Ladang Api

Ladang Api
Mendekati Putri


__ADS_3

PATRA menghentikan sepedanya persis di depan gerbang sekolah. Dari tempat itu, ia bisa melihat tanaman pohon asoka berbaris rapi. Di setiap ujung rantingnya sudah rimbun kembali dengan bunga berwarna merah.


Ditolehnya tempat parkir sekolah yang masih ramai. Samar dilihatnya Putri sudah naik ke atas sepeda. Patra ragu untuk menghampiri, padahal perasaan ingin selalu bertemu dengan Putri meluap-luap sejak tadi malam.


Sebuah perasaan yang mengalahkan rasa kantuk meski malam telah larut. Selama itu, Patra hanya menggambar wajah Putri di pelupuk matanya hingga terbawa ke dalam mimpi. Ia seperti orang yang sedang jatuh cinta.


"Hei, kenapa melamun di tengah jalan?" Terdengar suara seseorang menyapanya.


Patra terkejut. Ia menyadari pemilik suara itu. Tak salah lagi, Putri sudah berada di belakangnya.


"A..a...aku sedang bingung. Mau belok kiri atau kanan," gugup Patra sambil menunjuk jalan yang tadi memang sempat membuatnya ragu ingin pulang ke rumah dulu atau langsung menuju ke ladang cengkeh.


"O, iya. Hari ini kau ke ladang cengkeh lagi, bukan?" tanya Putri.


Patra mengangguk. "Sebaiknya aku langsung pergi ke ladang saja sekarang. Masih banyak cengkeh yang harus dipetik,” ujar Patra.


"Bagaimana dengan makan siangmu?"


"E…ada di dalam tas," jawab Patra berbohong.


"Ternyata ada juga lelaki yang suka membawa bekal makan siang," ucap Putri tersenyum. "Apalagi menyimpannya di dalam rantang. Mudahan saja tidak tumpah." Putri asal menebak ketika Patra menunjukkan tas ransel kepadanya.


"Ibuku yang menyiapkannya sejak pagi tadi. Aku hanya tinggal membawanya."


Putri segera menaiki sepedanya kembali. Demikian juga Patra yang tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menemani Putri sepanjang perjalanan.


Waktu seakan merambat cepat. Sudah banyak cerita yang mereka obrolkan. Mula-mula mereka asyik menceritakan tentang kejadian di sekolah hari ini. Tentang lonceng sekolah mereka yang hilang dan entah siapa yang mencurinya.


Mereka pun asyik bergantian menceritakan kejadian di kelas masing-masing ketika lonceng sapi itu dibunyikan.


“Seperti ada sapi yang masuk di dalam kelas,” ujar Putri.


“Mungkin sapi juga butuh sekolah,” timpal Patra yang bisa membuat mereka akhirnya terbahak-bahak.

__ADS_1


Kehilangan lonceng sekolah adalah hal luar biasa. Selama tujuh tahun sejak sekolah berdiri, baru kali ini lonceng sekolah mereka hilang. Kabar sekecil itu pun mudah sekali tersebar.


Tadi pagi para guru tampak sibuk. Upacara bendera sempat tertunda, sementara matahari sudah meninggi. Embun yang membasahi rerumputan di tanah lapang juga sudah mulai mengering.


Upacara bendera tadi pagi tanpa diikuti Jauhari selaku Kepala Sekolah. Sawitri tampak kikuk karena harus menggantikan. Meski menjabat Wakil Kepala Sekolah, dirinya jarang menjadi pembina upacara.


Seperti biasa, sorak sorai tepuk tangan terdengar nyaring mengiringi usainya pidato. Sawitri memberi isyarat agar proses upacara dipercepat sambil menyapu peluh di sekitar wajahnya.


Persis upacara bendera usai, Jauhari terburu-buru menghampiri sebagian murid dan guru yang bersiap-siap memasuki ruang kelas.


Jauhari menggenggam lonceng kecil di tangannya. Lonceng itu kemudian dibunyikan. Para guru dan murid sempat heran.


Mereka belum yakin dan awalnya mengira ada sapi yang melintas di tanah lapang. Namun, kebingungan itu sebentar saja berubah menjadi rasa geli.


Gara-gara lonceng itu, Jauhari seperti menemukan cara baru untuk menghibur murid-muridnya saat kantuk menyerang. Setiap kali ada salah seorang murid mengantuk, Jauhari segera membunyikan lonceng itu.


"Siapa yang tertidur saat jam pelajaran, maka ia seperti seekor sapi!" kata Jauhari memainkan lonceng.


Para murid pun akhirnya sibuk mencari sebab ketika lonceng berbunyi. Pasti ada sapi yang tidur di kelas, bathin mereka.


Asyik membicarakan tentang lonceng, Patra dan Putri tak menyadari ada sepasang mata menguntit mereka jauh di belakang.


"Salam buat Mat Yusi. Kalau sempat, aku akan mengantarkan makanan ke ladang," ucap Putri ketika sudah sampai di depan halaman rumahnya.


Deg..!


Patra teringat sesuatu ketika nama Mat Yusi disebut. “Astaga, aku sampai lupa!” Patra seperti tersengat arus listrik.


Sebenarnya ini adalah hari sesungguhnya ia mulai bekerja. Hanya berdua dengan Mat Yusi, tanpa ada yang menemaninya seperti kemarin.


Kecemasannya mendadak tumbuh secara diam-diam. Bayangan kengerian tentang Mat Yusi masih bersarang di kepala. Kebaikan Mat Yusi kemarin bisa saja hanya di depan Jauhari. Setelah itu, semuanya bisa saja berubah. Mat Yusi menjadi kasar dan tak mengenal belas kasihan.


Patra segera membenahi tas ransel di punggungnya. Dengan cepat ia segera mengayuh sepeda dan langsung menuju ke ladang cengkeh. Jauh di belakang sana, tampak seseorang juga semakin mengayuh pedal sepedanya dengan cepat.

__ADS_1


***


Susah payah Patra mengatur keseimbangan agar tak terpeleset saat memasuki jalan menuju waduk. Ada senyum tipis saat mengingat kejadian konyol kemarin.


Celananya tak hanya basah, tapi juga dikotori oleh bercak lumpur yang menempel. Pantas saja Putri dan ibunya cekikikan, mungkin mereka mengira aku ngompol atau mungkin mencret, bathin Patra mengingat semua kejadian kemarin.


Sampai di ladang, Patra menepikan sepedanya di pinggir gubuk. Ia naiki anak tangga dan mengetuk pintu yang tak terkunci. Setelah membukanya, ia tak menemukan Mat Yusi. Ia pun mengira Mat Yusi sedang mengurusi pohon cengkeh di dalam sana.


Patra memerhatikan piring saling menindih di atas meja. Aromanya membangkitkan rasa lapar yang sudah ditahannya sejak tadi. Patra yakin di balik piring yang saling menutup rapat itu, ada ikan asin di dalamnya.


Seandainya tadi aku jujur kepada Putri, kemungkinan ia akan mengajakku singgah dan makan bersama di rumahnya, sesal Patra berbohong.


Dorongan untuk menuntaskan rasa lapar begitu kuat saat perutnya bergemerutuk. Andai tak mengingat pesan ibunya, pasti Patra sudah melahap makanan itu.


Di dalam diri orang miskin, ada kekayaan yang harus tetap dijaga. Yakni, kejujuran. Kau tak boleh mengambil milik orang lain. Pesan ibunya ketika Patra memutuskan bekerja di ladang milik Jauhari.


Meski tubuhnya terasa lemas, Patra membuka tas dan mengeluarkan pakaian yang sudah ia siapkan dari rumah.


Setelah mengganti pakaian, ia segera mengambil dua ember sebagai wadah menampung bunga cengkeh. Ia turuni kembali anak tangga, menenteng ember dan siap bekerja.


"Kau sudah makan?"


Patra terkejut. Ia berpaling. Namun, masih belum menemukan asal suara tersebut.


"Aku di bawah sini," ucap suara itu membuat Patra harus berjongkok dan menemukan Mat Yusi sedang tiarap.


Dengan menggunakan kedua tangan, Mat Yusi berusaha meloloskan tubuhnya yang besar dengan cara merayap. "Jadi kau tak melihatku berada di bawah sini?" Mat Yusi memastikan Patra berkata yang sebenarnya.


Dengan cepat ia melepaskan kaos yang melekat di tubuhnya. Berkali-kali Mat Yusi mengibaskan kaos itu hingga semua tanah yang menempel tak terlihat lagi.


"Sebaiknya kau makan dulu. Setelah itu baru sholat. Atau sholat dulu kemudian makan. Terserah saja."


"Tapi…Iyaa" Patra tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya. Tanpa banyak bicara lagi, Patra kembali memasuki gubuk dan segera menuntaskan rasa lapar yang sudah membuat usus perutnya terasa mengkerut.

__ADS_1


Sambil mengunyah nasi dengan lauk ikan kering, Patra masih bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan Mat Yusi di bawah gubuk. Ia pun merasa heran ketika Mat Yusi mengingatkannya untuk sholat.


__ADS_2