Ladang Api

Ladang Api
Rahasia Mat Yusi Tersebar


__ADS_3

SEPANJANG perjalanan pulang dari rumah Yudha, Sabran hanya membayangkan ketika dirinya dianggap sebagai pengkhianat. Ia sangat benci dengan anggapan itu. Kalaulah harus berkhianat juga, ia memilih akan mengkhianati Yudha.


Seandainya bisa, Sabran memilih kabur dengan membawa uang yang baru saja diterimanya. Namun, saat ia menoleh ke belakang, anak buah Yudha masih terus mengawasinya dari kejauhan.


Tak ada pilihan lain bagi Sabran kecuali menjalankan perintah Yudha. Ia hanya berharap, suatu saat bisa menjelaskan kepada Jauhari dan Mat Yusi atas perbuatannya tersebut.


Sabran tak tahu harus memulai dari mana. Bahkan, saat bertemu orang-orang di warung kopi pun, ia masih terbata-bata menceritakan tentang Mat Yusi.


“A, a, ku diberitahu Jauhari langsung. Mat Yusi dulu seorang perampok. Tadi malam aku melihat sendiri ia di rumah Yudha untuk merencanakan sesuatu,” ucapnya dengan dada yang bergemuruh.


“Jadi, Mat Yusi itu bersekongkol dengan Yudha?” salah seorang berusaha memastikan ucapan Sabran.


“Pantas saja selama ini Mat Yusi tidak membalas perbuatan Yudha, ternyata mereka bersekongkol,” kata si penjual kopi ikut mendengarkan pembicaraan mereka.


“Kedoknya sudah mulai kelihatan. Desa kita bakal tidak aman selamanya,” timpal yang lain.


“Kita tidak bisa tinggal diam. Warga desa lainnya harus tahu dan kita ajak mereka mengusir Mat Yusi. Bagaimana menurut kalian?” tawar seseorang yang tadi tampak menggebu-gebu.


“Setuju!” jawab mereka segera bersiap-siap.


Selesai menyebarkan cerita tentang Mat Yusi di warung kopi, Sabran kemudian menceritakan kepada siapa saja yang ditemuinya.


Kalimatnya pun semakin tersusun rapi. Kegugupannya berangsur hilang. Lidah Sabran semakin mudah meyakinkan orang-orang yang awalnya tidak percaya.


Kabar tentang siapa sebenarnya Mat Yusi dan persekongkolannya dengan Yudha langsung menyebar cepat. Meski geram, tetap saja mereka takut menghadapi Mat Yusi. Satu-satunya jalan adalah menemui Jauhari.


Sementara itu, Wijan baru saja ingin menemui warga desa untuk memberitahu rencana pertemuan nanti malam, ia melihat rombongan orang-orang berjalan berlawanan arah.


“Ada apa dengan mereka?” ucap Wijan dalam hati dengan perasaan heran bercampur penasaran. Saat mendengar nama Mat Yusi disebut-sebut, Wijan langsung berbalik dan mengikuti mereka dari belakang.


***


Jauhari tampak sedang di rumahnya. Ia memeriksa satu-persatu lembaran kertas yang berada di dalam laci meja kerja.


Setelah menemukan yang ia cari, tumpukan kertas dan beberapa lembar kwitansi ia sisipkan ke dalam amplop dan meletakkannya di atas meja.


Ia perhatikan semua catatan tentang biaya keperluan sekolah. Selama ini, Jauhari bisa mewujudkan cita-citanya mendirikan sekolah swasta hanya mengandalkan dari hasil penjualan cengkeh.

__ADS_1


Dari penjualan cengkeh pula Jauhari menutupi segala kekurangan agar sekolah yang didirikannya bisa berjalan lancar.


Jauhari tercenung memandangi lembaran-lembaran kertas itu. Gumpalan penat di kepala dan pundaknya semakin terasa. Masih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi sementara persediaan cengkehnya sudah ludes terbakar.


"Berapa sisa uang tabungan kita?" tanya Jauhari ketika istrinya datang mendekat sembari memijit pundak suaminya.


Sejak kemarin, istrinya sudah bisa merasakan beban berat akan segera mewarnai hidup mereka.


Hanya uang tabungan yang tersisa, itu pun sejak jauh hari sudah direncanakan untuk biaya pendidikan Zian dan Putri saat kuliah nanti. Sementara sisanya, mereka berniat mendaftarkan diri untuk ibadah haji.


"Aku tak keberatan jika uang itu digunakan. Semoga bisa segera memulihkan keadaan."


"Saat ini kita tak bisa meminta bantuan siapa pun. Aku harus mengambil keputusan cepat."


"Apa yang kau rencanakan?"


"Aku ingin kita bersikap seperti biasa seolah tak pernah terjadi apa-apa," toleh Jauhari disusul dengan memegang punggung telapak tangan kanan istrinya.


"Artinya itu akan menghabiskan semua tabungan kita?"


"Apa kau punya rencana?"


"Berarti kita tidak punya ladang lagi?" ucapnya dengan sedikit nada penolakan sambil kembali memandangi angka-angka di atas kertas.


Istrinya termenung. Tidak memiliki ladang juga hanya akan menjadi masalah lain dikemudian hari. Semua kehidupan yang mereka lalui selama ini sangat bergantung dari hasil ladang.


“Saat ini aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Kalau menurutmu menjual ladang bukan jalan terbaik, aku akan mengikuti semua rencanamu,” jawab istrinya berjalan mundur dan duduk di atas ranjang sembari memijit keningnya sendiri.


"Saat ini kita memang tak mungkin menanam cengkeh kembali. Kita bisa mencoba menanam berbagai sayuran yang bisa lekas di panen untuk menutupi kekurangan kita dalam beberapa bulan kedepan."


Istrinya berusaha memahami rencana itu. Tak ada salahnya mencoba membawa sayur-mayur ke pasar. Jika benar-benar berhasil, para tengkulak pun akan berdatangan dengan sendirinya untuk memborong hasil panen.


Jika perlu, ia siap menemani suaminya menjual sendiri ke kota seperti beberapa bulan terakhir ketika membawa berkarung-karung cengkeh ke Banjarbaru.


"Aku pikir kita harus mencobanya!" seulas senyum memoles wajah Marwiyah, istrinya itu.


Jauhari harus berkali-kali mengagumi istrinya. Dalam keadaan apapun, dukungan selalu bisa ia dapatkan. Namun, ia terkejut ketika mendengar suara ribut dari halaman rumahnya. Jauhari dan istrinya segera keluar mencari tahu sebab keributan itu.

__ADS_1


***


Di depan rumah Jauhari, orang-orang sudah berkumpul. Kedatangan mereka disambut baik oleh Jauhari. Semula ia berpikir kedatangan mereka itu adalah upaya Wijan mengumpulkan warga untuk mengusir Yudha.


Ia hampir saja menyalahkan Wijan yang mengambil tindakan terburu-buru. Perintahnya cukup jelas. Pertemuan dilaksanakan pada malam hari.


Namun, ketika salah seorang menyampaikan maksud kedatangan mereka untuk meminta penjelasan tentang Mat Yusi, tubuhnya langsung bergetar.


Di hadapan Jauhari, nama Sabran berkali-kali disebut. Mereka mengaku mendengar langsung dari mulut Sabran.


“Di mana Sabran sekarang?” tanya Jauhari gelisah. Sudah berkali-kali ia memperingatkan kepada Sabran agar menyembunyikan sejarah hidup Mat Yusi kepada orang-orang. Apalagi dalam kondisi sekarang ini, warga desa akan mudah sekali terpancing emosi.


“Kedatangan kami untuk mengetahui kebenaran ucapan Sabran. Kami tahu ia sangat dekat denganmu selama ini,” ucap salah seorang dibarengi anggukan kepala warga desa lainnya.


“Dia sudah bertobat dan aku menjamin Mat Yusi tidak bersekongkol dengan Yudha,” jawab Jauhari tak bisa lagi menyembunyikan kebenaran yang selama ini ia khawatirkan. Perkara persekongkolan dengan Yudha, jelas Jauhari tidak percaya.


“Semula kami juga meragukan ucapan Sabran. Namun, apa kau sudah menanyakan sendiri kepada Mat Yusi? Bahkan Sabran menceritakan dengan lengkap kalau saat ini Mat Yusi sudah menjadi anak buah Yudha.”


“Bagaimana kalau aku coba cari Mat Yusi di ladang sekarang?” tawar Wijan.


“Sebaiknya kau jangan sendirian. Kami khawatir terjadi sesuatu denganmu,” cegah salah seorang.


“Memangnya kalian pikir dia akan berbuat apa denganku?”


“Hanya berjaga-jaga saja. Siapa tahu Yudha merencanakan sesuatu yang tidak kita ketahui,” balas mereka lagi.


“Kalau begitu di mana Sabran? Bukankah kalian bertemu dengannya tadi?” tanya Jauhari sekali lagi. Ia juga penasaran karena sejak kemarin tak bertemu dengan Sabran.


Mereka saling bersitatap. Keberadaan Sabran benar-benar mereka lupakan sejak awal. Sedikit pun mereka tidak terpikir untuk meminta Sabran agar ikut menjelaskan kepada Jauhari.


“Begini saja. Kita berbagi tugas. Sebagian mencari Sabran, dan siapa di antara kalian yang menemaniku menemui Mat Yusi?”


Tidak ada yang perlu mereka takutkan jika untuk mencari Sabran. Semua bersedia. Giliran menemani Wijan untuk menemui Mat Yusi, mereka saling tunjuk satu sama lain.


Mereka khawatir kalau Mat Yusi menanyakan alasan mereka mengajaknya mendatangi Jauhari. Mereka lebih takut kalau Mat Yusi sudah mengetahui alasan mereka mendatanginya.


“Aku saja!” suara itu terdengar dari balik kamar. Tak lama kemudian Patra muncul masih dengan mengenakan perban di bagian wajahnya.

__ADS_1


“Aku tidak percaya Mat Yusi bersekongkol dengan Yudha. Biar aku saja yang menemuinya,” ucap Patra memohon agar diijinkan ikut bersama bapaknya.


__ADS_2