Ladang Api

Ladang Api
Kehilangan dan Pertemuan


__ADS_3

SETELAH pulang dari pasar, Sawitri meminta ijin untuk pulang ke rumahnya terlebih dahulu. Ia akan menyusul ke ladang Jauhari setelah membereskan beberapa pekerjaan di rumahnya. Setelah tiba, ia langsung segera pergi mandi. Keringat di badannya sudah terasa gatal.


Air dari kamar mandi masih terus mengalir melewati lubang kecil yang menuju parit di belakang rumah. Sawitri merasakan tubuhnya segar kembali usai mendapat siraman air hangat. Jika harus ada yang paling disukainya, maka itu adalah mandi.


Dalam bekapan air yang mulai terasa dingin, Sawitri teringat telah melupakan sesuatu, ia bergegas untuk menyelesaikan mandinya dan menuju pekarangan samping rumah melalui pintu dapur.


Dulu Sawitri tak pernah memikirkan manfaat pohon cengkeh di pekarangan rumahnya itu. Ia berpikir akan memberikan kepada siapa saja yang mau memanennya. Tapi waktu memberikan pilihan lain.


Meski hanya ada lima pohon, hasil dari penjualan bunga cengkeh cukup memenuhi kebutuhan yang tak bisa mengandalkan gaji sebagai guru dan tunjangan jabatannya di sekolah.


Kala senggang, Sawitri memanen sendiri cengkeh-cengkeh itu. Banyak pelajaran berharga yang juga dipanen Sawitri selama tinggal di lingkungan transmigran.


Hidup bukan perkara seberapa luas tanah yang dimiliki, tapi bagaimana caranya bertahan ketika berada di daerah asing, jauh dari tanah kelahiran, menjauhi kenangan.


Walau ia tahu bukan seorang transmigran, jauh dalam lubuk hatinya, ia mengalami hal serupa. Rasanya seperti di kegelapan malam, terdampar di pulau asing, saat pertama kali membuka mata keesokan harinya, matahari pagi menampar mata untuk menyusupkan kesadaran untuk selalu bersiap.


Sambil berjingkat Sawitri meraih tampah berisi cengkeh yang mulai kering. Ia bawa ke dalam rumah dan mengumpulkannya menjadi satu dengan sekarung cengkeh yang aromanya mengharumkan seisi ruangan.


Setelah pekerjaannya selesai, ia duduk menghadap meja kerja dan melanjutkan menulis surat yang akan dikirimkan kepada orangtuanya.


Aku punya cerita lagi, Bu. Menyambung ceritaku dalam surat terdahulu, tentang bahaya yang mengintai desa tempat yang kudiami perlahan mulai terlihat. Ada orang yang ingin menguasai perladangan cengkeh. 


Harga cengkeh kini mulai tak stabil, banyak warga mulai panik dengan keadaan tersebut. Tapi ibu tak perlu cemas, bahaya itu tak akan menyakiti anakmu. 


Sebaik mungkin aku akan berupaya agar sekolah tetap berjalan dengan baik. Sampaikan salamku untuk bapak dan adik-adik. 


Sawitri melipat kertas surat dan memasukkannya ke dalam amplop. Besok adalah hari Senin. Pak Pos akan datang ke desa untuk mengantar dan mengambil surat di dalam kotak pos yang berada persis di depan sekolah.


Selama ini Sawitri selalu mengirimkan surat kepada orangtuanya di Bali. Ia bahkan pernah meminta agar orangtuanya tak perlu menyisipkan uang disela-sela surat balasan.


Sawitri tahu uang itu sangat dibutuhkan oleh orangtuanya di sana.


Meski dari keluarga tak mampu, Sawitri tak kuasa menahan tangis ketika mengingat bagaimana kedua orangtuanya membanting tulang berjualan tahu dan tempe di pasar agar anak-anaknya tetap bisa sekolah.


Sawitri tak ingin larut dalam kenangan. Perutnya pun sudah terasa lapar. Baru saja Sawitri ingin bersiap-siap pergi memasak, terdengar gaduh dari depan pintu rumahnya. Berkali-kali suara ketukan pintu terdengar. Sawitri bergegas merapikan pakaian dan membukakan pintu.


"Maaf mengganggu. Apakah tadi ibu melihat Patra atau singgah kemari?" ucap Wijan memberondong Sawitri dengan beberapa pertanyaan.

__ADS_1


"Bukankah tadi bersama kalian saat di pasar?” balas Sawitri.


Setelah mendapat penjelasan panjang, akhirnya Sawitri urung menuntaskan laparnya dan ikut bersama Wijan ke rumah Jauhari kembali.


Sesampainya di sana, Putri dan Zian menjelaskan saat Patra memisahkan diri. Mereka sempat mengikuti ketika Patra singgah di toko boneka. Namun, setelah itu Patra berjalan lagi seperti ingin menghindari mereka.


“Mungkin dia singgah di rumah temannya,” jawab Jauhari meredakan kepanikan Wijan dan istrinya yang masih trauma dengan kejadian beberapa waktu lalu.


“Semoga saja dia baik-baik saja,” harap Wijan.


“Kita tunggu saja sampai sore nanti. Sebaiknya kita bersiap-siap ke ladang, warga desa pasti sudah mulai berdatangan. Siapa tahu Patra ada di sana sekarang?” ucap Jauhari meminta Wijan agar menyiapkan semua keperluan.


Meski masih ada yang mengganjal, mereka akhirnya mengikuti saran Jauhari dan bersiap-siap berangkat ke ladang untuk bersama-sama membuat gudang penyimpanan cengkeh.


***


Sapri CS masih berada di pasar Pelaihari. Sejak tadi mereka tampak sibuk memilih seragam sepakbola yang akan mereka kenakan saat pertandingan nanti. Sementara mereka memilih seragam, Sapri seperti mengenal sosok seseorang yang sedang berjualan di emperan pasar.


Penglihatan Sapri tidak salah, orang itu adalah Sabran.


“Bagaimana bayarnya nanti?” tanya Ikbal khawatir kalau Sapri pergi.


“Aku cuma pergi sebentar. Kau perhatikan orang itu,” tunjuk Sapri.


Ikbal pun ikut memerhatikan orang yang di seberang sana. “Itu Sabran!” pekik Ikbal.


“Aku ke sana dulu!” Sapri segera meninggalkan teman-temannya untuk mendatangi Sabran yang belum menyadari kehadirannya.


“Berapa embernya, Pak?” tanya Sapri di antara orang-orang yang sibuk memilik ember jualan Sabran.


“Murah, cuma lima ribu rupiah. Anti pecah asal jangan dibanting, garansi selama seminggu,” jawab Sabran dan langsung terkejut setelah menyadari siapa yang baru saja menanyakan harga ember.


“Sapri?”


Si pemilik nama hanya tersenyum. Sabran lantas mendadak gugup dan langsung meminta Sapri agar mendekat.


“Kalian mau beli apa jauh-jauh datang ke pasar Pelaihari?” tanya Sabran saat Sapri sudah berada di sampingnya.

__ADS_1


“Mau beli seragam bola. Teman-temanku ada di sana. Kok sekarang jualan ember? Warga desa mencari bapak terus beberapa hari ini,” sahut Sapri menceritakan kalau Sabran hilang bagai ditelan bumi.


“Aku sudah muak dengan kekejaman Yudha. Jadi, mending meninggalkan desa dan berdagang ember sekarang. Lebih tenang rasanya!”


“Lantas bagaimana dengan Pak Jauhari dan Mat Yusi yang sampai sekarang masih mencarimu?”


“Sebaiknya mereka tidak perlu tahu. Aku minta tolong jangan bilang kalau kau bertemu denganku di sini,” pinta Sabran sambil menyisipkan uang ke kantong Sapri.


Menyadari itu, Sapri lantas memeriksa isi kantongnya. “Kami bersepuluh, mana cukup buat beli bakso kalau segini!” ucap Sapri memperlihatkan uang pemberian Sabran sambil tersenyum licik.


“Emberku baru laku tiga, Sapri. Jangan memerasku!”


“Ya, sudah.Simpan saja uangnya,” ucap Sapri mengembalikan uang pemberian Sabran.


“Kamu simpan saja!” paksa Sabran.


“Tidak cukup,” jawab Sapri tetap menolak.


Sabran mendengus kesal. “Nih, aku tambah,” ucap Sabran mengambil lembaran uang di dalam kantong celananya.


“Nah, kalau ini lumayan meski masih kurang kalau buat beli bakso,” sindir Sapri merasa pemberian Sabran masih belum cukup.


“Kalau begini?” Sabran mengulurkan lagi beberapa lembar uang.


“Sudah cukup. Tenang saja, aku tidak akan cerita kepada Pak Jauhari dan Mat Yusi kalau bertemu denganmu di sini,” ucap Sapri sebagai balas ganti dari uang yang diterimanya. “Jadi, uang ini tetap halal dan ikhlas, kan?” tanya Sapri.


“Terserah kau saja. Ingat, jangan hanya Jauhari dan Mat Yusi, tapi warga desa jangan ada yang tahu kalau aku berjualan di sini.”


“Mmm, kalau itu bisa kujamin. Masalahnya, bisa saja di antara mereka ada yang pergi ke pasar ini. Jaraknya juga tidak terlalu jauh. Jadi, kau sendiri yang harus berhati-hati kalau tidak ingin bertemu mereka,” saran Sapri.


“Sebaiknya juga begitu. Kalau sampai ada yang tahu, uangku bisa habis hanya untuk jasa tutup mulut seperti sekarang ini,” timpal Sabran seperti tidak rela.


“Oh, begitu. Jadi, tidak ikhlas. Nih, kukembalikan semua,” Sapri pura-pura merajuk.


“Ehhh, jangan. Maksudku kalau yang ini sudah terlanjur. Aku ihklas memberikannya untukmu. Sana ajak teman-temanmu makan bakso!” sahut Sabran salah tingkah.


“Kalau begitu, selamat berjualan. Semoga embernya laris manis,” jawab Sapri meninggalkan Sabran yang menggaruk kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2