Ladang Api

Ladang Api
Ada Ninja di Ladang Cengkeh


__ADS_3

SEMENTARA Patra sedang menyelesaikan makannya, Mat Yusi masuk ke dalam gubuk dengan membawa karung kosong.


Tubuhnya yang tinggi besar terpaksa harus menundukkan kepala saat melewati pintu. Sedikit pun Patra tak menemukan keanehan di dalam diri Mat Yusi, kecuali belati yang terselip di pinggangnya.


Akh, aku pun sering menyelipkan parang ke pinggang saat mencari kayu bakar di bukit Sangyang. Patra berusaha tidak ingin berpikir macam-macam. Kalau wajahnya seperti warga keturunan Tionghoa, Patra sudah mendengar dari cerita bapaknya.


"Nanti kau lanjutkan saja memetik di pohon cengkeh yang kemarin," pinta Mat Yusi.


Bagi Patra, mengurus bunga cengkeh bukan hal yang rumit. Ia tahu caranya agar tidak merusak daun terakhir di dekat bunga cengkeh.


Jika daun itu ikut terpetik, maka akan mengganggu pertumbuhan tunas berikutnya. Hanya bunga cengkeh berwarna kuning kemerah-merahan dengan kepala bunga masih tertutup yang boleh dipetik.


Begitulah. Setiap kali musim panen tiba, setiap anak laki-laki akan menyusul bapaknya memanen bunga cengkeh.


Dulu, Patra juga seperti itu. Bunga cengkeh hasil panen akan diurus oleh para anak perempuan bersama ibunya. Mereka bertugas menjemur bunga cengkeh di pelataran rumah.


Jika sudah tak cukup tempat, mereka akan menjemurnya di sepanjang jalan di desa mereka. Dalam hitungan hari, setiap sudut desa akan ramai oleh semerbak aroma cengkeh.


"Bapak sendirian di sini?" Patra tak betah hanya diam. Ia kemudian merapikan kembali piring berisi ikan kering dan menangkupkan piring lain di atasnya.


"Ya..," jawab Mat Yusi sambil menyobek karung dengan belati terselip di pinggangnya.


Kilau belati di tangan Mat Yusi membuat jantung Patra berdesir. Bagian bawah karung yang masih rekat itu kemudian robek menjadi dua bagian hanya dalam sekali sentakan.


Kengerian yang sama juga dirasakan ketika mengetahui banyak sekali senjata tajam di dalam gubuk. Persis di samping kotak P3K, ada trisula, ruyung, tongkat, arit bahkan katana tersusun dengan rapi.


Semuanya menempel di dinding dengan tali pengait di antara paku-paku kecil. Patra belum mendapat alasan kenapa Mat Yusi menyimpan semua senjata itu.


Dengan keberanian yang dipaksakan, Patra menanyakan alasan kenapa tadi Mat Yusi berada di kolong gubuk dan untuk apa semua senjata-senjata itu.


"Karena kau sudah menjadi bagian ladang cengkeh ini, maka satu-persatu akan aku ceritakan padamu. Tapi setelah kau selesai sholat," Mat Yusi mengajukan syarat.


Patra pun segera menyelesaikan makannya lalu beranjak mengambil air wudhu dari ember berukuran besar di samping gubuk.


Mat Yusi menggeser duduknya, memberi ruang kepada Patra untuk sholat. Setelah semuanya selesai, belati pun telah kembali terselip di pinggang Mat Yusi. Patra kemudian memutar badannya dan kembali duduk bersila.


"Aku sedang mencari cara untuk memperketat penjagaan," ucap Mat Yusi beralasan kenapa ia berada di kolong gubuk.


"Memangnya pernah ada maling masuk, Pak?"


Mat Yusi membuka tutup panci dan mencomot beberapa ubi dan meletakkannya ke atas piring kosong. Ia seruput teh hangat yang baru dibuatnya selama Patra mengerjakan sholat. Kemudian ia ajak Patra untuk keluar, duduk di kursi bambu sambil membawa ubi dan teh hangat untuk mereka berdua.


"Kadangkala mereka mengintai dari balik pepohonan cengkeh sambil menunggu aku lengah." Mat Yusi menceritakan kalau ia sering melihat orang berpakaian ala ninja, menutup kepalanya dengan sarung dan berkeliaran di ladang cengkeh.


"Mereka selalu datang berkelompok, kadang tiga hingga lima orang."


"Apa mereka pernah berhasil?"

__ADS_1


"Kedatangan mereka bukan untuk mencuri, tapi justru membakar ladang."


"Membakar!!?" Patra terperanjat.


"Sayangnya aku belum berhasil menangkap salah satu dari mereka. Saat itu aku sibuk mematikan api yang mulai membesar. Untung hanya tiga pohon yang terbakar. Saat aku ingin mengejar, orang-orang itu sudah melarikan diri," kenang Mat Yusi mengingat peristiwa yang pernah dialaminya selama di ladang cengkeh.


Patra terdiam. Sedikit demi sedikit kekhawatirannya terhadap Mat Yusi mulai berkurang.


"Kamu sendiri, kenapa bisa sampai di sini?"


Giliran Patra merasa canggung. Ia tak tahu harus mulai dari mana. Dilihatnya Mat Yusi tampak nikmat mengunyah ubi.


Sambil memandang lepas ke arah genangan waduk di sebelah sana, Patra mulai menceritakan semua kejadian yang menimpanya tiga hari lalu. Ia tunjukkan bekas telapak kaki yang masih memerah di perutnya.


"Rupanya Yudha sudah memindahkan bisnis busuknya ke kampung lain!" Suara Mat Yusi seperti sedang menahan geram.


"Maksud, Bapak?"


"Yudha dan Jauhari sekarang sudah tidak lagi bekerjasama. Barangkali Yudha merasa keuntungan dari penjualan cengkehnya berkurang. Ia kemudian menjadi rentenir."


Mat Yusi menceritakan semua yang ia ketahui. Termasuk ketika Jauhari memperingatkan warga agar tak terjebak oleh bujuk rayu Yudha yang berpura-pura menawarkan bantuan. Sejak itu, Yudha menyulut api permusuhan karena merasa bisnisnya dihalang-halangi.


"Kemarin mereka memaksa agar bapakku bekerja untuknya.”


“Lantas?” giliran Mat Yusi penasaran.


“Dasar bajingan…,” geram Mat Yusi “Eh…maksudku yang bajingan itu Yudha, bukan bapakmu. Takutnya kau salah mengartikan,” terang Mat Yusi terkekeh.


Patra ikut tertawa. “Awalnya mereka pikir bapakku datang tidak membawa uang. Dugaan Yudha salah dan memaki-maki bapak karena langsung pergi meninggalkannya.”


“Bagus! Semakin banyak orang seperti bapakmu, Yudha akan tersingkir dengan sendirinya.”


"Lantas orang-orang yang...," Patra ragu melanjutkan ucapannya.


Mat Yusi menoleh memandangi Patra. "Orang yang membakar ladang, maksudmu? Kalau itu, pikiran kita sama. Sayangnya belum ada bukti," telapak tangan Mat Yusi mengepal.


"Berarti kita harus menangkap salah satu dari mereka?"


Mat Yusi memasang wajah serius. Patra sedikit gugup dan ia pun menyadari kesalahannya.


"Maksudku, bapak yang menangkapnya," tunjuk Patra kepada Mat Yusi


Tawa Mat Yusi membuat wajah Patra memerah. "Aku tidak menganggap kau tak mampu melakukannya. Namun, bermodal keberanian saja belum cukup. Andai Jauhari mengijinkan aku untuk memaksa anak buah Yudha, kujamin mereka akan mengakuinya."


"Bukankah pengakuan mereka akhirnya bisa dijadikan bukti?" Patra setuju seandainya Mat Yusi segera membuat perhitungan.


"Kau tahu apa yang dikatakan Jauhari saat aku mengutarakannya? Dia bilang, orang baik-baik pun akan mengakui dirinya bersalah jika disiksa dan di paksa."

__ADS_1


"Berarti Yudha dan anak buahnya tak bisa dihentikan, paling tidak dalam waktu dekat ini," sesal Patra.


Debbs…


Selama mereka asyik berbincang, suara desau tembakan senapa angin terdengar tak jauh dari tempat mereka beristirahat. Mat Yusi terkekeh ketika Zian muncul dari balik pepohonan cengkeh.


"Ampun, Pak Polisi. Ampunn…jangan tembak saya," Mat Yusi mengangkat kedua tangannya dengan ekspresi wajah ketakutan dan suara memelas.


Patra heran melihat kekonyolan Mat Yusi yang sama sekali tak diduganya. Sulit bagi Patra menahan tawa melihat Mat Yusi bertingkah seperti itu.


Namun, Patra belum tahu rahasia besar di balik kelucuan Mat Yusi. Kelak kesadarannya akan dihadapkan pada dua pilihan, mengembalikan rasa takut yang semula menguntit, atau membekapnya dengan keberanian.


Setelah meletakkan bakul yang di bawanya, Zian mengarahkan senapan ke arah mereka berdua secara bergantian.


"Selalu ada alasan kenapa orang masih bisa tertawa saat mengetahui dirinya sedang ditodong senapan," ucap Zian menakut-nakuti dan itu berhasil membuat wajah Patra menjadi tegang. Pucat.


"Hei…heiii…jangan main-main dengan senapan. Kalau pelurunya kena Patra bagaimana? Beda kalau mengenai tubuhku," Mat Yusi keceplosan.


Giliran Zian tertawa melihat Patra pucat pasi. Ia turunkan senapan lalu mendekati mereka berdua. "Tenang saja, badannya kebal dengan peluru," Zian memberitahu Patra tanpa merasa ada yang harus disembunyikan.


Patra menoleh kepada Mat Yusi seperti sedang meminta jawaban.


"Jangan percaya…" jawab Mat Yusi berkali-kali ketika Zian terus menyudutkannya di hadapan Patra.


Setelah Zian menyerahkan bungkus plastik berisi makanan, diam-diam ada semburat kekecewaan di wajah Patra karena bukan Putri yang membawanya.


"Sekarang aku ingin belajar memainkan ruyung," pinta Zian langsung menaiki tangga gubuk lalu kembali menimang-nimang ruyung di tangannya.


"Kupikir Patra juga perlu belajar beladiri." Zian melirik Patra yang masih menyimpan kebingungan.


"Dia datang ke sini untuk bekerja, Zian."


"Awalnya aku datang ke sini juga untuk menembak burung," timpal Zian memaksa. “Kau sendiri yang bilang, lelaki harus bisa beladiri untuk menjaga kehormatannya.”


Mat Yusi diam memikirkan sesuatu. "Jika Patra sudah menyelesaikan satu pohon cengkeh, dia baru boleh ikut latihan," Mat Yusi mengajukan syarat.


Patra sendiri tidak yakin dengan semua yang baru saja didengarnya. Selama ini, Zian tidak terlihat sebagai orang yang memiliki kemampuan beladiri. Paling tidak, sesekali memamerkan pukulan atau tendangan kepada kawan-kawannya di sekolah.


Mat Yusi tersenyum melihat Patra langsung menyambar embernya kembali. Ia bisa merasakan sebuah kekuatan yang mendesak ke dalam tubuh Patra. Kekuatan yang begitu panas, seperti gumpalan api yang siap membakar.


Kau pasti akan mendapatkannya. Mat Yusi berjanji dalam hati.


Dari atas tangga, sesekali Patra memerhatikan Mat Yusi sedang mengayunkan ruyung. Dengan lincahnya ruyung itu berputar secara bergantian mengitari tubuh Mat Yusi.


Patra semakin takjub ketika melihat ruyung di tangan Mat Yusi melingkari perut lalu berpindah melewati lengan dan disambut melalui bawah ketiak dengan telapak tangan satunya. Giliran Zian meniru Mat Yusi, ia justu meringis kesakitan saat ruyung mendarat di kepalanya sendiri.


Patra tertawa. Namun setelah itu ia bersikeras tak ingin menonton Zian berlatih. Ia menghadap ke sudut lain dan kembali memetik bunga-bunga cengkeh.

__ADS_1


Diam-diam Patra membayangkan rasa sakit yang ia terima akan terbalaskan. Bayangan centeng itu muncul lagi. Ada keberanian menjalari tubuhnya. Dada Patra mendesir. Dendam.


__ADS_2