Ladang Api

Ladang Api
Mencari Patra


__ADS_3

SATU-PERSATU warga berdatangan ke ladang milik Jauhari. Kedatangan mereka tidak hanya dalam keadaan tangan kosong.


Masing-masing ada yang membawa kayu, seng bekas, papan dan segala macam bahan lainnya sesuai keperluan untuk mendirikan gudang.


Bahkan, Jauhari sendiri juga telah memesan semen dan pasir untuk membuat lantai gudang agar aman saat dijadikan penyimpan cengkeh.


Rencananya, mereka akan mendirikan gudang di sebagian tanah yang masih kosong tanpa harus mengorbankan tanaman sayuran.


Siang hari, di saat matahari mulai terasa panas, rombongan Sapri CS terlihat baru tiba di desa. Setelah beristirahat di rumah Ikbal dan menyimpan semua barang yang dibeli, mereka langsung bersama-sama pergi ke ladang Jauhari untuk ikut mendirikan gudang.


Sepanjang perjalanan, mereka masih melihat beberapa orang tampak sibuk mendorong gerobak berisi kayu. Sampai akhirnya Wijan menyinggahi Sapri CS.


“Kalian melihat Patra?”


“Sejak tadi kami tidak bertemu, Patra. Memangnya ada apa?” sahut Sapri.


Wijan pun lantas menceritakan kalau Patra belum pulang sejak dari pasar. Ia sengaja meminjam motor Jauhari untuk membeli paku sambil mencari keberadaan Patra.


“Kalau kalian bertemu, ajak dia ke ladang langsung,” pinta Wijan segera pergi ke pasar untuk membeli paku dan beberapa kebutuhan lainnya.


Cerita tentang Patra membuat Sapri mengurungkan niat untuk langsung pergi ke ladang. Kepada teman-temannya, ia bermaksud ingin membantu Wijan untuk mencari Patra.


“Kita cari kemana?” sahut Sidik.


“Mulai dari pasar dulu, kita tanyakan kepada orang-orang di sana,” saran Sapri.


“Jadi kita tidak membantu mendirikan gudang?” sahut salah seorang dari mereka.


“Aku yakin banyak orang-orang di ladang saat ini. Bahkan, orangtua kalian juga sudah di sana. Anggap saja kita berbagi tugas mencari Patra,” sahut Sapri.


“Kalau begitu, kita cari Patra sampai dapat!” ucap Ikbal segera menaiki sepedanya menuju ke pasar diikuti oleh teman-temannya.


***


Di rumahnya, Yudha sedang bersiap-siap pergi memeriksa gudang cengkehnya. Beberapa hari lagi, ia sudah harus melakukan pengiriman cengkeh ke Surabaya dan ingin memastikan cengkeh yang tersimpan di gudang sudah cukup memenuhi pesananan.


“Bawa anak ini ke gudang. Kita sekap di sana saja. Mat Yusi pasti akan datang kemari untuk mencarinya,” perintah Yudha untuk membawa Patra yang sudah dalam kondisi tangan terikat dan mulut tersumpal kain ke gudang cengkeh.


“Mereka saat ini sedang berkumpul di ladang. Sepertinya juga ingin mendirikan gudang,” sahut anak buahnya.


“Jauhari pasti sedang merencanakan sesuatu. Namun, tenang saja. Setelah ini aku akan membuat perhitungan dengan mereka,” sahut Yudha.


“Bagaimana dengan Dul Sanif kalau sekarang justru membantu Jauhari?” tanya anak buahnya lagi.


“Aku sudah memiliki rencana agar mereka tidak berani melawan kita. Tenang saja. Simpan anak ini di tempat yang aman,” jawab Yudha sambil tersenyum licik. “Satu lagi tugas kalian, culik anak Jauhari!”


“Sudah ada orang yang bertugas mengawasi anak Jauhari. Aku yakin hari ini juga salah satu atau bahkan kedua-duanya bisa kita culik,” sahut anak buahnya.

__ADS_1


Yudha tertawa puas. “Siapa suruh melawanku. Tak lama lagi, mereka semua akan mengemis dan meminta ampun kepadaku,” ucap Jauhari melanjutkan tawanya dengan tangan mengepal.


***


Siang hari, pasar di desa sudah mulai tutup. Hanya toko bangunan, bengkel dan warung kopi yang masih bertahan sampai sore hari. Wijan bertemu kembali dengan rombongan Sapri saat pulang dari membeli paku.


“Kalian mau pergi ke mana?” tanya Wijan menghampiri.


“Mencari Patra!” jawab Sapri singkat.


“Aku sarankan sebaiknya kalian menyebar. Kalau seperti ini, waktu kalian akan habis. Aku juga akan mencari Patra setelah memberikan barang-barang ini ke ladang,” sahut Wijan menunjukkan beberapa bungkusan plastik di tangannya.


“Menyebar ke mana?” tanya Ikbal.


“Ke semua tempat. Patra sering ke Bukit Sangyang, atau kalian juga bisa pergi ke pantai. Terserah kalian saja,” sahut Wijan terburu-buru dan langsung meninggalkan pergi.


Sapri bingung ketika ingin mengikuti saran bapaknya Patra. “Bagaimana menurut kalian?”


“Sebaiknya kita ke pasar dulu. Setelah itu baru kita menyebar di beberapa tempat,” saran Ikbal.


“Kalau begitu, aku bersama Ikbal nanti akan ke Bukit Sangyang. Sisanya terserah kalian!” ucap Sapri.


Setelah itu, mereka pun pergi ke pasar desa. Sapri menanyakan kepada semua orang yang ia temui saat di pasar. Namun, tak seorang pun tak melihat Patra sejak tadi. Mereka lantas berkeliling pasar, mencoba menyusuri setiap jalan kecil di antara toko-toko yang sudah tutup.


“Sepertinya kita harus mencari di tempat lain!” ujar Sidik menyarankan.


“Kalau begitu aku ikut kalian ke Bukit Sangyang,” timpak Sidik tak ingin berpisah dengan Ikbal.


“Kami ke mana?” tanya yang lain.


“Terserah kalian saja. Menurutku tidak usah ke pantai, terlalu jauh. Aku yakin Patra ada di dekat-dekat sini saja,” ucap Sapri.


“Kami akan coba mendatangi rumah teman-teman yang lain. Barangkali dia pergi bermain ke sana,” sahut salah seorang.


“Aku setuju. Kita berangkat sekarang saja,” jawab Ikbal tak ingin berlama-lama diskusi.


“Kita pakai jalan pintas saja ke Bukit Sangyang,” ucap Sapri mengajak Ikbal dan Sidik agar segera mengikutinya.


Waktu merambat pelan. Sembari mengayuh sepeda yang melintasi pepohonan cengkeh, Sapri berusaha mengingat-ingat jalan menuju ke Bukit Sangyang.


“Mending tadi pakai jalan utama saja,” celetuk Sidik.


“Tenang saja. Kalau nyasar, patokan kita adalah bukit di depan sana,” sahut Sapri mengikuti jalan setapak yang meliuk-liuk.


“Bukan masalah nyasarnya. Jalan pintas itu harusnya bisa sampai ke tujuan lebih cepat,” Ikbal berkomentar.


“Anggap saja kita sedang jalan-jalan,” balas Sapri dengan santainya.

__ADS_1


“Semoga saja penat kakiku terbayar dengan menemukan Patra di Bukit Sangyang nanti!” ucap Sidik.


“Siapa suruh ikut dengan kami!” kata Sapri ketus.


Sidik tidak membalas ucapan Sapri. Ia terus saja mengayuh sepedanya dengan cepat untuk mendahului Sapri dan Ikbal. Tak lama kemudian ia lantas berhenti memandangi bangunan di depan sana.


“Bukankah itu gudang cengkeh Yudha?” tanya Sidik.


“Nah, berarti aku benar. Tinggal sedikit lagi kita akan menemui jalan utama ke Bukit Sangyang,” ujar Sapri menghentikan sepedanya untuk sekadar beristirahat sebentar.


Setelah itu, mereka pun melanjutkan perjalanan melewati gudang milik Yudha. Namun, sebelum tiba ke sana, mereka terpaksa berhenti dan bersembunyi di balik semak-semak ketika melihat rombongan Yudha datang.


“Kenapa orang itu?” tanya Sidik menunjuk seseorang yang berjalan dengan tangan terikat dan ditarik oleh salah seorang di depannya.


Sapri tak menyahut. Ia lantas meninggalkan sepedanya untuk menyusup di antara semak-semak agar bisa lebih dekat ke gudang.


“Cepat kemari!” ucap Sapri pelan dengan memberikan aba-aba dengan telapak tangannya.


Ikbal dan Sidik lantas mengikuti Sapri. “Apa yang kau lihat?” tanya Ikbal.


“Bukankah itu Patra?”


“Sepertinya itu memang Patra!” ujar Ikbal memicingkan mata.


“Kenapa Patra bersama mereka?” tanya Sidik.


“Itu yang harus kita cari tahu!” Sapri menolehkan wajahnya mencari tempat agar bisa lebih mendekat ke gudang.


“Hei, mau ke mana kau?” tegur Ikbal.


“Sstt…aku ingin mencari tahu apa yang terjadi. Kalau kalian takut, tunggu saja di sini,” sahut Sapri dan bergegas pergi meninggalkan Ikbal dan Sidik.


“Aku ikut!” tukas Ikbal.


Sidik memperhatikan sekelilingnya. “Aku juga ikut,” sambungnya dengan berjalan membungkukkan badan.


Sapri akhirnya berhasil sampai di belakang gudang. Sambil terus mengendap-endap, ia mencari lubang untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam sana. Aksi Sapri itu diikuti oleh kedua orang temannya.


“Ikat anak itu di belakang sana agar tidak melarikan diri,” ucap Yudha dari dalam gudang dengan suara nyaring.


Suara itu bisa terdengar oleh Sapri yang masih berada di luar dengan menempelkan telinga di dinding yang hanya terbuat dari seng.


Saat Ikbal dan Sidik mengikuti cara Sapri, berusaha mendengarkan pembicaraan orang-orang yang berada di dalam gudang, mereka dikejutkan oleh suara seseorang yang menghardik mereka.


“Siapa kalian, kenapa di situ?” teriak seseorang langsung mengejar Sapri yang langsung berlari.


Kegaduhan di belakang gudang menyita perhatian anak buah Yudha lainnya. Setelah mengetahui penyebabnya, beramai-ramai mereka mengejar Sapri, Ikbal dan Sidik yang berlari menyelamatkan diri.

__ADS_1


__ADS_2