Ladang Api

Ladang Api
Pertarungan Mat Yusi


__ADS_3

SEHEBAT-HEBATNYA Dul Sanif memainkan jurus, tetap saja usia membatasinya dalam pertarungan yang melelahkan. Saat tadi menghindari tembakan dari Yudha, ia berlari secepat mungkin menuju ladang Jauhari untuk menemui Mat Yusi.


Di belakang, sebagian anak buah Yudha berusaha tetap mengejarnya. Napas Dul Sanif tersenggal. Ia tak sempat istirahat sejak tadi.


Meski lebih dulu sampai di ladang Jauhari, ternyata ia tak menjumpai Mat Yusi ada di sana. terpaksa Dul Sanif bersembunyi di balik semak-semak berharap anak buah Yudha pergi setelah tak menemukannya.


Namun, anak buah Yudha justru berulah di ladang Jauhari. Mereka memukul warga yang sedang bekerja dan langsung merusak tanah yang baru saja ditanami.


Melihat itu, Dul Sanif pun marah. Dalam perhitungannya, ia masih sanggup menghadapi sepuluh orang. Setelah menarik napas panjang, Dul Sanif memutuskan keluar dari persembunyian. Awalnya, ia berusaha untuk menghindari perkelahian dengan mengajak anak buah Yudha berbicara.


Usaha itu sia-sia belaka. Pertarungan satu melawan sepuluh orang pun tak terhindarkan lagi. Meski sudah sangat kelelahan, Dul Sanif masih bisa mengimbangi serangan mereka. Sialnya, mereka terus mendesak Dul Sanif agar mundur ke arah waduk.


Serangan demi serangan seperti tak ada hentinya. Saat perhatian Dul Sanif terpecah, beberapa serangan sempat mengenai tubuhnya. Persis di tepian waduk, tendangan keras membuat Dul Sanif terjungkal hingga tubuhnya tercebur ke air.


Sekuat tenaga Dul Sanif berenang ke tepian. Namun, anak buah Yudha sudah menunggunya untuk melanjutkan pertarungan. Tak ayal, Dul Sanif kepayahan. Ia sudah tak sanggup lagi mengatur napasnya.


Beberapa kali pukulan, tendangan dan sabetan parang mengenai tubuhnya. Ia jatuh terjerembab ke tanah.


Kedatangan Mat Yusi tepat waktu. Sepeda motor yang dikendarai Jauhari sempat oleh ketika Mat Yusi langsung melompat turun.


Dul Sanif bisa bernapas lega setelah mengetahui siapa yang datang. “Untunglah kau datang Mat Yusi. Aku tak bisa membiarkan mereka merusak ladang lagi,” ucap Dul Sanif langsung terkapar.


“Kalian bantu selamatkan dia,” pinta  Mat Yusi kepada Wijan dan Jauhari yang sejak tadi tak berani mendekat.


Mat Yusi lantas segera melepaskan pakaiannya. Ia kepalkan kedua telapak tangannya hingga membuat otot-otot tubuhnya terlihat sangat kekar.


Sudah sejak lama Mat Yusi menginginkan kesempatan untuk menghabisi anak buah Yudha. Kesempatan itu kini datang dan tak ingin ia sia-siakan.


Tak ada lagi yang akan menghalang-halanginya. Bahkan, Jauhari pun kali ini hanya membiarkan ketika Mat Yusi berhadapan dengan anak buah Yudha.


“Serannnngggg..!” teriak salah seorang memberi aba-aba membuat Jauhari dan Wijan segera menyingkir agar tak terkena sasaran pertarungan mereka.

__ADS_1


Mat Yusi bergeming. Ia hanya diam ketika satu-persatu lawannya menyarangkan pukulan dan tendangan. Bahkan, ketika salah satu di antara mereka menebaskan parang ke bagian lengan, Mat Yusi sengaja ingin menunjukkan siapa yang sedang mereka lawan.


Parang itu tak mempan. Beberapa orang lantas mencobanya lagi. Mat Yusi hanya diam menerima serangan itu. Mereka heran, parang yang begitu tajam mendadak tumpul saat mengenai tubuh Mat Yusi.


Saat mereka ingin melarikan diri, giliran Mat Yusi yang menggila. Hanya dengan sekali tendangan, salah seorang dari mereka langsung terjungkal dan jatuh pingsan. Mat Yusi mengamuk bagaikan seekor singa yang sedang lapar.


Ketika salah seorang masih berusaha melawan dengan menebaskan parang, Mat Yusi justru merebut parang itu dan langsung ia hantamkan ke pahanya sendiri hingga patah.


Satu-persatu akhirnya berhasil dikalahkan oleh Mat Yusi dengan mudah.


“Sampaikan pesanku kepada Yudha. Jika dia masih mengganggu ladang ini dan warga desa, maka dia akan berhadapan dengan Mat Yusi. Orang yang tidak segan-segan menghabisinya,” ucap Mat Yusi membiarkan mereka saling membantu teman-temannya untuk pergi meninggalkan waduk dengan keadaan tubuh yang penuh kesakitan.


Setelah itu, Mat Yusi segera mengenakan pakaiannya kembali dan segera menemui Jauhari dan Wijan yang baru pertama kalinya melihat cara Mat Yusi bertarung.


“Tadi itu sangat gila,” ujar Wijan saat Mat Yusi mendekat. “Aku ingin kau mengajari Patra agar bisa bertarung sepertimu tadi,” pinta Wijan.


Mat Yusi menggaruk kepalanya sambil tersenyum. “Dia gurunya,” tunjuk Mat Yusi kepada Dul Sanif yang tampak payah kelelahan.


“Sebaiknya kita bawa dia ke rumahku agar bisa beristirahat,” ujar Jauhari.


“Biar saja, Mat. Kita urus nanti. Sebaiknya kita semua berkumpul di rumah,” ajak Jauhari tak ingin Mat Yusi berbuat nekat. Seperti mendatangi Yudha, misalnya.


“Baiklah. Aku berjalan kaki saja ke sana. Sepeda motormu tak cukup untuk empat orang sekaligus,” sahut Mat Yusi.


“Kau temani dia, Wijan. Biar aku dan Dul Sanif naik motor,” perintah Jauhari memutuskan.


***


Cerita pertarungan Mat Yusi melawan anak buah Yudha segera tersebar luas. Salah seorang warga yang membantu bekerja di ladang menceritakan semua yang dilihatnya dengan rasa kagum.


Tanpa disadari, cerita itu seperti menutup lembaran kisah buruk tentang Mat Yusi yang sebelumnya disebarkan oleh Sabran.

__ADS_1


Cerita demi cerita terus mengalir dari satu tempat ke tempat lain.Meski tak banyak yang melihat langsung pertempuran itu, saat ini mereka justru berharap agar Mat Yusi tak pergi meninggalkan desa.


“Dia memang punya masa lalu yang buruk. Namun, sekarang dia sudah berbuat baik. Sebaiknya kita memberi kesempatan Mat Yusi memperbaiki hidupnya. Bukankah, itu yang dilakukan Jauhari selama ini?”


“Kalau Mat Yusi tetap tinggal di desa ini, orang-orang seperti Yudha akan berpikir dua kali untuk menganggu kita.”


“Apalagi sekarang dia bersama gurunya. Jauhari semakin kuat untuk melawan Yudha.”


“Aku sempat mendengar cerita kalau Yudha memiliki pistol. Mat Yusi harus diberitahu.”


“Meski ada Mat Yusi, kita tetap harus berhati-hati. Yudha itu sangat licik.”


Berbagai macam komentar dan pendapat tentang Mat Yusi ramai menjadi bahan perbincangan warga desa.


Hal itu juga yang dilakukan Wijan saat menceritakannya kepada Patra. Tanpa sepengetahuan Jauhari dan Mat Yusi, ia sengaja menceritakan semua yang dilihatnya kepada Patra dengan mata berbinar-binar.


“Aku sudah meminta Mat Yusi untuk mengajarimu ilmu beladiri. Seandainya tadi kau melihat, pasti akan terkagum-kagum,” ucap Wijan menirukan cara Mat Yusi bertarung.


“Aku takut berkelahi. Bapak saja sendiri yang belajar dengan Mat Yusi,” ucap Patra berpura-pura menolak.


“Jangan sia-siakan kesempatan ini. Kalau kamu bisa seperti dia, maka bisa membantu orang-orang yang teraniaya,” rayu Wijan agar Patra bersedia.


“Kalau begitu ada syaratnya,” ucap Patra.


“Syarat apa? Bapak siap melakukannya asal tidak yang aneh-aneh,” jawab Wijan penasaran.


“Jangan lagi menebangi pohon di Bukit Sangyang. Kalau bapak setuju, aku mau belajar beladiri dengan Mat Yusi,” ujar Patra mengajukan syarat yang membuat bapaknya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Kalau begitu, bapak setuju. Aku akan menebangi pohon di tempat lain saja,” sahut Wijan membuat Patra protes.


“Maksudku, berhenti menebangi pohon. Cari pekerjaan lain saja!” ucap Patra langsung pergi meninggalkan Wijan yang merasa dipermainkan oleh anaknya sendiri.

__ADS_1


Sementara itu, dalam hati Patra sangat senang sekali akhirnya bisa belajar terang-terangan kepada Mat Yusi. Cerita bapaknya tadi membuatnya semakin tambah bersemangat.


Ia belum puas jika belum mengalahkan anak buah Yudha dengan tangannya sendiri. Patra pun segera ingin menemui Zian dan menceritakan apa yang baru saja didengarnya.


__ADS_2