Ladang Api

Ladang Api
Rencana Pembalasan Jauhari


__ADS_3

PUTRI menyadari perubahan drastis kakaknya semenjak Patra dirawat di rumah mereka. Setiap kali ia ingin membawakan makanan atau minuman, Zian selalu saja berusaha merebutnya dari tangan Putri.


Seperti pagi ini, baru saja Putri membuat bubur dan ingin membawanya ke kamar tempat Patra dirawat,  Zian langsung menghadangnya di meja makan.


“Biar aku saja,” rebut Zian yang menunggu sejak tadi agar tidak didahului adiknya.


“Hati-hati masih panas,” jawab Putri mengingatkan sambil mengikuti kakaknya dari belakang.


Putri hanya cekikikan melihat kakaknya dengan canggung menyuapkan bubur ke dalam mulut Patra.


“Ditiup dulu, Kak. Masih panas buburnya. Kasihan Patra!” ucap Putri ingin merebut mangkuk bubur itu. Namun, Zian tak memberikannya.


Sementara itu, Jauhari dan Wijan terlihat sedang berkumpul di ruang tamu. Mereka sedang asyik membicarakan sesuatu.


"Setidaknya, keluarga kita menjadi akrab gara-gara musibah tadi malam," ucap Gafuri berusaha menghibur dirinya sendiri.


Wijan menganggukkan kepala pelan. Matanya tertuju kepada cincin dan kalung yang dikenakan istri Jauhari. Dalam hati, Wijan berjanji akan mengganti harta kesayangan milik istrinya itu.


“Silakan di minum,” ucap istri Jauhari membuyarkan lamunan Wijan. Ia perhatikan sekali lagi cincin yang melingkar di jari manis istri Jauhari, ia merasa senang Jauhari tak membohonginya seperti dulu.


"O, ya, Mbak. Selamat ulang tahun. Maaf terlambat mengucapkan," Wijan berusaha mencairkan suasana dengan memberikan ucapan selamat kepada istri Jauhari.


"Iya, Mbak. Semoga panjang umur dan tambah disayang suami," timpal istri Wijan menambahkan.


Istri Jauhari tampak bingung mendapatkan ucapan selamat dari mereka. Ia pun segera menutupinya dengan tersenyum sambil memandangi wajah suaminya, seperti ingin meminta penjelasan maksud ucapan selamat tersebut.


Jauhari dengan cepat menginjak pelan telapak kaki istrinya sebagai isyarat. Setelah itu Jauhari langsung mengalihkan perhatian dengan membicarakan tentang Patra.


"Kalau boleh, biar Patra tinggal di sini dulu dalam beberapa hari, sampai sakitnya pulih. Aku akan meminta Sabran untuk menjemput dokter agar bisa memeriksa Patra," ucap Jauhari.


Gerakan lutut istri Wijan terlihat jelas ketika sengaja dibenturkan ke lutut suaminya. Wijan mengerti maksud sikap istrinya itu agar menanggapi permintaan Jauhari.

__ADS_1


“Patra itu anak sableng. Aku khawatir hanya akan merepotkan kalian,” jawab Wijan memandangi kamar tempat anaknya masih terbaring sakit. Ia melihat Zian dan Putri masih ada di dalam sana menemani anaknya.


Berkali-kali Jauhari menjelaskan namun tampaknya Wijan tetap ingin membawa pulang Patra. Jauhari lantas memutuskan memanggil Zian dan Putri untuk bergabung bersama mereka.


"Sekarang, mereka sudah saling akrab satu sama lain," Jauhari menggeser duduknya, memberikan ruang kepada kedua anaknya.


"Mereka akan membantu Patra belajar selama tidak masuk sekolah. Patra harus lulus ujian nanti! Ini demi masa depan Patra," bujuk Jauhari.


Wijan menoleh meminta pendapat istrinya. Mereka sudah mengira sejak awal kalau Jauhari tidak bakal mengijinkan Patra pulang.


Mengetahui istrinya hanya diam,  Wijan lantas menyenggol lengan istrinya. Ia tak ingin saat pulang ke rumah justru mendapat omelan gara-gara tak berhasil membawa Patra pulang.


“Ini demi kebaikan Patra. Aku juga akan meminta Sawitri, untuk datang setiap hari mengajari Patra,” bujuk Jauhari melihat istri Wijan belum juga memberi keputusan.


"Mmm… Apa tidak merepotkan kalau kami setiap hari datang menjenguk Patra kemari?" tanya istri Wijan.


“Kami malah bahagia kalau kalian bersedia datang ke sini setiap hari,” sahut Jauhari.


“Aku merasa tidak enak. Kita baru saja sama-sama mendapat musibah, pastinya banyak yang harus diurus. Kalau Patra di sini, pasti menambah beban,” ucap istri Wijan tanpa menggunakan perantara suaminya lagi.


Jauhari tertawa lepas seperti biasanya. Ia terlihat seperti tidak memiliki beban sama sekali meski ladang cengkehnya baru saja terbakar.


"Kalau harus dengan musibah semacam ini bisa mempererat keluarga kita, aku tak peduli jika harus mengalaminya berkali-kali," ucap Jauhari menyakinkan Wijan dan istrinya.


"Mereka berdua sudah tahu cerita masa lalu kita," tunjuk Jauhari kepada Zian dan Putri. "Aku pikir ini adalah waktu yang tepat untuk kita saling membuka diri. Bagiku, persahabatan, keluarga dan pendidikan nomor satu.”


Wijan sempat terdiam sebentar. “Lantas bagaimana dengan Yudha?” selidik Wijan ingin tahu tindakan yang akan dilakukan Jauhari setelah kejadian tadi malam.


“Sebentar…” Jauhari lantas meminta Zian dan Putri agar bersiap-siap ke sekolah. Istri Jauhari mengerti, ia pun pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


Saat itu juga istri Wijan menyusul dari belakang untuk membangunkan adik Patra yang masih tidur pulas di kamar Putri.

__ADS_1


“Menurutmu, apa yang sebaiknya kulakukan? Tanya Jauhari saat menemui Wijan kembali. “Jangan memintaku untuk membalas dendam. Aku sama sekali tidak memikirkan hal itu,” sambungnya.


“Lah…kau sudah merasakan sendiri. Ladang cengkehmu habis terbakar. Aku yakin saat ini Yudha merayakan kemenangannya. Tak lama lagi banyak warga akan tergantung dengan dia.”


“Ini bukan persoalan menang dan kalah,” tandas Jauhari.


“Menurutku, kau hanya mengulur waktu. Tapi tidak ada yang bisa kau perbaiki. Yudha sudah merencanakannya sejak awal.”


“Semua ini salahku. Seandainya dulu…”


“Sekarang bukan saatnya menyalahkan diri sendiri. Kau sudah banyak membantu orang lain. Sudah saatnya kita mengusir Yudha bersama-sama dari tempat ini.”


 “Yudha pasti tidak akan tinggal diam!”


“Jangan pikirkan soal itu. Selama Yudha masih di sini, sampai kapan pun warga tak akan bisa merasa tenang,” desak Wijan berapi-api.


“Akan terlalu banyak korban jika melawan Yudha. Seharusnya ada pilihan lain tanpa harus dengan kekerasan.”


Wijan kecewa mengetahui Jauhari masih tetap dengan pendiriannya. “Aku menjadi transmigran bukan untuk mendapatkan kehidupan seperti ini. Setelah berjuang mati-matian, orang lain yang menikmati hasilnya.”


“Sebenarnya Mat Yusi pun sudah lama ingin berbuat seperti yang kau sarankan. Saat ini dia pasti senang mendengarnya.”


“Jadi apalagi yang harus kau tunggu? Aku bisa saja membawa sejumlah orang untuk membuat perhitungan dengan Yudha, tapi hasilnya akan lebih baik jika kau yang melakukannya. Semua warga percaya denganmu, tinggal mengajak mereka berkumpul di sini dan merencanakan sesuatu.”


“Aku tak yakin…”


“Sudahlah, biar aku saja menemui Mat Yusi dan mengajak orang-orang berkumpul di sini sekarang juga!”


“Mmm, baiklah. Namun, jangan sekarang. Malam nanti saja. Ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan dulu. Pastikan Mat Yusi datang malam nanti.”


Sementara itu, dari balik kamar, Patra terus menguping pembicaraan mereka berdua. Rasanya ingin sekali cepat sembuh dan menemui Mat Yusi.

__ADS_1


Masih sempat baginya untuk belajar beberapa jurus. Perseteruan antara Jauhari dan Yudha sepertinya akan berakhir lewat adu kekuatan dan tenaga. Patra tak ingin melewatkan semua itu. Ia akan membalaskan dendam atas dua kali kekalahannya.


__ADS_2