
*krauk.. *krauk.. *krauk..
"HAHAHAA... RENDRA KAU PAYAH SEKALI..!!!" Kata Ady tertawa terbahak-bahak karena melihat Rendra yang terus kalah bermain game Tekken melawan Gama sambil memakan kripik singkong yang Gama buat.
"rrgghht... hei gam-gam.. Bisa kah kau membirkan aku menang sekali.. saja" keluh Rendra.
"Tidak ada ampun" kata Gama datar.
Di tengah permainan, Gama melihat jam yang ada di dinding yang sudah menunjukkan pukul dua siang. Saat Rendra melihat adiknya sedang lengah, dia pun langsung memanfaatkan hal itu dan mencoba untuk mengalahkan adiknya dalam game, Tapi tetap saja gagal.
Gama pun meletakkan console game yang dia pegang dan langsung pergi menuju dapur.
"Ada apa adik kecil?" Tanya Ady masih memakan kripik.
Gama pun keluar dari dapur sambil membawa tas belanja miliknya dan memakai topi serta kacamatanya.
"Kau mau pergi belanja?" Tanya Rendra, dan Gama pun mengangguk pelan.
"Tunggu tunggu, aku ikut aah.." kata Ady langsung berdiri dan pergi ke dapur untuk mencuci tangan di wastafel.
"Hoaam..!! Aku juga ikut ah, membosankan berada di rumah" kata Rendra merapihkan gamenya.
.
.
Mereka pun pergi ke sebuah minimarket tempat biasa Gama berbelanja yang hanya berjarak 10 menit berjalan kaki.
Minimarket ini adalah satu-satunya tempat yang dapat Gama tuju sendirian tanpa kedua kakaknya.
Meski memang terasa sedikit panas, tapi angin yang berhembus di setiap bangunan di kota itu menyejukkan semua orang yang ada disini.
.
.
Mereka pun tiba di minimarket itu dan langsung masuk ke dalam.
"Jadi adik kecil, apa saja yang mau kau beli?" Tanya Ady.
Gama pun memberikan kertas yang dia lipat ke Ady. Ady pun membuka lipatan itu dan kertas itu langsung terbentang panjang ke bawah.
(Banyak sekali) pikir Ady dan Rendra.
"Hahaha.. yasudah, biar aku saja dan Rendra yang mengambilnya. Kau pilih saja apapun yang kau mau. Meskipun begitu, aku juga pasti tau apa yang akan kau ambil" kata Ady meninggalkan Gama di depan kasir.
Gama pun langsung berjalan dan pergi ke tempat dimana minuman dingin berjejer di dalam chiller dan mengambil minuman botol teh kesukaannya. Dia membawa dua botol ukuran biasa langsung ke kasir untuk membayarnya.
"Halo Gama.. loh tumben hanya ini yang kau beli? Biasanya banyak sekali, apa kalian bertiga sedang diet?" Tanya seorang kasir perempuan yang ada di hadapannya.
Gama tidak menjawab pertanyaan gadis itu dan hanya melihat ke arah Ady dan Rendra yang berada di rak bahan makanan di dekat sana.
"Ooh, jadi yang mengambil belanjaan sekarang kakak-kakak mu yah?" Tanya nya lagi sambil menscan minuman yang di bawa Gama, dan Gama hanya mengangguk pelan masih melihat minumannya.
(Anak yang lucu, tapi sudah setahun dia berlangganan disini, dia hanya pernah berbicara sekali. Dia hanya mengatakan 'kakak Gama' saja saat aku bertanya tinggal bersama siapa. Mungkin kedua kakaknya mengajarkannya untuk tidak berbicara sembarangan pada orang asing) pikir Nia, gadis kasir berambut hitam panjang dengan tubuh agak tinggi.
Ady dan Rendra pun datang dengan banyak barang yang mereka ambil.
"Huuhh.. huuhh.. kau hebat juga bisa belanja sebanyak ini sendirian tiap minggunya" kata Ady lelah meletakkan barang-barang itu di meja kasir.
Sedangkan Rendra langsung duduk di lantai karena kelelahan juga, beruntung saat itu hanya ada mereka bertiga, jadi mereka bebas melakukan apapun tanpa harus malu di lihat orang.
"Aduuh.. aku tau kau pasti akan memilih ini, tapi jangan sampai beli dua botol begini donk" kata Ady memarahi Gama karena membeli minuman itu. Karena dia merasa tidak enak setelah melihat adik kecilnya menunduk terus, Ady hanya bisa menghela napas panjang.
"Tidak boleh langsung di habiskan, satu hari hanya boleh di minum satu, ingat yah. Dua Minggu lalu aku memberikan mu botol yang besar dan kau menghabiskannya dalam 10 menit, kalau sakit perut nanti bagaimana?" Kata Ady lagi, Gama hanya mengangguk pelan.
"Apaaa.. mereka selalu seperti itu?" Tanya Nia, gadis kasir itu ke Rendra yang baru saja berdiri.
"Yaa.. kau tau? Ady memang super protektif, bahkan aku rasa dia masih menganggap ku anak kecil sampai sekarang" kata Rendra sebal. Rendra yang berwajah sebal pun langsung merubah raut wajahnya dan menoleh ke arah Nia.
"Oh, kau pasti Nia yang sering Gama bilang yah?" Tebak Rendra dan Nia pun mengangguk heran.
"Gama membicarakan ku?" Tanyanya heran.
"Emm.. tidak sih, dia hanya menyebut nama mu. Tapi kalau sampai sekarang dia masih mengingat namamu, itu artinya dia pasti sangat menyukaimu, pasti dia mengira kau orang baik" kata Rendra lagi.
"Waaah.. orang baik yah" kata Nia tersenyum.
"Kau pasti merasa aneh yah karna dia jarang berbicara?" tanya Rendra pada Nia yang sedang men-scan belanjaan mereka.
"Emm.. sebenarnya tidak juga. Tapi sepertinya kalau dia berbicara jadi bertambah lucu" kata Nia tersenyum ke arah Rendra.
"hahaha begitulah.. kurasa.. memang karna sifat alaminya yang seperti itu" kata Rendra tersenyum melihat kakak dan adiknya. Nia pun ikut tersenyum melihat mereka bertiga.
(Keluarga yang menyenangkan) pikirnya tersenyum senang.
Setelah Nia men-scan semua barang yang mereka beli dan mereka membayarnya, mereka bertiga pun keluar dari minimarket itu dan langsung pulang.
"hahahaa.. anak itu lucu sekali. Ternyata bukan karena dia tidak boleh berbicara, justru karena dia jarang berbicara bahkan pada kedua kakaknya sekalipun. Rasanya ingin punya adik juga" kata Nia bergumam sendiri melihat mereka menghilang dari jendela minimarket itu.
.
.
Mereka bertiga pun berjalan menuju rumah. Namun, saat di tengah jalan, Rendra yang membawa belanjaan tadi berdua dengan Ady pun kelelahan. Apalagi sambil melihat adik mereka berjalan sambil meminum minuman yang enak tanpa membawa apapun.
Tapi secara tiba-tiba, Ady berhenti di tengah jalan dan terus memandang dengan mata terbuka seakan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya ke arah sebrang jalan. Tepatnya ke sebuah meja yang berjejer di depan sebuah kafe.
"Ady cepat lah.. aku sudah lelah sekali" keluh Rendra. Gama dan Rendra pun melihat kemana arah Ady memandang sampai dia tidak menjawab Rendra.
"Maaf, tapi.. bisa kah kalian duluan? Aku akan pulang secepatnya" kata Ady sambil meletakkan kantung plastik besar di bawah dan langsung berlari ke tempat penyeberangan orang.
Gama yang bingung pun langsung melihat ke arah Rendra dengan ekspresi penuh tanda tanya.
"Jangan menatapku begitu.. aku juga tidak tau dia mau apa" kata Rendra menyipitkan matanya dan mengambil plastik yang Ady tinggalkan.
"Sekarang jadi aku yang harus membawa semuanya" tambahnya sebal dan melanjutkan pulang ke rumah.
.
.
Sesampainya di rumah, Rendra langsung duduk di meja makan dan memainkan HP-nya dengan nafas tersengal-sengal. Gama pun langsung memberikan Rendra segelas minuman dan langsung merapihkan bahan makanan yang mereka beli ke dalam kulkas.
Gama menyisakan beberapa bahan untuk dia olah sekarang karena dia mau membuat sup untuk makan malam nanti, jadi pasti akan memakan waktu untuk membuatnya.
Tidak ada obrolan di antara mereka berdua, Gama sibuk dengan masakannya dan Rendra terus memainkan HP-nya.
__ADS_1
Tidak lama mereka pun mendengar suara pintu terbuka.
"Biar ku tebak, kau pasti membawa wanita itu kan" kata Rendra tanpa menoleh ke pintu.
"Hahaha.. jangan begitu, yang berlalu biarlah berlalu. Dia juga tidak Bermaksud jahat ko" kata Ady berjalan ke arah dapur bersama seorang perempuan yang mengenakan pakaian gaun one piece pendek berwarna putih serta topi lebar dengan hiasan bunga di bagian atas.
Rendra dan Gama pun menoleh ke arah Ady dan mereka melihat kalau Keyla si idol yang pernah mereka tonton konsernya sebelumnya.
"Aku.. minta maaf sebelumnya karena telah melakukan hal buruk pada Ady" kata Keyla pelan karena menyesal.
"Aku tidak masalah selama Ady memaafkan mu" kata Rendra tanpa menoleh dan terus memainkan HP-nya. Gama pun tidak mengatakan apapun dan kembali mengaduk sup yang sedang dia buat di dalam panci.
"Hahaha.. jangan di pikirkan, mereka memang begitu, Tapi mereka baik ko. Ayo duduk" kata Ady mempersiapkan Keyla duduk.
Gama pun langsung memberikan segelas minuman untuk Keyla lalu langsung kembali ke masakannya.
Gadis bertubuh mungil itu pun menunduk sambil terus memegang gelas yang di berikan oleh Gama.
"Jadi.. kenapa kau pergi dari rumah?" Tanya Rendra langsung menebak.
"Bagaimana kau tau?" Tanya Keyla heran.
"Hahaha sudah sudah, keluarga kami memang begitu. Jadi tidak perlu di pikirkan" kata Ady tertawa dan Keyla pun mengangguk.
"Yaa.. itu karena kedua orang tua ku yang terus mengekang aku di rumah" katanya dengan nada pelan.
"Kau merasa tertekan?" Tanya Rendra heran, Keyla pun mengangguk.
"Sebenarnya aku juga ingin bebas seperti anak-anak seusia ku. Bermain dan nongkrong bersama teman teman, pergi bersekolah dan pulang bersama. Tapi sejak aku melakukan debut pertama ku dan syukurnya aku bisa langsung menjulang tinggi. Tapi karena itu juga kedua orang tuaku seperti di butakan oleh ketenaran yang terjadi padaku serta semua uang yang aku hasilkan" katanya suaranya semakin pelan. Ady dan Rendra hanya terdiam mendengarnya.
"Jadi.. maksud mu, umur mu itu belum tua?" Tanya Rendra.
"Kasar.. aku juga seumuran kalian tau" kata Keyla terlihat malu melihat Rendra.
"Yah, aku tidak bisa menebak wajah perempuan yang di tutup make up sih" kata Rendra kembali memainkan HP-nya.
"Hahaha.. sudah sudah, karena hari ini sudah mulai gelap, dan aku yakin kau juga belum makan kan? Kau boleh disini dulu" kata Ady sambil tersenyum.
"Benarkah?" Tanya Keyla dengan mata berkaca-kaca dan Ady pun mengangguk.
"Kalau kau mau, kau boleh memakai kamar mandi ku yang ada di atas. Kau pasti kurang nyaman karena sudah pergi seharian penuh kan?" kata Ady lagi.
Dengan malu-malu Keyla beberapa kali melihat ke Rendra dan Gama secara bergantian beberapa kali. Tapi mereka berdua terlihat tidak keberatan, lebih tepatnya tidak peduli.
"Umm.. baik lah, terima kasih" kata Keyla malu, Ady pun menuntun Keyla ke atas menuju kamarnya.
Gama pun langsung meletakkan alat-alat makan karena makanan sudah hampir selesai.
"Kau tau gam-gam? Ketika orang sedang jatuh cinta, terkadang orang ter cuek sekali pun akan terlihat aneh, sama seperti Ady sekarang" kata Rendra masih memainkan HP-nya.
Yang di bayangkan Gama setelah mendengar Rendra itu seperti cinta pada saudaranya atau temannya. Dia sama sekali tidak mengerti hal yang menjurus ke sana.
"Hei, baunya harum. Kau masak sup apa?" Tanya Ady kembali turun dan berjalan ke dapur.
Gama tidak menjawabnya dan terus mengaduk sup yang ada di atas kompor. Ady pun mendekat dan melihatnya.
"Ooh sup sayuran yang di campur daging ayam. Pasti enak" kata Ady tidak sabar dan duduk di tempatnya.
.
.
"Oh, ternyata memang agak kebesaran" kata Ady melihat Keyla.
"Kau meminjamkannya baju?" Tanya Rendra.
"Iyah, kenapa memangnya?" Tanya Ady balik heran.
Keyla yang mendengar Rendra berbicara seperti itu pun langsung berfikir kalau Rendra benar-benar tidak menyukainya. Tapi justru kenyataan berkata lain.
"Bukan.. kalau kau mau meminjamkannya baju, kenapa tidak pakai baju Gama saja, sepertinya pas dengan ukuran tubuh dia. Kau tidak keberatan kan gam-gam?" Tanya Rendra.
"Tidak masalah" kata Gama datar sambil berjalan ke Ady dan memintanya untuk meletakkan panci sup ke atas meja.
Keyla yang mendengarnya agak terkejut, selama ini dia berfikir mereka semua pasti tidak akan memaafkannya karena sudah berkelakuan buruk pada kakak mereka.
"Kau tau? Keluarga ini tidak pernah memikirkan hal rumit seperti membenci orang dengan alasan sepele seperti yang kau lakukan dulu. Jadi tenanglah.." kata Ady tiba-tiba sambil tersenyum. Keyla pun menunduk dan tubuhnya gemetar, mereka bertiga langsung melihat ada air mata yang turun dari wajahnya dan menetes ke bawah.
Mereka bertiga pun langsung panik karena Keyla yang tiba-tiba begitu.
"EEHHHH... Ady, kau apakan dia?" Kata Rendra panik.
"Hah? Aku tidak tau. Itu terjadi secara tiba-tiba" katanya juga ikut panik. Gama pun bingung ingin melakukan apapun dan mencari sesuatu yang mungkin bisa dia berikan ke Keyla.
Keyla pun menyeka air matanya dan mengangkat wajahnya.
"Hahaha.. kalian itu lucu sekali, tidak apa-apa, aku hanya senang saja. Selama ini belum pernah ada yang berbuat hal seperti ini padaku. Sekali pun ada, mereka pasti hanya ingin bersama ku karena reputasi dan uang ku saja. Tapi kalian benar-benar berbeda" kata Keyla tersenyum.
Mereka pun berhenti dan mencoba untuk mengerti yang di ucapkan Keyla barusan.
"Emm.. kalau begitu, sekarang makan lah dulu. Masakan Gama enak sekali loh" kata Ady memberikan semangkuk sup ke Keyla.
"Iya, terimakasih" katanya tersenyum.
.
.
Setelah selesai makan, Gama langsung membereskan peralatan makan dan meletakkannya ke wastafel lalu mencucinya.
"Sudah cukup larut. Kau.. kalau mau tidur saja di kamar ku, aku akan tidur di sofa nanti" kata Ady melihat ke arahnya. Rendra dan Keyla tersentak mendengar Ady mengatakan itu.
"Tidak, Keyla tidur di kamar Gama saja. Gama mau buat sesuatu semalaman nanti" katanya memotong pembicaraan sambil mencuci piring.
"Kau yakin? Kau bisa tidur dengan ku, tubuh mu kan kecil, jadi pasti muat" Tanya Rendra.
"Tidak, Gama akan tidur di sofa saja" katanya datar.
Ady dan Rendra pun saling menatap satu sama lain.
"Apa terjadi sesuatu adik kecil?" Tanya Ady, namun Gama tidak menjawabnya dan hanya fokus mencuci piring.
"oke.. tapi jangan bergadang yah. Sampai jam 12 saja" kata Ady pelan masih menatap ke arah adiknya yang mengangguk pelan.
.
.
__ADS_1
Malam semakin larut, dan semua penghuni rumah sudah tertidur lelap. Tapi Gama masih terjaga duduk di sofa ruang depan sambil membaca buku dengan kacamatanya sambil mengukur sesuatu di selembaran kertas besar yang dia bentangkan di atas meja.
Dia pun berkaca-kaca melihat apa yang dia gambar disana, meskipun sebenarnya itu gambar yang sangat buruk.
*kresek..
Saat dia mendengar sesuatu dari luar, dia sedikit tersentak lalu menutup bukunya dan meletakkan kacamatanya di atas meja sebelah buku yang dia tutup lalu pergi ke dapur untuk mengambil seutas tali tambang, dan dia pun pergi keluar.
*Krincing.. *krincing..
Suara lonceng yang di bunyikan Gama dari arah dapur untuk memanggil mereka yang masih di dalam kamar. Keyla pun keluar dari kamar dan berpapasan dengan Ady yang kamarnya berada tepat di depannya dan tertawa kecil. Rendra yang terlihat masih mengantuk berjalan melewati mereka berdua.
"Masih pagi.." katanya ketus. Mereka berdua pun terdiam melihat Rendra turun ke bawah dan mengikutinya.
Saat mereka sampai di dapur, mereka bertiga terkejut karena melihat ada seseorang yang pingsan duduk di ikat di bangku.
"Waaah.. siapa itu?" Tanya Rendra kaget.
"Adik kecil, apa yang sudah kau lakukan padanya?" Tanya Ady panik.
"Tidak ada, Gama hanya keluar dan menyentuhnya dari belakang, dia terkejut sampai pingsan" kata Gama datar meletakkan sarapan untuk mereka di meja makan.
(Lemah sekali) pikir Ady dan Rendra.
"Itu.. itu Ivan, dia manager ku" kata Keyla terkejut.
"Hah?" Kata mereka serempak.
Dengan perlahan dan pandangan yang kabur, orang itu berusaha melihat dengan jelas untuk mengetahui apa yang terjadi. Dan dia pun terkejut karena dia di ikat dengan posisi berada di lantai pojok suatu ruang. Dan dia lebih terkejut lagi karena di depannya ada 4 orang yang sedang asyik memakan sarapan mereka tanpa memperdulikan dia padahal mereka semua tau kalau dia sudah sadar.
Setelah selesai sarapan, Ady dan Rendra yang sudah mengenakan seragam sekolah pun langsung pamit dan pergi ke sekolah pada Gama dan meninggalkannya dengan Keyla.
Keyla pun melepaskan ikatan orang itu dan menyuruhnya untuk duduk di bangku, sedangkan Gama mencuci piring yang mereka gunakan.
"Kenapa kau bisa ada disini?" Tanya Keyla, Gama pun menyuguhkan teh hangat untuk mereka berdua dan melanjutkan membersihkan ruang depan.
"Saya... Saya sebenarnya mengikuti anda dari awal Anda keluar dari rumah. Saat itu saya melihat anda berbicara dengan seseorang saat duduk di sebuah kafe, jadi saya memutuskan untuk mengikuti anda dan sampai lah disini" katanya.
Keyla pun menengok ke ruang depan dan melihat Gama sedang membaca bukunya di sofa ruang depan.
"Dengar, jangan beritahu ayah dan ibuku kalau aku ada disini. Sekarang kau pulang lah, kau pasti sudah kelelahan karena seharian mengikuti ku kan?" Kata Keyla.
Orang itu pun dengan kecewa akhirnya mengikuti perkataan Keyla dan pamit pulang.
.
.
"Ady Ady" panggil Resti membangunkan Ady yang tertidur di mejanya.
Saat Ady membuka matanya dia melihat sudah terkepung oleh teman-temannya.
"Huh? Ada apa? Kenapa kalian semua kesini?" Tanya Ady masih mengantuk.
"Boleh kah aku bertanya sesuatu pada mu?" Tanya Resti. Ady yang melihat semua tatapan teman-temannya padanya yang sama pun menjadi yakin kalau ini pertanyaan mereka semua, jadi Ady pun mengangguk dan mencoba menjernihkan pikirannya.
"Adik mu saat 8 tahun yang lalu kan cukup terkenal karena menyelesaikan kasus-kasus yang sulit, meskipun wajahnya tidak terekspos, tapi namanya sangat terkenal" kata Resti.
"Benar, terus kenapa?" Tanya Ady heran.
"Kenapa dia tiba-tiba menghilang saat 2 tahun lalu?" Tanya Riski.
"Ah emm.. karena ayah kami melarang Gama melakukannya" kata Ady singkat.
"Hah? Tapi bukan kah membantu kepolisian itu sama seperti memberikan yang terbaik untuk negara?" Tanya Putri.
"Entah? Kalau itu aku tidak tau. Tapi yang pasti ayah ku hanya melarangnya saja. Dia benar-benar menentang Gama melakukan itu, mungkin karena kasus terakhir yang kami tangani. Kalian mungkin tidak tau, karena ini tidak di sebarkan ke media mana pun, yang tau hanya keluarga kami, pak presiden saat itu dan beberapa orang yang ikut terlibat" jelas Ady.
"Kasus apa itu?" Tanya Resti penasaran.
"Aku tidak bisa mengatakannya pada kalian, tapi yang pasti saat itu kalau kami gagal pasti sampai sekarang kita akan berperang dengan beberapa negara di luar sana" kata Ady melihat ke bawah.
"Apa.. sampai begitu mengerikan nya?" tanya Rijal pelan.
"Begitulah.. teman-teman ku, orang yang paling berpengaruh dan merubah hidup Rendra juga ikut tewas. Kurasa.. itu hal yang tidak mau kami ingat" katanya tersenyum kecil masih menunduk.
Karena merasa tidak enak, mereka pun berhenti bertanya dan kembali ke tempat masing-masing setelah meminta maaf ke Ady. Saat Ady ingin kembali tidur, HP-nya berdering dan melihat ada pesan masuk.
'jangan lupa dua hari lagi hari Sabtu, kita akan liburan ke pulau. Aku sedang tidak ada di sekolah jadi hanya bisa mengingatkan kalian lewat pesan saja. Aku akan jemput kalian jam 6 pagi agar kita lebih cepat berangkat' isi pesan itu dari Anna.
(Hahaha.. anak ini berlebihan sekali, tapi seru juga berlibur ke pulau) pikir Ady sambil membalas pesan itu.
.
.
Keyla yang masih duduk di meja makan terus memperhatikan Gama yang masih membaca bukunya di sofa padahal sekarang sudah jam setengah 12 siang.
"Gama.. apa kau tidak bosan? Apa kau tidak ingin bertanya sesuatu padaku? Atau apa gitu" kata Keyla. Namun Gama tetap tidak menghiraukannya.
Setelah di pikir-pikir, akhirnya Keyla pun memutuskan untuk pulang dan dia berjalan mendekati Gama sampai Gama melihatnya.
"Kalau begitu.. sepertinya aku harus pamit pulang saja. Aku merasa tidak enak tinggal disini, titip salam ke kedua kakak ku yah" kata Keyla sambil tersenyum.
"Oh Iyah, untuk bajunya.. aku pinjam sebentar yah" kata Keyla tersenyum.
Gama pun mengangguk dan pergi ke dapur lalu memberikan Keyla sebotol teh kesukaannya.
"Untukku" tanya Keyla dan Gama pun mengangguk.
"Hehehe terimakasih, maaf yah, aku tidak bisa menunggu kakak kakakmu. Jadi aku hanya bisa titip salam. Aku akan mampir lagi lain kali, tidak apa-apa kan?" Tanya Keyla dan Gama pun kembali mengangguk.
.
.
*Klek
Seorang gadis dengan gaun panjang masuk ke dalam sebuah kafe.
"Selamat datang, waaah.. nona gadis yang cantik yah.. silahkan duduk" sapa seorang pria dengan seragam khas kafe tersebut.
Gadis itu pun duduk dengan perlahan di meja yang sudah di sediakan.
"Mau pesan apa nona cantik?" Tanya layanan itu sambil tersenyum ramah.
"Langsung saja pak Yudi. Perkenalkan, nama saya Anna. Saya kemari memang ingin bertemu dengan anda" kata Anna tersenyum sambil melihat orang yang di depannya.
__ADS_1
Pelayan itu pun menurunkan tangannya yang tadi bersiap menuliskan pesanan untuk Anna dan tersenyum.
"Waaah.. pasti merepotkan sekali sampai anda jauh-jauh datang kemari cuman untuk ketemu dengan saya" balas Yudi masih tersenyum tapi kali ini tatapannya lebih tajam.