Ladang Api

Ladang Api
Memenuhi Undangan Yudha


__ADS_3

PERJALANAN dari ladang cengkeh menuju Pantai Takisung lima kilometer jauhnya. Jauhari berkali-kali memperingatkan Sabran untuk mengurangi laju motor yang mereka kendarai.


"Aku khawatir kita tidak sampai ke pantai, tapi rumah sakit," Jauhari meneriaki telinga Sabran.


"Jangan khawatir, Jauhari. Aku ini seorang pembalap," balas Sabran justru menambah laju motor. Kontan tangan Jauhari mencengkeram pundak Sabran dengan kuat.


"Pemuda berbadan gelap, maksudmu!" teriak Jauhari disusul tawa Mat Yusi yang duduk paling belakang.


"Kamu bawa apa sih, Mat?" tanya Jauhari menggerak-gerakkan punggungnya.


Mat Yusi awalnya tak ingin menceritakan. Namun, tak mungkin ia menyembunyikannya dengan kondisi duduk seperti sekarang. Satu motor mereka tumpangi bertiga. "Hanya trisula. Sekadar untuk berjaga-jaga," Mat Yusi beralasan.


Meski malam ini tujuan mereka ingin berdamai, ia tetap waspada jika semua yang telah direncanakan tak semulus yang dibayangkan Jauhari.


Namun ia sengaja tak mengutarakannya. Toh, Jauhari akan bersikeras dengan pendapatnya, bahwa tak selamanya orang menjadi jahat.


"Kamu pindah trisulanya ke belakang, punggungku sakit kena ujung besinya," pinta Jauhari.


"Jangan terlalu goyang, Mat. Bisa jatuh kita nanti," teriak Sabran ketika merasakan motor yang dikendarainya oleng. Tubuh Mat Yusi yang besar agak sulit ketika mengambil trisula yang terselip di depan perut.


Ketika Mat Yusi berusaha memindahkan trisula, badan Mat Yusi terpaksa condong ke belakang, sementara Jauhari memberi ruang dengan mendempetkan tubuhnya pada Sabran.


"Katanya kau pembalap, oleng sedikit saja protes," ujar Mat Yusi setelah berhasil memindahkan trisula.


"Itu tadi, Mat. Sekarang aku baru tahu kalau Jauhari juga membawa keris," jawab Sabran cepat.


Ada kebingungan di wajah Jauhari dan Mat Yusi, sementara Sabran hanya terkekeh sambil mengawasi jalanan di depan. "Kerisnya juga dipindah ke belakang bisa tidak, Pak?"


Setelah agak lama berpikir, Jauhari mulai paham apa yang dimaksud Sabran. Bukan keris sungguhan yang dimaksud, tapi sesuatu di dalam celana.

__ADS_1


"Kau mundur sedikit, Mat. Kalau kerisku tertusuk Sabran, bisa mati berkarat dia," giliran Jauhari dan Mat Yusi tertawa.


"Jika terjadi sesuatu di pantai nanti, kau jangan takut. Kita berangkat bertiga, pulang pun tetap harus bertiga," Mat Yusi menepuk pundak Sabran seolah mengingatkan tentang perampokan sapi yang memalukan itu.


Ia masih ingat ketika Sabran tergesa-gesa memintanya untuk menemui Jauhari sambil menunjukan sobekan kardus yang ditinggalkan para perampok. Dengan arang, mereka menuliskan pesan untuk Sabran.


"KAMI AMBIL DULU IBUNYA, KAU BESARKAN DULU ANAKNYA. NANTI KAMI AKAN KEMBALI."


Wajah Sabran kecut jika Mat Yusi mengingatkan kejadian memalukan itu. Saking emosinya, Sabran memutuskan tidak ingin memelihara anak sapi tersebut dan menyerahkannya ke Jauhari.


“Sudahlah, Mat. Jangan kau ungkit lagi kejadian itu," pinta Jauhari.


"Bukan begitu maksudku. Bukankah selama ini hanya Sabran yang pernah didatangi rampok? Padahal banyak orang yang memelihara sapi."


Sabran terdiam memikirkan ucapan Mat Yusi. Ia pandangi jalanan yang sepi. "Apa kalian memikirkan hal yang sama denganku?"


Jauhari heran melihat Sabran menepikan laju sepeda motor yang mereka tumpangi.


"Belum tentu mereka orangnya," Jauhari berusaha menebak apa yang ada di dalam pikiran Sabran.


"Rampok itu pasti anak buah Yudha. Mereka sengaja melakukan semua ini kepadaku!" Sabran berharap Mat Yusi mendukungnya. "Aku yakin kau sependapat denganku, Mat?"


"Sebenarnya dari awal aku sudah berpikir seperti itu. Yudha selalu memiliki rencana busuk," jawab Mat Yusi.


"Lalu kenapa Sabran menjadi sasaran?" Jauhari tak sabar mendengar kesimpulan Mat Yusi agar bisa segera melanjutkan perjalanan.


"Kita pikirkan nanti saja. Tapi sebaiknya kita berhati-hati," saran Mat Yusi memastikan bahwa Yudha saat ini sedang menyiapkan rencana busuknya.


Sabran tak diberi kesempatan lagi untuk menyambung ucapannya. Jauhari memaksa agar Sabran segera menyalakan sepeda motor. Sepanjang perjalanan, Sabran semakin dihantui perasaan was-was.

__ADS_1


Malam hari menyembunyikan gurat lelah wajah Pantai Takisung. Di ujung atas sana, sinar bulan redup dibingkai awan. Sementara dari bibir pantai, suara debur ombak terus menghempas batu karang dan menyeret segala yang terserak.


Bekas botol minuman terombang-ambing dan dihempaskan kembali ke bibir pantai. Kepiting-kepiting kecil terus berlari masuk ke dalam lubang di sela tumpukan batang kayu tua sebelum ombak menghantam kembali.


Jembatan yang dilalui Sabran berdecit. Di bawah sana, kapal para nelayan membisu dalam gelap. Sabran mematikan sepeda motornya. Mat Yusi turun dan segera menyalakan lampu senter menuju pintu masuk berpagar besi yang tak pernah dikunci.


Jauhari dan Sabran mengikuti dari belakang. Mereka menuju Wisma Junjung Buih yang berada di atas bukit kecil. Wisma itu sudah lama dibiarkan kusam. Pohon beringin besar menutupi atap kamar di bagian samping rumah membuat dinding luar menjadi lembab, berjamur dan catnya mengelupas.


Jauhari menapaki undakan terbuat dari semen bersusun menuju ke atas. Tak sedikit pun terlihat cahaya lampu dari dalam wisma. Mat Yusi memerhatikan sekeliling halaman yang menghadap pantai.


"Kau yakin di sini tempatnya, Sabran?" tanya Mat Yusi.


" Hanya wisma ini satu-satunya di pantai," Sabran yakin tak salah mendengar. "Mungkin kita terlalu cepat," Sabran memasukkan telapak tangannya ke dalam kantong jaket.


"Kalau begitu kalian tunggu saja di sini, aku segera kembali!" Jauhari memutuskan mencari tahu apa yang terjadi di pantai beberapa hari ini.


Ia berjalan sendirian menuju pintu gerbang. Sementara Sabran dan Mat Yusi memilih duduk di atas rumput. Dingin angin laut membuat Mat Yusi berniat membuat perapian. Sabran mengikuti Mat Yusi mengumpulkan ranting pohon kering, tempurung buah kelapa, dan botol air mineral bekas yang berhamburan.


Sabran memberitahu Mat Yusi yang duduk membelakangi arah pintu masuk. Ada dua orang sedang mendekat ke arah mereka. Mat Yusi langsung memberi kode dengan senternya. Dua orang itu kemudian membalas dengan memati-hidupkan senter itu berulangkali.


Sabran mengikuti Mat Yusi untuk segera berdiri. Ketegangan seakan mengusir rasa dingin yang masih sempat menjalari tubuh Sabran. Mat Yusi memastikan trisula yang masih terselip di bagian belakang pinggangnya mudah dicabut ketika harus digunakan.


"Sepertinya kita harus pulang sekarang," ucap Jauhari meminta Sabran untuk bersiap-siap.


"Tak seorang pun datang kemari sejak tadi kecuali kalian," ucap seorang nelayan yang tadi berjalan bersama Jauhari.


"Aneh, untuk apa mereka meminta kita datang ke tempat ini?" Sabran penasaran. Ia kemudian segera turun dengan melompat dari atas batu.


Mat Yusi dihinggapi perasaan was-was. Benar atau tidak yang sedang dipikirkannya, Mat Yusi meminta agar Sabran berlari mengambil sepeda motornya.

__ADS_1


"Kita harus cepat, aku cemas terjadi sesuatu dengan Patra!" ucap Mat Yusi berlari ke arah Sabran yang sudah mendahuluinya. Melihat itu, Jauhari pun segera menyusul mereka.


__ADS_2