Ladang Api

Ladang Api
Mencari Kesepakatan


__ADS_3

MALAM semakin larut. Sabran masih menunggu Mat Yusi di bawah pohon sambil mengintip aktifitas di rumah Yudha. Berkali-kali ia usir sekawanan nyamuk yang sejak tadi begitu rakus menghisap darahnya.


Sementara itu, Yudha sendiri juga mulai tak sabar menunggu hasil perundingan antara Dul Sanif dan Mat Yusi. Ia sudah tidak sabar menunggu kabar baik dari mereka berdua.


“Apa yang kau ketahui dengan kejadian di ladang cengkeh Jauhari tadi?” tanya Mat Yusi kepada Dul Sanif.


“Sebenarnya aku berada di sana tadi. Namun, semua di luar rencana. Awalnya aku hanya ingin menemuimu sendirian. Yudha justru memintaku agar mengajak para centeng untuk menemani,” jawab Dul Sanif menghentikan kalimatnya. Ia mengambil segelas kopi lalu meminumnya.


“Lantas, apa yang terjadi?”


“Ternyata kau tidak di sana. Aku sudah berkali-kali memberikan kode rahasia kita dulu, tapi tak ada sahutan. Sialnya, Yudha justru memiliki rencana sendiri,” cerita Dul Sanif menjelaskan.


“Rencana untuk membakar ladang cengkeh, maksudmu?”


“Aku tidak tahu kalau Yudha mengirimkan anak buahnya yang lain. Rupanya mereka bersembunyi di antara pepohonan untuk menunggu waktu yang tepat. Bahkan, mereka juga sudah menyiapkan mintah tanah.”


Mat Yusi geram mendengarnya. “Kau sudah lihat sendiri betapa liciknya Yudha, tapi kenapa masih ingin membantunya?”


“Aku tidak tahu masalah kalian selama di tempat ini. Perbuatan Yudha di ladang cengkeh tadi akan aku jadikan pertimbangan untuk berhati-hati menghadapinya,” sahut Dul Sanif.


Mat Yusi tampak sedang memikirkan sesuatu. Baginya, Yudha maupun Dul Sanif sama-sama pandai bersiasat. Saat ini mereka saling memiliki keterkaitan. Siapa yang paling dominan, itulah yang sedang dipikirkan Mat Yusi sekarang ini.


Ia tahu sebelum Dul Sanif datang, Yudha sudah berkali-kali mencoba membakar ladang cengkeh milik Jauhari dengan mengirimkan orang-orangnya. Upaya itu selalu berhasil ia gagalkan dengan mudah. Namun, bukan berarti Dul Sanif tak berperan di balik itu semua.


Meskipun Dul Sanif sudah banyak menceritakan semuanya dari tadi, tetap saja Mat Yusi merasa harus berhati-hati.


“Apakah kau juga sempat ikut membakar ladang cengkeh bersama centeng-centeng itu?”


“Tidak sama sekali. Para centeng Yudha yang melakukan semuanya,” Dul Sanif membela diri.


Mat Yusi tak langsung percaya begitu saja. “Kenapa kau tak mencegah mereka? Orang sepertimu pasti mampu melakukannya,” tuding Mat Yusi.


“Percayalah, sebisa mungkin aku sudah berusaha mencegah mereka. Namun, mereka tetap saja membakar gubuk dan ladang Jauhari. Mereka memang sudah berniat melakukannya.”


“Jadi kau hanya menyaksikan semua itu terjadi tanpa melakukan apa pun?”

__ADS_1


Dul Sanif menarik napas panjang. Ia tahu Mat Yusi masih ragu dengan semua cerita yang sudah ia sampaikan.


“Kau boleh tidak percaya. Namun, apa yang akan kau lakukan jika dihadapkan dengan dua pilihan sulit. Memilih antara nyawa atau ladang cengkeh?” Dul Sanif balik bertanya.


“Nyawa siapa yang kau maksud?” kejar Mat Yusi.


“Kau pikir aku menikmati semua yang terjadi di sana? Tidak. Aku menghadapi dua pilihan sulit. Menghentikan para centeng itu membakar ladang atau menyelamatkan nyawa seseorang yang keluar dari dalam gubuk,” sahut Dul Sanif.


Mat Yusi baru paham dengan maksud ucapan Dul Sanif. Ia langsung teringat sesuatu. “Patra maksudmu? Di mana anak itu sekarang?”


“Jadi anak itu bernama Patra? Apakah aku juga jahat seperti Yudha jika memilih menyelamatkan anak itu?”


Mat Yusi terdiam. Dul Sanif baru saja menyindirnya dan berusaha mematahkan semua keragu-raguan yang ada di dalam pikiran Mat Yusi.


“Baiklah, aku percaya. Katakan di mana anak itu sekarang?”


Tenang saja, dia selamat. Hanya ada sedikit luka bakar di tubuhnya. Seandainya aku tidak di sana, aku yakin anak itu tewas dikeroyok anak buah Yudha. Dia tak berhenti melawan dan gerakannya cukup lincah.”


 “Terimakasih sudah menyelamatkannya,” ucap Mat Yusi. “Lantas di mana dia sekarang?” sambungnya sambil mengamati seluruh isi ruangan untuk mencari Patra.


 “Apa sebenarnya yang kau inginkan?”


“Aku bisa membantumu untuk keluar dari semua permasalahan di tempat ini. Setelah itu, aku ingin kau membantuku untuk menyelesaikan urusan Yudha di tempat lain. Demi masa depan kita yang cerah,” ucap Dul Sanif menceritakan rencana bisnis baru yang akan dijalankan Yudha.


“Tempat lain? Apa yang akan dia lakukan?” tanya Mat Yusi.


“Aku sudah berkali-kali mengikuti Yudha menemui orang-orang penting di Jakarta. Semua sudah setuju membantu Yudha untuk memulai bisnis pertambangan batubara."


 “Apa yang harus aku lakukan?”


“Kita bicarakan nanti saja setelah semua permasalahan di sini selesai. Aku bisa menekan Yudha agar pergi meninggalkan tempat ini. Aku pikir itu adalah jalan keluar yang terbaik jika kau menginginkan hidup para warga tidak lagi terancam.”


Tawaran Dul Sanif terdengar menguntungkan bagi Mat Yusi. Ia ingin membantu Jauhari untuk menyingkirkan Yudha dari tempat ini.


“Kau yakin Yudha akan pergi dari tempat ini?”

__ADS_1


“Jawabannya tergantung keputusanmu,” jawab Dul Sanif enteng. “Jadi bagaimana?”


“Aku masih ragu Yudha mau meninggalkan tempat ini. Ia sangat bernafsu ingin menguasai semua ladang cengkeh milik warga.”


“Semua itu serahkan padaku. Yudha tidak akan berani melawan jika aku yang meminta,” Dul Sanif memberikan jaminan.


"Aku harap rencanamu kali ini berhasil, tidak seperti saat itu yang akhirnya membuat kita seperti ini,” ucap Mat Yusi.


“Beri aku kesempatan sekali lagi untuk membuktikannya,” pinta Dul Sanif lirih.


“Baiklah, aku setuju. Namun, jika kau bermaksud menipuku, maka kupastikan hubungan kita telah selesai sampai di sini. Kau di pihak Yudha, dan aku di pihak Jauhari, kita selesaikan dengan cara laki-laki," jawab Mat Yusi serius.


" Lihat saja nanti. Aku akan menemuimu setelah membereskan urusan kalian."


"Lantas bagaimana dengan hasil rampasan yang tadi kau tanyakan?"


"Aku hanya basa-basi saja agar membuat Yudha senang. Jika masih utuh, anggap saja semua itu milikmu," pancing Dul Sanif masih penasaran dengan nasib harta itu. Dari tadi, Mat Yusi belum juga menceritakan kepadanya.


 “Aku sudah berniat untuk melupakannya dan biar terkubur selamanya di dalam tanah,” jawab Mat Yusi.


Dul Sanif tercengang mendengarnya. Namun, ia tak ingin lagi mengetahui lebih jauh. Sudah cukup baginya mengetahui kesungguhan Mat Yusi untuk mengubur semua masa lalunya. “Aku sudah menduganya, dan semuanya terserah padamu.”


Mat Yusi merasa lega setelah Dul Sanif memintanya untuk pulang dan menyerahkan Patra.


Melihat itu, Yudha langsung berusaha mencegahnya. Ia perintahkan anak buahnya untuk mengepung Mat Yusi.


Dari balik semak-semak, di bawah pohon sana, Sabran sempat tegang menyaksikan kejadian itu.


Ketika Mat Yusi sudah bersiap-siap untuk memberikan perlawan, Dul Sanif langsung datang menengahi mereka.


"Aku yang memintanya untuk pulang. Jika kalian berani menyentuhnya, berarti kalian mencari masalah denganku," teriak Dul Sanif membuat Yudha terpaksa membiarkan Mat Yusi pergi.


"Ingat, aku belum selesai denganmu. Jadi, kau jangan senang dulu," ancam Yudha.


"Kau pikir aku sudah selesai? Kurasa ada yang lebih penting untuk kalian selesaikan sekarang," ucap Mat Yusi memberi isyarat lewat matanya kepada Dul Sanif.

__ADS_1


Yudha terlihat kesal karena rencananya tak berakhir sesuai harapan. “Jelaskan sekarang juga kenapa kau melepaskan mereka?” ucap Yudha dengan suara keras


__ADS_2