
SEHARIAN tadi Jauhari hanya disibukkan dengan banyaknya kedatangan tamu di rumahnya. Mulai dari rombongan warga yang mempertanyakan soal kebenaran tentang Mat Yusi, ada yang datang untuk mengusulkan gotong royong di ladangnya, sampai kedatangan para guru sekolah.
Di hadapan mereka semua, Jauhari bersikap seperti biasa, seolah tak terjadi apa-apa. Bahkan, masih tetap bisa bercanda. Namun, mereka tahu, Jauhari sedang dalam kesulitan.
Wijan bahkan sejak tadi tidak pulang ke rumahnya. Ia memilih menemani Jauhari jika sewaktu-waktu diperlukan.
Rencana siang tadi untuk mengumpulkan warga dan mengajak mat Yusi untuk mengusir Yudha pun akhirnya gagal. Tak seorang pun menduga dengan kejadian siang tadi. Semuanya berantakan setelah Mat Yusi membuat pengakuan yang mengejutkan.
Jauhari mengurut keningnya dengan jari tangan. “Hampir semua menginginkan besok bergotong royong. Bagaimana menurutmu?” tanya Jauhari meminta pendapat Wijan yang duduk bersila di atas kursi.
“Selama ini kau sudah berbuat baik kepada mereka. Di saat seperti ini, mereka sangat ingin membantumu. Jadi, tak ada salahnya mengikuti saran mereka!”
“Bahkan guru-guru meminta untuk mengajak para murid ke ladang,” Jauhari menarik napas panjang. “Menurutku itu tidak perlu.” sambungnya.
“Sebenarnyavkalau membersihkan ladang, Mat Yusi sudah mengerjakannya. Aku melihatnya sendiri siang tadi saat menjemputnya di ladang,” Wijan menceritakan kondisi ladang saat ia bertemu dengan Mat Yusi.
Jauhari hampir tak percaya mendengar cerita Wijan. Dari situ ia merasa yakin ada sesuatu yang disembunyikan Mat Yusi darinya. Ia lantas memelankan suaranya.
“Sampai saat ini, aku masih belum percaya dengan pengakuan Mat Yusi. Aku yakin ada sesuatu yang dirahasiakannya!”
“Meski aku tidak mengenal baik, aku juga masih penasaran. Apa sebaiknya kita temui dia saja sekarang dan menanyakannya langsung?” usul Wijan mengajak Jauhari pergi ke ladang.
“Aku tadi sempat berpikir begitu. Lagi pula, dia sudah tidak punya gubuk. Kalau bisa, kita bujuk agar mau tidur di sini,” sahut Jauhari.
“Kalau begitu, apa lagi yang kau tunggu. Kita berangkat ke sana sekarang!” Wijan langsung berdiri.
“Sebentar. Aku akan meminta Putri membungkuskan makanan untuknya terlebih dulu. Aku khawatir dia sedang kelaparan.”
“Jika perlu, bawakan juga beberapa lembar pakaian. Pasti dia membutuhkannya saat ini.”
Jauhari setuju. “Menurutmu apa lagi yang diperlukan? Biar aku bawa sekalian.”
Wijan berpikir sebentar. “Peralatan mandi juga boleh.”
“Kalau begitu tunggu sebentar. Aku akan menyiapkan semuanya.”
Setelah beres, Jauhari dan Wijan langsung berangkat untuk menemui Mat Yusi.
***
Di ladang cengkeh milik Yudha, suara senter masih menyinari pepohonan cengkeh. Sapri berusaha sebisa mungkin untuk tidak menimbulkan gerakan yang bisa membuat seseorang di sana tidak curiga.
“Kenapa dia masih berdiri di sana?” bisik Sapri mulai merasa penat.
“Mungkin dia ingin memastikan ladang cengkeh benar-benar aman,” timpal Ikbal.
“Menurutmu berapa orang?” tanya Sapri penasaran.
__ADS_1
“Kalau dari cahaya senternya, menurutku hanya satu orang,” jawab Ikbal tidak yakin.
“Apakah ada seseorang yang membuntuti kita sewaktu datang ke tempat ini??” tanya Sapri sambil mengingat perjalanannya dari rumah hingga menuju ladang cengkeh milik Yudha.
“Entahlah. Kita tunggu saja sampai orang itu pergi. Baru kita lanjutkan pekerjaan kita,” sahut Ikbal.
“Aku justru cemas jika orang itu masuk ke dalam dan akhirnya mengetahui kita berada di sini,” timpal Sapri.
“Tenang saja. Tak perlu takut. Semakin kita tenang, maka kita bisa berpikir sehat.”
“Bagaimana bisa tenang. Apa kau tidak ingat apa yang diperbuat anak buah Yudha kepada Patra? Mereka tidak mengenal rasa kasihan.”
“Sssttt, jangan ribut. Kupikir kau sudah tahu resikonya dan siap menghadapi hal-hal seperti ini.”
Sapri terdiam. Tangannya mencari-cari parang yang tadi ia sandarkan di tiang pohon. Ia perhatikan lampu senter di depan sana seperti semakin mendekat.
“Orang itu sepertinya mendekat ke arah kita,” bisik Sapri merasa was-was.
“Aku tidak peduli. Jika orang itu mengetahui kita berada di sini dan mengancam jiwa kita, terpaksa aku akan membalasnya dengan parang milikmu,” ucap Sapri dengan tangan gemetar.
Ikbal terkejut mendengar ucapan Sapri. Ia cemas jika Sapri nekat mengambil tindakan yang tak seharusnya dilakukan.
“Jangan gegabah, Sapri. Biar aku saja yang memegang parang,” pinta Ikbal.
“Biar aku saja. Dengan begini aku merasa lebih aman,” Sapri beralasan.
“Kita belum tahu siapa orang itu. Jadi, jangan sembarangan.”
“Sssttt, pelankan sedikit suaramu. Dari tadi dia hanya maju beberapa langkah saja dan hanya diam di situ.”
“Semoga orang itu segera pergi.”
Harapan Sapri ternyata salah. Orang itu justru maju beberapa langkah lagi dan berhenti untuk mengarahkan senternya ke beberapa tempat.
“Apa kamu masih bisa tenang sekarang?” tanya Sapri.
Ikbal dengan cepat membungkam mulut Sapri yang sejak tadi terus berbicara. “Coba perhatikan orang itu.”
Sapri penasaran dengan ucapan Ikbal. Ia pun lantas menajamkan penglihatannya. “Maksudmu apa, Bal? Aku tidak menemukan apa pun.”
“Tunggu..! Nah, itu. Coba perhatikan. Aku seperti mengenalnya,” ujar Ikbal saat orang itu menggerakkan senternya ke sana kemari. Hanya dalam hitungan sebentar, cahaya senter itu sempat membias ke wajah orang itu.
Sapri memicingkan matanya. Dahinya berkerut. Ia masih penasaran dan menunggu sampai saatnya tiba.
“Sepertinya Sidik. Aku yakin itu dia,’ ucap Sapri. “Kenapa dia datang kemari?”
“Sidikkk..!” panggil Ikbal dengan suara nyaring.
__ADS_1
Lampu senter di depan sana lantas menyorot ke asal suara. Orang itu juga memberi tanda dengan mengarahkan senter ke wajahnya agar terlihat.
“Benar. Itu Sidik!” ucap Ikbal langsung bergegas bangun diikuti oleh Sapri yang masih memegang parang.
“Kalian di mana?” panggil orang itu yang memang ternyata adalah Sidik.
Ikbal lantas menyalakan lampu teplok dan mengangkatnya ke atas. “Kami di sini, Dik!” sahut Ikbal melambaikan tangan.
Melihat cahaya lampu templok, Sidik lantas menghampir mereka. “Dari tadi aku mencari kalian. Kupikir tidak jadi,” ucapnya.
Sapri hanya diam dan tidak menyambut kedatangan temannya itu. “Kenapa datang kemari? Mau melanjutkan perkelahian sore tadi?” tanya Sapri dengan nada membentak.
Ikbal tak menunggu lama, ia langsung menenangkan Sapri dan mengambil parang yang masih digenggamnya. “Tenang dulu. Kita bisa menanyakan dengan cara baik-baik. Bagaimana pun dia masih satu tim dengan kita.”
“Siapa bilang? Aku akan memecatnya!” ucap Sapri memandangi wajah Sidik.
“Sapri, diam dulu..!” Ikbal tidak sabar dan langsung membentak Sapri agar diam.
“Kita harusnya merasa senang karena yang datang itu Sidik, bukan anak buah Yudha. Apa kau lupa dengan ketakutanmu tadi, saat menduga yang datang itu anak buah Yudha?”
Sapri terdiam. Ucapan Ikbal ada benarnya. Namun, ia masih merasa gengsi terhadap Sidik. “Siapa pun yang datang aku tidak takut. Tadi, aku sudah siap melawannya, bukan?” tanya Sapri tak ingin dipermalukan.
“Aku tahu itu. Bahkan, aku mengandalkanmu tadi. Sekarang, biar aku bicara dengan Sidik dulu,” pinta Ikbal mengajak teman-temannya agar duduk dan tenang. Bagaimana pun, mereka tetap harus berlindung di dalam gubuk, jangan sampai ada orang yang mengetahui keberadaan mereka.
“Aku bukan tidak mau membantu kalian. Buktinya aku datang kemari sekarang,” ucap Sidik menjelaskan kedatangannya.
“Dari mana kau tahu kami ada di sini?” selidik Sapri tidak sabar.
“Aku yang memberitahunya tadi saat kita di perjalanan menuju tempat ini. Kau ingat saat aku beralasan ingin mengambil parang yang tertinggal? Saat kamu menunggu di jalan, sebenarnya aku sedang mendatangi Sidik untuk meminjam parang.” Ikbal menjelaskan kenapa Sidik bisa tahu dan datang ke tempat ini.
“Jadi, semua ini sandiwara kalian saja?” tuduh Sapri dengan nada tinggi.
“Tidak ada sandiwara, Sapri.” tegas Ikbal. “Aku hanya bilang jika dia tetap ingin membantu, silakan saja datang malam nanti,” sambungnya menjelaskan.
“Sebaiknya kau pulang saja. Aku dan Ikbal bisa mengerjakan sendiri tanpa bantuanmu,” tuding Sapri kepada Ikbal.
“Sudahlah, Sapri. Pekerjaan kita akan cepat selesai jika dilakukan bertiga. Kita harus segera menjualnya besok pagi, bukan?”
Sapri tampak masih tidak setuju melibatkan Sidik. Namun, ia sadar jika berdebat terus, pekerjaan memetik bunga cengkeh akan terbengkalai.
“Terserah kamu saja, Bal,” ucap Sapri langsung memetik bunga cengkeh tanpa memedulikan Sidik dan Ikbal.
“Dia datang dengan niat baik untuk mendukung rencanamu. Harusnya kita bisa bekerjasama.” Ikbal memegang pundak Sapri meminta persetujuan.
“Sudah kubilang, terserah kamu saja. Kita sudah membuang-buang waktu sejak tadi. Bunga cengkeh ini harus segera kita petik,” sahut Sapri.
“Satu sakit semua sakit. Demi rencana kita membantu Pak Jauhari dan membalas kejahatan Yudha. Mari kita mulai bekerja sekarang!” ucap Ikbal bersemangat memberi komando kepada dua temannya.
__ADS_1
Sapri lalu menarik lengan Ikbal dan mengajaknya keluar dari gubuk. “Dengan satu syarat, kau tetap menjadi penyerang. Baru aku akan menerima dia ke dalam tim kita kembali. Setuju?”
Ikbal tersenyum. “Setuju dan kita lihat saja nanti,” jawab Ikbal tak ingin membahas soal keinginan Sapri. Ia segera masuk ke dalam gubuk dan meminta agar Sidik membantunya memetik bunga cengkeh.