
PULANG dari melihat ladang cengkeh yang terbakar, Yudha langsung mengumpulkan semua anak buahnya di rumah.
Ia pun segera menggeledah isi kamar Dul Sanif. Yudha berharap, ada sesuatu yang bisa ditemukannya sebagai bukti kuat. Semacam coretan-coretan atau catatan rencana yang telah disiapkan Dul Sanif.
Kamar Dul Sanif sudah porak poranda. Bahkan, isi tasnya pun sudah ia bongkar habis. Namun, tak ada petunjuk sedikit pun yang bisa ia gunakan untuk menghabisi Dul Sanif dengan barang bukti.
Satu-satunya yang ia miliki saat ini adalah laporan dari anak buahnya. Pertemuan Dul Sanif dan Mat Yusi menguatkan kecurigaan ada kesepakatan jahat di antara mereka berdua.
Dugaan itu baginya sangat beralasan. Tadi, Dul Sanif sempat menolak saat Yudha mengajaknya melihat ladang cengkeh yang terbakar. Namun, diam-diam Dul Sanif jutru menemui Mat Yusi. Aneh sekali, pikir Yudha. Pasti ada rencana jahat yang mereka sembunyikan.
Yudha menduga kebakaran ladang cengkehnya berkaitan erat dengan Dul Sanif dan Mat Yusi. Sejak awal, mereka berdua sering berkomunikasi diam-diam.
Ia bahkan tak mendengar pembicaraan mereka saat di rumahnya. Ditambah lagi pertemuan yang baru saja mereka lakukan baru saja tadi.
“Bisa saja Dul Sanif yang merencanakan semua ini,” pikir Yudha yang sudah dipengaruhi emosi akibat kerugian yang ia tanggung setelah ladang cengkehnya terbakar.
Seperti pintalan benang kusut, berbagai macam prasangka dan dugaan bermain-main di pikiran Yudha.
Ia yakin Dul Sanif sengaja membiarkan Mat Yusi membakar ladang cengkehnya sebagai, pertama membalaskan terbakarnya ladang cengkeh Jauhari. Kedua, sebagai syarat agar Mat Yusi mau membantunya mengurus bisnis pertambangan batu bara.
Hati Yudha mendidih. Ia pun keluar menemui anak buahnya. “Jika Dul Sanif datang, jangan biarkan dia masuk!” perintah Yudha meminta anak buahnya bersiap siaga.
“Dia pasti sedang di jalan menuju kemari,” jawab seseorang.
“Jangan takut. Dia sudah tua dan hanya sendirian. Mudah saja melawannya jika kalian bekerjasama,” sahut Yudha pergi ke dalam rumah. Ia segera duduk sambil menimang-nimang pistol di tangannya.
“Dia pikir bisa mengelabuiku dengan caranya itu,” bathin Yudha sangat geram.
***
Sebelum lonceng sekolah tanda jam istirahat berbunyi, Sawitri bergegas meninggalkan kelas karena penasaran dengan Sapri, Ikbal dan Sidik karena belum juga kembali ke dalam kelas sejak tadi.
__ADS_1
Tempat yang menjadi tujuan Sawitri adalah pergi memeriksa kamar mandi. Ia yang meminta agar mereka mencuci muka.
Betapa terkejutnya Sawitri ketika mengetahui Sapri, Ikbal dan Sidik justru sedang tertidur pulas sambil bersandar di dinding kamar mandi.
Ada rasa kasihan untuk membangunkan mereka. Namun, jika dibiarkan justru kelakuan mereka itu akan membuat mereka malu. Di jam istirahat sekolah nanti, pasti banyak anak-anak yang pergi ke kamar mandi dan mengolok-olok Sapri dan kawan-kawannya.
Sawitri membasahi telapak tangannya dengan air dan langsung mengibaskannya di wajah Sapri secara bergantian. Cara Sawitri itu berhasil membuat Sapri terbangun gelagapan.
“Ayo, bangun. Ngapain kalian tidur di sini!” ucap Sawitri masih menyipratkan air ke wajah Ikbal dan Sidik.
“Maaf, Bu. Kami ngantuk sekali,” ucap Sapri merasa malu perbuatan mereka itu diketahui oleh Sawitri.
“Sekarang ambil tas kalian. Ibu ijinkan kalian pulang sekarang dan tidur di rumah masing-masing. Awas kalau perbuatan ini kalian ulangi lagi. Ibu pasti akan memanggil orangtua kalian,” ancam Sawitri.
Lonceng jam istirahat baru saja berbunyi. Tanpa berpanjang lebar, Sapri langsung permisi menuju ruang kelas diikuti Ikbal dan Sidik untuk mengambil tas mereka. Dalam hati, mereka merasa beruntung bisa pulang sekolah lebih cepat meski dengan cara memalukan.
***
Di ladang cengkeh milik Jauhari, Mat Yusi mencari cara untuk bisa berbicara dengan Wijan. Ia merasa tak sanggup untuk menemui Jauhari saat ini. Ada perasaan malu jika harus sendirian menyampaikan rencana Dul Sanif untuk menemui Yudha.
Wijan menolehkan wajahnya. “Bibitnya, maksudmu?” tanya Wijan memastikan.
“Kuperhatikan kau belum istirahat sejak tadi. Aku membuat teh panas tadi. Kau mau?” tawar Mat Yusi.
“Nanti saja. Aku harus menyelesaikannya segera agar semua bisa normal kembali,” sahut Wijan tetap melanjutkan pekerjaannya.
“Menurutmu, di mana Jauhari sekarang?”
“Mungkin di rumahnya. Akhir-akhir ini ia jarang ke sekolahan. Kalau pun pergi ke sana, paling hanya sebentar,” jawab Wijan.
“Kau bisa menemanimu menemuinya?”
__ADS_1
Wijan langsung berhenti menanam bibit. “Kenapa harus kutemani? Bukankah biasanya kau pergi sendiri?”
“Kali ini berbeda situasinya. Kau pasti penasaran dengan orang yang menemuiku tadi. Dia adalah Dul Sanif. Dia memberitahuku, saat ini Yudha menuduhku dan Jauhari yang membakar ladang Yudha. Jadi, ada yang harus dilakukan agar Yudha tidak mencelakai Jauhari,” jelas Mat Yusi.
Mendengar nama Yudha dan tuduhannya terhadap Jauhari membuat Wijan langsung pergi mengambil air di dalam ember untuk membersihkan tangan. “Kalau begitu, kita harus pergi sekarang menemui Jauhari,” ucap Wijan bersiap-siap.
Mat Yusi pun langsung menuju waduk untuk membersihkan badannya sebentar. “Terimakasih, Wijan,” ucapnya.
***
Sepanjang perjalanan menuju rumah Yudha, Dul Sanif sedang memikirkan cara untuk memberitahu Yudha tentang rencananya.
Ia yakin, Mat Yusi tidak sedang membohonginya. Ia berkata jujur kalau bukan dirinya yang membakar ladang cengkeh milik Yudha. Namun, menyakinkan Yudha bukanlah persoalan mudah. Ia sangat mengenal perangai Yudha yang cepat emosi dan gegabah. Terlebih, saat ini ia sedang emosi.
Baru sampai depan rumah Yudha, Dul Sanif melihat ada yang berbeda. Tak biasanya rumah Yudha dijaga orang sebanyak itu. “Jangan-jangan Yudha sedang merencanakan ingin menyerang Mat Yusi,” pikir Dul Sanif terburu-buru ingin memastikan apa yang sedang terjadi.
Namun, saat ia mencoba masuk, anak buah Yudha langsung menghalanginya.
“Ada apa ini?” tanya Dul Sanif terkejut dan langsung menjaga jarak. Ia juga melihat anak buah Yudha langsung mengepungnya.
“Kami diperintahkan untuk menghabisimu!”
“Tahan dulu. Aku ingin tahu alasannya? Setelah itu tak masalah jika kalian merasa mampu menghabisiku,” sahut Dul Sanif.
“Kamu sudah berkhianat dan bersekongkol dengan Mat Yusi. Aku melihatnya sendiri tadi saat kalian berada di waduk,” jawab pimpinan anak buah Yudha.
Dul Sanif mengerti sekarang. Yudha pasti sudah terkena hasutan anak buahnya sendiri. Namun, Dul Sanif tak berusaha ingin menjelaskan. Ia merasa tersinggung dengan perlakuan Yudha sekarang ini.
“Aku sudah tahu alasannya. Sekarang, silakan kalau ingin menghabisiku,” tantang Dul Sanif mengambil sikap kuda-kuda.
Para anak buah Yudha pun tak tinggal diam. Seperti yang sudah direncanakan, mereka tidak akan maju satu-persatu.
__ADS_1
Masing-masing lantas mencabut parang yang terselip di pinggang. Mereka pun juga mengambil sikap kuda-kuda dan siap melakukan serangan secara bersamaan.
“Seraaaannngg…!” teriak sang pemimpin dengan suara menggelegar mengejutkan Yudha yang berada di dalam.