
KEESOKAN harinya, Sabran hampir saja melarikan diri ketika mengetahui tiga orang anak buah Yudha mendatangi rumahnya.
Suara gedoran pintu terdengar keras. Beberapa kali namanya dipanggil. Namun, Sabran tak berani keluar. Ia peras pikirannya untuk mencari cara agar bisa menyelamatkan diri.
Jendela kamar, pintu belakang rumah, atap, bahkan kolong tempat tidur menjadi kegaduhan dalam pikiran Sabran. Ia bingung antara ingin melarikan diri atau bersembunyi di dalam rumah.
Peristiwa yang menimpa keluarga Wijan beberapa hari lalu sudah cukup memberi alasan baginya terpilih menjadi sasaran Yudha. Kedatangan mereka pasti ingin memintaku agar menjauhi Jauhari, tebak Sabran ketakutan.
“Kami hitung sampai tiga, kalau tidak keluar pintu rumahmu akan kami dobrak!” ancam orang-orang dari luar rumah semakin menciutkan nyali Sabran.
Dari sudut dinding kamar, Sabran mengendap-ngendap. Meski lututnya terasa lemas, ia coba mengintip dari beberapa lubang rahasia yang sengaja dibuat setelah peristiwa perampokan sapi yang dialaminya.
Lubang itu persis berada di dinding kayu rumah. Hanya berukuran kecil, seukuran batang sapu lidi. Namun, jumlahnya banyak. Saat diperlukan, Sabran hanya perlu menarik penutupnya.
Selama ini, lewat lubang kecil itulah Sabran merasa bisa lebih waspada meski sambil berbaring di kamar.
Ia melihat satu orang sedang menunggunnya di depan pintu. Dua orang lainnya berjalan mondar-mandir ke arah samping. Bola mata Sabran mengikuti gerak-gerik mereka dengan mengandalkan semua lubang yang ada di kamarnya. Percuma untuk lari, pikir Sabran. Ia sudah terkepung.
“Kedatangan kami cuma ingin menyampaikan pesan untuk Jauhari. Jadi cepatlah keluar!” teriak seseorang dari samping rumah terdengar mulai tidak sabar.
Rasa takut yang tadi menghinggapi Sabran mendadak berkurang setelah mendengar maksud kedatangan mereka. Sabran berjingkat mendekati pintu kamar masih dengan ragu.
“Kami bermaksud baik. Tapi kalau kau tidak segera keluar, rumahmu akan kami bakar.”
Ancaman itu terdengar sangat jelas. Pikiran Sabran diliputi rasa panas yang menjalar. Ia tahu centeng-centeng Yudha suka berbuat nekat. Ia merasa ngeri membayangkan jika ancaman itu benar-benar terjadi.
Membayangkan tubuhnya akan terbakar hidup-hidup di dalam rumah membuat Sabran segera membukakan pintu.
“Plakkk..!”
Satu tamparan di pipi kiri mendarat di wajah Sabran saat berhadapan dengan seseorang di depan pintu.
__ADS_1
Sabran meringis kesakitan.
“Itu hukuman karena tidak segera membuka pintu,” hardiknya membuat dua orang lainnya segera datang menyusul.
Sabran mengelus pipi dan menundukkan wajah untuk menghindari tatapan mata mereka. Ia dengarkan baik-baik pesan yang harus disampaikan kepada Jauhari.
“Apa kau sudah ingat semuanya? Awas kalau kau sampai lupa!” ancam salah seorang sambil menghadiahi satu tamparan lagi di pipi kanan Sabran.
“Plakkk..!”
“Itu agar kau tidak lupa! Ha…haa..haaa…” tawa mereka segera meninggalkan Sabran yang meringis kesakitan.
***
Sabran sempat mengira pekerjaannya membantu Jauhari mengumpulkan informasi adalah seringan-ringannya pekerjaan.
Hanya cukup bermodalkan rasa lelah bolak-balik mengintai rumah Wijan dan setelah itu mengitari kampung untuk menjadi bahan laporan kepada Jauhari. Ternyata dugaannya salah. Menjadi informan juga beresiko tinggi.
Di hadapan Jauhari, Sabran menceritakan semua pesan dari Yudha tanpa memberitahu kejadian yang dialaminya. Meski berkali-kali Jauhari menanggapi kabar baik yang baru saja diterimanya, Sabran hanya terdiam sambil merasakan sisa nyeri di pipi.
Sabran mengerjapkan kelopak matanya dan ingin sekali mengutarakan pendapatnya. Jauhari bisa berkata seperti itu karena tidak pernah menjadi sasaran anak buah Yudha. Bagaimana kalau dia yang mendapat siksaan, apakah masih bisa berdiam diri? bathin Sabran.
“Tidak semua masalah harus diselesaikan dengan otot,” tegas Jauhari dengan seulas senyum menambah binar di matanya.
Meski pesan yang dibawanya adalah berita bahagia, tetap saja Sabran menyimpan rasa khawatir. “Berarti kau akan memenuhi undangannya malam ini?”
“Ini kesempatan baik. Kalau aku tak datang, Yudha bisa tersinggung dan menjadi kerugian untuk kita. Hanya saja aku heran kenapa harus di pantai?”
Jauhari melepas peci dan meletakkan di atas meja. Setelah membenahi sisiran rambutnya dengan jari tangan, ia mengenakannya kembali.
“Mereka bilang, pantai tempat yang netral untuk melakukan pertemuan,” jawab Sabran mengingat semua pesan anak buah Yudha.
__ADS_1
“Berarti kau ikut aku malam nanti.”
Sabran sudah menduga kalau Jauhari pasti akan mengajaknya. Namun, ia masih sulit memercayai kalau Yudha serius ingin mengajak berdamai. “Apa kau tidak merasakan sesuatu yang aneh?” tanya Sabran.
Alis mata Jauhari berkerut. Matanya memandangi Sabran tanpa berkedip. “Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?”
Sabran gugup, apalagi di tatap dengan sorot mata tajam seperti itu. Sabran mengetahui persis kalau Yudha adalah orang yang pandai bersiasat.
Meski malu mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya, Sabran terpaksa berterus terang. Ia tak peduli dikatakan sebagai lelaki penakut, toh ia sudah sering mendengarnya.
“Bagaimana kalau Yudha hanya ingin menjebakmu?
“Sepertinya ada nada ketakutan dari suaramu?”
“Ya!” tegas Sabran tanpa harus menutup-nutupi lagi perasaannya. “Sebaiknya libatkan Mat Yusi. Anggap saja sebagai gertakan jika mereka berani berbuat macam-macam.”
Jauhari menyandarkan punggungnya di kursi rotan. Empat meter di atas kepalanya, jam dinding menggantung di bawah ukiran kayu Burung Garuda. Di sebelah kanan-kiri, foto Presiden Soeharto dan wakilnya tersenyum dalam posisi bingkai sedikit miring.
Jauhari masih memikirkan kebenaran ucapan Sabran. Ia mempertimbangkan kelicikan Yudha selama ini. Ia masih ingat ketika Yudha berani memastikan di tangannya harga cengkeh akan tetap tinggi.
"Bisnis apapun di Indonesia ini, semua dikendalikan oleh Jakarta," ucap Yudha meminta agar Jauhari tidak memberi jatah cengkeh kepada para tengkulak lainnya.
Hanya dalam hitungan bulan, Yudha berhasil menguasai pasar cengkeh milik warga. Jauhari belum menyadari tipu muslihat di balik tingginya harga pembelian cengkeh yang ditawarkan.
Namun, itu hanya berlangsung selama satu tahun. Setelah itu, Yudha sering menggunakan alasan Jakarta untuk menurunkan harga cengkeh.
“Kalau kau setuju, biar aku beritahu Mat Yusi sekarang!” Sabran sudah tidak sabar menunggu keputusan Jauhari.
“E….sebentar,” Jauhari memutar badannya, memerhatikan jam dinding. “Kau bunyikan lonceng ini dulu di luar sana. Setelah itu kau bawa lagi kemari,” perintah Jauhari menyadari waktu jam pulang sekolah sudah terlambat tiga menit.
Sabran heran memerhatikan lonceng sapi yang diberikan Jauhari. “Sejak kapan lonceng sekolah digantikan dengan lonceng sapi?” tanya Sabran penasaran.
__ADS_1
“Nanti saja kuceritakan. Aku sendiri tak habis pikir apa pentinya mencuri lonceng sekolah.”
Sabran pun mengambil lonceng sapi dari tangan Jauhari dan membawanya keluar ruangan. Saat lonceng itu dibunyikan, ada perasaan sedih menggores hatinya. Kerinduan untuk kembali memelihara sapi datang begitu saja.