Ladang Api

Ladang Api
Dul Sanif Tertuduh


__ADS_3

DUL SANIF memang sudah tua. Namun, ilmu beladiri yang dikuasainya tak lapuk karena usia. Gerakan Dul Sanif masih tetap lincah ketika harus menghindari serangan beruntun yang mengarah kepadanya.


Dari balik jendela kaca rumah, Yudha melihat betapa mudahnya Dul Sanif melolosi satu-persatu senjata yang ada di tangan anak buahnya itu.


Jika dengan senjata saja mereka tak mampu melumpuhkan Dul Sanif, apalagi dengan tangan kosong, pikir Yudha. Ia lantas keluar dari rumah untuk menghadapi Dul Sanif dengan pistolnya.


“Coba kalau bisa tangkap peluru ini,” ucap Yudha menyita semua perhatian mereka. Moncong pistol itu diarahkannya kepada Dul Sanif.


“Pelurunya terbuat dari emas, khusus dibuat untuk para pengkhianat sepertimu!”


Dul Sanif menarik kuda-kudanya sambil memandangi Yudha yang dengan angkuhnya menodongkan pistol.


“Jadi, kau ingin menyingkirkan orang yang sudah membantumu?”


“Dari awal kau tidak pernah membantuku. Seorang perampok tetaplah perampok. Kamu hanya akan mengambil keuntungan disaat aku lengah,” sindir Yudha. “Kesalahanku adalah mempertemukan dua orang perampok di tempat ini. Untungnya aku hanya sedikit terlambat menyadari kesalahanku!”


“Kamu salah sangka, Yudha. Apa yang terjadi di waduk tadi bukan persekongkolan. Aku justru sedang menyelidiki pelaku pembakaran ladang cengkehmu,” sahut Dul Sanif berusaha menjelaskan.


“Maling teriak maling. Kamu pasti ahli dalam hal seperti itu. Aku sudah tidak percaya lagi dengan ucapanmu. Silakan melawan kalau ingin mencoba kemampuan pistol ini. Ikat dia!” perintah Yudha kepada anak buahnya.


Dul Sanif tidak berdaya. Jarak antara Yudha dan dirinya terlalu jauh. Tak mungkin baginya untuk merebut pistol itu.


Ia biarkan saat anak buah Yudha datang mendekat dengan membawa tali. Di saat posisi yang tepat, Dul Sanif lantas mencekik anak buah Yudha dan menjadikannya sebagai tameng.


“Terserah. Mau percaya atau tidak. Aku tahu persis pistol itu hanya memiliki enam peluru. Silakan, kalau ingin menghabiskan di tubuh anak buahmu. Namun, setelah itu, kau tak akan bisa melarikan diri,” ancam Dul Sanif membalas.


Ia perlahan memundurkan langkahnya. Sementara, anak buah Yudha yang lain juga maju secara perlahan dan terus mengawasi pergerakan Dul Sanif.


Yudha kesal karena tak memperhitungkan kemungkinan tersebut. Ia pun lantas memajukan langkahnya dengan tetap menodongkan pistol. “Aku hanya perlu tiga kali tembakan. Salah satunya pasti tak akan meleset mengenaimu,” ucap Yudha berusaha menggertak Dul Sanif.


“Coba saja. Artinya, tak lama lagi kau juga akan menjadi seorang pembunuh sama sepertiku,” balas Dul Sanif merogoh belati yang terselip di pinggang tawanannnya.

__ADS_1


“Kupastikan, saat kau sibuk membidikku dengan tiga kali tembakan, belati ini juga akan melayang dan menancap di ulu hatimu,” gertak Dul Sanif tak mau kalah.


Yudha langsung menghindar di belakang salah satu anak buahnya. Ia lingkarkan lengan tangannya ke leher anak buahnya sendiri sambil tetap menodongkan senjata.


“Sekarang kau tak bisa membunuhku. Bagaimana kalau aku tembak sekarang saja?” Yudha tertawa keras merasa berhasil mengalahkan strategi Dul Sanif. Ia lantas memicingkan mata kirinya, membidik dahi Dul Sanif.


Seperti bermain catur, hanya ada satu kesempatan terakhir agar Dul Sanif tetap selamat dan Yudha tak melukai siapa pun. Dul Sanif melihat kesempatan itu. Ia bisa menjadikan pertarungan ini menjadi remis atau seri.


Namun, mengambil kesempatan itu berarti membutuhkan stamina yang kuat dan bernapas panjang. Bagi Dul Sanif, itu lebih baik. Dul Sanif sadar, salah melangkah, bisa membuat salah satu di antara mereka bisa terbunuh.


Ia tak ingin mengambil resiko itu. Dengan gerakan cepatan, Dul Sanif menggulingkan badannya ke tanah dan langsung melemparkan pisau tepat mengenai lengan Yudha.


“Arrgghhh…” erang Yudha berteriak menahan sakit. Anak buahnya pun langsung melindungi bosnya itu. Namun, Yudha tetap keras kepala. Dengan lengan kiri ia lantas membidik Dul Sanif yang bersiap-siap melarikan diri.


Dengan pisau yang masih menancap di lengan, di tambah tak terbiasa membidik dengan lengan tangan kiri, membuat tembakan Yudha meleset.  Tiga kali tembakan, semuanya tak tak tentu arah.


Namun, letusannya mengundang rasa penasaran orang-orang yang baru saja melintas di depan rumahnya. Mereka mengayuh sepeda dengan secepat mungkin, khawatir terkena sasaran.


Jauhari baru saja ingin pergi ke sekolah. Melihat Wijan dan Mat Yusi datang, ia pun membatalkannya.


Meski canggung, Mat Yusi menceritakan pertemuannya tadi dengan Dul Sanif. Agar jelas, ia pun menceritakan siapa Dul Sanif secara lengkap.


Wijan mulai paham. Hampir saja tadi ia berprasangka buruk kalau Mat Yusi sedang ingin merencanakan perbuatan jahat lagi di ladang Jauhari.


“Jadi, dia gurumu?” tanya Jauhari. “Kenapa Yudha mendatangkannya kemari?”


Mat Yusi sadar, menjawab pertanyaan itu sama halnya membongkar rencana yang telah diaturnya bersama Dul Sanif.


Sebuah alasan kenapa ia memutuskan ingin pergi meninggal tempat ini. Sebagai jawaban kenapa ia akan menjadi anak buah Yudha.


“Aku tidak ingin melakukan permintaan Dul Sanif jika semuanya belum jelas,” ucap Jauhari mendesak Mat Yusi agar menceritakan semuanya.

__ADS_1


Tak ada pilihan lain. Mat Yusi menganggap ini juga sebuah kesempatan untuk ia menjelaskan semuanya. Dengan begitu, tak ada salah paham antara mereka.


Rentetan kisah yang sudah disampaikan tadi memudahkan Mat Yusi untuk menjelaskan semuanya. Bagi Jauhari dan Wijan, saat ini duduk perkaranya pun sudah semakin jelas.


“Aku sudah menduga dari awal kalau kau menyimpan sesuatu dari kami,” ucap Jauhari. “Itu alasan kenapa malam itu kami mendatangimu ke ladang,” sambungnya menjelaskan.


“Maafkan atas semua kesalahanku. Namun, aku menganggap tawaran Dul Sanif bisa menyelesaikan masalah di desa ini. Bisa mengusir Yudha dengan sendirinya,” sahut Mat Yusi.


“Kau tidak harus berkorban sejauh itu. Sebelum kamu datang menghadapi warga, kami bahkan sudah berencana ingin mengajakmu meminta pertanggungjawaban Yudha. Namun, semua gagal di luar dugaan,” cerita Jauhari.


“Gara-gara Sabran menyebarkan masa lalu tentang Mat Yusi!” sahut Wijan.


“Jangan salahkan dia. Aku yakin Sabran pun melakukannya di bawah tekanan. Semua ini pasti ulah Yudha,” pinta Mat Yusi agar tak menyalahkan Sabran yang sampai saat ini belum terlihat batang hidungnya.


“Maksudku tidak ingin menyalahkannya. Hanya ingin menyambungkan ceritanya,” ralat Wijan.


“Sudahlah. Kalau suatu saat menemukan Sabran, katakan saja tak ada dendam di antara kita semua. Sekarang, bagaimana menanggapi saran Dul Sanif? Ucap Jauhari.


“Semua tergantung padamu. Kalau boleh kusarankan, kita ikuti saja saran Dul Sanif,” jawab Mat Yusi.


“Demi kebaikan kita semua. Aku akan ikut. Faktanya, bukan kita yang membakar ladang cengkeh Yudha. Kita dalam posisi benar. Jadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan.”


“Kalau begitu. Aku akan mengatur pertemuan dengan Yudha lewat Dul Sanif. O, ya. Di mana Patra? Aku tidak melihatnya sejak tadi.”


“Pagi tadi ia memaksa ingin masuk sekolah. Mungkin dia bosan jika hanya tidur-tiduran saja,” jawab Wijan.


Baru saja mereka selesai bersepakat, salah seorang warga datang dengan napas tersenggal-senggal. “Di ladang saat ini ada keributan. Orang yang menemuimu di ladang tadi, sekarang sedang berkelahi dengan anak buah Yudha.”


Mendengar itu, Mat Yusi langsung berdiri. “Kau yakin tak salah orang?”


“Yakin, Mat. Dia sempat datang sendirian mencarimu. Tak lama kemudian, anak buah Yudha datang merusak tanah yang baru saja ditanami bibit sayuran. Orang itu lantas menegur anak buah Yudha. Namun, mereka justru berkelahi,” jawabnya.

__ADS_1


“Sepertinya ada yang tidak beres. Kita pergi ke ladang saja sekarang,” usul Jauhari tergesa-gesa mengajak Mat Yusi dan Wijan agar ikut bersamanya menaiki sepeda motor.


__ADS_2