Ladang Api

Ladang Api
Malam Jahanam


__ADS_3

ANGIN malam membuat tubuh Patra mulai mengigil. Setelah selesai membaca semua dan menyalin isi buku itu, ia kembalikan buku rahasia Mat Yusi ke tempat semula.


Ia sempat memastikan berkali-kali posisi buku itu sama persis saat mengambilnya tadi. Jangan sampai Mat Yusi mengetahui buku itu telah berubah posisi. Dia akan menjadi satu-satunya orang yang pantas untuk dicurigai.


Setelah yakin posisi buku itu sudah sesuai, pikiran Patra masih terbayang-bayang dengan semua pengalaman Mat Yusi.


Baginya, wajar jika orang seperti Mat Yusi sangat ditakuti. Ia telah mengalami banyak peristiwa yang harus mempertaruhkan nyawa. Bahkan, Mat Yusi telah mengalahkan banyak rasa takut yang tidak semua orang mengalaminya.


Ia pun bergegas mengambil sarung dan merebahkan tubuhnya di kasur tipis berukuran kecil yang tak cukup lebar untuk berdua. Patra tak sabar menunggu pagi tiba dan menceritakan semua temuannya kepada Zian.


Ia yakin Zian pasti kecewa karena tidak sesuai yang diharapkan. Namun, bagi Patra, apa yang baru saja dibacanya sangatlah berharga. Tak setiap orang memiliki pengalaman hidup seperti itu. Saat ini, Patra akhirnya mendapatkan gambaran lengkap tentang Mat Yusi.


Dari buku itu pula, Patra akhirnya bisa memahami kenapa Mat Yusi lebih suka dalam kesendirian. Ia sudah seperti manusia yang tidak memiliki rasa takut lagi.


Berbeda dengan dirinya saat ini. Ia merasakan betapa tak nyamannya sendirian tiap malam di ladang cengkeh. Mendekam di dalam gubuk hanya dengan penerangan cahaya petromak, di kepung pepohonan cengkeh, dan suara burung hantu membuat malam terasa begitu suram dan mencekam.


Patra bergidik. Ia berusaha menepis rasa takut ketika burung hantu kembali bersuara. Sementara, kodok yang tadi sempat bersenandung sudah tak lagi bersahutan.


Seandainya tadi ia mengusulkan agar Zian ikut menginap di ladang, mungkin ceritanya akan menjadi lain. Ia tak harus merasakan kecemasan yang berlebihan.


Ia usap pergelangan tangannya berulangkali, menggosoknya dengan kasar saat bulu-bulu halus di tangannya mulai meremang.


Kenapa Mat Yusi lama sekali? tanya Patra dalam hati saat merasa tak betah sendirian. Dari tadi ia berharap mendengar suara orang batuk. Namun, semakin ditunggu, waktu terasa semakin lambat.


Ia rebahkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap dinding tempat senjata tajam tergantung rapi. Baru kali ini ia melihat ada orang yang memiliki begitu banyak senjata tajam.


Rupanya Mat Yusi sudah mempersiapkan semuanya demi keamanan ladang dan dirinya sendiri. Semakin memandangi senjata tajam itu, entah kenapa Patra merasakan sesuatu yang berbeda.

__ADS_1


Ia seperti mendapatkan keberanian yang tak bisa dijelaskan. Namun, perasaan itu hanya sebentar. Suara-suara aneh di luar sana terasa lebih kuat mengganggu pikirannya.


Malam kian merambat sunyi. Rasa takut membuat Patra berkali-kali memastikan lampu senter masih berada di samping tubuhnya. Dalam kesendirian, Patra semakin takut dengan suara-suara aneh tadi yang semakin sering terdengar.


Dari balik celah jendela, Patra memberanikan diri untuk mengintip. Walau gelap dan hanya diterangi sinar bulan, Patra berusaha mengenali gerakan-gerakan daun yang ditiup angin, sorot cahaya dari mata burung, dan bayangan pohon.


Setelah menarik napas panjang, Patra meyakinkan dirinya bahwa keadaan di luar sana sama seperti ketika ia berada di Bukit Sangyang. Tak ada alasan untuk takut. Puluhan malam sudah sering ia lewati sendirian.


Berbagai cara dilakukan Patra untuk mengusir rasa takut dalam dirinya. Ia juga bertahan agar tidak tertidur sampai Mat Yusi pulang.


Berulangkali ia cecap kopi yang sudah dingin dengan posisi tubuh miring. Patra kembali mendengar cericit burung bersahutan. Ia terkejut dan langsung beringsut menuju arah jendela. Dari tadi ia tak pernah mendengar suara semacam itu.


Lama ia mengintip sambil memicingkan matanya. Namun, asal suara burung itu tak bisa ia temukan. Sampai akhirnya Patra menangkap sebuah bayangan berkelebat dari balik pohon. Bulu kuduk Patra meremang kembali. Jantungnya berdegup kencang.


Patra tak yakin dengan bayangan tadi. Jelas itu bukan bayangan seekor binatang. Ia berharap kelebatan yang dilihatnya tadi adalah Mat Yusi.


Namun, ia belum mendengar suara orang batuk. Patra merapatkan tubuhnya ke dinding untuk mengambil sebilah katana.


Dengan lutut gemetar, Patra hanya berjongkok sambil mendekap Katana. Ia bahkan seperti bisa mendengar suara degup jantungnya sendiri.


Gerak-gerik orang-orang di luar sana tertangkap jelas di matanya. Mereka semua mengenakan sarung sebagai penutup wajah ala ninja seperti yang pernah diceritakan Mat Yusi.


Patra sulit menenangkan dirinya sendiri. Ia genggam katana kuat-kuat dan menyelipkan lampu senter ke balik sarung.


Ia tarik gagang katana perlahan. Batang besi itu terlihat licin, berkilap dan tajam. Sesosok naga dengan mulut menganga seperti siap menerkam menghiasi batang besinya.


Patra dikejutkan lagi dengan suara langkah kaki menginjak dedaunan kering. Patra yakin, orang-orang di luasana sudah semakin mendekati gubuk.

__ADS_1


Ia mendengar salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk berpencar. Patra mengintip lagi dari jendela. Jantungnya semakin berdegup kencang saat mengetahui salah seorang menyiramkan cairan dari jerigen kecil ke arah gubuk.


Patra tahu dari baunya. Orang tadi baru saja menyiramkan minyak tanah. Patra panik. Hidungnya semakin mencium bau menyengat.


Batas antara keberanian dan rasa takut tak bisa lagi dikenali oleh Patra. Ia memutuskan mengambil senjata tajam tambahan. Kedua belah tangannya kini sudah memegang sebilah arit dan katana.


Ia ingat pesan Mat Yusi tadi sore. Setiap orang memiliki naluri ketika nyawanya terancam. Saat itu, selalu ada waktu yang tepat untuk menyelamatkan diri.


Patra segera mengambil tas sekolahnya. Berhati-hati ia membuka pintu gubuk dan sekuat tenaga melompat keluar.


Dengan membabi buta Patra mengayunkan katana dan arit yang berada di genggamannya secara bergantian. Orang-orang itu tak menyangka mendapat serangan mendadak.


Satu tebasan katana berhasil mengenai lengan salah seorang. Mereka lantas mengambil jarak. Tak lama kemudian, seseorang memberi aba-aba dengan suara nyaring.


"Bakarrr..!"


"Bakarrrr…!"


"Bakarrrrrr…!


“Bakarrr semuaaa..!


“Tunggu, jangan...!” terdengar salah seoerang berteriak nyaring. Namun, usaha itu sia-sia. Mereka melemparkan obor ke atap gubuk yang hanya terbuat dari daun rumbia. Api pun dengan mudah menyala.


Patra memperhatikan sekeliling, api mulai merayapi bagian sisi kanan gubuk. Ia angkat kedua belah senjata di tangannya dan menyerang kembali.


Beberapa orang meladeni serangan Patra. Sebagian yang lain mulai menyiramkan minyak tanah ke pepohonan cengkeh lalu membakarnya.

__ADS_1


Patra tak peduli lagi dengan resiko yang dihadapinya. Ketika lawan berada dalam jarah jauh, Patra mengayunkan katana. Saat orang-orang itu berusaha mendekat, Patra melayangkan tebasan arit di tangannya.


Usaha Patra itu membuat orang-orang yang dihadapinya merasa kerepotan. Namun, entah dari arah mana, ada seseorang yang justru mampu melumpuhkan serangan Patra.


__ADS_2