Ladang Api

Ladang Api
Hujan, Teruskan Saja


__ADS_3

SEJAK Jauhari menyerahkan tanggung jawab ladang cengkehnya kepada Mat Yusi, ia jarang mengunjungi ladang. Hanya pada saat tertentu dan biasanya itu setiap hari minggu bersama istri dan kedua orang anaknya, Zian dan Putri.


Mereka satu sekolah dengan Patra. Namun, Putri masih duduk di kelas satu. Mereka sudah mengetahui kalau Patra akan bekerja di ladang cengkeh milik orangtuanya.


Gerak-gerik mencurigakan di luar sana membuat Jauhari tidak jadi merapikan lembaran kertas yang berserakan di atas meja kerjanya.


Dari ruang tamu, hanya dengan mengenakan sarung dan kaos singlet, pandangan Jauhari membentur remang-remang kain korden yang menutupi jendela kaca.


Jauhari mendekat, menyibak korden dan terkejut sesaat. Tangan kirinya segera meraih panel pintu. Hanya sekali tekan, udara dingin di luar sana mendesak masuk seperti ingin mengabarkan tentang seseorang yang tubuhnya sedang menggigil akibat guyuran hujan deras.


“Patra..! Kenapa tak mengetuk pintu?” Jauhari melangkah cepat menuju ruangan tempat istrinya menumpuk semua pakaian sebelum digosok.


Setelah menemukan kaos dan celana pendek serta sarung milik Zian, Jauhari menyambar handuk yang menggantung di balik pintu dan membawanya ke luar.


“Keringkan badannmu,” Jauhari menyerahkan handuk tanpa beranjak dari tempatnya berdiri.


Meski sungkan, Patra melepaskan kaosnya. Ia mulai mengeringkan rambut, wajah, leher lalu bergantian menyapu kedua lengan tangan. Sibuk mengeringkan badan membuat Patra tak menyadari saat Jauhari memerhatikan sisa memar di bagian perutnya.


Kaos berwarna putih itu pas sekali di tubuh Patra. Hanya sedikit bagian lengannya saja terangkat ke atas membuat sebagian otot bisepnya terlihat.


Wangi pengharum pakaian juga tercium samar membuat Patra membayangkan seandainya ia menjadi Zian. Betapa nyamannya memiliki orangtua yang bisa mencukupi segala kebutuhan hidupnya.


“Kau bisa masuk angin jika tak segera mengganti celanamu,” tegur Jauhari.


Dengan canggung Patra segera membungkus bagian bawah tubuhnya dengan sarung. Ia lepas celana panjang basah lalu menggantinya dengan celana pendek. Setelah semuanya selesai, ia pun segera membereskan semua pakaian yang berserak di lantai.


“Biar nanti Putri saja yang mencucinya.”


Patra terpaku mendengar tawaran yang menurutnya sangat aneh itu. Selama ini ia sudah terbiasa mencuci pakaiannya sendiri. Kalaupun ibunya yang mencucikan, itu hanya sesekali ketika Patra benar-benar malas.


Mungkin saja tawaran Jauhari hanya basa-basi, pikir Patra. Ia sadar telah banyak merepotkan. Akan lebih merepotkan jika sampai Putri harus mencuci pakaiannya. Lagi pula, ia belum mengenal baik siapa Putri.


Sembari menahan gigil, Patra membawa pakaiannya agak menjauh dan memerasnya berulangkali. Pakaian itu kemudian ia letakkan di sudut bangunan rumah.

__ADS_1


“Seharusnya kau menundanya beberapa jam lagi sampai hujan reda,” ucap Jauhari mengajak Patra masuk ke ruang tamu.


Saat tadi berangkat dari rumah cuaca memang sedang mendung. Namun, Patra tidak ingin terkesan mengabaikan janjinya untuk datang pagi hari.


Semakin cepat, banyak pekerjaan yang bisa ia lakukan di ladang cengkeh. Ia pun membonceng bapaknya sampai di persimpangan jalan, setelah itu ia lanjutkan dengan berjalan kaki.


Orang-orang boleh meramalkan cuaca, tapi tak seorang pun bisa memastikan kapan hujan akan turun. Persis ketika Patra memandangi awan, sebutir air hujan mengenai wajahnya. Tak lama setelah itu, hujan seperti membidik seluruh tubuhnya. Patra akhirnya berlari, antara keringat dan air hujan tak bisa dibedakan lagi.


Ubin lantai terbuat dari marmer terasa dingin di telapak kaki Patra. Sisa air hujan di telapak kakinya meninggalkan bekas di atas ubin berwarna putih kekuningan.


Patra menghempaskan pantatnya di atas sofa empuk sambil memandangi beberapa ekor lalat beterbangan mengitari sisa jejak kaki yang masih basah.


Jauhari segera menutup pintu untuk mengurangi rasa dingin di dalam ruangan. Sikap Patra yang terlihat kaku membuat Jauhari langsung duduk di samping anak sahabatnya itu.


“Yakin kau sudah sembuh?”


Sejak awal Patra sudah menduga akan mendapat pertanyaan semacam itu. Meski terkadang masih tersisa sakit yang melilit di bagian perutnya, ia sudah memutuskan untuk mulai bekerja hari ini.


“Mmm, yakin,” ragu-ragu Patra menjawabnya.


“Jangan lupa meminum obat dari Puskesmas kemarin, sebaiknya kau kompres juga dengan air hangat agar cepat sembuh,” Saran Jauhari menyimpan perasaan tak tega membiarkan anak sahabatnya itu bekerja dengan keadaan sakit.


Meski begitu, ia tak mungkin mengubah pikiran Patra untuk membatalkan niatnya bekerja di ladang. Kemarin ia sudah melihat sendiri kekerasan hati anak itu ketika membujuknya agar tetap sekolah. Bekerja di ladang cengkeh adalah syarat apabila menginginkan dirinya tetap sekolah.


Patra perlahan meraba kantong celananya. Ia baru teringat menyimpan obat dari Puskesmas di sana. Semoga saja tidak basah, pikir Patra menyesali tak mengikuti saran ibunya agar membungkus obat itu dengan kantong plastik saat tadi berangkat.


“Mungkin kau sudah tahu kalau aku dan bapakmu sebenarnya berteman sejak lama. Kami lahir di dusun yang sama. Kalau mau, kapan-kapan kau boleh ikut bersama kami pulang ke sana. Paling tidak, kau bisa menemui beberapa sanak saudara yang mungkin tak pernah mendapat kabar dari bapakmu.”


Sesaat Patra teringat sesuatu. Kata-kata ‘pulang’ memang terdengar asing di telinganya. Selama ini bapaknya tak pernah menawarkan hal itu.


Ia teringat saat-saat dulu ketika ia diminta bapaknya menuliskan surat. Sebuah surat yang selalu tak pernah dikirimkan. Sebuah surat yang selalu menceritakan kabar baik dengan penuh suka cita.


Itu pun sudah lama sekali dan ia tak bertanya kepada siapa surat itu akan ditujukan. Barangkali itu adalah surat untuk menuju pulang yang tak pernah bisa ia pahami.

__ADS_1


Patra masih ingin mendengar banyak cerita dari Jauhari. Namun, harapan itu sia-sia ketika Jauhari menanyakan keberadaan bapaknya saat ini. Patra pun memberitahu kalau bapaknya sedang pergi menemui Yudha.


“Semoga bapakmu bisa menyelesaikan urusannya dengan lancar.” Jauhari lantas menoleh ke balik jendela, hujan masih deras. Ia berharap Sabran tidak melewatkan tugasnya kali ini dan langsung melaporkan semuanya.


“Kau tak perlu khawatir. Bapakmu pasti baik-baik saja!” Jauhari lantas meninggalkan Patra sendirian di ruang tamu.


Suara butiran hujan di atap genteng rumah Jauhari membuat Patra gelisah. Tak ada yang bisa ia kerjakan kecuali memandangi genangan air dari balik jendela.


Ia membayangkan bapaknya sedang mengayuh sepeda di bawah guyuran hujan. Ada rasa kasihan yang diam-diam menyelinap. Namun, setiap kali mengingat peristiwa kemarin, rasa kesal itu muncul lagi.


Meminjam uang kepada Yudha demi membayar uang sekolah dan berakhir dengan peristiwa memilukan membuat Patra sangat terpukul.


Ia merasa berhak mengetahui segala sesuatu yang direncanakan untuknya, termasuk memutuskan jalan hidupnya sendiri. Seperti keinginannya bekerja di ladang cengkeh milik Jauhari. Niat itu muncul karena ia merasa sudah dewasa dan berhak menentukan pilihan hidup.


Patra masih tenggelam dalam lamunan panjang dan tak menyadari ketika Putri datang dari dapur membawa piring berisi makanan. Ia baru menyadari ketika mendengar suara piring yang membentur meja kaca. Patra memalingkan tubuh seperti semula sambil merapikan duduknya.


Meski satu sekolah, baru kali ini Patra melihat Putri dari dekat. Apalagi ketika Putri menatap ke arahnya dengan seulas senyum. Patra mendadak salah tingkah. Lamunan tentang ucapan bapaknya pun hilang. Ia perhatikan Putri ketika meletakkan piring di atas meja.


Selama di sekolah Patra memang jarang sekali memerhatikan teman-teman perempuannya. Apalagi adik kelas.


Saat istirahat, ia lebih suka berkumpul dengan teman-teman tim sepakbola. Pernah ia menyukai salah seorang teman perempuan sekelasnya.


Namun, saat mengetahui kalau Bambang, kawan yang selama ini bertugas menjaga gawang juga mendekati perempuan yang sama, Patra memilih menyembunyikan perasaannya.


“Mumpung masih hangat, silakan dimakan,” tawar Putri dengan suara lembut.


“I..iya. Terimakasih,” ucap Patra. “Kau yang menggorengnya?” Patra berbasi-basi untuk menutupi rasa gugupnya.


Putri hanya membalas dengan tersenyum. “Kali ini gratis, besok bayar,” canda Putri sambil menyampirkan ujung jilbabnya ke bahu. “Apa kau ingin aku temani?”


Patra tak tahu bagaimana harus menjawabnya. “E..e..e kurasa aku tak bisa menghabiskannya sendirian.” Kalimat itu spontan keluar begitu saja dari mulutnya. “Emm…maksudku tidak sopan kalau semuanya kuhabiskan,” Patra baru menyadari ucapannya tadi terdengar tidak sopan. Ia lantas menunduk menyembunyikan rasa malunya.


“Kalau begitu aku ke belakang dulu sebentar,” jawab Putri yang ingin sekali tertawa melihat tingkah Patra.

__ADS_1


"Astaga, kenapa selama ini aku tak memerhatikannya? Hujan, teruskan saja!" bathin Patra.


__ADS_2