Ladang Api

Ladang Api
Rencana Sapri Berantakan dan Berubah


__ADS_3

PENGAKUAN Mat Yusi seperti teror di siang hari. Meski warga desa hampir tak pernah berurusan dengannya, tetap saja mereka merasa terusik.


Terlebih Jauhari merasahasiakannya selama ini. Namun, mereka bisa memahami alasannya. Justru, mereka bersimpati kepada Jauhari yang telah dikhianatai oleh Mat Yusi.


Ladang cengkeh yang sudah terbakar habis, pengkhianatan Sabran, ditambah pengakuan Mat Yusi, tentunya membuat Jauhari limbung menjalani kehidupannya.


Kabar itu pun terdengar sampai ke telinga Sapri. Jika kemarin yang disakit oleh Yudha adalah Patra, kali ini adalah guru sekaligus pemilik sekolahnya sendiri.


Ia mendengar desas-desus nasib sekolahnya akan terancam. Sapri mendengarnya langsung ketika orang-orang sedang membicarakan tentang Jauhari. Mereka bisa menilai sendiri dari apa yang mereka lihat.


“Kekuatan Jauhari sekarang sudah habis. Sekolah itu lambat laun akan tutup karena tak bisa menggaji para guru,” tukas Karjo menyayangkan.


“Selama ini Jauhari sudah bersusah payah menghadapi Yudha sendirian untuk membantu kita. Seandainya sekarang kita bisa membantunya,” ucap Kasiman yang merasa tidak berdaya.


“Setidaknya kita bisa gotong-royong membersihkan ladang cengkehnya agar bisa cepat ditanami!” usul Memet yang tadi hanya mendengarkan.


“Mau ditanami cengkeh lagi? Perlu waktu bertahun-tahun untuk bisa panen,” tandas Karjo.


Mereka akhirnya saling diam. Ingin sekali rasanya bisa membantu Jauhari. Namun, mereka tak tahu bagaimana caranya.


“Sebaiknya kita datangi Jauhari. Siapa tahu dia punya rencana dan kita bisa membantunya,” ajak Memet memberikan saran.


Mendengar pembicaraan itu, Sapri langsung terburu-buru mendatangi rumah Ikbal dan mengajaknya menjemput Sidik.


Saat mengetahui Sidik tak di rumahnya, mereka langsung menyusul ke ladang.


“Ada apa lagi?” tanya Sidik penasaran. Tadi siang mereka sudah bertemu dan heran melihat Sapri menyusulnya ke ladang cengkeh milik orangtuanya.


“Kalian pasti sudah mendengar apa yang terjadi dengan Pak Jauhari?” ucap Sapri saat mereka sudah menemukan tempat yang aman untuk berbicara.


“Apa kau ingin membakar ladang cengkeh Yudha semuanya?” tanya Sidik penasaran. Ia hapal betul dengan watak Sapri yang selalu memiliki rencana dadakan.


“Bukan itu. Sore ini kita sudah harus menemukan ladang cengkeh Yudha yang ingin kita bakar. Sebenarnya aku ingin mengganti rencana tersebut.”


Benar dugaan Sidik. Sapri tidak mungkin mengajaknya berkumpul jika tidak ada sesuatu yang dianggapnya penting. Bahkan, Sapri tak bisa menundanya sampai besok.


“Mengganti bagaimana?” tanya Sidik.

__ADS_1


“Sia-sia kalau hanya kita bakar. Kita panen saja dulu semua cengkeh di sana baru kita bakar,” jawab Sapri menceritakan rencana barunya.


Sidik dan Ikbal terkejut. Artinya mereka akan berada di ladang cengkeh Yudha dalam waktu yang lama. Berbeda jika membakar ladang itu. Setelah api menyala, mereka langsung bisa pergi untuk menghilangkan jejak.


“Bagaimana jika ketahuan orang atau anak buah Yudha yang datang memeriksa ladang?”


“Kita harus bagi tugas dan melibatkan yang lain. Ada yang mengawasi orang-orang, memanen cengkeh, dan mengumpulkannya menjadi satu,” ucap Sapri mendetilkan rencananya.


“Bagaimana kalau mereka tidak mau?” tanya Ikbal.


“Harus mau atau sekolah kita akan tutup. Aku sudah mendengar pembicaraan orang-orang sekolah kita terancam karena Pak Jauhari sudah kehabisan biaya.”


“Jadi, uang cengkeh curian akan diberikan kepada Pak Jauhari?”


“Di bagian itu aku belum memikirkannya lebih jauh. Pastinya, kita harus berbuat sesuatu yang konkrit,” jawab Sapri.


“Pertama, mencuri itu sudah dosa. Kedua, membakar ladangnya, adalah kejahatan. Kamu yakin, Sapri?” tanya Sidik memastikan sekaligus mengingatkan resiko yang akan mereka terima.


“Kita mencuri dari seorang pencuri dan membakar ladang milik orang jahat. Aku yakin dosanya sangat kecil. Malah bisa jadi pahala karena tujuan kita baik,” dalih Sapri sangat yakin.


Sidik mengusap-usap rambutnya. Ia perhatikan orangtuanya yang masih bekerja di ladang memetik cengkeh. “Kapan kamu ingin memberitahu mereka?” tanya Sidik.


“Bagaimana kalau besok. Aku masih harus membantu mereka!” saran Sidik.


“Harus sekarang. Waktunya sudah sangat mendesak. Bahkan, aku merencanakan besok kita membolos sekolah untuk pergi memanen cengkeh Yudha,” timpal Patra.


“Bolos sekolah?!” Sidik terkejut. Menurutnya, rencana Sapri benar-benar sudah gila. Jika sampai rencana mereka gagal dan ketahuan orang-orang, atau sebaliknya, rencana berhasil dijalankan tapi diketahui orang-orang, maka sudah bisa dipastikan, tak hanya malu yang akan didapat.


Hukuman lain sudah siap menanti. Bisa saja semua akan diberhentikan dari sekolah. Jika itu terjadi, mereka masih harus menghadapi amarah orangtua masing-masing.


“Boleh aku mundur?” tanya Sidik ragu-ragu.


“Sial. Dasar pengecut!” Sapri mengumpat.


Sidik tak terima dikatakan seperti itu. Ia mendorong tubuh Sapri hingga terjatuh. Sapri terkejut dan langsung bangun untuk memberikan perlawanan.


Melihat temannya akan berkelahi, Ikbal langsung melerai mereka. “Sudah, jangan berkelahi. Apa kalian lupa kalau kita satu tim?” Ikbal membentak.

__ADS_1


“Dia yang duluan. Mentang-mentang ada orangtuanya di sana,”  damprat Sapri tak terima diserang mendadak.


“Kau yang tolol mengajak kami menjalankan ide gilamu tanpa melihat resikonya,” balas Sidik menuding.


“Resiko apa? Kita mencuri lonceng sekolah saja aman sampai sekarang. Asalkan kita semua tidak banyak tingkah sepertimu,” Sapri mulai berang.


“Lonceng sapi itu berbeda dengan ide gilamu dengan bolos sekolah, mencuri cengkeh, dan membakar ladang,” timpal Sidik tak mau kalah.


“Terserah. Lebih baik aku pergi sekarang. Sia-sia mengharapkan kalian,” Sapri melangkah pergi setelah melihat orangtua Sidik datang mendekat.


“Jika kau berani membocorkan rencana tadi ke orangtuamu, kujamin aku akan membuatmu menyesal seumur hidup!” ancam Sapri bersungguh-sungguh.


“Aku tidak takut! Sekarang saja kalau berani!” ucap sidik emosi.


“Dasar pengecut. Mentang-mentang ada orangtuamu di sini!” ledek Sapri langsung meninggalkan mereka pergi.


Melihat itu, Ikbal pun ikut pergi mengejar Sapri yang ingin menaiki sepeda. Dengan cepat, Ikbal menghalangi dari depan.


“Aku tetap maju. Kamu belum menceritakan kenapa kami harus membolos sekolah?” tanya Ikbal.


“Tidak perlu. Aku bisa melakukan semuanya sendiri. Kamu ikuti saja Sidik!” Sapri sudah terlanjur kecewa.


Ikbal lantas turun dari sepedanya dan menarik bahu Sapri agar berhenti.


“Kau pikir aku takut seperti Sidik? Tidak perlu menunggu besok atau meminta bantuan teman-teman. Sekarang juga kita panen cengkeh milik Yudha sampai besok subuh!”


Sapri langsung menolehkan wajahnya memandangi Ikbal. “Ternyata kamu lebih gila dari aku!” ucap Sapri tersenyum.


“Satu sakit, semua sakit,” ujar Ikbal menepuk dadanya sendiri. Mereka pun tertawa sambil memperhatikan Sidik yang sudah membantu orangtuanya kembali.


“Memangnya bisa memanen cengkeh saat gelap?” selidik Sapri.


“Gampang. Kita pulang dulu sekarang. Aku akan bilang menginap di rumahmu. Sebaliknya kamu juga begitu, menginap di rumahku. Bawa seragam sekolah agar orangtua kita tidak curiga,” ucap Ikbal memberi saran,


“Berarti kita akan menginap di ladang cengkeh Yudha?”


“Ya. Aku yakin malam ini sampai besok kita bisa menghasilkan banyak cengkeh.”

__ADS_1


“Aku ada ide. Bagaimana kalau cengkehnya kita jual lagi ke Yudha? Biar tahu rasa dia!” ucap Sapri bersemangat kembali.


“Ide cemerlang..!” sahut Ikbal bergegas meminta Sapri untuk melanjutkan perjalanan pulang. Mereka sudah tidak sabar untuk beraksi. Sepanjang jalan, mereka hanya saling tertawa dan melupakan perdebatan tadi.


__ADS_2