Ladang Api

Ladang Api
Jeda, Rayuan Maut Patra


__ADS_3

PERTARUNGAN yang dimenangkan Mat Yusi melawan anak buah Yudha seperti jeda atas dendam yang belum selesai dibayar tuntas. Di luar sana, Yudha masih berkeliaran. Sementara, Dul Sanif, seperti dua sisi mata uang yang baru saja dipertaruhkan.


Emosi yang berlebihan membuat Yudha melakukan tindakan ceroboh. Dul Sanif, orang yang sempat diandalkannya itu, justru kini sedang terbaring lemah di rumah Jauhari, orang yang sangat dibencinya.


Rencana Yudha beberapa waktu lalu dengan memanfaatkan Sabran pun menjadi sia-sia. Warga berbalik simpati kepada Mat Yusi. Padahal, hanya tinggal sedikit kesabaran, Dul Sanif sudah berhasil meyakinkan Mat Yusi untuk membantunya. Justru kini, keadaan menjadi terbalik.


Semua yang hampir hilang dari kehidupan Jauhari justru semakin bertambah. Di sampingnya kini ada Wijan, Mat Yusi, dan Dul Sanif. Hanya tinggal mengembalikan Sabran, maka lengkaplah sudah kebahagiaan yang dimiliki Jauhari.


Meski demikian, bagi Mat Yusi, cerita belum usai jika Yudha belum pergi meninggalkan desa ini. Sewaktu-waktu, Yudha bisa saja melakukan pembalasan dengan cara-cara yang keji.


Kesempatan berkumpul seperti ini menjadi kesempatan baik untuk Wijan melanjutkan rencana yang tertunda. Ia menyarankan kepada Jauhari untuk mengumpulkan warga. Dengan begitu, kekuatan untuk melawan Yudha akan semakin bertambah.


Jauhari lantas meminta persetujuan istrinya tentang rencana itu. Mengumpulkan banyak orang harus melibatkan istrinya dalam urusan dapur. Pertemuan yang direncanakan tak mungkin hanya sekadar duduk tanpa makanan dihidangkan.


Setelah mendapat persetujuan istrinya, Jauhari lantas memberitahu Wijan agar memanggil istrinya dan juga Sawitri untuk membantu pekerjaan di dapur.


Bagi keluarga Jauhari, guru muda bernama Sawitri itu sudah seperti keluarga dan terbiasa membantu istrinya jika ada acara di rumah.


Mengetahui itu, Patra meminta ijin untuk membantu bapaknya. Butuh banyak waktu jika dilakukan oleh bapaknya sendiri. Akhirnya, Patra mendapat tugas untuk menghubungi Sawitri dan ibunya yang masih berada di rumah.


Diam-diam, Patra lantas berusaha mengajak Putri untuk berkeliling desa. Dari rumah Jauhari ke rumah Sawitri dan rumahnya, lalu kembali lagi ke tempat ini, sama saja seperti sebuah lingkaran.


Patra masuk ke dalam rumah Jauhari. Di lihatnya Zian tampak sibuk membersihkan kamar mandi. Sementara itu, Putri sedang melipat pakaian.


“Bisa bantu aku, Put?” ucap Patra memberanikan diri.


“Kenapa, Kak?”


“Temani aku memanggil Ibu Sawitri dan ibuku agar mereka membantu persiapanan ibumu untuk malam ini,” jawab Patra sambil menoleh ke kanan dan kiri.


“Ada acara apa malam ini?” tanya Putri yang rupanya belum tahu.


“Ayahmu ingin mengumpulkan warga desa,” sahut Patra.


“Coba aku tanyakan sekaligus meminta ijin ke ibu dulu,” jawab Putri pergi ke dapur untuk menemui ibunya.


Tak lama kemudian, Putri menghampiri Patra sambil tersenyum.


“Kata ibu jangan lama-lama. Takutnya anak buah Yudha berkeliaran,” kata Putri memberitahu.


“Tenang saja. Kalau mereka menganggu, aku pasti melindungimu kok.”


Wajah Putri bersemu merah. Ia tersenyum mendengar ucapan Patra barusan. “Yuk, berangkat,” ajak Putri menuju pintu samping rumahnya untuk mengambil sepeda.


“Satu sepeda saja ya, Put. Biar kamu tidak capek!” tawar Patra.


“Mmm…” Putri tak menduga kalau Patra bakal mengajaknya berboncengan. Ia menoleh ke samping kanan dan kiri, memperhatikan orang-orang. “Ya, sudah kalau begitu. Asalkan hati-hati,” ucap Putri dengan jantung yang berdegup.

__ADS_1


Dalam hati, Patra bersorak kegirangan. Ini pertama kalinya bagi Patra mengajak jalan Putri sambil berboncengan.


Patra lantas mengayuh sepedanya perlahan melewati para orangtuanya yang masih berkumpul. Melihat itu, jantung Patra dan Putri sempat berdegup kencang. Ada perasaan tak nyaman yang sama-sama mereka rasakan.


“Mau kemana si Patra dan Putri?” tanya Mat Yusi keheranan.


“Mmm, tadi ia ijin ingin membantu untuk memanggil Sawitri dan ibunya,” sahut Wijan yang juga akan bersiap-siap mendatangi rumah warga. Dalam hati, Wijan malu kepada Jauhari atas ulah anaknya.


Jauhari tersenyum. “Biarkan saja. Kulihat Putri juga senang kalau berteman dengan Patra dibandingkan dengan kakaknya. Mereka selalu ribut kalau di rumah,” jawab Jauhari mengajak mereka melanjutkan pembicaraan yang sempat terhenti.


***


Sepanjang perjalanan Patra terus mengayuh sadel sepeda. Sementara itu, Putri hanya diam duduk di belakang menghadap ke samping. Ada perasaan canggung untuk mereka memulai pembicaraan.


“Marah ya, Put?” tegur Patra merasa tak nyaman karena hanya saling diam.


“Enggak, Kak. Kenapa mikir begitu?” timpal Putri.


“Dari tadi cuma diam. Siapa tahu sedang marah karena kuajakan jalan,” balas Patra.


Dalam hati, Putri merasa geli. Wajar baginya sejak tadi hanya diam. Seumur-umur, baru kali ini ia berboncengan sepeda dengan lelaki. Ada perasaan malu dan segala macam lainnya yang mengendap di pikiran Putri.


“Takut ketahuan pacarnya, ya?” ledek Patra.


“Ishhh, pacar. Jangan aneh-aneh, Kak!” sahut Putri.


Refleks Putri mencubit pinggang Patra. “Dibilangin jangan aneh-aneh, masih saja ngomong soal itu,” rajuk Putri.


“Aduh, jangan dicubit. Sakit, Put!”


“Biarin. Salah sendiri ngledekin aku terus!”


“Aku cuma tanya, kok. Gak boleh ya?”


“Gak..! jawab Putri singkat.


“Ohh, jadi aku gak boleh tahu, Nanti aku cari tahu sendiri saja deh,” ucap Patra tersenyum-senyum sendiri.


Putri benar-benar sebal. Ia cubit Patra sekali lagi.


“Aduhhh, beraninya main cubit!”


“Pulang aja kalau ngledekin terus,” sungut Putri.


“Ehhh, jangan. Maaf, maaf. Sebentar lagi sudah mau sampai ke rumah Ibu Sawitri kok,” jawab Patra menunjuk ke depan.


“Awas kalau ngledek lagi. Aku bakal turun dan pulang sendirian,” ancam Putri.

__ADS_1


“Jangan, Put. Kalau kau pulang sendirian jalan kaki, aku bisa dimarahi bapakku dan orangtuamu,” ucap Patra memelas.


“Tuh, tahu! Mending ngobrol yang lain saja. Jangan soal pacar lagi,” pinta Putri.


“Bagaimana kalau soal pacarku saja, Put?’


Putri terdiam. Dengan enggan ia menanggapi ucapan Patra. “Terserah. Jadi kakak sudah punya pacar?”


“Belum resmi sih. Masih pendekatan. Nanti aku kasih tahu kalau sudah jadian,” sahut Patra.


Setelah itu, Putri tak bicara lagi. Ia hanya diam dan tak antusias lagi saat diajak Patra bicara. Saat tiba di rumah Sawitri, Putri pun bicara seperlunya saja.


“Ke rumahku dulu sebentar, ya? Memberitahu ibuku,” ucap Patra.


“Iya. Buruan sekarang. Takut ibuku sudah menunggu,” jawab Putri.


“Padahal tadi niatnya aku mau mengajakmu main sebentar ke gunung Sangyang. Aku sudah lama tidak ke sana. Tempatnya bagus lo, Put. Kita bisa lihat pantai dan Kota Pelaihari.”


“Gak, usah. Aku belum selesai melipat pakaian tadi,” tolak Putri beralasan.


“Kalau lain waktu mau kuajak ke sana?”


“Insya Allah, Putri gak janji.”


“Dari tadi kok keliatannya gak semangat sih.”


Putri menyadari sikapnya berbeda sejak tadi. Ia tak ingin Patra memikirkan perubahannya itu. “Biasa aja, kok. Kakak saja yang terlalu sensitif.”


“Ngomongin soal pacar kakak lagi, mau gak?”


“Katanya belum jadian. Kok sudah disebut pacar sih?”


“Maksud kakak, calon pacar. Mau gak?”


“Memangnya ada apa sih?”


“Kakak ragu-ragu mau kasih dia hadiah. Takut salah. Sesama perempuan, Putri bisa dong kasih saran hadiah yang pantas?”


“Hmm, soal itu Putri gak tahu. Meski sesame perempuan, tetap saja beda-beda kesukaannya,” sahut Putri.


“Sebagai gambaran saja. Kalau perempuan seperti Putri sukanya diberi hadiah apa?”


“Apa, ya? Boneka, mungkin. Mmm, atau cokelat yang banyak, hahaha..” sahut Putri tertawa sendiri.


“Mending aku kasih itu saja ya, Put. Siap tahu dia juga suka!”


“Terserah, Kakak. Sebenarnya, apa pun hadiahnya, gak masalah, Kak. Cuma nerima aja kok.”

__ADS_1


Di depan, Patra senyum-senyum sendiri. Tak lama lagi, mereka akan sampai di rumah Patra untuk memberitahu ibunya agar berkumpul di rumah Jauhari untuk memersiapkan acara malam nanti.


__ADS_2