Ladang Api

Ladang Api
Pengorbanan Mat Yusi


__ADS_3

MAT YUSI putus asa. Sudah satu jam lebih ia mengitari sisa ladang cengkeh yang terbakar. Semuanya habis menjadi abu. Hanya tersisa beberapa senjata tajam yang terbuat dari besi baja. Itu pun sudah menghitam akibat terpanggang api.


Berkali-kali ia usap katana dan celurit yang ia temukan tergeletak diselimuti abu, sisa kusam di besi itu seakan tak ingin terhapus begitu saja,


Mat Yusi memperhitungkan jarak ditemukannya senjata tajam itu dengan lokasi gubuk yang sudah terbakar.


Ia yakin, Patra menggunakan kedua senjata itu untuk membela dirinya. Mat Yusi membayangkan kondisi Patra yang harus menghadapi situasi mengerikan semacam itu.


Mat Yusi lantas meraup abu tempat gubuk yang ia yakini telah bersatu dengan sejarah hidupnya.


Walau Mat Yusi masih menyimpan harapan, buku catatan yang ia tulis selama di penjara masih berada di balik timbunan abu, tapi Mat Yusi tak ingin merawat harapannya itu.


Semua orang tahu, sekecil apa pun api, ia akan ******* kertas hingga habis. Kebakaran kemarin, bukanlah tentang api yang kecil, sebuah api yang panasnya mampu meluluh lantakkan semua batang cengkeh di atas lahan seluas 2 hektar.


Mat Yusi membuka kaos yang ia kenakan. Tubuh kekarnya berkilap oleh keringat. Ia lumuri perlahan tubuhnya dengan abu. Mat Yusi berharap, cara itu bisa menumpahkan segala kesedihannya.


Ia tak peduli ketika tangannya terkena bara api yang masih menyisakan panas. Abu-abu itu terus ia raup, mengoleskannya ke dada, perut, lengan, wajah hingga rambutnya


Bagi Mat Yusi, semua itu belum cukup mewakili apa yang sedang ia rasakan saat ini. Ia jatuhkan tubuhnya di hamparan abu dan mulai bergulingan.


Separuh tubuh Mat Yusi telah memutih abu. Ia terus bergulingan. Sampai akhirnya Mat Yusi terkejut saat menyadari ada seseorang menyaksikan perbuatannya.


“Aku tidak ingin bertanya apa yang sedang kau lakukan. Tapi aku membawa kabar baik untukmu,” ucap Dul Sanif sambil memandangi ladang yang telah rata oleh abu.


“Sebaiknya kita…mmm…,” Mat Yusi bingung mencari tempat untuk mempersilakan tamunya itu untuk duduk.


“Yudha memang sudah keterlaluan. Kukira dia akan menetap di Jakarta sampai menunggu aku keluar dari penjara. Ternyata dia lari ke sini untuk memanfaatkan para transmigran,” keluh Dul Sanif mengajak Mat Yusi berbicara.


“Nasi sudah jadi basi. Sekarang, apa yang harus kita lakukan agar Yudha segera meninggalkan tempat ini?” Mat Yusi memberikan kaosnya untuk menjadi alas duduk.


Dul Sanif lantas menceritakan rencananya untuk membantu Yudha mengurus lahan pertambangan. Tantangannya adalah membujuk warga agar mau menjual lahan yang mereka miliki.


Setelah semuanya beres dan tanah-tanah siap digali, untuk sementara waktu mereka akan tinggal di lokasi pertambangan untuk memastikan tidak adanya keributan.


“Lantas bagaimana dengan lahan cengkeh yang akan ditinggalkan Yudha?”

__ADS_1


“Kukira dia akan menjualnya segera. Sementara semuanya berjalan, kuminta kau mempersiapkan diri.”


“Baiklah. Aku setuju membantunya demi membebaskan warga desa dari kebengisan Yudha selama ini.”


Kepergian Dul Sanif meninggalkan banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan Mat Yusi dalam waktu cepat. Ia tak ingin pergi begitu saja meninggalkan Jauhari dengan kondisi sedang terjatuh.


Tenaganya pasti sangat dibutuhkan untuk memulihkan kembali lahan yang terbakar. Tanpa harus berpikir lama, Mat Yusi tidak ingin bergulingan lagi seperti tadi.


Dengan sekuat tenaga ia berusaha membersihkan ladang. Sisa bakaran kayu ia kumpulkan menjadi satu dan menyiramkan air ke atas sisa api yang masih menyala. Ia tak peduli keringatnya mulai bercucuran.


Sambil bekerja, dalam hati Mat Yusi berjanji kelak akan datang kembali untuk membantu Jauhari, Sabran dan Patra. Baginya, tempat ini adalah rumah dan mereka bagian dari keluarganya.


Ia yakin, saat itu ia pasti sudah mengumpulkan banyak uang seperti yang dijanjikan Dul Sanif kepada dirinya.


Satu hal yang masih ia bingungkan adalah soal keberadaan Sabran. Ia belum bertemu sejak malam kemarin. Di mana, Sabran sekarang? pikir Mat Yusi.


***


Sesingkat-singkatnya percakapan adalah ketika Patra bertemu dengan Mat Yusi. Tak ada yang perlu dijelaskan meski itu adalah pertemuan antara dua orang yang sudah saling mengenal.


Mengirim Patra pastilah memiliki alasan teramat penting. Sementara itu, Wijan masih basa-basi menanyakan rencana Mat Yusi membersihkan ladang.


Terlihat beberapa petak sudah rapi. Tanah dan abu menggumpal dalam beberapa baris gundukan memanjang. Pantas Jauhari sangat mengandalkannya selama ini, bathin Wijan. Tenaga dan cara kerja Mat Yusi pantas untuk dipuji.


“Kalau begini caranya, menurutku hanya perlu waktu satu bulan semuanya sudah siap ditanami kembali,” ucap Wijan.


Mat Yusi tak berbicara banyak. Tujuan kedatangan mereka sudah jelas. Ia pun meminta agar mereka menunggunnya sebentar untuk menceburkan diri ke waduk.


Perjalanan dari ladang menuju rumah Jauhari dibungkam rasa sepi. Tak seorang pun memulai percakapan di atas sepeda motor yang mereka tumpangi bertiga.


Wijan sendiri harus berkonsentrasi penuh mengendarai motor. Sementara Patra membayangkan apa yang akan terjadi setelah semuanya berkumpul. “Semoga mereka baik-baik saja!” harap Patra cemas.


***


Tak seorang pun berhasil menemukan jejak keberadaan Sabran. Rumahnya sepi, bahkan di sepanjang jalan yang biasanya sering dilalui pun tak tampak batang hidungnya.

__ADS_1


“Ada yang aneh,” celetuk Jauhari mengingat kebiasaan Sabran selama ini.


“Baiklah. Siapa di antara kalian yang ingin bicara duluan,” ucap Jauhari ketika Mat Yusi sudah datang.


Meski semua dihadiri para orang-orang tua, Patra memilih tetap duduk di samping bapaknya. Ia ingin mendengar sendiri jawaban yang dituduhkan orang-orang kepada Mat Yusi.


“Kalau tidak ada yang ingin memulai, biar aku saja yang menyampaikannya,” lanjut Jauhari melihat tak seorang pun segera berbicara.


Jauhari lantas memulai memberitahu maksud kedatangan warga desa berkumpul di rumahnya. Ia sengaja memilih kalimat-kalimat agar tak membuat Mat Yusi tersinggung.


“Sebelum aku menjawab, di mana Sabran sekarang?”


“Mereka sudah mencarinya sejak tadi, tapi hasilnya nihil,” jawab Jauhari.


“Sebenarnya aku harus berterimakasih dengan Sabran. Perbuatannya justru mempermudah rencanaku untuk memberitahu kalian.”


Suasana menjadi hening. Mereka masih menunggu-nunggu kalimat yang akan diucapkan Mat Yusi selanjutnya.


“Semua ucapan Sabran benar. Sekarang aku adalah anak buah Yudha.”


Tak hanya Jauhari yang merasa terkejut mendengar pengakuan itu. Patra lebih terpukul karena orang yang sempat memberinya harapan justru di luar dugaannya.


“Kenapa kau berkata seperti itu?” desak Jauhari tak percaya.


Mat Yusi tak ingin berlama-lama. Ia sudah memutuskan jalan yang menurutnya terbaik.


Ia berharap, dengan caranya membuat pengakuan dan membiarkan semua orang berpikiran buruk terhadapnya, bisa mengembalikan situasi desa seperti sedia kala. Saat dirinya dan Yudha belum ada di desa ini.


Ia bisa saja mengakui beberapa hal dan menyangkal tuduhannya bersekongkol sejak awal dengan Yudha. Sengaja ia tak melakukan itu dan menjadikannya sebagai urusan pribadi dengan Yudha nanti.


Ia pun tak ingin menyalahkan Sabran. Mat Yusi yakin, menghilangnya Sabran dan berakhir dengan menyebarkan fitnah tentang dirinya pasti akibat campur tangan Yudha.


Mat Yusi terpaksa memainkan perannya sendiri karena situasi tidak sesuai dengan rencana Dul Sanif.


“Jika tak ada lagi yang ingin kalian tanyakan, aku permisi sekarang. Kalian tak perlu repot mengusirku. Sebentar lagi kami pun akan meninggalkan desa ini,” kata Mat Yusi.

__ADS_1


Semua mata saling berpandangan. Di benak mereka hanya ada satu pertanyaan, apa yang terjadi sebenarnya?


__ADS_2