Ladang Api

Ladang Api
Satu Malam, Dua Rencana


__ADS_3

MESKIPUN Mat Yusi sudah menolak, Zian tak patah semangat. Ia terus mencoba berbagai macam alasan agar Patra bisa segera berlatih beladiri.


Seperti dulu, ketika ia tak sengaja memergoki Mat Yusi sedang menggantung karung berisi pasir di dahan cengkeh. Dengan sekuat tenaga Mat Yusi menendangi karung itu hingga menimbulkan suara berdebam.


Zian mengendap-endap dan berseloroh nyaring ketika berada di belakang Mat Yusi. Refleks Mat Yusi terkejut dan hampir saja Zian terkena pukulan. Saat itu ia terus merayu bahkan memaksa agar Mat Yusi mengajarinya ilmu beladiri.


Mat Yusi menolak karena khawatir Jauhari mengetahuinya. Ia lebih khawatir lagi kalau Zian tak bisa merahasiakannya dari orang-orang.


“Aku bisa dimarahi bapakmu,” tolak Mat Yusi.


“Jangan sampai bapak tahu. Aku pasti merahasiakannya,” ucap Patra saat itu.


Sebenarnya Mat Yusi senang jika bisa menurunkan ilmu beladirinya kepada orang lain, tapi Jauhari sudah berpesan agar merahasiakan tentang dirinya.


Sekecil apa pun, orang lain jangan sampai curiga dengan sejarah hidupnya. Kecuali Wijan dan Sabran, mereka berdua sudah tahu sejak awal ketika diperkenalkan oleh Jauhari.


Mat Yusi akhirnya tak tega karena Zian setiap hari memaksanya. Setelah berjanji tak menceritakan kepada siapa pun, akhirnya Mat Yusi setuju mengangkat Zian sebagai murid.


Hampir setiap hari mereka berlatih di ladang tanpa sepengetahuan orang. Berbagai jurus kini sudah dikuasai Zian.


Tubuhnya kini juga lebih berotot karena rajin push up. Sesekali Mat Yusi menjadi lawan bertanding. Ketangkasan Zian dalam menangkis dan membalas serangan semakin membaik.


“Patra lebih membutuhkannya saat ini. Seandainya bisa, aku pasti akan memindahkan semua ilmu beladiri yang sudah kumiliki,” Zian tak berhenti merayu.


“Ilmu beladiri itu baru berhasil karena kesabaran dan latihan. Aku akan menguji Patra. Setelah dia selesai memanen sepuluh pohon cengkeh, dia akan ikut berlatih,” jawab Mat Yusi memberikan syarat.


“Kau dulu tidak mengujiku?” kejar Zian mengikuti Mat Yusi yang bolak-balik mengangkat karung berisi cengkeh untuk dijemur.


Mat Yusi tertawa. “Siapa bilang? Tujuh hari kau merengek-rengek memangnya bukan ujian?”


Zian tersenyum. Hanya itu satu-satunya cara yang bisa ia lakukan agar Mat Yusi mau mengajarinya ilmu beladiri.


“Aku pikir dia bisa ikut latihan dengan kita hari ini,” rayu Zian sekali lagi.

__ADS_1


Mat Yusi meletakkan karungnya. “Berhentilah memaksaku. Lebih baik kita bantu agar Patra bisa menyelesaikan tugasnya lebih cepat. Dengan begitu, tanggung jawabnya memetik cengkeh akan terpenuhi dan ia bisa segera berlatih.”


Persendian Zian terasa lemas. Ia merasa gagal dan malu. Padahal, tadi ia sangat yakin bisa membujuk Mat Yusi. Dengan tubuh gontai ia mengikuti Mat Yusi berjalan menuju tempat Patra memetik bunga cengkeh.


“Kau beruntung punya teman seperti Zian!” ucap Mat Yusi meletakkan tangga persis di samping Patra yang bingung dengan kehadiran mereka.


Zian tersenyum, mengedipkan matanya lalu memanjat pohon cengkeh. Ia terus naik ke atas berusaha memetik bunga cengkeh yang tak bisa dijangkau oleh Patra.


“Aku akan membantumu memanen cengkeh agar cepat selesai,” ucap Zian pasrah karena hanya itu yang bisa dilakukan agar Patra bisa cepat ikut berlatih.


Tak ada hal menarik yang terjadi selama mereka memetik cengkeh. Sampai akhirnya Sabran datang menemui Mat Yusi untuk memberitahu rencana malam ini.


Sabran menarik lengan Mat Yusi agar menjauh dari Zian dan Patra. Mengetahui itu, Patra tak peduli dan tetap memanen cengkeh. Namun, Zian memberi isyarat dengan mulutnya dan meminta agar Patra diam.


Tanpa sepengetahun Mat Yusi. Zian turun dari pohon cengkeh lalu mengendap-endap menuju ke gubuk untuk menguping pembicaraan mereka. Setelah mendengarkan ucapan Sabran, Zian lantas kembali kepada Patra yang masih menunggunya di atas pohon.


“Turun dulu. Kita bicarakan di bawah saja,” pinta Zian.


Patra penasaran. Ia lantas turun dan menghampiri Zian yang sudah duduk bersandar di batang pohon cengkeh.


“Malam ini?!” Patra memerhatikan Mat Yusi dari kejauhan. “Bagaimana dengan orangtuaku? Mereka pasti menungguku pulang.”


“Bukankah rumahmu dekat dengan Sabran, titip pesan saja kalau malam ini kau ingin tidur di sini!”


“Lantas bagaimana dengan Mat Yusi? Aku tak yakin ia mengijinkanku.”


Seperti menirukan seorang detektif, Zian lantas berdiri dan meletakkan telunjuk jari tangannya ke dahi. Ia berjalan kesana-kemari sambil memikirkan sesuatu.


“Begini…mmm…bilang saja besok kau ada ulangan di sekolah. Beberapa hari ini kau tidak bisa belajar dengan tenang selama di rumah. Jadi hanya untuk malam ini saja, kupikir Mat Yusi akan memahaminya.”


“Bagaimana kalau tidak?”


“Kau harus mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Kau tambahkan saja sendiri cerita tadi agar lebih menyakinkan.”

__ADS_1


Patra terlihat gusar. “Bagaimana kalau lain kali saja? Aku takut!”


“Kau pikir akan ada kesempatan lain? Kalau pun ada, aku yakin tak semudah malam ini. Waktumu hanya sebentar, sebelum Sabran memutuskan pulang.”


Di sebelah sana, Mat Yusi tampak bersemangat berbicara dengan Sabran. Sudah lama ia ingin bertemu Yudha dan anak buahnya.


Namun, Sabran mengingatkan kalau pertemuan malam ini bukan untuk berkelahi, tapi justru merundingkan perdamaian antara Yudha dan Jauhari.


“Tapi kau boleh bertindak kalau mereka membohongi kita,” tegas Sabran melihat kekecewaan di wajah Mat Yusi.


“Kuharap itu yang terjadi. Sampai aku puas menjejalkan pasir ke mulut mereka!”


“Jika harus seperti itu, aku siap membantumu memaksa mereka membuka mulut. Tapi ingat, selama kau bertarung, aku hanya bisa menunggu di balik pepohonan kelapa.”


Mat Yusi tertawa keras mengejutkan Patra dan Zian yang sedang menunggu kesempatan menghampiri Sabran.


“Sebaliknya, jika malam ini berjalan sesuai rencana kalian, aku yakin Jauhari akan menyesalinya kelak. Aku sudah mengenal banyak orang-orang seperti Yudha.”


“Kita lihat saja malam nanti. Kami akan menjemputmu.”


“Aku sudah tidak sabar,” jawab Mat Yusi


Sabran meringis. Ia segera memalingkan sepedanya. “Aku justru gemetar..,” ucap Sabran jujur.


Saat itulah, Zian mendorong Patra agar segera menyusul Sabran. Tak seperti yang ia duga, ternyata cukup mudah menyakinkan Sabran. Berbeda ketika harus menyampaikannya kepada Mat Yusi, jantung Patra berdegup kencang.


“Cuma malam ini. Hasil ulangan besok penting untuk nilai kelulusanku,” bohong Patra ketika Mat Yusi belum juga memberi keputusan.


“Jika tak boleh, setidaknya sampai selesai belajar, setelah itu aku akan pulang,” Patra berusaha meyakinkan Mat Yusi.


“Baiklah…” jawab Mat Yusi singkat. Perhatiannya kemudian tertuju kepada Sabran. “Aku minta kau langsung ke rumah Patra. Beritahu kepada Wijan kalau Patra akan menginap,” tegas Mat Yusi.


Setelah kepergian Sabran, Mat Yusi melarang Patra dan Zian untuk kembali memetik bunga cengkeh. “Sekarang kalian bersiap-siap. Sebaiknya kita latihan sekarang!”

__ADS_1


Zian dan Patra saling menatap. Rasanya tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Namun, kesempatan itu tak ingin mereka sia-siakan sebelum Mat Yusi berubah pikiran.


__ADS_2