Ladang Api

Ladang Api
Cerita Sawitri


__ADS_3

SAWITRI setuju ketika istri Jauhari memintanya untuk menginap malam ini. Berada di rumah seorang diri, sementara orang-orang yang ia kenal akan berkumpul membicarakan sesuatu yang penting hanya akan membuatnya jauh lebih kesepian.


Apalagi ia merasa kehadirannya dibutuhkan oleh keluarga Jauhari untuk menyiapkan masakan untuk para tamu.


Bersama Putri dan istri Wijan, Sawitri membantu istri Jauhari memasak di dapur. Ia yakin, bumbu masakan yang lezat bisa membuat orang semakin bersemangat. Setidaknya dalam beberapa saat. Sawitri mengerahkan semua kemampuan memasaknya.


Sementara Putri membersihkan beras, Sawitri mengumpulkan semua bahan dapur yang tersedia. Beberapa siung bawang merah dan putih yang telah ia haluskan dicampur satu dengan daun jeruk yang sudah ia buang tulangnya, ditambah lengkuas, cengkeh dan cabai merah lalu ia tuang ke dalam wajan yang sudah berisi dua sendok minyak goreng.


Permukaan wajan yang licin dan panas ketika bersentuhan dengan sisa-sisa air dari bumbu racikan Sawitri menimbulkan suara kemesraan bumbu dapur. Putri memerhatikan cara Sawitri memasak.


Ia bisa mencium aroma harum dari dalam wajan menyeruak mengisi seluruh ruangan dapur. Sedikit demi sedikit rasa lapar membuat Putri ingin segera menyelesaikan pekerjaannya.


"Wanginya sedap sekali," puji Putri dengan wajah berseri.


"Bumbu yang enak bisa membuat orang lupa bahan yang diolah," Sawitri menunjuk ke piring berisi irisan tempe dan kacang panjang. Putri tahu maksud ucapan Sawitri.


Meskipun tempe dan kacang panjang, kalau sudah masuk ke dalam mulut, hanya bumbu yang bisa membuat seseorang menelannya hingga tandas atau justru meludahkannya.


"Lelaki yang akan menjadi suami ibu pasti akan sangat bahagia punya istri yang jago masak."  Putri segera menyalakan kompor untuk memasak nasi.


"Kamu juga hebat memasak," Sawitri memasukkan semua tempe dan kacang panjang ke dalam wajan ditambah segelas air dingin.


Suara kemesraan bumbu dapur terdengar lebih nyaring. Dengan sutil di tangan sebelah kanan, Sawitri mengaduk-aduk masakannya agar rata bercampur dengan bumbu.


"Desa kita sekarang semakin tidak aman, banyak orang menjadi korban," ucap Putri sambil menyiapkan diri untuk membuat sambal untuk menemani ikan asin yang sudah ia goreng sejak tadi.


Sawitri berpikir sejenak. Ia celupkan permukaan telunjuk jari tangannya ke dalam wajan lalu mencecap dengan lidah. Sawitri menambahkan sedikit garam, gula dan merica. "Terkadang kita memang harus berkorban untuk mendapatkan yang terbaik."


"Ngomong-ngomong, apakah ibu akan tinggal di sini selamanya?"


Sawitri tak memunyai jawaban tepat. "Kau masih punya sisa ikan asin mentah?"


Putri segera menyerahkan ikan asin. Setelah Sawitri mencucinya, ikan asin itu kemudian disuwir-suwir lalu dicampurkan ke dalam wajan.


"Entah rasanya bagaimana nanti, semoga saja lebih nikmat," Sawitri memberikan senyuman kepada Putri yang penasaran.

__ADS_1


"Apa ibu ada rencana pulang ke Bali?'


"Menjenguk orangtua maksudmu?


Putri mengangguk.


"Belum tahu. Memangnya kenapa?"


"Jika boleh, aku ingin ikut berlibur ke sana. Pasti berbeda keadaannya dengan di sini."


"Kau serius? Sebenarnya ibu pernah punya pikiran gila. Tapi ini antara kau dan aku saja, orang lain tidak boleh tahu."


Sambil mendengarkan cerita Sawitri, Putri tetap melanjutkan pekerjaannya membuat sambal. Sesekali ia membayangkan ketika Sawitri mengatakan bahwa dunia ini begitu luas dan banyak tempat-tempat lain yang bisa dikunjungi setiap saat.


Menyenangkan sekali rasanya jika semasa hidup bisa melihat dan merasakan bagaimana tempat-tempat itu sebenarnya.


"Ternyata ibu bercita-cita ingin menjadi seorang petualang rupanya?" gurau Putri.


"Hampir mirip, tapi bukan petualang. Aku hanya merasa tidak puas selama hidup berada di tempat ini saja, atau hanya di Bali. Aku akan pergi sebentar mengunjungi semua tempat di luar sana, lalu kembali setelah kehabisan uang. Saat itu aku akan mencari uang kembali untuk pergi lagi."


"Perasaan sejak tadi kau membicarakan lelaki dan suami terus. Jangan-jangan kau sudah ingin bersuami ya?" balas Sawitri membuat rona merah menyeliputi wajah Putri.


"Aku kan masih anak-anak dan masih sekolah. Justru ibu yang sudah dewasa dan pantas bersuami!"


"Kalau begitu kenapa wajahmu memerah tadi? Hayo siapa lelaki yang ditaksir anak Jauhari, atau jangan-jangan sudah pacaran?" selidik Sawitri membuat Putri semakin salah tingkah.


"Tuh, kan. Jadi berhamburan seperti ini," rajuk Putri membersihkan sebagian sambal yang keluar dari cobek.


Sawitri tertawa lebar disambut Putri yang terus menolak mengakui bahwa ada lelaki yang sedang ia taksir saat ini. Bagi Putri, ia perlu merahasiakannya.


***


Meskipun Sawitri tahu tujuan Jauhari mengumpulkan orang-orang ada kaitannya dengan kejadian beberapa hari ini, saat Jauhari terlebih dahulu mengajak mereka makan, Sawitri berpikir keras agar pembicaraan itu tidak terjadi di atas meja makan.


Ia ingin semua orang makan dalam keadaan nyaman tanpa pikiran yang membebani. Begitu banyak permasalahan beberapa hari ini.

__ADS_1


"Bagaimana masakan Putri, enak tidak?" tanya Sawitri sembari melirik Patra.


"Bohong, cuma goreng ikan asin, nasi dan sambal saja kok," balas Putri salah tingkah.


"Untung kali ini tidak ada yang gosong," timpal Jauhari berusaha ikut mencairkan suasana.


"Bapak juga pernah masak nasi sampai gosong," bela Putri.


Mendadak semua tertawa lepas. Istri Jauhari sampai tersedak mengingatnya,


Saat itu ia sedang sakit dan Jauhari menggantikannya memasak di dapur. Jauhari gugup bukan main mengetahui nasi yang dimasaknya gosong. Ia lupa menggunakan serbet untuk mengangkat panci dan membuat jari tangannya kepanasan. Panci itu lantas jatuh ke lantai.


Wijan dan istrinya tersenyum mendengar cerita itu. Mereka saling berpandangan. Suasana bertambah cair ketika istri Wijan menegur suaminya sambil menunjuk ke arah kumis. Ada butiran nasi menempel di sana.


“Sudah biasa. Kumisku juga lapar,” sahut Wijan memaksa Dul Sanif dan Mat Yusi yang tadi hanya diam ikut tersenyum.


Sawitri lantas menatap wajah istri Jauhari. Ia merasa ada beban berat dan gumpalan kesedihan yang tersimpan di raut wajahnya. Tidak mudah kehilangan ladang cengkeh yang menjadi satu-satunya mata pencaharian selama ini. Sawitri pun lantas menceritakan masa lalunya.


Waktu di Bali, aku juga punya kejadian lucu tentang peristiwa di dapur tapi bukan soal gosong. Saat itu aku masih SMA kelas 1. Musim paceklik membuat kehidupan di kampung kami terasa mencekik. Persis ketika makan malam seperti ini, kami sekeluarga berkumpul di atas meja makan. Ibu datang membawa panci berisi kentang. Ia bilang, malam itu kami harus makan nasi dengan rebusan kentang saja," Sawitri menghentikan ceritanya. Semua orang memperhatikan Sawitri tanpa mengeluarkan suara apapun. 


"Satu biji kentang berukuran agak besar diletakkan ibu di atas panci. Ia bilang, jatah malam itu hanya sebiji kentang saja karena sisanya untuk keesokan hari. Ibu mengiris kentang menjadi empat bagian sama rata. Malam itu ibu mengingatkan kami untuk selalu bersyukur atas nikmat dan rejeki yang diberikan Allah kepada kami.


Sampai keesokan harinya saat sarapan, dari dapur aku mendengar ayah berbicara kepada ibu. Ia menanyakan tentang rencana apalagi yang akan dilakukan ibu kepada kami pagi itu. Ibu menjawab ia masih punya sebiji telur yang sudah direbusnya. Dari percakapan mereka aku tahu kalau tadi malam ibu hanya merebus satu kentang dan dua sisanya adalah batu yang bentuknya mirip dengan kentang. 


Pagi itu, sandiwara ibu di meja makan aku biarkan tetap rapi. Ia tunjukkan panci berisi telur. Ada tiga biji telur di dalamnya. Namun aku sudah tahu bahwa dua sisanya tidak berisi. Ibu sudah menyiapkan sebelumnya. Ia sengaja mencari kulit telur dan merekatkannya dengan plester. Ibu bilang, pagi itu kami hanya boleh memakan satu telur. Dua sisanya untuk menemani makan siang dan malam nanti. 


Tapi ada yang berbeda dari cara ibu membagi telur. Pagi itu ibu hanya membaginya menjadi dua bagian. Separo untukku dan sisanya diletakkan ibu di piring adikku. Ibu bilang, ia dan ayah belum lapar dan nanti akan makan dengan kentang tadi malam. 


Aku tak bisa menahan tangis pagi itu. Kupeluk ibu dengan sekuat tenaga. Menciumi pipinya berkali-kali sambil mengucapkan terimakasih atas semua kebaikan yang ia berikan kepada kami. Ayah hanya mampu menunduk saat melihat aku dan ibu saling berbicara lewat tangisan. 


Sawitri tak melanjutkan ceritanya. Ia meminta ijin untuk kembali ke dapur dengan air mata yang sudah meleleh di pipi dan menumpahkan segala sedih dan kerinduan kepada ibu dan ayahnya.


Istri Jauhari menyusul Sawitri di dapur. Tak lama kemudian istri Wijan pun mengikuti dari belakang.


"Aku berjanji akan menjaga keluargaku sebaik keluargamu Sawitri. Aku akan lebih kuat dari sebelumnya. Terimakasih atas semua yang kau lakukan." Istri Jauhari menumpahkan semua sedihnya dengan memeluk erat Sawitri. Bertiga mereka saling berpelukan dalam isak tangis yang tak bisa dijelaskan.

__ADS_1


__ADS_2