
YUDHA menikmati raut wajah Mat Yusi yang memucat ketika menyadari siapa yang ada di hadapannya.
Tak lama lagi, dengan bantuan Dul Sanif, rencananya untuk membuat Mat Yusi bertekuk lutut akan segera terwujud. Ia bisa bebas melakukan apa saja tanpa perlawanan yang berarti. Bahkan, Jauhari tak akan mampu melawannya.
Sambil menyandarkan punggung ke dinding, ia nikmati setiap tegukan dari gelas berisi air kopi. Yudha sengaja memilih diam dan hanya menonton Dul Sanif memaksa Mat Yusi agar bergabung dengannya.
"Kau pasti mengira aku sudah mati!" ucap Dul Sanif mendekat.
"Siapa bilang? Aku hanya tidak menyangka bertemu denganmu di sini," jawab Mat Yusi memandangi Dul Sanif lekat-lekat. Meski sudah semakin tua, karisma dan wibawa Dul Sanif masih terasa kuat.
"Aku sengaja datang kemari ingin menjemputmu sekaligus menanyakan sesuatu!" tegas Dul Sanif.
Mat Yusi tahu siapa lelaki yang dihadapinya. Dul Sanif tidak suka berbasa-basi dan pandai membuat rencana. Kedatangannya ke tempat ini pasti bukan sekadar ingin bertemu dengannya. Mat Yusi yakin, Dul Sanif pasti memiliki tujuan lain.
"Semua sudah selesai. Aku tidak ingin ikut denganmu lagi," tolak Mat Yusi.
"Kau pikir aku datang jauh-jauh hanya untuk memberimu pilihan?” Dul Sanif tertawa. “Mari kita selesaikan satu-persatu. Pertama, di mana kau simpan hasil rampokan terakhir kita? Setelah itu aku akan menceritakan semua rencanaku."
Mat Yusi terkejut. Ia hampir tidak percaya jika Dul Sanif mengungkit masalah hasil rampokan mereka yang belum sempat untuk dibagi. Ia lantas memandang ke arah Yudha. Apa urusannya dengan si brengsek itu? pikir Mat Yusi.
Dul Sanif tahu jika saat ini Mat Yusi pasti sedang menebak hubungan dirinya dengan Yudha.
"Kau tak perlu sungkan. Dia sudah tahu siapa dirimu. Sebaiknya akhiri saja permusuhan kalian. Itu jika kau tak ingin semua orang di kampung ini mengetahui siapa dirimu sebenarnya," ancam Dul Sanif.
"Aku ingin bicara berdua saja!" Pinta Mat Yusi merasa tak leluasa pembicaraan mereka didengar oleh Yudha.
"Tidak bisa. Kau berada di rumahnya."
"Kita bisa pergi dari sini!"
"Ternyata kau belum paham juga. Aku dan Yudha itu sama seperti hubungan kita dulu. Sebaiknya katakan di mana hasil rampokan itu sekarang?” desak Dul Sanif tak sabar.
Mat Yusi memilih bungkam.
Jangan-jangan sudah kau habiskan sendiri!" tuduh Dul Sanif.
__ADS_1
Mat Yusi tersentak. Ia sendiri tak yakin bisa menemukan tempat persembunyian harta itu.
Jika pun berhasil, apakah masih tersimpan di sana? Mat Yusi sudah menguburnya di dalam lubang saat berhasil keluar dari sungai. Ia ingat, lubang itu ia tutup dengan tanah dan batu berukuran besar.
Hanya saja, Mat Yusi tak sempat memberi tanda apa pun di atas lubang itu.
"Kalau kau tetap diam, aku akan selesaikan masalah ini dengan caraku sendiri." Dul Sanif berdiri sambil melemaskan otot leher dan tangannya.
"Aku tidak ingin merusak pertemuan kalian. Jadi sebaiknya aku keluar saja," Yudha tak ingin menjadi sasaran jika terjadi perkelahian di antara mereka. Ia lantas melangkah pergi meninggal Mat Yusi dan Dul Sanif.
"Kalau bukan dia, mungkin aku sudah mati membusuk di dalam penjara. Jadi kuharap kau bisa lebih menghormatinya."
"Aku tak mungkin menghormati bajingan seperti dirinya!"
"Memangnya kau bukan bajingan?" tuding Dul Sanif.
"Itu dulu!"
"Kau salah. Sekeras apa pun kau berusaha, di luar sana kau tetap dianggap bajingan oleh orang-orang. Untungnya, mereka belum tahu siapa dirimu."
"Jumlahnya mungkin tidak seberapa. Tapi aku lebih berhak memilikinya. Karena keadaan sudah berubah, kupastikan kau akan mendapat jatah sama besar."
"Lalu apa maksudmu menjemputku?"
"Kau tahu sendiri kalau aku tidak punya keahlian apa-apa selain berkelahi. Usiaku sudah tua. Tidak mungkin menjadi perampok kembali. Jadi aku menyetujui rencana Yudha untuk melindungi semua bisnisnya."
"Jadi sekarang kau ingin mengajakku menindas orang-orang lemah di luar sana?"
Dul Sanif menggelengkan kepalanya. “Jangan berprasangka buruk terhadapku?”
“Lantas kalau bukan untuk tujuan itu. Pasti kedatanganmu untuk melawanku?”
Dul Sanif langsung tertawa membiarkan Mat Yusi dengan wajah penasaran.
“Aku datang bukan untuk menjadi lawanmu. Selama ini aku justru meminta Yudha agar tak menyakitimu. Sekarang aku sudah melihat sendiri buktinya."
__ADS_1
“Omong kosong. Kau tak perlu berpura-pura baik di hadapanku!” bantah Mat Yusi. Ia tak percaya dengan semua yang didengarnya. Apalagi Dul Sanif sudah berkomplot dengan Yudha.
Dul Sanif menatap tatap mata Mat Yusi tanpa berkedip.
"Seharusnya kau mencari tahu kabar orangtuamu! Tunggu sebentar…" Dul Sanif pergi masuk ke salah satu ruangan dan kembali membawa beberapa lembar foto untuk diserahkan kepada Mat Yusi.
Ada kerinduan ketika Mat Yusi melihat foto orangtuanya itu. Namun, ia heran ketika melihat Dul Sanif dan Yudha berdiri di sebelah orangtuanya.
"Apa maksudmu dengan memperlihatkan foto ini kepadaku?"
"Pertanyaan bagus. Pertanyaan yang tepat akan segera menyelesaikan permasalahan kita,” ucap Dul Sanif. Ia lantas menceritakan terpaksa meminta bantuan Yudha ketika ibu Mat Yusi sedang sakit keras dan memerlukan biaya perawatan di rumah sakit.
“Bahkan Yudha memberikan modal agar orangtuamu bisa kembali membuka usaha,” ucap Dul Sanif.
"Tak usah berbelit-belit. Jadi apa yang kau inginkan dariku sekarang?”
Dul Sanif senang mendengar pertanyaan itu. Ia segera menggeser duduknya persi di samping Mat Yusi. Ia ingin menciptakan suasana seperti dulu ketika Mat Yusi pertama kali datang menemuinya dengan wajah memelas agar diterima menjadi murid.
"Masih ada kesempatan untuk kita untuk memperbaiki kesalahan. Kalau kau menjadi orang kaya, kujamin orang-orang di luar sana tak peduli dengan masa lalumu. Kau hanya perlu memberi mereka makan dan pekerjaan,” ucap Dul Sanif.
“Aku sudah insyaf dan tak peduli seandainya mereka tahu masa laluku!”
Dul Sanif tertawa. “Sekalipun kau sudah insyaf, sekali waktu mereka akan tetap mencurigaimu. Kesalahan kecil bisa menjadi besar. Kau tahu sendiri akibatnya jika itu terjadi. Warga bisa mengusirmu. Aku yakin Jauhari pun tak bisa melindungimu.”
“Itu bukan urusanmu. Aku siap menanggung resikonya,” ucap Mat Yusi tegas.
Dul Sanif terus berusaha menyakinkan bahwa kedatangannya bermaksud baik. Ia tahu tak mudah membuat Mat Yusi berbalik membela Yudha yang telah dianggapnya sebagai musuh.
“Coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi selama ini? Mungkin aku bisa membantumu.”
Mat Yusi tak yakin Dul Sanif akan membantunya. Namun, kesempatan bagi Mat Yusi menceritakan kejahatan Yudha di tempat ini.
“Kesalahanmu adalah berpihak kepada orang jahat. Jangan-jangan kau yang merencanakan membakar ladang cengkeh milik Jauhari."
Dul Sanif menarik napas panjang. “Kau ingin tahu apa yang terjadi di ladang cengkeh Jauhari tadi?"
__ADS_1