Ladang Api

Ladang Api
Catatan Mat Yusi (2)


__ADS_3

Situasi semakin sulit. Tak kuhiraukan teriakan para polisi yang memerintahkan agar aku berhenti melarikan diri. Aku kalap. Kuterjang segala yang menghadang.


Situasi buruk seperti itu tak pernah masuk dalam rencana Dul Sanif. Ia terlalu percaya diri hingga tak menyiapkan siasat untuk menghadapinya.


Aku tersesat. Terjepit di lorong sempit, menaiki tembok, melompati pagar dan aku merasa beruntung karena bertemu aliran sungai yang mengalir deras.


Kuceburkan diriku bulat-bulat ke dalam air sungai. Jika akhirnya harus mati, aku tidak ingin mati di tangan polisi. Untungnya, tak satupun polisi yang berani ikut menghanyutkan tubuhnya.


Sempat kulihat, mereka hanya mengejarku melalui pinggiran sungai. Saat mereka membidikku, saat itulah aku menenggelamkan diri dalam pusaran air dan bertahan di dalam sana dengan sekuat tenaga.


Napasku tersenggal-senggal. Kehidupan masih memberiku kesempatan lewat dahan pohon yang menjorok ke sungai. Polisi-polisi itu sudah tak lagi terlihat. Sebisa mungkin aku meraih dahan pohon itu dan akhirnya berhasil selamat.


Kurobek pakaianku untuk membalut luka di kaki yang semakin mengucurkan darah segar. Pelarianku terus berlanjut. Meski sakit, langkahku beringas melabrak bagai banteng dalam kibasan kain berwarna merah.


Berkali-kali kutampar pipiku sendiri saat mataku mulai mengabur. Aku tidak mengijinkan tubuhku merasa lelah. Aku yakin bahaya bisa datang dari segala arah.


Bergegas aku mencari air comberan. Kupikir dengan mandi air comberan bisa mengelabui penciuman para anjing pelacak.


Entah darimana datangnya ide itu. Semua datang dengan sendirinya. Keinginan untuk selamat membuatku melakukan apa saja. Termasuk berharap agar para anjing pelacak berhenti lama mengendusi kubangan tempat aku menceburkan diri di dalam air comberan.


Sepersekian menit cukup berharga untuk menentukan apakah aku bisa lepas dari pencarian polisi atau tidak.


Tak hanya dengan cara itu, aku juga menyamarkan bau darah dan tubuhku dengan melumuri sisa makanan dari pembuangan sampah.


Bermacam-macam bau ada di dalam tubuhku. Tak ada kalimat lain yang pantas untuk menyebut keadaanku saat itu kecuali kata busuk. Bahkan, aku sendiri tak sanggup mencium bau tubuhku.


Sampai akhirnya aku jatuh terjerembab di sebuah tempat penumpukan sampah yang menggunung. Kuperhatikan beberapa pemulung yang sedang mengais-ngais sampah terkejut melihat kedatanganku.

__ADS_1


Aku berusaha kembali berdiri dan menuju salah satu gubuk yang hanya beratap sobekan karung. Ada seorang wanita tua sedang memangku anak kecil.


Sebilah pisau di tangannya sedang mengiris apel yang separuhnya sudah membusuk. Kupinjam pisau itu dengan sedikit paksaan, lalu memanaskannya di atas bakaran kayu yang di atasnya berisi air mendidih. Salah seorang pemulung sempat menegurku dengan kasar.


“Kembalikan pisau itu,” teriaknya berulangkali.


"Aku hanya meminjam sebentar dan meminta sedikit air ini. Sumpah!" janjiku ketika pemulung itu berusaha mengusir.


Entah apa yang dipikirkannya saat mencium aroma busuk dari tubuhku, ditambah sebilah pisau di tangan. Pemulung itu kemudian kembali mengais-ngais sampah sambil terus memerhatikanku dari kejauhan.


Sebelum menjalankan rencana gilaku, mencungkil ***** yang masih bersarang di bagian kaki, aku segera mencari sandal bekas.


Kutarik napas sekuat tenaga hingga pipiku tertarik ke belakang sambil menggigit sandal tersebut. Keringat dingin meleleh dari dahi saat ujung pisau baru saja menempel di kulit kaki. Terasa panas dan menyakitkan.


Ini sudah gila, pikirku. Tubuhku lemah seketika. Saat itu baru kurasakan betapa nikmatnya kehidupanku sebelumnya. Namun, sudah terlambat untuk menyesali keadaan. Semua resiko harus kutanggung sendiri.


Wanita yang sejak tadi memerhatikan pun tak sanggup melihat perbuatanku. Ia beringsut pergi, tak tahan melihatku memegang pisau yang bagian ujungnya sudah memerah bara.


Kuperhatikan bagian kakiku yang terluka. Bekas air comberan membuat lukanya tampak membusuk. Luar biasa nyeri. Sakit sekali.


Dengan gemetar kuambil sisa air mineral bekas milik wanita tadi. Kuteguk sebagian lalu sisanya untuk membersihkan luka. Jika tak membayangkan anjing-anjing pelacak yang mungkin telah berhasil mengurai bau tubuhku, mungkin aku sudah putus asa.


Justru rasa takut yang luar biasa adalah keberanian yang membuatku segera melakukannya kembali.


Keringat dingin membanjir ketika ujung pisau panas mulai menyentuh luka di kakiku. Baru kali itu aku merasakan sakit yang luar biasa.


Bola mataku seperti ingin terlepas. Sandal bekas tak kuat menahan gigitanku ketika ujung pisau sudah mengenai pangkal *****.

__ADS_1


Tubuhku bergetar hebat. Setiap kali ***** itu tersentuh oleh ujung pisau, sakit yang timbul tak bisa dijelaskan.


Saat ***** itu perlahan keluar melewati serat-serat daging, aku melolong panjang, urat-urat di tubuhku seperti ingin putus, tubuhku mengejang dan langsung tersungkur dengan napas yang hampir putus.


Saat itu, aku ingin sekali memejamkan mata, tidur sebentar dan bangun dengan segar-bugar. Namun, seperti yang tadi kubilang. Aku tidak mengijinkan tubuhku merasakan lelah. Keadaan belum cukup aman. Aku segera pergi tanpa tujuan.


Selama tiga bulan, aku memutuskan bersembunyi di rumah Latif. Dia seorang lelaki baik yang baru kukenal saat menyinggahi sumur di salah satu surau.


Belakangan kuketahui dia adalah guru ngaji di surau itu. Ia menawariku untuk makan dan memberiku pakaian bersih. Sedikit demi sedikit kuceritakan semua kejadian yang kualami.


Kuperhatikan, tak ada sedikit pun Latif berencana melaporkanku ke polisi. Ia bahkan juga tak menyalahkanku. Justru ia memintaku untuk bersabar dan bertaubat.


“Semua kesalahan masih bisa diperbaiki selama kita menginginkannya,” ucap Latif saat itu memberiku saran.


Jujur, aku belum tahu harus mulai dengan cara apa. Setiap hari aku hanya melihat Latif menjalankan sholat, mengajari anak-anak mengaji Al-quran dan memberikan banyak petuah kepada anak-anak muda di mushola.


Suatu malam di depan beranda rumahnya, entah kenapa ada sesuatu yang mengguncang jiwaku. Mungkin, karena seringnya aku menerima kesantunan Latif, kebaikan dan kesabarannya, terlebih mendengarkan pemikirannya, di hadapan Latif aku menyampaikan keinginanku memeluk Islam.


Latif membimbingku dengan sabar. Setiap hari ia menyirami kalbuku dengan sholat lima waktu. Di hamparan sajadah, aku sering menangisi perjalanan hidupku yang telah lewat. Aku bersyukur dipertemukan dengan Latif.


Setiap hari aku membantunya bekerja di sawah. Setelah itu, ia langsung mengajariku membaca Al-quran.


Di bulan ke empat, setelah semuanya kurasa siap, Latif mengijinkanku meninggalkan rumahnya. Ia tak banyak bicara saat kuberitahu akan mendatangi kantor polisi dan mengakui semua kesalahanku.


Dia tersenyum, memelukku erat dan membisikkan sesuatu yang membuat hatiku bergetar.


"Kemana pun langkahmu pergi, Allah ada bersamamu.”

__ADS_1


Hari itu, aku menangis lagi. Sebuah tangisan yang datang dari dalam sanubariku. Kupeluk Latif sekali lagi. Aku berjanji, kelak jika ada waktu dan umur panjang, aku ingin bertemu dengannya sekali lagi.


__ADS_2