
PERTEMUAN malam tadi di rumah Jauhari cukup ramai. Mereka sepakat untuk saling membantu untuk mengusir Yudha jika masih melakukan perbuatan yang merugikan warga.
Dalam kesempatan itu pula, mereka berharap Jauhari bersedia membangun gudang penyimpanan untuk menampung hasil cengkeh milik semua warga. Semua cengkeh akan di simpan di gudang dan meminta Jauhari mencari pembeli baru dan tak menjualnya lagi kepada Yudha.
Jauhari setuju dan meminta Mat Yusi dan Dul Sanif agar membantu keinginan warga tersebut. Dari pekerjaan itu, Dul Sanif dan Mat Yusi akan dibayar dari selisih harga penjualan cengkeh.
“Sekarang aku tahu kenapa kau betah di sini. Sejak kemarin aku bisa merasakan kebaikan mereka begitu tulus,” ucap Dul Sanif sambil duduk bersama Mat Yusi di beranda rumah Jauhari.
“Mereka warga desa yang baik. Justru kehadiran Yudha mempersulit keadaan mereka di tempat ini,” sahut Mat Yusi.
“Menurutmu, apa yang seharusnya kita lakukan sekarang ini?”
“Kau bilang, Yudha juga memusuhimu. Apakah rencana kita semula masih berlaku?” ucap Mat Yusi balik bertanya.
Dul Sanif menarik napas panjang. Ia sesap kopi yang masih panas. “Aku berharap rencana Yudha tak berubah. Namun, melihat situasi seperti ini, kita hanya bisa menunggu sampai mendapat kepastian,” sahut Dul Sanif.
“Lantas bagaimana jika Yudha berubah pikiran dan tak jadi melibatkan kita?”
“Aku akan pulang. Jika mau, kau boleh ikut serta!” tawar Dul Sanif.
“Selama Yudha masih di sini, maka aku tidak akan kemana-mana,” ujar Mat Yusi memastikan.
Dul Sanif merenung. “Bagaimana kalau aku juga ikut denganmu di sini?”
Mat Yusi tersenyum. “Kau ingat pembicaraan warga tadi malam? Mereka berharap agar kita mengurus penjualan hasil cengkeh mereka. Hasilnya pasti lumayan, dan kita bisa tinggal di gudang sementara waktu,” usul Mat Yusi dan mengingatkan bahwa siang nanti warga akan bersama-sama mendirikan gudang di ladang Jauhari.
“Aku tidak tahu seberapa banyak keuntungan dari cengkeh, tapi aku butuh tempat tinggal dan tidak mungkin di rumah ini terus. Baiklah, aku akan ikut dengan rencanamu,” sahut Dul Sanif.
“Bahkan, jika kau bersedia, malam tadi mereka juga memintaku untuk melatih beladiri anak-anak mereka,” kata Mat Yusi.
“Kamu atur saja soal itu. Kurasa mereka memang perlu dibekali ilmu beladiri agar Yudha tidak sembarangan menganggu mereka.”
Sambil asyik berbicara, mereka menyaksikan warga desa yang masih berbondong-bondong melintas di depan rumah.
Setiap hari minggu, banyak warga desa pergi ke beberapa pasar dengan kepentingan mereka masing-masing. Termasuk Sapri.
Khusus hari minggu ini, ia telah berencana menjual semua cengkeh yang mereka simpan di belakang sekolah dan setelah itu pergi ke pasar Pelaihari.
__ADS_1
Ditemani Sidik dan Ikbal, Sapri mendorong gerobak menuju gudang penyimpan cengkeh milik Yudha.
Mereka sengaja mencari jalan yang tak banyak dilintasi orang-orang. Meski membawa cengkeh menjadi sebuah kebiasaan bagi mereka, tetap saja Sapri harus berhati-hati. Ia tidak ingin warga desa mengetahui kalau cengkeh itu akan dijual ke Yudha.
Setelah sampai di gudang, berkali-kali Sapri memanggil anak buah Yudha yang masih berada di dalam. Tak beberapa lama, ada seseorang yang membuka pintu dan menemui Sapri dengan mata yang masih mengantuk.
“Ada apa?” tanya orang itu mengusap wajahnya.
“Mau jual cengkeh,” sahut Sapri singkat.
“Kata bos, harganya sedang turun.”
Sapri terkejut karena harga yang diterimanya tidak sesuai perkiraan. Biasanya, satu kilogram cengkeh basah dibeli Rp.70 ribu/kilogram. Bahkan, tengkulak lain ada yang berani sampai Rp.80 ribu.
“Cuma lima puluh ribu rupiah satu kilonya?” tanya Sapri tidak percaya.
“Ya. Tadi malam bos Yudha bilang begitu. Kalau mau, turunkan cengkeh itu ke dalam gudang. Kalau tidak, kuhajar kalian karena sudah merepotkanku saja,” ucapnya ketus.
“Ehhh, iya. Aku setuju,” jawab Sapri tak ada pilihan lain. Mereka pun lantas menurunkan semua cengkeh di dalam gerobak lalu menimbangnya.
“Bilang kepada yang lain, besok harga cengkeh kemungkinan turun lagi. Kalau mau harga lima puluh ribu rupiah, jual sekarang,” ucapnya berlalu meninggal Sapri.
“Dasar lintah darat!” bathin Sapri kesal. Ikbal dan Sidik langsung menghampiri Sapri.
“Biar saja. Toh, itu cengkeh mereka juga. Yuk, kita pulang sekarang,” ucap Ikbal tahu kalau Sapri masih kecewa.
Mereka pun lantas pergi untuk segera menemui teman-teman tim sepakbola yang rencananya akan berkumpul di rumah Ikbal.
“Lumayan juga uang yang kita dapat,” ucap Sapri menepuk perutnya dari luar kaos, tempat semua uang penjualan cengkeh disimpannya.
“Rencana membeli lonceng sekolah yang baru bagaimana?” tanya Ikbal.
“Kita cari lonceng di pasar nanti. Rencananya, aku juga akan membeli seragam sepakbola lengkap dengan sepatu baru untuk kita semua,” sahut Sapri menceritakan rencananya.
“Kau bilang untuk membantu Pak Jauhari,” timpal Sidik.
“Membeli seragam sepakbola juga membantu Pak Jauhari. Dia tidak perlu lagi membelikan kita untuk pertandingan nanti,” ujar Sapri.
__ADS_1
“Betul juga. Terus sisanya?” tanya Ikbal.
“Kita simpan saja dulu. Kita cari cara untuk membantu Pak Jauhari tanpa dicurigai. Kalau kita berikan uang ini langsung, Pak Jauhari pasti akan bertanya asal usul uangnya. Dia juga tidak akan percaya kita bisa memiliki uang sebanyak ini.”
Ikbal dan Sidik menganggukkan kepala tanda setuju.
“Biar cepat, kalian naik ke gerobak. Aku akan mendorongnya. Siang ini kita masih ada kerja bakti mendirikan gudang di ladang Pak Jauhari,” ucap Ikbal meminta Sapri dan Sidik naik ke gerobak dan langsung mendorong gerobak itu secepat mungkin.
***
Sementara Mat Yusi dan Dul Sanif tinggal di rumah, Jauhari mengajak seluruh keluarganya pergi ke pasar Minggu di desa mereka. Tidak tanggung-tanggung, Jauhari juga mengajak keluarga Wijan juga Sawitri.
Sampai di pasar, Sawitri, istri Wijan dan Istri Jauhari memisahkan diri dari rombongan untuk belanja persiapan masak untuk warga yang akan bekerja mendirikan gudang di ladang .
Tertinggal Jauhari, Wijan, Zian, Putri, dan Patra yang memilih duduk di salah satu warung sambil menikmati sarapan nasi kuning.
Sedang asyik-asyiknya makan, Patra bermaksud ingin memisahkan diri.
“Aku hanya sebentar,” sahut Patra menolak ketika Zian ingin menemaninya.
“Memangnya mau beli apa sih?” tanya Zian memaksa.
“Cuma mau lihat-lihat saja,” jawab Patra yang merasa tidak enak ketika Zian dan Putri juga ingin ikut memisahkan diri. Tak ada pilihan lain dan tidak nyaman ketika Jauhari meminta agar Zian dan Putri ikut bersamanya.
“Putri tahu kakak mau beli apa?” ucap Putri dengan suara pelan.
Patra terkejut. “Nggak beli apa-apa, kok!”
“Jangan bohong. Pasti mau membelikan buat calon pacar kakak, kan?” kata Putri langsung.
“Ehhh, jadi Patra sudah punya pacar?” tanya Zian tiba-tiba.
Putri tersenyum menundukkan wajahnya ketika Patra seperti menyalahkan dirinya.
“Aku sebaiknya pergi ke sana dulu ya, nanti aku pulang sendiri saja,” ucap Patra langsung berlari meninggalkan mereka berdua.
Diam-diam, Putri merasa kesal dengan sikap Patra tersebut.
__ADS_1