Ladang Api

Ladang Api
Sekali Lagi, Siasat Jauhari


__ADS_3

Jauhari tahu sahabatnya itu tidak bermaksud menolak bantuannya. Namun, Wijan hanya merasa tidak nyaman jika harus selalu dibantu. Jauhari lantas berpikir untuk mendapatkan ide agar tetap bisa membantu Wijan.


“Begini saja…” kata Jauhari menghentikan kalimatnya. Ia mencari cara untuk menjelaskannya kepada Wijan.


“Mungkin ini sebuah kebetulan, beberapa hari lagi istriku berulang tahun. Aku belum tahu hadiah apa yang ingin kuberikan,” ucap Jauhari kemudian.


Wijan berusaha memahami maksud kalimat itu. Baginya, alasan Jauhari sangat mencurigakan. Berkali-kali Wijan menganggukan kepalanya seperti mengetahui isi pikiran Jauhari.


Saat mereka saling diam, mendadak Wijan tertawas keras sambil menepuk lengan Jauhari. Namun, tawa itu tak berlangsung lama karena Wijan merasakan sakit di sekitar wajahnya.


“Kau ini aneh. Tadi tertawa keras dan sekarang kesakitan,” giliran Jauhari menertawakan Wijan.


“Kau pikir aku lupa dengan otak busukmu itu!” tuding Wijan mengolok-olok Jauhari dan memastikan dirinya tak akan lagi masuk perangkap untuk kedua kalinya.


“Kau pikir bisa membohongiku lagi kali ini?” ledek Wijan membuat Jauhari hampir saja tak bisa menahan tawanya.


“Apa maksudmu?” Jauhari kebingungan dengan menunjukkan wajah serius. “Kau pikir saat ini aku sedang bercanda?”


“Kali ini aku senang mengingat masa lalu,” ucap Wijan memanggil ingatannya kembali tentang peristiwa tentang batu gunung di masa lalu.


Dulu, Jauhari pernah membohongi dirinya. kalau sekolahnya sedang memerlukan material batu gunung untuk membangun kelas baru.


Wijan tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia pun langsung mengambil pekerjaan itu mengingat sedang memerlukan uang. Sementara banyak batu gunung yang bisa dikumpulkan dengan gratis.


Meski begitu, tetap saja mengumpulkan batu gunung dalam jumlah banyak bukan pekerjaan mudah. Namun, Wijan tak patah semangat.


Hanya dengan mengandalkan kekuatan tangan, akhirnya selama satu minggu, Wijan berhasil mengumpulkan dua belas kubik batu gunung dan siap diantarkan ke samping pagar tempat Jauhari sekolah.


Agar mengurangi rasa sakit di telapak tangannya, Wijan membebatnya dengan kain. Sekuat tenaga ia menarik gerobak yang penuh berisi batu gunung.


Seharian Wijan bolak-balik mengantarkan batu gunung itu hingga selesai. Tak terhitung berapa banyak sudah peluh yang sudah berceceran.

__ADS_1


Peristiwa itu sulit untuk dilupakan Wijan sampai sekarang. Sampai akhirnya ia mengetahui kalau semua itu hanya akal-akalan Jauhari saja.


Satu bulan berselang, batu gunung itu tak pernah digunakan dan masih utuh berada di tempatnya.


Setiap kali pergi memancing, Wijan melihat batu gunung itu tak berkurang sedikit pun. Saking penasaran, Wijan nekat mendatangi sekolah Jauhari untuk menanyakan kepada salah seorang guru yang ia temui tentang rencana pembangunan gedung kelas baru.


Pertanyaan yang sama juga selalu ia lontarkan setiap kali bertemu Jauhari. Namun, karena seringnya Wijan bertanya, Jauhari akhirnya berterus terang.


Uang bayaran batu gunung itu ternyata hasil tabungan Jauhari selama sekolah. Setiap hari Jauhari menyisihkan uang jajan di tabungan ayam jago yang terbuat dari tanah liat. Semua itu ia lakukan karena tak sengaja mendengar pembicaraan Wijan dan ibunya.


Ketika itu akan ada empat hajatan besar dalam bulan yang sama. Keluarga Wiryo, Kasiman dan Budiyana akan ngunduh mantu.


Sementara keluarga Wasikin akan melaksanakan khitanan anaknya. Ke empat keluarga tersebut dulu pernah memberikan sejumlah uang ketika Wijan di khitan.


Meski bantuan, tradisi di desa mereka sudah terbiasa untuk mengembalikan uang tersebut ketika orang-orang tadi juga melaksanakan hajatan.


Sebenarnya Jauhari sudah menawarkan bantuan secara langsung, tapi Wijan selalu menolak karena tak ingin merepotkan Jauhari. Di luar dugaan, Jauhari justru menggunakan cara lain agar tetap bisa membantu sahabatnya itu.


“Kukira kau sudah melupakan peristiwa itu. Namun, kali ini aku serius. Kau bisa menanyakannya kepada istriku,” ucap Jauhari membela diri. “Setelah ini kita ke rumahku, bagaimana?”


Wijan hanya menggelengkan kepalanya. Ia berusaha bertahan agar tak termakan siasat Jauhari.


“Percayalah. Aku bisa menghemat banyak uang jika membelinya langsung darimu. Kau juga bisa mendapatkan harga lebih pantas jika menjualnya langsung kepadaku.”


Wijan tetap bertahan. Namun, setelah mendengar apa yang baru saja diucapkan Jauhari, ia merasa bimbang. Dalam hati, Wijan membenarkan ucapan itu. Ia tak mungkin bisa menjual dengan harga tinggi kepada pedagang emas.


Meski diliputi kecurigaan, saat ini ia sedang perlu uang untuk membayar hutangnya kepada Yudha. Jangan sampai centeng-centeng itu datang lagi besok hari sementara ia belum memiliki uang.


“Kali ini kau berdusta atau tidak, itu urusan lain. Saat ini aku sedang terdesak dan ini satu-satunya cara agar urusanku dengan Yudha selesai.”


Wijan menyerahkan gelang dan kalung emas yang tadi sudah sempat ia bungkus kembali. “Semua surat pembelian ada di situ. Kau bisa lihat sendiri harganya.”

__ADS_1


Jauhari lantas menerimanya sambil memerhatikan tiga lembar kertas kuitansi yang tampak masih rapi.


“Kau bilang istrimu tak pernah mengenakannya. Jadi kuanggap semuanya masih baru. Kau tahu harga emas sedang naik hari ini? Kau beruntung. Jadi aku akan membelinya seharga tujuh juta!”


Wijan merasa heran. “Kau yakin? Akh, sudahlah. Aku setuju dengan tawaranmu!” bola mata Wijan berbinar. Ia ingat membeli emas itu hanya seharga empat juta setahun yang lalu.


“Tapi ada syaratnya. Kau tidak boleh lagi berhubungan dengan Yudha. Bagaimana?”


Wijan tak berani memastikan. Sebenarnya ia sempat berpikir untuk tak lagi berurusan dengan lintah darat itu. Tubuhnya pun masih terasa sakit akibat kejadian tadi pagi. Tapi ada rasa sakit yang tak bisa dilawannya, yakni persoalan Patra.


Selain itu, bisa saja sewaktu-waktu ada kebutuhan lain yang tak kalah mendesak. Satu-satunya harapan mendapatkan uang cepat adalah dengan meminta bantuan kepada Yudha.


“Apa kau yakin bisa melawan Yudha?” Selidik Wijan.


“Kenapa tidak? Asalkan semua warga tidak termakan bujuk rayu Yudha, tanpa harus dilawan, Yudha akan kalah sendiri.”


“Maksudku para centeng-centeng itu. Mereka tidak mengenal ampun. Bisa saja mereka menghabisimu jika sudah sangat terpaksa,” Wijan mencemaskan keselamatan Jauhari.


“Aku akan mencari cara untuk menghentikan mereka. Kamu cukup membantuku dengan tidak lagi berhubungan dengan Yudha. Itu saja!”


“Tidak bisa begitu. Setelah kejadian hari ini, aku juga punya dendam pribadi dengan centeng-centeng Yudha. Seandainya mereka tidak keroyokan, aku pasti bisa mengalahkan mereka satu-persatu,” Wijan membela diri.


“Jadi maksudmu, kau berani dengan mereka?”


“Lihat saja nanti. Jika ada kesempatan, aku pasti akan membalas perbuatan mereka,” ucap Wijan sesumbar.


Jauhari tersenyum. Ia merasa senang melihat Wijan tampak bersemangat. “Sekarang masalahmu sudah selesai, bukan?”


"Aku masih memikirkan Patra?"


“Urusan Patra serahkan saja padaku,” jawab Jauhari dan langsung mengajak Wijan kembali ke ruangan Puskesmas.

__ADS_1


__ADS_2