Ladang Api

Ladang Api
Sapri Berhasil, Yudha Emosi


__ADS_3

KEBAKARAN di ladang cengkeh Yudha terlambat diketahui. Mula-mula, warga desa melihat asap membubung tinggi dari kejauhan sana saat ingin melaksanakan sholat subuh. Tak ada yang menduga jika kebakaran itu terjadi di wilayah mereka.


Saat api mulai membesar, barulah mereka sadar bahwa jarak api itu tak jauh dari ladang cengkeh milik warga. Mereka pun berbondong-bondong dan memberitahu satu sama lain, untuk bersama-sama mendatangi ladang cengkeh masing-masing.


Sapri bersama teman-temannya baru saja selesai merapikan karung cengkeh terakhir di belakang sekolahnya. Keringat mereka tampak bercucuran. Dari tempat mereka berdiri, kebakaran yang mereka ciptakan terlihat sangat menyenangkan.


“Tak lama lagi orang-orang pasti akan sibuk mencari sumber api itu,” ungkap Ikbal berkacang pinggang.


“Semoga sekolah diliburkan hari ini,” harap Sapri mulai merasakan kelelahan. Sejak kemarin, ia hanya tidur beberapa jam sama. Itu pun sudah cukup melelahkan. Belum lagi sejak dini hari tadi bolak-balik mendorong gerobak.


“Sekarang apa rencana kita?” tanya Sidik.


“Sebaiknya kita pulang dan bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa,” saran Ikbal.


Mereka akhirnya sepakat untuk pulang dan akan bertemu lagi di sekolah.


“Aku yakin, jika sekolah tetap masuk. Kita semua akan jadi sapi di kelas,” ucap Sapri membuat mereka tertawa.


“Apa sebaiknya kita ganti saja lonceng sekolah dengan yang baru dan lebih bagus. Kita bisa mencarinya di pasar Pelaihari,” saran Ikbal.


“Aku setuju. Sekaligus kita jalan-jalan merayakan kemenangan kita membalas Yudha,” sahut Sapri.


“Sambil melihat gadis-gadis Pelaihari, siapa tahu ada yang bisa dibawa pulang,” ucap Sidik yang disambut tawa mereka.


Setelah semua bersiap-siap untuk pulang. Sapri pun mendekati Ikbal dan mengajaknya berjalan menjauhi teman-teman lainnya. “Aku yakin semua ini rencanamu.  Terimakasih, Bal!” ucap Sapri mengulurkan tangan mengajak bersalaman.


“Satu sakit, semua sakit,” jawab Ikbal menyambut uluran tangan Sapri. “Aku punya permintaan. Kembalikan Sidik ke posisi penyerang. Aku tetap di posisi pertahanan gawang saja.”


Sapri menarik napas panjang. “Aku hanya berterimakasih, tapi tidak sedang mengajakmu bernegoisasi. Kamu tetap menjadi penyerang. Itu sudah menjadi keputusanku.”


***

__ADS_1


Yudha terkejut dari atas ranjang tidur ketika mendengar pintunya digedor sangat keras. Ia mendengar seseorang berteriak menyebutkan ladang cengkehnya terbakar. Dengan wajah kusam, Yudha langsung bangun untuk membuka pintu.


“Ladang siapa yang terbakar?” ucap Yudha membentak.


“Ladang cengkeh kita, Pak!” sahut anak buahnya itu ketakutan.


“Bicara yang jelas. Ladang kita yang di mana? Kapan terbakarnya?” bentak Yudha lagi.


“Ladang yang diujung setelah melewati Desa Waduk. Perkiraan subuh tadi terbakarnya.”


“Siapa saja yang sudah pergi memeriksa ke sana?” tanya Yudha lagi.


“Belum ada, Pak. Semua masih menunggu perintah.”


Kepala Yudha mendadak pusing. Emosinya meluap-luap. “Dalam situasi seperti ini masih menunggu perintah. Dasar goblok kalian semua!” Yudha lantas pergi keluar rumah. Semua anak buahnya terlihat sedang berkumpul.


“Plakkk...!” Yudha menampar salah seorang pemimpin di antara mereka.


“Semua pergi sekarang. Kumpulkan informasi. Jangan datang lagi kemari jika kalian tak mendapatkan apa-apa. Mana Dul Sanif?” teriak Yudha sangat marah.


Setelah memerintahkan anak buahnya pergi memeriksa ladang, Yudha langsung menuju kamar Dul Sanif.


Ia tendang pintu kamar itu berulangkali. “Bangun kamu, Dul Sanif. Dasar bandot tua!” caci Yudha tak sabar.


Saat pintu terbuka, Yudha langsung mencecar Dul Sanif. “Cepat bersiap-siap. Ada yang membakar ladang cengkehku. Ini pasti ulah Jauhari atau Mat Yusi!”


Dul Sanif mengucek matanya. “Tahu sendiri, kan. Bagaimana rasanya kalau ladang cengkehmu terbakar?” Dul Sanif langsung mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.


Yudha tak senang mendengar jawaban seperti itu. Ia lantas pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap mengajak Dul Sanif melihat ladang cengkehnya yang terbakar.


Emosinya langsung naik ketika melihat Dul Sanif justru bersantai membuat segelas kopi. “Tidak ada kopi pagi ini. Kita pergi sekarang!” ajak Yudha tidak sabar.

__ADS_1


“Ladang sudah terbakar. Anak buahmu pasti juga sudah kau perintahkan pergi ke sana. Lantas, untuk apa kamu repot-repot ke sana. Tunggu saja informasinya di sini?”


“Bagaimana pun kita harus melihat kondisi ladang itu!” paksa Yudha.


“Untuk apa? Toh akan kamu jual juga semuanya! Lebih baik kita membicarakan rencana soal lahan pertambangan sambil menunggu laporan dari anak buahmu.”


Yudha kesal melihat Dul Sanif tetap dengan pendiriannya tak ingin pergi ke ladang. “Tidak ada bisnis pertambangan sebelum aku tahu siapa yang berani membakar ladang cengkehku.”


“Apa untungnya tahu atau tidak tahu siapa yang membakar ladang cengkehmu?” sahut Dul Sanif dengan entengnya.


“Itu artinya mereka cari masalah denganku. Kalau begini caranya, aku tidak akan pergi meninggalkan tempat ini,” ancam Yudha.


“Jangan gegabah mengambil keputusan. Sepertinya kamu belum rela sepenuhnya meninggalkan tempat ini,” tuding Dul Sanif.


“Itu urusanku. Namun, kejadian hari ini tidak akan aku biarkan. Ini pasti ulah Jauhari dan Mat Yusi. Sudah kubilang, Mat Yusi tak mungkin meninggalkan tempat ini begitu saja. Ia pasti ingin membalas dendam atas kebakaran ladang cengkeh yang ia rawat selama ini.”


“Kau menuduh Jauhari dan Mat Yusi. Padahal, belum ada bukti dan belum menerima laporan dari anak buahmu.”


“Siapa lagi yang berani melakukannya kalau bukan mereka berdua? Selama ini hanya mereka yang berusaha menghalang-halangiku!”


“Terserah kalau begitu. Aku tidak ikut campur dengan masalah ini. Sekadar kau tahu, Mat Yusi sudah setuju dengan rencanamu. Ia bahkan sudah mempersiapkan dirinya untuk meninggalkan tempat ini.”


“Mempersiapkan diri dengan membakar ladang cengkehku, bukan? Agar dia puas bisa membalaskan dendam Jauhari.”


“Jangan terburu-buru menuduh. Kalau caramu seperti itu, pantas sering terjadi keributan di tempat ini,” tuding Dul Sanif. “Aku membayangkan jika sikapmu masih juga sama saat berbisnis pertambangan nanti, aku dan Mat Yusi pasti akan repot setiap hari.”


“Aku tidak memintamu menilai setiap tindakanku. Apa pun yang terjadi dengan kalian, itu sudah menjadi resiko,” sahut Yudha geram karena Dul Sanif selalu berusaha menyudutkannya.


“Kalau begitu, selesaikan saja urusanmu sendiri di tempat ini. Aku mau melanjutkan tidurku lagi,” ucap Dul Sanif pergi meninggalkan Yudha yang merasa kesal karena tak mendapatkan dukungan.


Dari dalam kamar, Dul Sanif mendengar suara gelas yang pecah, meja dan kursi yang dibanting. Tak beberapa lama kemudian, Dul Sanif mengintip dari balik pintu. Ia melihat Yudha sudah tidak ada. Ia pun keluar dari kamar dan pergi meninggalkan rumah Yudha untuk mendatangi Mat Yusi.

__ADS_1


“Semakin rumit saja permasalahan di tempat ini. Kalau begini, aku harus menyelesaikan dengan caraku sendiri,” bathin Dul Sanif mulai kesal dengan perilaku Yudha. Ia berharap, Mat Yusi tidak terlihat dalam kebakaran cengkeh di ladang Yudha.


__ADS_2