
ANGIN malam masih meninggalkan bau asap ladang cengkeh yang terbakar. Di waduk sana, ladang yang tadi penuh api sudah berganti menjadi jejak abu. Gulungan asap pun sudah terbang tinggi meninggalkan luka dan bara api yang tersisa di ladang cengkeh Jauhari.
Setelah menyerahkan Patra ke rumah Jauhari, Mat Yusi tergesa-gesa kembali ke ladang cengkeh untuk mencari Sabran.
Sampai di waduk, orang-orang yang tadinya sibuk memadamkan api ternyata sudah kembali ke rumah masing-masing.
Namun, beberapa orang masih tampak berjaga-jaga dari kejauhan karena sisa bara api belum padam sepenuhnya. Tak seorang pun di antara mereka melihat Sabran kembali ke waduk.
Untuk beberapa saat Mat Yusi hanya duduk termenung memandangi air waduk yang tenang. Sebelum memutuskan kembali ke rumah Jauhari, Mat Yusi menenggelamkan tubuhnya ke dalam air waduk.
Ada perih yang menjalar. Ia biarkan tubuhnya semakin di bekap rasa dingin sampai keringat dan kotoran di tubuhnya benar-benar bersih. Ia tenggelamkan tubuhnya sekali lagi untuk melarutkan tangis yang ia pendam sejak tadi.
Tak mudah bagi Mat Yusi menerima kenyataan ladang cengkeh yang selama ini ia rawat sepenuh tenaga dan pikiran habis terbakar dalam waktu singkat.
Setelah tangisnya reda dan tubuhnya terasa segar kembali, Mat Yusi pun menyusul ke rumah Jauhari, ia berharap semua orang yang ingin ditemuinya berkumpul di sana.
"Jadi Sabran tidak kemari?" tanya Mat Yusi ketika bertemu Zian sedang berkumpul dengan teman-temannya di halaman rumah.
"Justru kami pikir kau pergi bersamanya," Selidik Zian.
Mat Yusi menghindari tatapan Zian, dan memalingkan wajahnya ke dalam rumah. Pintu masih terbuka lebar. Beberapa orang terlihat berbincang dengan Jauhari ditemani istrinya. "Bagaimana dengan keadaan Patra?
"Ia sedang tidur di kamarku. Masuk saja, apa perlu kutemani?" ajak Zian.
Di dalam kamar bercat putih, Mat Yusi bertemu dengan orangtua Patra. Mat Yusi tahu, wajah sedih bercampur lelah itu sedang menahan kantuk.
"Sewaktu bangun ia sempat menyebut namamu," ucap Wijan menggeser kursi yang ia duduki agar Mat Yusi bisa mendekati anaknya.
"Seharusnya aku tak meninggalkannya sendirian," sesal Mat Yusi.
"Sudahlah, Mat. Ia yang menginginkan menginap di tempatmu," Wijan tak ingin suasana kembali keruh. Tadi, saat tiba di rumah Jauhari, istrinya tak berhenti menyalahkan Mat Yusi. Jauhari sendiri tak mampu membuat istrinya berhenti berteriak-teriak meski sudah meminta maaf berkali-kali.
__ADS_1
"Sebaiknya kalian tidur, biar aku yang menjaganya," saran Mat Yusi.
Wajah ibunya Patra mendadak tegang seperti menahan sesuatu di dadanya.
"Apa katamu? Menjaga? Apa aku tidak salah dengar?" Ia tak bisa lagi menahan untuk memuntahkan emosinya di hadapan Mat Yusi meski suaminya sudah memberi isyarat lewat gelengan kepala.
"Di luar banyak orang ikut menjaga Patra. Jadi sebaiknya ibu dan bapak beristirahat. Kita bisa menjaganya bergilirian," jawab Mat Yusi
"Aku tidak peduli siapa yang akan menjaga Patra, asalkan bukan kau!" tuding ibunya Patra.
"Sudahlah, Bu. Kita tidur saja duluan," ajak Wijan menenangkan kembali istrinya.
"Sebelum dia pergi, aku tidak akan tidur!"
Kegaduhan kecil itu membuat Patra terbangun. Ia merintih kesakitan saat menggerakkan tangannya.
"Kalau kau tak meninggikan suaramu, ia tak akan terbangun," Wijan menyalahkan istrinya.
Wajah ibunya Patra cemberut ketika anaknya justru kembali menyebut-nyebut nama Mat Yusi.
“Ibu dan bapakmu ada di sini, Nak. Kalau kau perlu sesuatu katakan saja,” ucap ibunya Patra sengaja dengan suara agak keras agar Mat Yusi tak mendekati anaknya.
Sikap ibunya Patra membuat Mat Yusi merenungkan kembali ucapan Dul Sanif.
Meski kejadian yang menimpa Patra tak memiliki hubungan dengan masa lalunya, orang-orang di luar sana tak selalu membutuhkan alasan tepat untuk menyalahkan dirinya. Sewaktu-waktu, emosi bisa menyulut nalar mereka.
Mat Yusi memilih untuk segera pergi meninggalkan Patra bersama orangtuanya. Ia tak ingin membuat situasi menjadi lebih buruk. Baginya, sekarang adalah menyiapkan semuanya agar Jauhari tak curiga ketika ia harus pergi meninggalkan desa untuk waktu yang lama.
Saat Mat Yusi melangkah pergi, ibunya Patra terus membujuk agar anaknya kembali tidur. Namun Patra justru tetap menyebut nama Mat Yusi. Tanpa persetujuan istrinya, Wijan memanggil Mat Yusi agar kembali.
Dengan pandangan mata yang masih kabur, ditambah balutan perban di bagian mata kanan membuat Patra sulit mengenali orang-orang di sekitarnya. Saat mendengar nama Mat Yusi disebut, ia pun langsung menolehkan kepala.
__ADS_1
Dengan tatapan mata yang menusuk, ibunya Patra membiarkan Mat Yusi mendekat.
“Sebaiknya kau kembali tidur,” saran Mat Yusi tak ingin berlama-lama berbicara dengan Patra.
Tanpa sepengetahuan Mat Yusi, ibunya Patra terus mencibir dengan mulut yang diperot-perotkan meniru semua ucapan Mat Yusi tanpa mengeluarkan suara.
"A, a..ku berhasil melukai salah satu dari mereka. Suatu saat aku pasti bisa melakukannya lebih baik," bisik Patra menjanjikan sesuatu.
Mat Yusi terkejut. Ia perhatikan sekelebat harapan di mata Patra. Tak bisa ia bayangkan akhirnya nanti jika setiap orang mulai belajar merawat dendam mereka masing-masing.
“Nanti kita lanjutkan lagi. Kau harus sembuh dulu,” bisik Mat Yusi dan langsung beranjak meninggalkan Patra.
"Apakah Sapri juga ada di sini?" Patra meringis kesakitan saat menoleh ke pintu kamar yang terbuka, lehernya terasa kaku dan nyeri.
Tanpa diminta, perasaan bersalah membuat Zian seperti ingin berbuat banyak untuk Patra. Ia pun langsung menemui Sapri yang masih berada di halaman rumah bersama teman-temannya.
Suara panggilan Zian mengejutkan Sapri yang tampak asyik membicarakan sesuatu. Kali ini ada yang berbeda dengan Sapri, wajahnya sudah tidak lagi bengkak.
Saat masih bersikeras tak ingin menikahi pohon Jingah, ibunya bilang telah ditemui bapak kandungnya lewat mimpi.
Ibunya lantas menyarankan agar Sapri memetik daun Jingah untuk dijadikan ramuan obat seperti ucapan bapaknya. Ramuan itu untuk dioleskan ke wajah. Rasanya memang perih tapi berhasil membuat wajah Sapri sembuh.
Saat tadi memutuskan pulang dari waduk untuk memadamkan api, Sapri sengaja mengajak kawan-kawannya berkumpul di rumah Zian untuk membicarakan calon pengganti Patra.
Meski sempat berdebat sengit hingga kepala mereka pusing, tak satu pun muncul nama yang pantas menggantikan kepiawaian Patra dalam bermain sepakbola.
"Bagaimana kalau dia?" tunjuk Sapri spontan dengan suara pelan sebelum meninggalkan kawan-kawannya dengan wajah tidak percaya. Semua orang di sekolah tahu, Zian tak pernah bermain sepakbola. Keputusan Sapri membuat kawan-kawan lainnya diliputi perasaan heran.
"Apa maksudmu dengan menunjukku tadi?" Zian penasaran saat berpapasan dengan Sapri di depan pintu.
"Aku bilang kau jago menembak. Apa aku salah?" Sapri tersenyum sambil memperlihatkan telunjuk jari tangannya menyerupai pistol ke hadapan Zian.
__ADS_1
"Dorrr…!" ucap Sapri tak sabar menunggu saatnya tiba.