
YUDHA melampiaskan semua kekesalannya dengan menendang kursi rotan hingga terpelanting membentur dinding. Rahang pipinya mengeras. Ingin sekali rasanya menghantamkan gelas di genggamannya ke wajah Dul Sanif yang telah membuat rencananya menjadi berantakan.
"Harusnya kau membantuku agar semua berjalan sesuai rencana," ucap Yudha geram. “Sia-sia mendatangkanmu ke sini kalau hanya untuk membuat semuanya menjadi berantakan!”
"Berantakan katamu! Coba kau ingat. Sejak awal siapa yang berjanji tidak akan melukai Mat Yusi? Ternyata kau justru mengingkarinya," sahut Dul Sanif enteng. Ia tak sedikit pun merasa takut meski Yudha sedang marah.
"Kau sudah melihatnya sendiri. Bukankah dia baik-baik saja? Jangan-jangan Mat Yusi melebih-lebihkan ceritanya kepadamu," selidik Yudha penasaran.
“Tak usah berkelit. Aku sudah lama menjadi pentolan rampok. Cara-cara yang kau lakukan mudah untuk ditebak. Diam-diam kau sengaja mengirimkan anak buahmu untuk mengepung ladang cengkeh Jauhari. Memangnya aku tidak tahu tujuanmu?”
“Mereka hanya untuk berjaga-jaga seandainya Mat Yusi tak mau diajak berdamai. Kalau kau tidak percaya, panggil mereka ke dalam dan tanyakan sendiri,” kilah Yudha berdiri ingin memanggil anak buahnya yang masih berjaga-jaga di luar.
“Tidak perlu. Mereka anak buahmu dan tidak mungkin akan berkata yang sebenarnya.”
“Kenapa sekarang kau malah berbalik menyerangku? Mereka tak mungkin berbuat sesuatu jika tak ada pemicunya. Bukankah anak itu yang memulai duluan menyerang?” Yudha membela diri.
“Jangan memutarbalikkan cerita dan berniat membohongiku, Yudha. Dari awal mereka kau datangkan memang untuk memancing keributan. Anak itu hanya kebetulan saja membela dirinya karena gubuk terbakar. Andai tadi Mat Yusi ada di gubuk, kau berharap kami berselisih paham dan saling baku hantam, bukan? Dasar licik!”
Yudha tak menyerah. Ia tetap membela diri. “Pikiranmu saja yang buruk. Padahal, aku hanya ingin melindungimu jika terjadi sesuatu.”
"Aku ada di sana dan melihatnya langsung. Lantas untuk apa kau harus membakar ladang cengkeh itu?" suara Dul Sanif meninggi.
"Kau tidak perlu mencampuri urusanku. Tugasmu hanya membawa Mat Yusi pergi dan menjalankan semua rencana kita."
“Jangan mengalihkan pembicaraan. Aku sedang meminta penjelasanmu tentang peristiwa pembakaran ladang cengkeh Jauhari.”
“Apa urusanmu dengan ladang cengkeh itu? Memangnya mendatangkan keuntungan untukmu sehingga harus membahasnya?”
Dul Sanif hampir saja tak bisa mengendalikan emosinya. Yudha selalu saja berkelit. Namun, ia berpikir jika harus melawan Yudha, maka kedatangannya ke tempat ini akan sia-sia. Semua rencana akan berubah.
“Mulai sekarang, semua yang berkaitan dengan Mat Yusi menjadi urusanku. Ladang cengkeh, Patra, Jauhari, dan tempat ini. Kau tidak boleh mengambil tindakan tanpa sepengetahuanku!”
__ADS_1
“Perjanjian kita tidak seperti itu,” Yudha merasa keberatan.
“Sekarang berbeda. Kau pikir dengan caramu bisa membuat Mat Yusi diajak bekerjasama? Para mafia hebat di luar sana bukan saja jahat, tapi mereka juga pintar mengatur strategi. Tapi dirimu nol besar,” tuding Dul Sanif.
Kali ini Yudha tertawa. “Jadi, sekarang kau merasa lebih hebat mengatur strategi? Kau lupa dengan perampokanmu yang gagal itu? Siapa yang akhirnya harus membereskan semuanya?”
Dul Sanif harus mengakui jika Yudha telah berbuat banyak untuknya.
“Aku tahu kau telah berbuat banyak. Namun, jangan lupa bahwa itu semua karena kita bekerjasama. Aku yakin urusan Mat Yusi bisa cepat selesai kalau kita saling berbagi tugas dan merencanakannya bersama-sama.”
“Kau hanya omong besar. Mat Yusi tak mungkin setuju meninggalkan tempat ini.”
“Itu soal gampang. Aku bisa membawa Mat Yusi pergi. Bahkan, siap melindungimu jika dalam bahaya.”
“Sekarang mana hasil rampokan yang kau janjikan itu? Ingat, kau sendiri yang menjanjikan harta itu sebagai ganti jika aku mau membantu orangtua Mat Yusi,” serang Yudha lagi.
“Kalau kau ingin mendapatkan ikan besar, maka memancinglah di laut. Ikuti semua rencanaku dan akan aku bawakan ikan besar ke hadapanmu. Kalau hanya ikan kecil, seharusnya kau memancing di sungai saja. Kulihat kerjamu ceroboh, hanya bisa melukai orang lain tanpa menambah keuntungan apa pun bagi dirimu.”
Dul Sanif tertawa keras menyadari kebodohan Yudha. Ia tak menyangka betapa picik dan pendeknya Yudha berpikir.
“Dulu, aku bersedia bungkam di hadapan polisi untuk melindungimu. Kalau tidak teringat janjimu untuk menjadikanku kaya, saat itu aku pasti menyebut namamu sebagai penadah barang rampokan kami.”
Yudha terdiam. Emosinya langsung menyurut saat mengingat semua kejadian itu.
Sebelum tertangkap polisi, Dul Sanif sempat bersembunyi di rumahnya dalam beberapa hari. Yudha tak bisa berbuat apa-apa ketika Dul Sanif mengancamnya akan memberitahu polisi kalau selama ini menjual barang hasil rampokan kepadanya.
Dul Sanif bersembunyi selama tiga hari. Sebelum pergi, Yudha meminta tolong agar Dul Sanif tidak menceritakan hubungan bisnis mereka jika tertangkap polisi.
Yudha pun berjanji, ia siap mengeluarkan uang untuk menyuap hakim agar hukumannya lebih ringan.
Dul Sanif setuju. Ia tak akan membawa nama Yudha apapun resikonya. Dengan perasaan senang, Yudha memeluk Dul Sanif sambil berjanji kelak akan memberinya banyak kekayaan.
__ADS_1
“Demi masa lalu, aku akan mendengarkan semua rencanamu. Tujuan semula yang kita rencanakan harus berjalan.” Yudha akhirnya memutuskan untuk mengalah dan membiarkan Dul Sanif memegang kendali.
“Tinggalkan tempat ini segera!” pinta Dul Sanif.
Yudha terperanjat. “Aku siap melakukan apa saja asalkan tidak membuatku rugi! Meninggalkan tempat ini adalah hal yang tidak mungkin.”
“Aku sudah menjanjikannya kepada Mat Yusi. Jika kau melakukannya, Mat Yusi milikmu.”
“Sial..!” Yudha terlihat gusar. “Harusnya kau bicarakan dulu denganku.”
“Ia sangat membencimu, jadi kuberikan apa yang disukainya. Hanya cara ini agar Mat Yusi mau mengikuti ucapanku.”
“Hanya untuk orang seperti dia, aku harus mengorbankan banyak uang.”
“Lebih tepatnya, hanya orang seperti dia yang akan mendatangkanmu banyak uang!” Dul Sanif menegaskan.
“Untuk kali ini saja aku akan melakukannya untukmu. Lain waktu, semua keputusanmu harus melalui sepengetahuanku.”
Mata Dul Sanif berbinar. Ia berhasil membuat Yudha mengalah.
“Kalau begitu kau urus semuanya dan aku akan menemui Mat Yusi besok untuk mengabarkan bahwa kau telah sepakat,” Dul Sanif merangkul pundak Yudha sambil memperhatikan seluruh ruangan.
“Kapan-kapan aku ingin mendengar cerita bagaimana enaknya punya istri tiga sepertimu,” bisik Dul Sanif tak ingin suaranya didengar oleh siapa pun.
“Apa Halimah baik-baik saja?”
“Tenang, dia hanya tahu kau sedang berbisnis di Kalimantan. Bahkan sampai sekarang Mat Yusi pun belum tahu siapa lelaki yang menjadi suami Halimah,” Dul Sanif menyerahkan segelas kopi yang diambilnya dari atas meja.
“Baiklah, aku percaya denganmu. Jangan sampai urusan bisnis kita gagal karena urusan wanita.”
Dul Sanif menganggukkan kepala sambil tersenyum penuh arti.
__ADS_1
“Meski banyak uang, tapi sebenarnya kau tolol. Justru selama Mat Yusi tidak tahu, kau tidak akan berkutik denganku,” ucap Dul Sanif dalam hati diliputi rasa kemenangan.