
LONCENG sapi di sekolah Jauhari baru saja berbunyi. Semua murid bersiap-siap mengakhiri jam pelajaran. Mereka tampak sudah tak sabar meninggalkan kelas untuk pulang. Sapri lantas berdiri sambil memberi isyarat kepada beberapa teman-temannya. Mereka adalah anggota tim sepakbola sekolah.
Setelah memberitahu agar semua tim sepakbola berkumpul, Sapri langsung pergi menuju kelas Zian. Di dalam sana, Sawitri baru saja mengijinkan murid-muridnya untuk pulang. Sapri terpaksa hanya bisa menunggu di luar.
Hari ini, ada dua rencana yang ingin di sampaikan oleh Sapri. Semua tim sepakbola sudah mengetahui kalau Zian akan ditunjuk sebagai pemain pengganti Patra.
Hanya saja, ia belum memberitahu Zian. Kali ini, secara resmi dan sedikit paksaan tentunya, Sapri akan mengumumkan di depan anggota tim.
Masih ada satu rencana lagi yang sangat rahasia dan tidak boleh sampai diketahui orang lain, termasuk Zian.
Rencana tersebut memiliki kemiripan saat Sapri mengajak tim sepakbola mencuri lonceng sekolah dan menjualnya ke pemulung. Ia sudah tidak sabar menyampaikan ide gila yang ada di kepalanya.
Saat murid-murid mulai keluar dari pintu kelas, Sapri langsung berusaha mencari Zian dan menghadangnya.
“Ikut aku sekarang juga,” pinta Sapri sedikit memaksa.
Tak ada pilihan lain, Zian hanya mengikuti Sapri ketika melewati lorong sekolah menuju lapangan sepakbola. Di sana, tampak beberapa murid lain sudah berkumpul. Mereka duduk melingkar di atas rumput hijau.
Patra tak ingin menundanya lagi. Di hadapan anggota tim, Sapri meminta, lebih tepatnya menunjuk agar Zian sebagai pengganti Patra.
“Tidak ada pilihan lain. Kami sudah membicarakan hal ini beberapa hari lalu. Semua sepakat menunjukmu sebagai pengganti Patra,” ucap Sapri.
“Aku tidak bisa bermain sepakbola,” Zian mengelak.
“Tenang saja. Kami akan mengajarimu setiap hari. Bagaimana?” desak Sapri menunggu jawaban Zian.
Meski terpaksa, Zian akhirnya setuju. “Demi Patra, aku terima tawaran kalian,” jawab Zian dengan suara lesu.
“Ulangi lagi. Aku ingin mendengar kamu mengucapkannya dengan penuh semangat,” tuntut Sapri tak puas.
Zian merasa seperti sedang dipermainkan. Namun, ia tetap memenuhi keinginan Sapri. “Demi Patra, aku siap bergabung dengan tim sepakbola. Menang..! Menang...! Menang..!” ucap Zian merasa sangat konyol.
Sapri tersenyum dan langsung bertepuk tangan diikuti teman-teman lainnya.
“Sebagai anggota baru, kamu boleh pulang duluan. Kami akan membicarakan strategi permainan untuk kita latih bersama-sama nanti,” tukas Sapri ingin melanjutkan pembicaraan yang teramat rahasia.
Zian merasa lega setelah diperbolehkan pulang lebih dulu. Ia pun segera menuju tempat parkir untuk mengambil sepedanya.
Sementara itu, Sapri mengajak anggota tim untuk duduk lebih rapat. Meski tak ada orang lain yang mendengar, Sapri berhati-hati agar pembicaraan mereka tetap aman.
“Kemarin siapa yang menghajar Patra dan akhirnya kita harus mencuri lonceng sekolah? tanyanya.
__ADS_1
“Anak buah Yudha!” jawab mereka hampir berbarengan.
“Tadi malam, Patra hampir terbakar di ladang cengkeh karena siapa?”
“Anak buah Yudha!” Kali ini jawaban mereka serempak.
“Kita sudah bersepakat, satu sakit, maka semua sakit. Aku berencana akan membakar ladang cengkeh milik Yudha sebagai balasan,” ucap Sapri yang membuat teman-temannya terkejut.
“Ide gila. Sepertinya kamu sudah mulai tidak waras,” ucap salah seorang tidak setuju dengan rencana itu.
“Kamu takut? Kalau begitu, siapa di antara kalian yang bisa membantuku? Tidak perlu semua. Tiga orang saja cukup. Sisanya menyiapkan minyak tanah,” ucap Sapri.
Setelah menunggu agak lama, dan Sapri berulangkali memastikan rencananya akan aman, akhirnya Ikbal dan Sidik bersedia membantu Sapri.
“Ladang cengkeh milik Yudha banyak. Jadi, mana yang ingin kita bakar?” tanya Ikbal.
“Kita cari yang letaknya paling jauh dan tidak diawasi anak buah Yudha,” jawab Sapri menceritakan rencananya.
“Kapan kita mulai?” tanya Sidik.
“Mulai hari ini kita awasi dulu ladang-ladang cengkeh Yudha. Dari situ baru aku bisa mengambil keputusan. Besok kita bertemu lagi untuk menentukan waktunya. Ingat, jangan sampai ada orang lain yang tahu rencana ini!” tegas Sapri mengingatkan teman-temannya.
Sementara itu, karena Zian pulang terlambat, Putri bisa langsung membawa semangkuk bubur yang baru saja disiapkan ibunya untuk Patra.
Mengetahui Putri yang akan menyuapinya, Patra merasa canggung. Ia ulurkan lengan tangannya bermaksud mengambil mangkuk dari tangan Putri dan memakannya sendiri.
Saat itu juga pemilik jemari lentik dengan potongan kuku rapi itu menjauhkan mangkuk dari jangkauan Patra.
“Tangan Kakak masih sakit, biar aku saja yang menyuapi,” cegah Putri lalu meminta Patra agar berbaring kembali.
Putri tak langsung menyuapkan bubur. Ia justru meletakkan mangkuk putih berisi bubur ke atas meja dekat jendela kamar. “Tunggu sebentar…” Putri pergi ke kamarnya lalu kembali membawa bantal.
Patra tahu maksud Putri. Ia kemudian bangun dan membiarkan Putri menumpuk bantal yang baru saja dibawanya. Ketika Patra ingin menjatuhkan kepalanya ke atas bantal, Putri lebih dulu mengeluarkan kalimat ancaman.
“Awas jangan ngiler…” ledek Putri mengambil mangkuk lalu mengaduk-aduk isinya pelan.
Patra meringis. “Kalau begitu, bantalnya kupeluk saja biar aman,” balas Patra sambil meresapi sisa wangi yang menempel di atas bantal.
Putri tak menjawab. Ia bisa melihat wajahnya bersemu merah dari cermin yang berada di atas meja.
Perlahan Putri menyodorkan sendok berisi bubur ke mulut Patra. Meski canggung, Patra membuka mulutnya sambil memandangi Putri yang tersipu malu. Posisi Patra saat ini lebih memudahkan Putri untuk menyuapinya.
__ADS_1
“Kenapa kakak memandangiku seperti itu?”
“Ini, lho. Buburnya manis seperti yang membuatnya,” goda Patra.
“O, ya? Sebentar, aku sampaikan ke ibu dulu, dia pasti suka mendengar pujian kakak,” jawab Putri berpura-pura ingin berdiri.
“Loh…Put…tunggu…jangan dong,” pinta Patra memiringkan tubuhnya ingin menghalangi Putri.
Putri suka melihat Patra salah tingkah. “Tadi bilang kakak yang memasak bubur orangnya manis!”
“Jadi bukan kamu yang memasak bubur?”
Putri menggelengkan kepala.
Patra lemas sambil memperbaiki posisi tidurnya. “Aku sudah kenyang,” Patra pura-pura merajuk ketika Putri kembali mengulurkan sendok ke mulutnya.
“Baru dua suapan?”
“Kamu saja yang habiskan…”
“Ihh… kalau begitu aku laporkan ibu!” ancam Putri.
“Kamu ini tukang lapor ternyata,” Patra terpaksa membuka mulutnya.
“Boleh aku tanya sesuatu?”
Jantung Patra langsung berdegup kencang. Ia menebak-nebak apa yang ingin ditanyakan Putri.
“Soal apa, Put?”
“Aku heran kenapa Kak Zian menjadi perhatian sekali dengan kakak?”
Patra tersenyum. Ia tahu saat ini Zian pasti sedang merasa bersalah dengannya. Namun, ia merasa Putri tak perlu tahu cerita tentang mereka.
“Kamu juga perhatian sekali denganku, Put. Terimakasih, Ya!” Sahut Patra.
Tanpa sadar, Putri hanya memainkan sendok di dalam mangkuk hingga menimbulkan suara benturan.
“Aku sangat kenal watak Kak Zian. Tapi tak masalah kalau kakak ingin merahasiakannya.” Putri berdiri dan langsung pergi.
“Put, sebentar. Aku masih lapar lo!” Panggil Patra. Namun, Putri tetap meninggalkannya sendirian dengan semangkuk bubur di atas meja.
__ADS_1