
MALAM begitu merah. Jauhari was-was ketika melihat kepulan asap yang dibawa angin itu seakan-akan mendekat ke arahnya.
Ia melihat orang-orang panik membawa ember menuju waduk. Tubuh Jauhari lemas. Hampir saja motor yang mereka kendarai terperosok ke kubangan ketika Mat Yusi tak sabar melompat dan berlari sekuat tenaga menuju gubuk.
Orang-orang melarang Jauhari ketika ingin mendekati ladang cengkeh. "Patra…Patraaa..," Jauhari berteriak.
"Berbahaya, Pak,” cegah mereka. “Kami sudah pergi ke sana, tapi tak seorang pun kami temui,” ucap salah seorang warga menjelaskan.
Tubuh Jauhari lemas seketika. "Aku tak peduli ladang cengkeh habis terbakar asalkan Patra selamat," ratap Jauhari. Ia perhatikan sekeliling, berusaha mencari Sabran di antara kerumunan orang-orang yang masih sibuk ikut memadamkan api.
Sementara itu, langkah gusar Mat Yusi terbaca oleh Sabran. Ia ikuti Mat Yusi yang tampak tergesa-gesa menyusuri tepian waduk.
Udara panas terasa menyengat. Berulangkali Mat Yusi berteriak memanggil nama Patra. Sabran tak berani mengikuti Mat Yusi ketika menceburkan tubuhnya ke dalam air waduk lalu berusaha menerobos celah-celah api.
“Sial..! Sabran *******-***** rambutnya dengan kedua belah tangan. Ia berlari untuk merebut ember dari salah seorang warga.
Tergesa-gesa ia celupkan ember itu ke dalam air waduk lalu menyiramkannya persis di jalan yang tadi dilalui Mat Yusi.
Sekuat tenaga Sabran mematikan api. Sesekali ia terpeleset dan air di dalam ember pun tumpah. Tak lama kemudian terdengar suara raungan seseorang dari dalam sana. Sabran berharap Mat Yusi berhasil menemukan Patra.
“Lewat jalan tadi saja Mat Yusi!” teriak Sabran menyiramkan air di ranting yang tampak masih memerah.
Mat Yusi berlari dengan sangat cepat dan menabrak Sabran hingga terjatuh. Mat Yusi mengerang kesakitan saat kembali bangkit untuk menceburkan tubuhnya ke dalam air waduk.
Sambil merangkak, Sabran berteriak meminta agar orang-orang mendekat ke arahnya. Sorot lampu senter merayapi permukaan air waduk tempat Mat Yusi menenggelamkan diri.
Orang-orang berusaha membantu Mat Yusi untuk naik ke atas. Napas Mat Yusi tersenggal-senggal. Baju di bagian lengan dan punggung Mat Yusi sudah robek terbakar.
“Aku tak menemukan Patra,” ucapnya panik.
“Semoga saja dia sempat menyelamatkan diri,” Sabran membantu Mat Yusi untuk berdiri dan segera meninggalkan ladang.
“Sebaiknya kau ajak Jauhari untuk menemui orangtua Patra,” pinta Mat Yusi.
“Kau mau kemana?”
Mat Yusi tak menjawab. Ia meminjam lampu senter salah seorang warga yang berjalan tak jauh di belakang mereka.
“Aku ikut..!” Sabran lantas menyusul langkah Mat Yusi. “Kau tidak bermaksud mendatangi rumah Yudha, bukan?”
__ADS_1
“Memangnya kenapa? Kau takut? Sebaiknya kau susul Jauhari sekarang. Katakan aku sedang mencari Patra. Itu lebih baik daripada kau mengikutiku!”
"Kau tidak boleh gegabah, Mat Yusi. Belum tentu Yudha pelakunya," cegah Sabran.
" Sudah pasti mereka!"
Mat Yusi menerobos pepohonan besar, menyorotkan lampu senter, menyusuri jalan pintas agar lekas sampai ke rumah Yudha. Di belakang sana, sisa kepulan asap masih terlihat.
Sabran tampak kesulitan mengikuti langkah Mat Yusi. Sesekali ia terjungkal ketika kakinya terlilit tumbuhan liar. Sabran terus memerhatikan cahaya lampu senter dan bergegas menyusul.
"Kau harus pikirkan akibatnya, Mat Yusi!" Napas Sabran tersenggal. Dengan badan membungkuk, Sabran memegangi kedua lutut kakinya.
"Sudah puluhan kali aku hanya memikirkan akibatnya, dan kali ini kau lihat sendiri apa yang terjadi?!"
"Setidaknya kau bicarakan dulu dengan Jauhari!" cegah Sabran saat Mat Yusi ingin menyeberangi sungai kecil di hadapannya.
"Kau ingin ikut atau pulang saja?" ancam Mat Yusi ketika Sabran terus berusaha menghalang-halangi niatnya.
Sabran tak segera menyahut. "Daripada aku harus menghadapi berbagai pertanyaan orangtua Patra, lebih baik aku ikut. Tapi kau tahu sendiri, aku tak bisa berkelahi," jawab Sabran ragu.
"Lantas untuk apa kau ikut?"
Mat Yusi mengulurkan tangan membantu Sabran keluar dari sungai. Sabran terus mengikuti langkah Mat Yusi dengan menahan dingin. Seluruh celananya basah.
Setelah berhasil menerobos semak belukar, rumah Yudha tampak di depan sana. Lima orang terlihat sedang berjaga-jaga.
"Kau sembunyi di pohon Petai itu, sementara aku menyelinap dari samping!" perintah Mat Yusi.
Mereka berpencar. Sabran terus memerhatikan kelima orang penjaga di depan sana. Cericit suara burung malam menambah jantung Sabran bekerja cepat. Setelah mencapai pohon Petai, Sabran berjongkok sambil mengawasi Mat Yusi dari jauh.
Suara teriakan, erang kesakitan membuat Sabran tegang. Mat Yusi menghadapi kelima pengawal sekaligus. Saat tersisa dua orang, puluhan orang muncul dari dalam rumah.
Sabran tak pernah melihat perkelahian sesengit itu. Mat Yusi seolah-olah lupa bahwa ia baru saja bergulat dengan api. Ia yakin banyak luka bakar di sekujur tubuh Mat Yusi.
"Hentikan..!" teriak Yudha mendekati tempat perkelahian. "Tolol. Tamu agung justru kalian ajak berkelahi," Yudha pura-pura memaki tanpa memedulikan raut wajah keheranan anak buahnya.
Mat Yusi tetap siaga memasang kuda-kuda. Tekadnya membuat perhitungan kepada Yudha sudah bulat. Apa pun yang akan dikatakan Yudha akan ia anggap omong kosong belaka.
"Aku sudah menunggumu sejak lama. Mari kita bicarakan di dalam," ajak Yudha bersikap ramah.
__ADS_1
"Aku ingin membuat perhitungan denganmu. Hidup atau mati!" tantang Mat Yusi menudingkan telunjuk jari kiri tangannya.
"Aku sudah mengira ini pasti terjadi. Namun, setidaknya kau tunda sebentar. Aku ingin mempertemukanmu dengan kawan lama. Kau pasti rindu dengannya."
Mat Yusi tergoda mendengarkan ucapan Yudha. Namun ia tak ingin keraguan sikapnya terlihat. Mat Yusi memalingkan wajah memandangi satu-persatu centeng yang seharusnya sudah ia kalahkan sejak tadi.
Meski beberapa masih menenteng senjata tajam, Mat Yusi tahu mereka tak ingin melanjutkan perkelahian sejak Yudha datang melerai.
"Sebaiknya kita mulai saja karena aku tak mungkin terbujuk oleh tipu muslihatmu!"
Yudha sudah menduga tak semudah itu menyakinkan Mat Yusi. Ia buka satu persatu kancing kemeja lalu memutarkan badannya.
"Kau sudah lihat, aku tidak memiliki senjata. Jika kau minta, aku bisa menyuruh anak buahku membuang senjata mereka,"
Yudha mengambil belati di tangan centeng yang berdiri di sampingnya. Belati itu kemudian dibuangnya Melihat itu, semua anak buahnya juga membuang semua senjata di tangan mereka.
"Aku justru lebih semangat jika kalian semua menghadapiku dengan senjata," ejek Mat Yusi ikut membuang trisulanya.
"Jika kau bermaksud menjebakku di dalam sana, kau akan menyesal!" Ancam Mat Yusi. Meski ragu, ia penasaran setiap kali Yudha menyebut seseorang di dalam sana dengan panggilan kawan lama.
Sambil terus melangkahkan kaki, Mat Yusi berharap Sabran tetap berdiam diri di seberang sana tanpa melakukan tindakan apapun.
Tanpa sepengetahuan Mat Yusi, senyum licik tersungging di mulut Yudha. Ia biarkan Mat Yusi mengikutinya dari belakang. Sebenarnya ia tak berharap semudah itu membuat Mat Yusi masuk ke dalam perangkapnya.
Dengan penuh waspada Mat Yusi memasuki ruangan bercat kuning. Sementara Yudha menuju ruangan lain, Mat Yusi memilih posisi aman, duduk membelakangi tembok. Ia hanya perlu mengawasi bagian depan dan samping.
"Kau jangan khawatir, aku hanya perlu mematikan lampu sebentar agar semuanya terlihat sempurna," ucap Yudha ketika keluar dari pintu ruangan.
Tanpa menunggu persetujuan, lampu ruangan mendadak mati. Dalam keadaan gelap, Mat Yusi justru memejamkan matanya. Sesekali ia tolehkan wajahnya ke samping kan dan kiri, berusaha mengenali sekecil apapun gerakan yang menimbulkan suara.
Mat Yusi yakin, dari pantulan hawa hangat yang bisa dirasakan tubuhnya, ada seseorang di depan sana sedang mendekat.
Perlahan Mat Yusi bergeser ke samping, merenggangkan kakinya untuk menyiapkan jurus agar mudah dengan tangan mengepal. Ia selalu waspada.
Sambil memicingkan mata, Mat Yusi berusaha menangkap setiap gerakan yang mungkin saja berniat melukainya. Ia menangkap gerakan seorang lelaki datang mendekat persis di hadapannya. Refleks Mat Yusi bersiap menyerang.
"Apa kabar, Mat Yusi?” sapa suara itu terdengar berat.
Spontan Mat Yusi terkejut. "Tidak mungkin," pikir Mat Yusi seperti tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Belum selesai terkejut, lampu ruangan kembali menyala. Mat Yusi terperanjat.
__ADS_1