
BIJI kesedihan tertanam di hati Mat Yusi, terlebih saat tadi memandang ke arah Jauhari dan Patra. Ia tak peduli jika warga desa mulai membencinya, tapi menghancurkan kepercayaan mereka berdua terasa sangatlah menyakitkan.
Usahanya selama ini menjalani hidup dengan benar seperti sia-sia. Ia tak habis pikir kenapa Yudha masih saja menyerang kehormatannya di saat seperti ini. Padahal, ia sudah bersedia, bersama Dul Sanif akan membantu Yudha menjalankan bisnis baru.
Setelah pergi dari rumah Jauhari, Mat Yusi segera kembali menuju ladang. Ia segera membuat gubuk baru yang lebih sederhana untuk beristirahat sebelum malam tiba.
Tak perlu waktu lama bagi Mat Yusi membuatnya. Gubuk itu hanya berbentuk segitiga dengan menggunakan alas karung, dan bagian sisinya ditutup dengan dedaunan.
Bagi Mat Yusi, itu sudah lebih dari cukup untuk sekadar melindunginya dari angin malam. Dari waduk sana, Mat Yusi terlihat seperti sedang berkemah di tanah lapang. Ranting kering terlihat sudah menyala untuk Mat Yusi memasak air dan mie instan.
Entah kenapa, saat-saat seperti ini, Mat Yusi merasa kalah dan rindu untuk pulang, rindu kampung halaman, rindu kepada orangtuanya. Sudah lama ia meninggalkan semuanya tanpa kabar berita.
Seandainya dulu ia tak tergila-gila dengan Halimah, mungkin ceritanya menjadi lain. Namun, Mat Yusi tak ingin larut dalam kesedihannya itu.
Malam sebentar lagi tiba. Mat Yusi justru melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda. Ia ingin, ladang segera bersih dan bisa dimanfaatkan kembali. Apa pun yang akan dilakukan Jauhari dengan ladangnya, itu persoalan nanti.
***
Sementara itu, di sebuah tempat yang jauh dari pemukiman warga, tampak Sapri dan Ikbal mengendap-endap masuk ke salah satu ladang cengkeh yang sudah dikuasai Yudha.
Ikbal mengajak Sapri untuk segera masuk ke bagian tengah-tengah ladang. Di situ, mereka beristirahat sebentar.
“Kalau dari tengah, orang-orang yang melintas tak akan melihat kita,” ucap Ikbal mengeluarkan parang dari dalam tas yang berisi penuh peralatan dan makanan.
“Bagus juga idemu,” puji Sapri mengikuti rencana Ikbal untuk memangkas dahan cengkeh terlebih dahulu. Dengan dahan cengkeh yang sudah dipangkas dan dikumpulkan menjadi satu, mereka bisa memanennya saat malam tiba.
“Kita panen di bawah saja biar cepat,” ujar Ikbal. “Sekaligus menjadi benteng pertahanan,” terangnya lagi menceritakan setiap rencana yang ada di kepalanya.
Sapri benar-benar kagum dengan rencana tersebut. Menurutnya, setiap rencana Ikbal sangat beralasan dan efisien.
Seperti ketika Ikbal memintanya untuk mencari pohon cengkeh yang jaraknya saling berdekatan terlebih dahulu. Ikbal ternyata ingin menjadikan batang pohon itu sebagai tiang gubuk yang berbentuk segi empat.
__ADS_1
Sapri tidak sabar ingin mengetahui alasan Ikbal ketika melarangnya memangkas dahan pohon cengkeh yang sudah dijadikan tiang.
“Kita tetap perlu cahaya penerangan dengan lampu teplok ini,” tunjuk Ikbal setelah mengambilnya dari dalam tas. Ikbal lalu meringis. “Daun-daun cengkeh itu akan menutupi asap dan cahayanya dari atas,” sahut Ikbal menjelaskan.
Sapri paham apa yang dimaksud Ikbal. Ia bahkan tak memperhitungan hal tersebut. “Ternyata selain gila, kamu cerdas juga. Aku yakin kalau kau jadi penyerang, pasti tim sepakbola kita akan menang,” puji Sapri.
Ikbal langsung berhenti mengikat dahan pohon yang akan dijadikannya sebagai gubuk tempat mereka menginap malam ini.
“Kamu bercanda, kan?” tanya Ikbal. berharap Sapri tak bersunguh-sungguh.
“Selama ini aku kurang jeli menyusun formasi tim kita. Dalam pertandingan nanti, kamu kutunjuk jadi penyerang,” jawba Sapri.
“Lantas bagaimana dengan Sidik?” Ikbal merasa bimbang. Posisi penyerang selama ini selalu ditempati oleh Sidik. Jika ia tiba-tiba menggantikannya, Ikbal khawatir Sidik akan memusuhinya.
“Dia akan aku keluarkan dari tim. Bahkan, pemain cadangan pun tidak,” jawab Sapri dengan nada kesal.
Ikbal terlihat gelisah. “Hanya gara-gara sore tadi?” tanyanya memastikan.
Dengan penuh semangat Sapri membabat habis batang cengkeh yang bunganya sudah tampak kemerahan. Ia seret dahan-dahan itu persis mengeliling gubuk yang sedang dikerjakan oleh Ikbal. Sebisa mungkin Sapri menyusun dahan-dahan itu agar mudah memetik bunga cengkehnya saat malam.
Ia lantas berdiri agak menjauh sambil mengamati tumpukan itu. Benar kata Ikbal, tumpukan itu terlihat seperti semak-semak dan sekaligus berfungsi sebagai dinding gubuk.
“Coba kau berdiri di dalam,” pinta Sapri yang diikuti oleh Ikbal.
“Bagaimana?” tanya Ikbal ingin tahu hasil rencananya.
“Hebat sekali. Kita tidak akan terlihat oleh orang-orang,” ucap Sapri kegirangan.
“Jika anak buah Yudha datang pun, mereka pasti hanya mengawasi dari luar sana,” pungkas Ikbal meyakinkan bahwa rencana mereka sangat aman kali ini.
“Tak usah terlalu bagus membuat gubuknya. Toh besok malam akan kita bakar juga!” seru Sapri kembali untuk memangkas dahan cengkeh. “Paling tidak, kita bisa mengumpulkan dua puluh karung cengkeh sampai besok pagi.”
__ADS_1
“Besok pagi kita tinggalkan dulu tempat ini. Berapa pun yang didapat, langsung kita bawa ke gudang pembelian cengkeh Yudha,” saran Ikbal.
“Maksudmu, habis menjual cengkeh, kita langsung pergi ke sekolah?”
“Sekolah itu penting,” ucap Ikbal. “Kalau kuprediksi, sampai besok malam kita sudah banyak mendapatkan cengkeh. Saat subuh, ketika orang-orang masih tidur, ladang ini baru kita bakar.”
Sapri menggaruk kepalanya. Ia tak sependapat jika tetap harus sekolah. Ia ingin seharian memanen cengkeh agar bisa mendapatkan hasil yang lebih banyak.
“Bagaimana kalau kamu saja yang pergi ke sekolah. Aku tetap tinggal,” pinta Sapri.
“Kalau itu pilihanmu, berarti aku akan datang lagi ke sini usai pulang sekolah sekaligus membawakanmu makanan,” ujar Ikbal diam-diam tak ingin menceritakan semua rencananya.
Sebenarnya Sapri tak setuju dengan keputusan Ikbal. Ia ingin mereka berdua tetap melanjutkan memanen cengkeh. Namun, melihat apa yang sudah dilakukan Ikbal, dengan ide-ide cerdasnya, Sapri merasa sungkan berdebat seperti yang dilakukannya kepada Sidik.
Sore semakin mulai menggenapi malam. Dahan-dahan cengkeh yang dipangkas sudah banyak terkumpul. Gubuk pun telah selesai dibuat. Ikbal mengeluarkan seluruh isi tasnya dan menyusun makanan dan minuman di dekat tiang gubuk.
“Lengkap juga bawaanmu, Bal!” ujar Sapri. “Maaf, aku cuma membawa ini,” sambungnya memperlihatkan gorengan pisang dan air minum. Ia pun pergi menuju sepedanya untuk mengambil sejumlah karung yang dibawanya dari rumah.
“Kita datang ke sini bukan untuk berkemah. Asal tidak kelaparan dan kehausan, artinya perbekalan kita sudah cukup,” timpal Ikbal sambil mencicipi gorengan yang dibawa oleh Sapri.
Lampu teplok pun segera dinyalakan. Mereka memandangi sekeliling ladang cengkeh yang sangat gelap. Sapri memastikan sekali lagi dari luar. Cahaya lampu teplok itu benar-benar tidak terlihat.
Tanpa menunda waktu lagi, mereka pun segera mematahkan satu-persatu tangkai bunga cengkeh dari ranting yang masah basah.
Waktu terus merambat. Saat Sapri ingin kencing, ia berjingkat saat melihat cahaya senter dari luar sana. Ia langsung menemui Ikbal yang masih memetik bunga cengkeh.
“Ada orang di luar sana,” ucap Sapri berbisik.
Ikbal pun ikut mengawasi dari dalam gubuk dengan menyundulkan kepalanya di antara dahan cengkeh yang masih lengkap dengan daun.
“Matikan lampu teploknya. Kita tunggu sampai orang itu pergi,” perintah Sapri dengan suara gugup.
__ADS_1