
KETIKA tadi Sawitri memberikan pelajaran, tak seorang pun menyadari ada seseorang yang mengendap-endap di balik dinding kelas. Namanya, Sapri.
Sudah tiga hari ini ia tidak masuk sekolah. Remaja berambut ikal dengan tulang pipi menonjol itu hanya mengurung diri di dalam rumah, menyembunyikan sakitnya dari orang-orang dan itu membuatnya bosan.
Apalagi ia sudah mendengar peristiwa yang dialami Patra berimbas dengan tim sepakbola. Kali ini, diam-diam Sapri pergi mendatangi sekolahnya kembali. Di luar ibunya tampak sedang sibuk menjemur cengkeh di pelataran rumah.
Cat dinding kelas berbahan kapur sudah mengotori kaos hitam yang dikenakan Sapri. Di bawah jendela samping meja guru, Sapri menyandarkan punggungnya ke dinding. Ia heran ketika mengetahui Sawitri sedang memberikan pelajaran di kelas.
Harusnya pelajaran agama disampaikan oleh Jauhari. Sapri berencana akan memberitahu Patra untuk menemuinya saat pulang sekolah. Sambil bersandar di dinding, Sapri menunggu kesempatan itu. Ia bersikeras harus bertemu Patra hari ini, apa pun yang terjadi.
Sejak di rumah, Sapri sudah merangkai kalimat yang menurutnya dahsyat. Sepakbola itu penting, Kawan. Rumput hijau di lapangan sudah merindukan kehadiranmu.
Sapri membayangkan reaksi Patra setelah mendengar kalimat itu. Kalimat yang menurutnya bisa membuat Patra melupakan semua pelajaran yang baru didapatnya dari Sawitri.
Bersama-sama mata mereka akan mengembara di hamparan rumput hijau, melesak jauh hingga merobek jaring gawang.
Pusaran waktu terasa lambat. Kesempatan memberi tanda agar Patra meminta ijin keluar kelas belum ia dapatkan. Seandainya ia baik-baik saja, Sapri tidak akan serepot ini untuk menemui Patra.
“Pohon Jingah sialan.,” sungut Sapri memegangi benjolan di wajahnya. Ia tak pernah tahu kalau getah jingah bisa membuat wajahnya berantakan.
Empat hari lalu, ia ingin membuat kursi dari bambu. Dengan memegang batu, Sapri memukul paku untuk menyatukan kaki kursi dengan pohon Jingah.
Tak terjadi apa-apa ketika itu. Namun, keesokan paginya, saat bangun tidur di atas dipan beralas kasur tipis, ia menoleh ke samping, matanya tertumbuk pada cermin besar di lemari pakaian, wajahnya sudah seperti bakpau saja. Bengkak.
Kepanikan Sapri semakin bertambah ketika obat salep yang didapat dari Puskesmas tidak bereaksi di wajahnya. Saran konyol dari ibunya pun masih belum ia laksanakan hingga sekarang.
Ia tak percaya ketika ibunya memberitahu kalau pohon Jingah yang buahnya sering dijadikan sambal itu kerap menjadi sarang para Jin.
"Kau harus menikahi pohon itu," desak ibunya.
Sapri bersikeras tidak ingin menikahi sebuah pohon. Ia pikir itu adalah cara tolol untuk menyembuhkan penyakit meski menikahi pohon Jingah adalah kebiasaan orang-orang terdahulu di Kandangan tempat ia dilahirkan.
Ketika Sapri diam, sementara ibunya terus bercerita, ingatannya justru kembali terbawa pada saat ia menghabiskan masa kecil di sana sampai harus pindah ke tempat ini.
Bapaknya dulu seorang tentara Angkatan Darat. Saat meninggal, kurang dari enam bulan, ibunya menikah lagi dan itu menyalahi peraturan yang ditetapkan.
Sapri dan ibunya terpaksa hidup tanpa uang pensiun. Walau hati berat meninggalkan Kandangan, tapi mereka tak ada pilihan lain untuk mengikuti lelaki baru dalam hidup mereka sebagai buruh petani cengkeh.
"Bukankah itu cara pengobatan yang aneh, " sungut Sapri.
__ADS_1
"Penyakitmu juga aneh, wajarlah kalau pengobatannya aneh," sahut ibunya.
***
Seperti kemarin, Patra ingin pulang sekolah berbarengan dengan Putri. Rencana itu gagal karena Sapri, ketua tim sepakbola di sekolahnya lebih dulu menghadang Patra di tempat parkir.
Setelah menunggu sepi, Sapri mengajak ke lapangan sepakbola tempat upacara bendera biasanya dilaksanakan. Sejak awal, Patra sulit menahan tawa setiap kali memandangi wajah bengkak Sapri.
"Apa perlu kau kutampar agar berhenti tertawa seperti itu,” Sapri sudah tidak sabar. “Ini pertamakalinya kita kedatangan musuh dari Banjarmasin. Mereka pasti meremehkan kita," bujuk Sapri sambil menendang bebatuan kerikil.
"Kurasa masih ada kesempatan untuk mencari penggantiku," usul Patra tak ingin memandangi wajah Sapri. Ia pun menceritakan semua alasan kenapa mengorbankan kesenangan bermain sepakbola dan memilih bekerja di ladang cengkeh.
Sapri hanya menggelengkan kepala berkali-kali. Ia sudah menduga Patra akan bersikeras di balik alasan tersebut. Persoalan hidup seperti yang dialami Patra bukan berarti tak pernah singgah di keluarganya.
“Bukankah kau pernah bermimpi ingin menjadi seperti Frans Sinatra Huwae?" Langkah Sapri mendekat. "Sepakbola itu butuh pengorbanan, kawan! Jangan patahkan mimpimu." Sapri berbalik melangkahkan kakinya menuju tiang gawang.
Di situlah Sapri seringkali duduk jika sedang mengkhawatirkan sesuatu. Tiang gawang baginya adalah sepasang kaki yang kokoh. Bersandar di salah satunya membuat Sapri merasa lebih nyaman.
Belum selesai mereka berbicara, dari jauh terdengar suara Zian memanggil. Sapri merasa kesal karena urusannya belum selesai. Kalimat-kalimat hebat yang sudah ia rangkai belum juga sempat diucapkan.
Namun, ia harus berpikir dua kali untuk mencari masalah dengan anak kepala sekolah. Sapri mengalah. Setelah menyerahkan lipatan kertas tebal yang ia ambil dari dalam kantong, dengan berat hati Sapri pergi dan mengingatkan kalau semua belum selesai.
Patra tersenyum dan tak ingin menceritakan alasannya kepada Zian. “Cuma urusan sepakbola saja, kok. Yuk, pulang!” Patra segera menuju tempat parkir yang sudah sepi.
Ada tiga sepeda yang masih tertinggal dan sebuah sepeda motor milik Jauhari.
“Tadi kulihat Sapri mendorong tubuhmu,” kejar Zian ingin tahu.
Patra tak ingin membicarakan masalahnya kepada Zian. “Kau pernah ke sana?” tunjuk Patra ke Bukit Sangyang untuk mengalihkan perhatian. Sudah beberapa hari ini ia tak lagi melatih kekuatan kakinya dengan berlari pagi.
Keputusannya untuk keluar dari tim sepakbola sudah bulat. Ia sudah tidak punya lagi waktu untuk berlatih. Patra masih ingat ketika tadi Sapri mengancam akan memusuhi dirinya.
“Pasti banyak burung di sana?” jawab Zian berkacak pinggang. Ia periksa ke dalam tasnya dan langsung tersenyum sambil menunjukkan ketapel kepada Patra. “Aku selalu membawanya kemana-mana. Aku bisa menemanimu ke sana sekarang.”
Dengan senyum dipaksakan, Patra terus melanjutkan langkahnya. “Lain waktu saja kau kuajak ke sana. Aku harus ke ladang cengkeh sekarang. Mat Yusi pasti sudah menungguku.”
“Terserah kau saja. Aku juga tak sabar melihatmu latihan beladiri hari ini,” ucap Zian menggerakan tangannya meniru gerakan kungfu.
Patra langsung teringat dengan syarat yang diminta oleh Mat Yusi. “Ia pasti tidak mengijinkanku berlatih hari ini.”
__ADS_1
“Tenang saja, aku akan membantumu memetik cengkeh.”
“Jangan! Aku bisa menyelesaikannya sendiri,” tolak Patra sambil menaiki sepedanya.
“Latihan beladiri itu bukan sulap. Kalau bisa hari ini, kenapa harus menundanya. Lagi pula bantuanku tidak gratis kok,” jawab Zian mengayuh sepedanya.
“Maksudmu?”
“Sebelum sampai ke ladang dan membantumu memetik cengkeh, kita buat kesepakatan dulu.”
Patra menghentikan sepeda di tepi jalan agar Zian lebih leluasa menyampaikan rencananya. Setelah meminta agar Patra tidak menceritakan kepada orang lain, Zian memberitahu keinginannya sambil memperhatikan perubahan di wajah Patra.
“Bagaimana kalau aku tertangkap basah oleh Mat Yusi?” Patra ragu. Kerongkongan lehernya terasa kering. Ia ingin membatalkan bantuan yang ditawarkan Zian untuk menyelesaikan pekerjaannya memetik cengkeh. Itu lebih baik ketimbang harus mencuri sesuatu milik Mat Yusi.
“Aku yakin di dalam buku itu menyimpan rahasia kehebatan Mat Yusi,” ucap Zian menjelaskan rencananya.
“Kenapa tak kau pinjam saja?”
“Sudah. Tapi ia tak mengijinkanku membacanya.”
“Darimana kau tahu ada rahasia di dalam buku itu?”
“Aku pernah mengintipnya dari balik pepohonan. Setelah membaca buku itu, ia langsung bersila sambil memejamkan mata. Aku yakin sekali ia sedang merapal mantra. Ingat ucapanku kemarin, aku tidak bercanda kalau Mat Yusi memiliki ilmu kebal.”
“Kau melihatnya sendiri?” selidik Patra.
“Apa kau tidak tahu kalau dia itu dulunya seorang perampok?”
Patra terkesiap. Perampok? Pembunuh? Mana yang benar. Ia sendiri tak menyangka Zian akan menyeretnya melakukan perbuatan berbahaya. “Bagaimana kalau aku menolak permintaanmu?”
“Berarti kau kehilangan kesempatan agar bisa membalas dendam kepada anak buah Yudha.”
Sambil setengah berbisik, Zian menceritakan seandainya Patra bisa dengan cepat belajar beladiri dengan Mat Yusi. Ditambah lagi mantra-mantra yang bisa membuatnya lebih kuat dan hebat.
“Kau tak harus mencurinya. Cukup menyalin setiap kalimat di dalam buku itu saat ia lengah.”
“Aku tidak yakin bisa melakukannya. Tapi akan kucoba,” jawab Patra meminta Zian agar tak menghalangi jalannya.
Senyum Zian mengembang. Ia segera mengikuti laju sepeda Patra dan memikirkan cara membujuk Mat Yusi agar memperbolehkan Patra belajar beladiri hari ini.
__ADS_1