
HARAPAN Sapri pupus. Sekolah tidak diliburkan. Kebakaran di ladang cengkeh Yudha bukan persoalan penting bagi para guru sehingga harus meliburkan sekolah. Meski demikian, peristiwa kebakaran itu menjadi pembicaraan hangat di antara murid dan para guru di sekolah.
“Siapa yang melakukannya?”
“Berani sekali orang itu!”
“Hati-hati, setelah ini Yudha bisa berbuat lebih kejam kepada kita.”
“Jangan-jangan Mat Yusi yang melakukannya?”
“Sebaiknya kita pura-pura tidak tahu saja.”
“Masalahnya semakin panjang!”
Begitulah pembicaraan yang sedang ramai. Ada yang berbisik-bisik. Ada yang membicarakannya sambil bercanda. Ada pula yang berusaha acuh dan tidak ingin ikut membicarakannya. Mereka adalah Sapri CS.
Dari tadi, Sapri lebih sibuk menahan kantuk saat jam pelajaran. Ia berkali-kali menguap. Hal itu dirasakan juga oleh Ikbal, Sidik dan teman-teman tim sepakbola lainnya. Mereka sudah tidak sabar menunggu lonceng jam istirahat berbunyi.
Seandainya keajaiban itu ada. Sapri hanya ingin meminta, jam pulang sekolah di percepat.
“Jangan tidur, Sapri!” tegur Sawitri mengejutkannya. Murid-murid di kelasnya memandang ke arah Sapri yang wajahnya tampak kusut.
“Cuci mukamu sana!” Perintah Sawitri. “Kamu juga, Ikbal dan Sidik, dari tadi ibu perhatikan kalian hanya sibuk menguap. Apa yang kalian kerjakan malam tadi sampai sangat ngantuk begitu?” tegur Sawitri.
“Memetik cengkeh, Bu,” lantur Sidik dalam kondisi kesadaran yang menurun.
“Malam-malam memetik cengkeh? Cengkeh di mana? Jangan mengada-ada kamu!”
Sapri dan Ikbal langsung tersadar. Pertanyaan Sawitri membuat kantuk mereka hilang dalam sekejap.
“Alasan memetik cengkeh, padahal main gaple, Bu,” ucap Sapri menimpali.
Sawitri memerhatikan Sapri dan langsung mengklarifikasi Sidik. “Mana yang benar, main gaple atau memetik cengkeh?”
Ikbal dan Sapri langsung mengancam Sidik dengan sorot mata yang tajam. “Akui saja, Dik,” tandas Ikbal.
Sesaat, Sidik pun menyadari kesalahannya. Akibat kantuk, ia hampir saja salah bicara. “Ehh, iya, Bu. Main gaple,” jawab Sidik terkekeh sambil mengusap rambutnya.
__ADS_1
“Ibu tidak suka kalau kalian berbohong. Ya, Sudah! Pergi ke kamar mandi sana. Cuci muka kalian,” perintah Sawitri dibarengi tawa para murid lainnya.
Sapri, Ikbal dan Sidik langsung pergi menuju ke kamar mandi. Mereka sempat saling sikut saat melewati pintu kelas yang membuat tawa murid lainnya semakin riuh karena ulah mereka bertiga.
***
Di ladang Jauhari, Wijan tampak sibuk bekerja menanam bibit sayuran dibantu beberapa warga desa. Sementara Mat Yusi terpaksa menghentikan aktifitasnya ketika mengetahui Dul Sanif datang.
“Jangan di sini. Aku tidak ingin mereka tahu banyak tentang rencana kita,” ajak Mat Yusi menuju waduk.
Wijan memerhatikan mereka berdua saat menjauh dari ladang. Ia penasaran dengan lelaki yang bersama Mat Yusi. Sambil terus menanam bibit, sesekali Wijan memerhatikan mereka dari kejauhan.
“Aneh, pasti ada yang mereka rahasiakan. Aku harus memberitahu Jauhari tentang lelaki itu,” pikir Wijan untuk menemui Jauhari setelah pekerjaannya selesai.
“Kamu pasti sudah tahu ladang cengkeh Yudha terbakar tadi subuh?”
“Tidak mungkin aku tidak tahu. Dari sini sangat terlihat kobaran apinya,” jawab Mat Yusi.
“Kau yang melakukannya?” tanya Dul Sanif tanpa basa-basi.
Dul Sanif memang sudah melihat sendiri ladang Jauhari saat ini. Kondisinya sudah jauh berbeda saat ia datang beberapa hari yang lalu. Ia juga melihat beberapa orang sedang ikut membantu bekerja.
“Yudha menuduh kalian pelakunya. Dia bilang, kalau bukan Mat Yusi, pasti Jauhari,” sebut Dul Sanif menirukan ucapan Yudha pagi tadi.
“Aku yakin Jauhari tidak akan melakukan itu. Dia orang baik. Bahkan, saat ladangnya terbakar pun, ia tetap tenang dan tak menuntut balas,” jawab Mat Yusi.
“Sebenarnya, aku berpikiran sama. Kalau bukan kalian yang melakukannya, lantas siapa?”
“Aku tidak tahu. Mungkin saja ada orang lain yang tidak suka dengan Yudha.”
“Kau kenal siapa saja yang tidak suka dengan Yudha?”
“Pertanyaan apa itu. Semua orang di desa ini tidak suka dengan Yudha. Bahkan, para tengkulak cengkeh dari berbagai kota yang datang kemari juga tidak suka dengannya.”
Dul Sanif sedikit demi sedikit mengumpulkan informasi yang sebenarnya tak perlu ia lakukan. Namun, ucapan Yudha tadi pagi sangat mengganggunya. Jika, Yudha masih terikat dengan tempat ini, maka rencananya akan semakin lama terwujud, bahkan gagal.
“Di antara mereka semua, siapa menurutmu yang memiliki dendam dengan Yudha sehingga harus membalas sebegitu rupa?”
__ADS_1
“Aku tidak tahu. Selama di sini, aku bahkan tidak berurusan dengan mereka semua,” jawab Mat Yusi.
“Aku sekadar ingin memberitahumu. Jika masalah ini tidak tuntas, Yudha bermaksud akan tinggal di tempat ini lebih lama. Artinya, rencana dan kesepakatan kita kemarin bisa gagal,” terang Dul Sanif kenapa harus membantu Yudha dalam perkara ini.
“Aku sungguh tidak tahu. Pastinya, aku dan Jauhari bukan orang yang membakar ladang cengkeh milik Yudha. Kami semua ada di sini sejak kemarin. Tanya saja kepada mereka kalau tidak percaya!” sahut Mat Yusi.
“Apakah mungkin salah satu dari tengkulak atau bahkan mereka semua sepakat untuk melakukan bersama-sama?”
“Kau bisa menyelidikinya sendiri. Mereka tersebar di beberapa kota. Ada di Pelaihari. Banjarbaru dan juga di Banjarmasin.”
Dul Sanif lantas berpikir sejenak. Ia sedang mencari cara agar bisa mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dengan mudah. Tak hanya dengan Mat Yusi, tapi juga Jauhari dan para tengkulak.
“Aku berpikir begini, jangan-jangan ada yang mengambil kesempatan untuk mengadu domba antara kau, Jauhari dan Yudha setelah peristiwa kebakaran kemarin. Aku tidak menuduh kalian, bahkan percaya bukan kalian pelakunya. Namun, saat ini Yudha menuduh kalian. Artinya, rencana orang itu berhasil ingin mengadu domba.”
“Pendapatmu itu sangat beralasan. Lantas, apa untungnya bagi mereka atau orang yang mengadu domba kami?”
“Bukankah balas dendam bukan untuk mencari keuntungan? Hanya kepuasan ketika mengetahui lawannya kalah!”
“Terus, aku harus bagaimana?”
“Aku juga belum yakin dengan rencanaku. Yudha saat ini pasti sedang sibuk merencanakan untuk mengusik kalian.”
“Aku tidak takut. Jika dia berani menyentuh Jauhari, kali ini aku akan menghabisinya. Jika perlu, sampai mati.”
“Itu yang kutakutkan. Rencana kita semula menjadi sia-sia,” ucap Dul Sanif tak menginginkan hal itu terjadi.
“Aku tidak peduli. Selama aku masih di sini, maka tidak akan tinggal diam jika terjadi sesuatu dengan orang-orang di sekitarku!”
“Jangan emosi dulu. Bagaimana kalau aku pertemukan kalian bertiga agar masalah ini bisa cepat selesai? Dari situ Yudha akan tahu kalian bukan pelakunya dan tak perlu mengambil tindakan berlebihan.”
“Tidak perlu Jauhari dilibatkan. Biar aku saja yang menemuinya,” pinta Mat Yusi.
“Jangan. Kali ini dia harus ikut. Jangan sampai Yudha masih menduga Jauhari sebagai pelakunya dan menggunakanmu sebagai tameng.”
“Kalau begitu, aku coba memberitahu Jauhari. Kalau dia bersedia, kami akan datang ke tempat Yudha secepatnya.”
Sebelum Dul Sanif pergi, mereka sempat bersalaman. Tanpa mereka sadari, tak hanya Wijan yang memperhatikan mereka sejak tadi, tapi ada orang lain yang mengendap-endap menyaksikan mereka berdua dan segera pergi saat Dul Sanif meninggalkan Mat Yusi.
__ADS_1