
Sambil berjalan menuju kelas 3-B Nanda pun mengirim pesan ke grup WhatsApp yang di buat untuk kelas mereka. Nanda memberitahu kalau orang yang mereka cari sudah di temukan.
"Hei ketua kelas, kau sedang mengirim pesan ke siapa?" Tanya Ady saat melihat Nanda mengetik sesuatu di HP-nya.
"Aku sedang memberitahu yang lain. Oh benar juga, aku minta kontak WhatsApp mu" pinta Nanda, tapi Ady malah memasang wajah bingung.
"Ada apa?" Tanya Nanda.
"Hehehe.. Apa itu Whatsupp?" Tanya Ady sambil tertawa.
(Benar kata Rendra, dia kolot sekali) pikir Nanda dan Resti yang ada di sebelahnya.
"Padahal kau ini kandidat peringkat pertama yang bisa menggeser Dion, tapi hal seperti ini masa tidak tau" kata Anna aneh.
"Habisnya, biasanya aku hanya memakai nya hanya untuk mengirim SMS atau menelpon, hanya itu" bela Ady yang sedang menggandeng Gama di sebelahnya.
"Kasihan.." kata Resti memasang wajah memelas.
"APANYA!!" kata Ady sebal.
Mereka pun sampai ke tangga untuk naik ke atas.
"Oke aku akan ceritakan dari awal" kata Resti memulai, Ady, Nanda dan Anna pun menoleh dan mulai mendengarkan, sedangkan Gama tetap terlihat biasa saja sambil melihat ke depan.
"Uang yang biasa di beri oleh pihak sekolah tiap sebulan sekali untuk kepentingan kelas seperti spidol, penghapus, tinta, dan sebagainya sebanyak 500 ribu hilang begitu saja. Padahal sebelumnya ada di buku di dalam tas ku" kata Resti wajahnya kembali murung dan melanjutkan kembali.
"Aku datang seperti biasa dan memang belum ada orang sama sekali, lalu tiba-tiba aku ingin ke toilet, jadi aku tinggal tas milikku di kelas" tambah Resti.
"Toilet mana yang kau pakai?" Tanya Anna.
"Di lantai 3 juga, sekolah kita kan berbentuk U. Tiap garis dari huruf U itu ada 3 ruangan apapun itu. Dan tangga pun ada dua di tiap sudut huruf U, aku benar kan?" Tanya Resti dan mereka pun mengangguk.
"Di lantai tiga, dari 9 ruangan hanya 2 yang terpakai. Kelas 3-B yang berada di ujung pojok sebelah kanan sampai kita bisa melihat keluar sekolah, dan perpustakaan yang berada di garis tengah dan ruangan paling tengah" jelas Resti.
"Aku memakai toilet yang masih berada di lorong kanan, jadi hanya berjarak satu ruangan kosong di tengah-tengahnya. Karena toilet itu di dekat tangga jadi aku tau kalau ada orang yang datang lewat tangga itu" jelas Resti lagi.
"Berapa orang yang kau dengar?" Tanya Ady.
"Satu, hanya satu orang. Aku yakin sekali" kata Resti memelas.
__ADS_1
"Lalu.. siapa orang itu?" Tanya Nanda.
"Dodi, anak kelas kita" jawab Resti, semuanya pun menghembuskan napas saat mendengarnya kalau itu justru teman kelas mereka.
"Dari mana kau tau itu dia?" Tanya Nanda.
"Karena saat aku kembali ke kelas, Dodi sudah ada dan tertidur sambil duduk di bangkunya. Lalu saat aku berjalan ke tempat dudukku, Rijal, Yuni dan kau Nanda datang" jelas Resti dan Nanda membenarkan hal itu karena dia sempat melihat Resti mau duduk di bangkunya.
Gama yang sedang di gandeng oleh Ady pun menarik lengan Ady dan memberikan tehnya yang masih tertutup rapat ke Ady. Dengan tersenyum Ady pun mengambil botol itu lalu membukakan tutupnya dan kembali memberikannya lagi ke Gama.
(Apa benar anak ini detektif itu? Dia tidak terlihat spesial sama sekali) pikir Nanda memperhatikan Gama yang asik meminum minumannya.
"Lalu saat mereka bertiga datang aku sempat menyapa Nanda lalu memeriksa barang di dalam tas ku, dan aku terkejut kalau posisi barang-barang yang ada di tas ku sudah berantakan" sambung Resti.
"Jadi itu sebabnya kau menuduh.. siapa tadi teman mu? Dodi?" Tanya Anna.
"Tidak!! Aku tidak pernah mencurigai teman sekelas ku, sedikitpun aku tidak pernah mencurigai siapapun dari kelas ku" kata Resti sedih.
"Oke oke aku mengerti, jangan seperti itu, aku jadi tidak enak" kata Anna.
"Maaf.. dan juga, saat aku baru menyadari kalau uang itu yang berada di dalam buku ku hilang, aku mulai panik" tambah Resti.
"Benar, kalau dari sini aku juga tau. Dodi yang sedang tertidur itu pun terbangun karena teriakan Resti" jelas Nanda.
"Lalu? Apa dia saat itu pergi ke toilet juga?" Tanya Ady.
"Kurasa tidak, karena waktu nya tidak akan sempat, kalau dia ke toilet seharusnya aku tidak bertemu dengannya di kelas. Kenapa memangnya kau bertanya begitu?" Tanya Resti heran.
"Karena saat aku datang, dia tidak memakai sepatunya" kata Ady mengerutkan keningnya.
Mereka yang masih menaiki tangga dan baru sampai di lantai dua itu pun berhenti berjalan karena Gama mengeluh kalau dia kelelahan. Mereka pun duduk di tengah tangga untuk naik ke lantai tiga.
"Kau.. bagaimana kau tau kalau Dodi saat itu tidak memakai sepatu? Dia kan berada di barisan paling belakang kerumunan anak-anak lain tadi, dan juga ada meja yang menghalangi" tanya Nanda agak kaget mendengar Ady berbicara tadi, Ady yang sedang mengelus kepala adiknya sambil tertawa itu pun menoleh ke arah Nanda. Namun belum sempat Ady menjawab, ada suara langkah kaki seseorang dari lantai 3 yang Ingin turun ke bawah.
"Itu karena sepatunya ada di luar, di dekat tempat sampah. Satu-satunya orang yang sudah meletakkan tas di kelas itu hanya Resti dan Dodi. Benarkan?"" kata suara itu semakin mendekat.
"Rendra? Kau dari tadi ada diatas? Mana Riski?" Tanya Resti heran dan Rendra pun mengangkat tangannya dengan wajah malas.
"Aku menjaga kedua tangga, berjaga-jaga kalau ada seseorang yang turun maupun menuju ke lantai 3, Aku tidak melihat nya sejak kalian berlari pergi. Loh ada Anna juga?" Kata Rendra ikut duduk di anak tangga paling atas.
"Tunggu dulu, kalau memang begitu. Seharusnya bisa saja kau menuduh sepatu yang ada di depan sana itu milik Aku, Yuni atau Rijal?" Tanya Nanda lagi.
__ADS_1
"Saat kami sampai, kalian bertiga jelas sekali ada di depan kami" kata Ady masih tersenyum.
"ja-jadi.. bagaimana kala-"
"ee.. kalau begitu ketua kelas, aku tanya padamu. Tujuan mu sekarang mau menangkap pencurinya atau mengetahui tentang Ady? Kau menyukai kakak ku yah?" Tanya Rendra malas sambil meletakkan dagunya di tangannya.
"Huuhh.. benar juga, maaf sebelumnya. Tapi adik kalian bahkan tidak mendengarkan cerita Resti dari tadi, apa benar dia bisa membantu?" Tanya Nanda lagi.
"Apa kau yakin dia tidak mendengarnya?" Tanya Rendra tersenyum, Nanda pun tertegun dan matanya terbuka lebar menahan emosi yang bercampur saat ini.
"Kupikir kita harus naik lagi, ayo adik kecil" ajak Ady dan Gama pun mengangguk ikut berdiri di ikuti yang lain.
"Oke kita lanjutkan, aku tidak tau kenapa tidak memakai sepatunya. Tapi memangnya itu ada hubungannya?" Tanya Resti.
"Entahlah, Gama pernah bilang padaku, hal kecil sekali pun bisa menjadi petunjuk yang kuat" kata Ady santai, Anna yang berada di belakang mereka hanya bisa menyimak pembicaraan mereka dan terus memperhatikan Gama. Sejak awal sampai sekarang dia hanya terus melihat tehnya yang ada di dalam botol dan memiringkannya.
Tapi di saat mereka menginjak anak tangga terakhir, secara spontan mata Anna terbuka lebar karena saat itu juga sorot mata Gama pun berubah menjadi tajam dengan pandangan ke depan lalu mengehentikan langkah semua orang sambil terus menatap ke arah satu ruangan tertutup yang sudah berdebu.
Semuanya sempat kaget karena hal itu terjadi secara tiba-tiba.
"Ada apa adik kecil?" Tanya Ady mengerutkan keningnya.
"Apa terjadi sesuatu dengannya?" Tanya Nanda.
Resti yang berada di sebelah Nanda pun mengintip sedikit dari sana karena ketakutan.
"Kalian mau tau siapa yang mencurinya kan?" Tanya Gama serius.
"Oh akhirnya bicara juga, ternyata suaranya pun seperti anak kecil" kata Nanda.
"Te-tentu saja mau" jawab Resti terbata-bata.
"Kalau begitu Gama akan bertanya dahulu. Apa yang akan kalian lakukan kalau penangkapan pencuri ini bisa mempengaruhi kelas kalian? Bisa saja kalian di keluarkan" kata Gama datar melihat Nanda dan Resti, mereka berdua pun agak bingung dan gemetar melihat Gama yang sekarang.
"Ah, emm.. kenapa kau tidak bertanya pada Ady dan-"
"Itu karena Ady dan Rendra sangat mustahil di keluarkan dari sekolah ini. Mereka berdua aset berharga bagi sekolah ini" potong Gama saat Resti berbicara, Resti dan Nanda pun terkejut mendengarnya.
"Aku rasa.. aku rasa itu tidak masalah, selama kami benar aku rasa itu tidak apa-apa" kata Resti terbata-bata tapi terlihat dari sorot matanya kalau dia yakin dengan jawabannya, Gama pun tersenyum mendengar dan melihat jawaban Resti.
Dia pun melangkah pelan naik dan berhenti di depan pintu kayu yang sudah terlihat usang dan berdebu.
__ADS_1
"Kalau begitu biar Gama perkenalkan, ini lah pencuri uang kalian" kata Gama membuka pintu itu dan memperlihatkan seseorang yang sedang berdiri di belakang pintu itu dengan wajah yang amat terkejut.