
KEPERGIAN Dul Sanif menemui Mat Yusi dimanfaatkan Yudha untuk bergerak cepat. Diam-diam ia mengirimkan anak buahnya untuk menjemput paksa Sabran untuk dibawa ke rumahnya.
Bagi Yudha, apa hebatnya menjalankan bisnis baru yang belum tentu berhasil dan harus kehilangan sesuatu yang telah memberinya keuntungan banyak?
Saran Dul Sanif malam tadi untuk meninggalkan tempat yang sudah memberikannya banyak keuntungan dari hasil penjualan cengkeh terdengar sangatlah tolol.
Ia juga merasa sangat bodoh jika harus percaya dengan rencana Dul Sanif yang pengalaman bisnisnya belum teruji. Di mata Yudha, ia hanya seorang perampok yang gagal dan ingin mendapatkan keuntungan lewat dirinya. Uang dan uang, itulah yang ada di pikiran Dul Sanif sekarang.
Namun, ia tak ingin berdebat dengan Dul Sanif. Pertarungan dalam bisnis memiliki jurus sendiri. Berbeda dengan pertarungan seperti yang dilakukan Dul Sanif dan Mat Yusi.
Mereka hanya pintar berkelahi, tapi tidak tahu caranya mengumpulkan banyak uang lewat kerja keras orang lain.
Dalam waktu singkat, Yudha telah menyusun rencana baru. Pertama yang harus dilakukan adalah menggunakan Sabran untuk memperkeruh suasana. Semakin keruh, Yudha yakin bisa mengambil lebih banyak keuntungan.
Sementara itu, Sabran tidak ada pilihan lain ketika anak buah Yudha menjemput paksa di rumahnya. Sepanjang jalan, wajahnya pias. Ia khawatir ada orang lain yang melihat kedatangannya ke rumah Yudha.
Peristiwa kebakaran ladang cengkeh milik Jauhari tadi malam membuatnya sadar bahwa ia telah diperalat oleh Yudha.
Meski hanya sebagai penyampai pesan, ia tetap merasa bersalah. Seandainya ia tak menyarankan Jauhari untuk mengajak Mat Yusi ikut ke pantai, mungkin ladang cengkeh tak terbakar dan Patra tak mengalami luka bakar.
Gara-gara pesan itu, Yudha berhasil menjalankan rencananya dengan mudah. Ladang cengkeh sudah terbakar, Mat Yusi harus memulai dari awal, Jauhari menanggung banyak kerugian dan Patra tak bisa sekolah. Sekarang, Yudha justru mengincarnya lagi.
Tadi malam, Sabran sempat berpikir ingin pergi meninggalkan desa untuk selamanya. Pergi dari permasalahan yang semakin hari bertambah rumit. Ia merasa bersalah dan sudah sangat terpukul. Namun, ia tak menyangka jika centeng-centeng Yudha sudah mengawasinya terlebih dulu.
Sekarang, Yudha sudah berada di hadapannya sambil menyuguhkan kopi dan sepiring singkong goreng. Sambutan yang begitu hangat yang membuat Sabran justru heran.
“Aku ingin meminta tolong kepadamu untuk terakhir kalinya,” ucap Yudha memosisikan dirinya seolah-olah sangat berharap kepada Sabran.
“Menyampaikan pesan lagi?” tanya Sabran curiga.
“Semacam itu tapi bukan untuk Jauhari.”
__ADS_1
Sabran penasaran. “Kepada Mat Yusi?” tebaknya.
Yudha menggelengkan kepala. “Jangan terburu-buru. Nikmati saja dulu singkong gorengnya,” Yudha menyodorkan piring itu agar Sabran mengambilnya.
Suasana sempat hening sebentar lalu Yudha melanjutkan ucapannya.
“Jika kau mau membantuku, kau bisa bebas pergi untuk menikmati hidupmu tanpa kekurangan,” sambungnya sambil memberikan amplop tebal berisi uang yang sudah dipersiapkannya sejak tadi.
Pikiran Sabran berkecamuk. Meski belum mengetahui seberapa banyak isi di dalam amplop itu, Sabran Yakin jumlahnya tak sedikit.
Apa sebenarnya yang diinginkan Yudha sehingga harus memberiku banyak uang? Pikir Sabran heran sambil memandangi amplop itu.
“Kau ingin menghitungnya?” tebak Yudha. “Jumlahnya cukup untuk membeli sapi baru. Bahkan, jika kau memang berniat pergi meninggalkan desa untuk selamanya, aku akan membeli rumahmu. Kalau kau mau, akan aku bayar sekarang. Bagaimana?”
“Sebenarnya apa yang harus kulakukan?” tanya Sabran masih penasaran.
“Kau pasti sudah tahu sejarah hidup Mat Yusi, bukan?”
“Kalau begitu, biarkan semua orang mengetahuinya,” pungkas Yudha. “Ceritakan kepada mereka agar cepat tersebar luas,” pinta Yudha menambahkan.
“Maksudmu, aku harus menceritakannya kepada orang-orang?” Sabran berusaha memastikan.
“Betul sekali. Ternyata kau pintar juga!”
Sabran terdiam. Ia tak pernah membayangkan untuk mengkhianati Jauhari dan Mat Yusi dengan cara seperti ini. Ketakutannya selama ini benar-benar terjadi. Kaki Sabran gemetar. Telapak tangannya berkeringat ketika Yudha terus mendesaknya.
Ia yakin, kalau Yudha sendiri yang memintanya langsung, maka tak mungkin ditolak. Centeng-centengnya pasti akan bereaksi. Ia membayangkan dirinya pulang dalam keadaan tak selamat. Meski berat, Sabran mengambil amplop itu lalu memeriksa isinya.
“Uang itu jumlahnya cukup untuk membeli sapi dua ekor. Kalau rumahmu ingin dijual, bilang saja kepadaku. Jadi apa lagi yang harus kau pikirkan?” tawar Yudha sambil tersenyum.
Yudha tak merasa rugi jika harus memberi Sabran banyak uang. Toh, uang itu hasil dari penjualan sapi yang di curi anak buahnya dari Sabran sendiri.
__ADS_1
Ia sengaja memerintahkan anak buahnya untuk mencuri sapi itu karena tahu sapi yang dipelihara Sabran adalah milik Jauhari. Yudha ingin sekali membuat Jauhari jatuh miskin karena telah berani melawannya.
Ia sudah tahu selama ini Jauhari mulai bertingkah seperti seorang pahlawan. Ia mulai meminjamkan uang kepada warga tanpa bunga.
Jauhari bahkan telah berani menjalin hubungan dengan tengkulak lain dan mengajak warga untuk menjual cengkeh ke tempat lain.
Roda bisnis cengkeh Yudha terancam. Ia tak mungkin mengirim cengkeh menggunakan kapal laut melalui Banjarmasin menuju Surabaya dan Jakarta dalam jumlah sedikit. Apalagi Yudha telah menandatangani kontrak suplai cengkeh dalam jumlah banyak kepada relasi bisnisnya.
Kehadiran Mat Yusi sejak awal juga membuat Yudha geram. Keberanian Mat Yusi melawan anak buahnya menimbulkan semangat warga desa untuk berpihak kepada Jauhari.
Itulah yang membuat Yudha teringat dengan Dul Sanif. Seseorang yang sengaja dipersiapkan untuk mengalahkan Mat Yusi.
Sabran tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Mulutnya terkatup rapat. Pikirannya berkecamuk saat mengingat Jauhari dan Mat Yusi yang telah banyak membantunya selama ini.
“Mungkin kau perlu mengetahui sesuatu agar mudah mengambil keputusan. Mulai sekarang kau tak perlu takut kepada Mat Yusi lagi. Tadi malam ia telah bersepakat denganku,” ucap Yudha berbohong.
Sabran pun mengingat kejadian tadi malam. Ia tak menyangka kalau Mat Yusi telah bersepakat dengan Yudha.
“Apakah Mat Yusi akan baik-baik saja?” Sabran memberanikan diri untuk memastikan nasib Mat Yusi jika masa lalunya diungkap.
Yudha tertawa. “Mat Yusi akan menjadi anak buahku, tentu saja dia akan baik-baik saja. Katakan juga kepada orang-orang bahwa Mat Yusi sudah bersekongkol denganku sejak lama.”
Sabran senang jika Mat Yusi akan baik-baik saja. Namun, ia masih khawatir.
Hanya dengan menceritakan masa lalu Mat Yusi saja ia merasa takut, ditambah lagi menyebarkan cerita persekongkolan mereka. Bagaimana jika warga desa marah? Pikir Sabran.
“Aku tidak punya banyak waktu, jadi apa kau mau melakukannya?” desak Yudha dengan tatapan tajam.
Sabran membuka kancing kemejanya dan memasukkan amplop itu. “Bukankah aku tidak punya pilihan lain?!”
Tanpa menunggu lama, Sabran segera pergi sambil memastikan tak ada orang lain yang melihatnya. Yudha lantas tersenyum puas. Baginya, uang memang selalu bisa memudahkan segalanya.
__ADS_1