencana ke depannya" kata suara pria yang ada di sebrang HT itu dengan suara lebih tua.


"baik bos" jawab pria itu lagi.


Gama yang menaiki ojek online itu pun tiba di depan sekolah Ady dengan wajah yang datar seperti biasanya.


.


.


Gama pun berbalik dan melihat sebuah pagar besar SMA Martabat yang ada di hadapannya ini. Dia pun melihat di sebelah pagar besar itu ada pintu yang mirip seperti pagar itu namun di buat hanya untuk satu orang yang mengarah langsung di sebelah pos satpam sekolah ini.


Gama kecil pun merapatkan topi yang dia kenakan dan berjalan ke arah pintu itu dengan santai. Saat dia tau kalau pintu itu tidak di kunci, dia pun membuka pintunya dan masuk ke dalam. Dia melihat ke dalam pos satpam tapi tidak ada orang disana. Di lapangan sekolah saat itu sedang ada jam pelajaran olahraga, karna Gama tidak menemukan siapapun di dalam pos itu dan menurutnya kalau hanya diam disana melihat para murid yang ada di hadapannya sedang bermain bola voli pasti tidak akan membuah kan hasil apapun.


*Sreek..


Seorang pria bertubuh besar dan terlihat berotot yang mengenakan seragam satpam berwarna hitam membuka pintu geser ruang guru yang ada di lorong tengah lantai dua sekolah. Dia baru saja keluar dari sana karna ada seorang guru yang meminta tolong padanya. Saat dia ingin kembali ke posnya, dia berpapasan dengan seorang murid perempuan yang membawa beberapa berkas di tangannya.


"loh nona Anna? sedang mengantar berkas yah?" sapa satpam itu ramah pada Anna.


"oh pak Fikri, pagi... iya seperti biasa. Bapak sendiri tumben disini?" tanya Anna balik.


"hahaha... iya non ini, tadi bu siti minta tolong membetulkan kursinya. Padahal tadi saya periksa tidak ada apa-apa. Yasudah non, saya lanjut lagi yah" kata pak Fikri membungkuk sedikit.


"hahaha... yaampun, iya pak semangat yah" ucap Anna sambil tersenyum dan dia pun lanjut masuk ke dalam.


Satpam yang berjalan menuju tangga untuk turun di tepian itu, dia melihat seorang anak kecil sedang berjalan di tengah lapangan menuju tangga lantai dua yang ada di ujung lorong. Dengan perasaan setengah bingung, dia pun mempercepat langkahnya untuk menghampiri anak itu.


Gama yang merasa seperti ada seseorang yang menghampirinya itu pun berhenti dan melihat dari kejauhan ada seseorang bertubuh besar berlari menghampirinya.

__ADS_1


"huuhhh... huuhhh.. nak, kau.. sedang apa disni?" tanya pak Fikri kelelahan berlari menuruni tangga tadi.


Gama tidak menjawabnya, dia hanya diam memandangi satpam itu dengan datar.


"kau tersesat? atau... kau berpisah dengan orang tuamu?" tanya satpam itu sambil berjongkok agar tinggi mereka tidak terlampau jauh.


"Gama mencari ruang guru" katanya datar.


"ruang guru? ooh.. orangtua mu disana? mari bapak antar" ajak satpam itu ramah dan menggandeng tangan Gama.


Disaat mereka menaiki tangga, mereka berpapasan dengan Anna yang ingin pergi ke kantin di belakang sekolah.


"loh Gama? kenapa kau ada disni?" tanya Anna heran, pak Fikri yang berada di sebelah Gama pun menyimpulkan kalau anak yang bersamanya ini mencari Anna.


"ooh anak ini bersama nona? hahaha saya bertemu dengannya tadi di tengah lapangan. Yasudah saya kembali lagi ya non" kata satpam itu pamit dan Anna pun tersenyum sambil mengangguk.


"hei, sedang apa kau disini? oh.. apa kau mau ikut aku ke kantin?" tanya Anna tersenyum.


Gama yang bingung pun akhirnya mengangguk dan Anna menggandengnya turun ke bawah menuju kantin.


Ady yang sedang duduk di bangkunya sambil menulis sesuatu di dalam buku itu pun di hampiri oleh teman-temannya.


"Dy, sudah 15 menit, apa adikmu belum sampai juga?" tanya Resti.


"benar juga, seharusnya sih sudah. Ren coba lihat HP mu dia sudah dimana?" tanya Ady yang melihat Rendra.


Rendra yang terlihat malas tertelungkup di mejanya itu pun mengambil HP miliknya yang ada di saku seragamnya. Seketika itu juga matanya terbuka lebar karna dia melihat di aplikasi ojek online miliknya orderan miliknya sudah selesai beberapa menit lalu. Dia pun langsung bangkit dan dengan cepat menghampiri Ady.


"gawat, dia sudah sampai dari tadi, dia pasti sedang tersesat sekarang" kata Rendra panik. Ady yang ikut terkejut pun segera berdiri dan berlari keluar kelas lalu melihat kalau satpam yang ada di bawah sedang menutup pintu kecil di sebelah gerbang sekolah.


Teman-temannya yang ada di dalam pun ikut keluar karna penasaran ada apa.


"ada apa Dy? apa terjadi sesuatu?" tanya Resti.


"dia sudah disini" kata Ady sambil berfikir mencoba mencari cara menemukan adiknya.


"dengar, karna kita kelas yang... bebas dan semua guru juga sudah terlanjur membenci kita. Aku tidak mau menambah kesan buruk pada guru lain. Jadi aku hanya minta tolong pada Nanda, Riski, Resti, Rendra saja membantuku berkeliling sekolah untuk mencari nya" kata Ady menjelaskan. Mereka pun mengangguk mengerti dan menunggu di dalam sementara yang lainnya lagi langsung bergegas pergi.


"cari di tempat yang kalian pikir kalau dia tidak mungkin disana. Oh satu lagi, wajahnya datar sekali jadi tidak berekspresi di tambah cobalah tanyakan sesuatu, kalau dia tidak menjawab dan terlihat tidak peduli, itu pasti adikku. Dan.. dia itu anak kecil" tambah Ady, Semua temannya pun mengerti dan mulai berpencar ke seluruh penjuru sekolah termasuk Ady dan Rendra.


(tidak mungkin disana itu.. seperti apa sih? apa mungkin dia ke kantin sekolah yah? hahaha itu tidak mungkin) pikir Nanda luu sambil berlari, namun tawanya terhenti karna dia baru saja berfikir kalau itu tidak mungkin dan akhirnya dia memutuskan untuk ke kantin secepatnya bersama Resti.


Orang yang bersembunyi di ruangan tepat sebelah tangga turun itu pun mendengar pembicaraan mereka.


"bos lapor, sepertinya anak bernama Ady baru saja bilang kalau ada seseorang yang datang kesini" kata orang itu berbicara lewat HT.


"biarkan saja, dan teruslah perhatikan" jawab seseorang dari sebrang sana.


.


.


Anna dan Gama yang baru saja sampai itu pun langsung menghampiri warung jajanan. Selain snack warung itu juga menyediakan minuman dingin di dalam Chiller minuman yang ada di dalam warung dengan pintu kaca.


"halo bu.. maaf yah ganggu" sapa Anna ramah.


"ah non Anna, seperti sama siapa saja. Non sudah biasa kan ke kantin meskipun belum waktunya istirahat hahahaa..." kata ibu pemilik warung sambil tertawa, dan perhatiannya pun teralihkan ke Gama yang di gandeng oleh Anna di sebelahnya.


"loh.. lucunya, siapa ini?" tanya ibu itu sambil mencubit pipi Gama dan Gama pun menutup matanya sebelah karna menahan sakit.


"ini adiknya temanku, aku mengajaknya kesini karna ku pikir dia mau sesuatu. Nah Gama, apa ada yang kau ingin kan?" tanya Anna.


Gama yang ada di sebelahnya pun menengok melihat Anna lalu melihat ke arah minuman teh kesukaannya yang ada di dalam chiller. Anna yang melihat ke arah mana Gama melihat pun tersenyum mengerti.


"Bu tolong ambil teh itu dua, sama kripik ini satu yah" pinta Anna, dan ibu itu pun mengambilkannya lalu memberikan teh itu ke Gama.


Gama pun dengan perlahan menerimanya dan terlihat betapa senangnya dia memegang minuman kesukaannya sekarang. Setelah Anna membayar, dia pun mengajak Gama untuk duduk di meja panjang yang di sedia kan di kantin. Anna terus menerus tersenyum melihat Gama meminum minumannya dari botol itu secara perlahan dengan kedua tangannya.


Nanda dan Resti yang sudah di ujung lorong menuju kantin pun melihat Anna sedang duduk dengan seseorang.


(pasti itu) pikir Nanda dan Resti.


Anna yang melihat Nanda dan Resti berlari ke arahnya itu pun di buat bingung.


"Nanda dan.. Resti kan? kenapa kalian berlarian? apa terjadi sesuatu?" tanya Anna heran.


"huuhhh... huuhhh.. halo Anna" sapa Resti dengan nafas yang masih terasa berat karna berlari tadi.


Nanda yang melihat seorang bocah sambil meminum sebuah teh dengan tenangnya itu pun langsung menghampirinya.


"hei nak, kau adiknya Ady kan?" tanya Nanda, Gama pun menghentikan minumnya dan melihat Nanda dengan wajah biasa saja.


"iya, dia memang adiknya Ady. Dari mana kalian tau?" tanya Anna heran.


Belum sempat Nanda menjawab, dari lorong satunya terlihat Ady sedang berlari mendekati mereka.


"kenapa ramai sekali sih, ini kan masih jam pelajaran, kenapa kalian berkeliaran?" kata Anna panik saat Ady datang.


"heeiii... kau juga sedang di luar kelas kan?" tanya Ady aneh.


"itu karna memang setiap hari aku seperti ini" jawab Anna. Ady pun melihat adiknya sedang duduk di sebrang Anna dan dia langsung menghampirinya.


"adik kecil, kenapa kau tidak memberi kabar kalau kau sudah sampai?" tanya Ady sambil berjongkok.


"Gama tidak tau cara pakai ini" kata Gama datar sambil menunjukan HP miliknya.


(yang benar saja) pikir Anna, Nanda dan Resti.


"ok, jadi aku.. tidak, ini temanku namanya Resti. Dia akan menceritakan detailnya, tapi lebih baik kita sambil berjalan saja menuju kelas ku" kata Ady berdiri dan memberikan tangannya. Gama pun melompat turun dan menggenggam tangan kakaknya sambil membawa teh di tangan satunya.


"tunggu, aku ikut" kata Anna.


Ady, Nanda dan Resti yang berniat pergi pun berbalik melihat Anna.


"tidak masalah kalau kau tak keberatan" jawab Ady simpel, dengan senang hati Anna pun mengikuti mereka. Ady pun mengirim pesan ke Rendra dan Riski untuk segera kembali ke kelas karna mereka sudah menemukannya.

__ADS_1


(ini kesempatan bagus untuk melihat secara langsung kemampuan Gama, aah.. lucunya) pikir Anna senang sambil terus melihat Gama yang berjalan di gandeng Ady di depannya ini.


__ADS_2