
Hujan telah reda. Jauhari mengajak istri dan anaknya untuk ikut mengantar Patra ke ladang cengkeh. Mereka pun lantas bersiap-siap.
Zian segera mengambil senapan anginnya, sedangkan Putri membantu ibunya menyiapkan rantang berisi makanan. Sementara itu, Jauhari memberikan Patra sepeda agar mudah saat pulang ke rumah.
Selama di perjalanan, Patra hanya mendengarkan Putri bercerita tentang air waduk seusai hujan. Dengan bahasa yang indah, Putri menjelaskan tentang proses terjadinya pelangi.
Katanya, warna air waduk akan menjadi campuran antara coklat, abu-abu dan kehijauan. Jika langit kembali cerah, maka cahaya matahari akan terlihat menyapu permukaan kulit air.
Cahaya itu kemudian melenting menjadikannya warna dalam tiap lengkungan pelangi.
“Aku membayangkan pelangi itu memiliki anak tangga agar kita bisa naik ke sana,” tunjuk Putri setelah tiba di waduk dengan menggunakan sepeda masing-masing.
Semua memandang ke arah pelangi. Bagaimana mungkin? pikir Patra. Meski hanya sekadar khayalan Putri saja, diam-diam Patra juga ikut mengkhayalkan yang sama.
“Kalau pelangi memiliki anak tangga, aku pasti akan naik dan tidur di atas awan,” ucap Patra lirih hampir tidak terdengar.
Berbeda dengan Zian. “Seandainya pelangi itu bisa dihinggapi burung, pasti asyik menembaknya dari sini,” sahut Zian tak ingin kalah dengan adiknya.
Jauhari menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan tersebut. Ia pun lantas mengajak anak dan istrinya agar segera menuju ke ladang cengkeh.
Karena Putri dan istrinya khawatir melintasi jalan yang sempit dan licin, mereka putuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Setelah menyandarkan sepeda mereka di pohon, Zian memutuskan untuk berpisah.
"Nanti aku akan menyusul ke ladang," Zian memisahkan diri sambil menenteng senapan angin.
Tak menunggu lama, Zian langsung beraksi dengan menajamkan telinganya saat mendengar suara cerucau burung.
Kedua matanya memerangkap asal suara itu. Ia ambil peluru dalam saku celana dan segera pergi laiknya seorang pemburu handal.
“Sampaikan pada Mat Yusi agar ia segera menyiapkan perapian,” pesan Zian memberi isyarat kepada Patra. Ia sangat yakin bidikkannya tak akan meleset.
__ADS_1
Tanpa menunda lagi, Zian segera melangkahkan kaki menuju semak belukar melewati bebatuan yang mengelilingi waduk.
Patra baru memahami maksud ucapan Zian setelah Jauhari memberitahunya. Selama ini ternyata Zian selalu memanggang hasil buruannya di gubuk bersama Mat Yusi.
“Semoga kali ini dia dapat banyak, jadi kita bisa dapat jatah semua,” pungkas Jauhari tertawa sambil melingkarkan lengannya ke pundak Patra.
Perlakuan itu membuat Patra sedikit gugup. Dengan canggung ia segera mengimbangi langkah Jauhari sambil menatap air waduk yang tenang. Wangi cengkeh sesekali menyapu lembut hidungnya.
"Nanti kamu bisa berteman dengan Mat Yusi. Dia orang baik," ucap Jauhari memastikan.
Sementara di belakang mereka, Putri terpaksa menggandeng ibunya agar tak terpeleset sambil menenteng rantang berisi makanan.
Patra sudah mendengar tentang Mat Yusi. Namun, ia belum pernah bertemu dalam artian sebenarnya. Mat Yusi memang jarang sekali meninggalkan ladang cengkeh. Semua pekerjaan ia lakukan sendiri. Mulai membersihkan ladang, memberikan pupuk, dan juga memanen cengkeh.
Tadi malam bapaknya berpesan kalau ia harus berhati-hati jika bertemu dengan Mat Yusi. Dari bapaknya pula ia tahu kalau Mat Yusi dulunya seorang pembunuh. Kesan bapaknya terhadap Mat Yusi berbeda sekali dengan Jauhari.
“Hati-hati dengan Mat Yusi, dia dulu pembunuh dan sangat jahat. Jangan membuatnya tersingung,” pesan bapaknya.
“Berarti setiap hari aku akan bersama seorang pembunuh di ladang yang sepi,” bathin Patra membayangkan hal buruk yang bisa menimpa dirinya.
“Ughh...,” Patra mengerang pelan saat perutnya terasa sakit. Ia lupa kalau Jauhari berada di sampingnya.
“Ada apa, Patra. Terasa sakit lagi? Seharusnya kau tidak perlu bekerja dulu hari ini,” ucap Jauhari panik memandang ke arah perut Patra.
“E.., ti…tidak. Hanya teringat ladang cengkeh milik bapak,” Patra beralasan.
“Oh, soal itu,” Jauhari berpikir sebentar lalu langkahnya pun berhenti. “Anggap saja ladang cengkeh di depan sana itu milikmu. Nanti uang penjualan cengkeh yang kau panen bisa ditabung untuk biaya kuliah,” Jauhari menceritakan rencananya.
Ia berjanji akan mendaftarkan Patra kuliah bersama Zian dan Putri di Yogyakarta. Mendengar itu, semangat Patra berapi-api. Jika itu terjadi, harapannya untuk bisa melihat kampung halaman bapaknya bisa terwujud.
__ADS_1
“Aku akan memanen cengkeh setiap hari agar bisa cepat terkumpul banyak,” ucap Patra berjanji
Jauhari tertawa mendengar anak sahabatnya itu penuh semangat. “Jangan lupa juga untuk belajar. Sia-sia kalau nanti nilaimu rendah,” pesan Jauhari mengingatkan.
Patra mengangguk. “Apa Mat Yusi sudah tahu aku akan bekerja di ladang?”
“Kurasa belum. Itu alasan kenapa kami mengantarmu sekarang. Ia pasti senang bertemu denganmu.”
Patra kembali mengikuti langkah Jauhari. Ladang cengkeh sudah semakin dekat. Namun, Patra belum bisa melihat gubuk yang selama ini didiami oleh Mat Yusi.
Sepanjang perjalanan, Patra sengaja lebih banyak diam membayangkan hari-harinya berdua dengan seorang pembunuh. Meski tetap dihinggapi perasaan cemas, kali ini Patra justru penasaran. Apa yang membuatnya harus membunuh orang lain?
Patra berusaha melepaskan rangkulan tangan Jauhari. Dengan alasan membasuh muka, Patra akhirnya terbebas dari tangan kiri Jauhari yang membebani pundaknya sejak tadi.
Patra kemudian meraup air waduk dengan kedua telapak tangan sebelum menyapukan ke wajahnya. Ia sengaja berlambat-lambat. Sementara itu, keluarga Jauhari terus saja berjalan.
Dari belakang, Patra mengendus sisa wangi parfum yang tertinggal. Patra yakin, wangi parfum itu berasal dari tubuh Putri, harumnya sama ketika tadi Putri menyuguhkan pisang goreng.
Begitu harumnya membuat mata Patra menyipit, hampir terpejam. Ia hirup napas dalam-dalam. Tanpa disadari, Sandal jepit yang dikenakan Patra menginjak rumput basah yang tumbuh di tepian jalan.
Patra berusaha menahan keseimbangan, meski berhasil tak jatuh ke dalam waduk, ia tetap harus merasakan sakit di pantat dan bagian tumit yang lecet.
Dengan perasaan malu dan wajah meringis, Patra memaksakan senyumnya ketika Jauhari, istrinya dan Putri bersamaan menatap penuh keheranan.
Patra semakin gugup ketika Putri melemparkan senyum manisnya ketika berusaha untuk bangun. Saat itulah, Patra baru menyadari kalau Putri memiliki lesung pipit di dagu sebelah kanan.
“Seandainya ia tahu aku terjatuh gara-gara dirinya,” bathin Patra sambil berusaha bangkit.
Setelah memberikan bantuan, Jauhari meminta Patra agar kembali berjalan di sampingnya. Putri dan ibunya mengikuti dari belakang.
__ADS_1
Meski tak nyaring, Patra bisa mendengar Ibu dan anak itu saling berbisik diakhiri dengan suara cekikikan.
Dengan gerakan kaku, Patra meraba bagian belakang celananya. Telapak tangan Patra merasakan sesuatu yang dingin, basah. Suara cekikikan terdengar kembali. Hening.