
AKU menuliskan catatan ini dalam suasana ketidakpastian. Ada tiga jenis ketidakpastian yang sering kualami. Pertama, adalah saat kesepian. Itu adalah saat aku tidak cukup yakin menceritakan kisah hidupku kepada orang lain.
Kedua, ketika rindu datang. Tak banyak orang yang pantas kurindukan, tapi mereka selalu hadir ketika aku membayangkannya. Terakhir, saat penyesalan datang. Aku tak mungkin bisa melupakan semua yang telah kualami, dan itu sangat menyakitkan.
Saat itu aku dibawa ke ruang sipir, di dalam sana ada tiga orang polisi sudah menunggu. Rupanya mereka belum puas menanyaiku. Padahal saat pertama kali tiba, polisi-polisi itu sudah menembakku dengan banyak pertanyaan.
Aku memang bersalah. Namun sungguh sial, setiap tuduhan yang tidak kulakukan pun harus kuakui sebagai kebenaran. Jika tidak mengiyakan, akibatnya meninggalkan jejak luka pada punggung dan tubuhku yang lain.
Bagian punggungku sebelah kanan tulangnya patah. Mereka tidak saja ringan tangan dengan menghadiahkan tinjunya. Pernah sebuah kursi kayu mereka angkat tinggi-tinggi lalu menghantamkannya ke pundakku.
Aku tidak saja merasakan sakit, tidak saja sedang mengerang tapi juga pingsan. Saat siuman, matahari entah sedang berada di mana, jam sedang menunjukkan pukul berapa, aku tak tahu. Hal yang bisa aku ingat, saat siuman, wajahku ditampar dengan seember air pesing.
Aku divonis hukuman penjara 15 tahun. Suara ketokan palu hakim masih mengiang hingga sekarang. Saat palu hakim selesai diketok, dua orang petugas persidangan mengapit kedua lenganku.
Aku tahu, ada yang bersedih hari itu, ada pula yang berbahagia hari itu. Orang-orang pasti berbahagia karena polisi berhasil menangkapku tanpa perlawanan yang berarti.
Aku pernah bergabung dengan komplotan rampok pimpinan Dul Sanif. Ia seorang jawara silat yang memiliki ilmu kesaktian. Aku datang kepadanya karena merasa terhina oleh seorang perempuan.
Namanya Halimah. Aku menginginkannya lebih dari sekadar berahi atas kecantikan paras Halimah. Aku mencintainya untuk sebuah hubungan yang serius. Namun, Halimah selalu menolak karena tak ingin hidup bahkan mati dalam kemiskinan.
Setelah Halimah menolakku berkali-kali, ia kemudian menerima lamaran seorang lelaki tua yang telah memiliki dua istri. Aku sempat protes dengannya, tapi Halimah tak peduli dengan itu. Baginya, hidup bersama lelaki kaya itu lebih penting meskipun hanya sebagai istri muda.
Aku kecewa luar biasa. Sedih tak tertanggungkan. Aku muak dengan hidupku yang miskin. Pada hari pernikahan Halimah, aku pergi begitu saja meninggalkan rumah untuk selamanya. Aku sendiri tak sempat mengetahui siapa lelaki yang merebut Halimah dariku.
__ADS_1
Orang-orang boleh menganggapku sebagai lelaki yang cengeng. Namun, aku tidak seperti yang mereka bayangkan.
Kelak, aku akan pulang dengan segala kekayaan seperti yang Halimah inginkan. Aku ingin membuatnya menyesal karena telah menolakku. Sampai akhirnya aku bertemu dengan Dul Sanif.
Di hadapan Dul Sanif kuceritakan maksud kedatanganku. Dul Sanif tertawa keras dan akhirnya menerimaku sebagai anggota komplotannya.
Sebelum resmi menjadi anggota, aku diwajibkan Dul Sanif untuk belajar beladiri dan ilmu kesaktian. Menjadi rampok adalah pekerjaan penuh resiko dan bahaya.
Setiap hari aku dilatih Dul Sanif berbagai macam jurus. Tangan, kaki dan tubuhku harus sekuat baja. Aku tidak puas hanya bisa mematahkan balok es, bata dan juga kikir.
Di suatu malam bulan purnama, Dul Sanif mengumpulkan semua murid-muridnya. Itu adalah malam yang menegangkan.
Di hadapan semua murid yang membentuk lingkaran, Dul Sanif menghadiahiku sebuah golok. Setelah itu aku diminta untuk membuka seluruh pakaian.
Ia seperti membaca mantra, mulutnya komat-kamit. Seluruh tubuhku basah oleh siraman air kembang. Setelah berganti pakaian serba hitam layaknya seragam jawara, Dul Sanif menepukkan tangan.
Sepuluh orang murid Dul Sanif bersiap-siap. Mereka akan bertarung denganku. Awalnya hanya tangan kosong, dan itu membuatku lebih lega. Aku bisa bertahan dari serangan-serangan mereka, bahkan sempat balas menyerang. Aku menang!
Dul Sanif menepukkan tangannya lagi. Sejurus kemudian golok-golok di pinggang mereka pun keluar dari sarangnya. Aku sering melihat golok, tapi tidak pernah terbayang memberikan tubuhku kepada golok.
Dul Sanif memberi aba-aba dan memerintahkan agar aku membaca mantra yang ia ajarkan. Saat mempelajari mantra kekebalan, aku sangat yakin tubuhku kebal dengan senjata tajam.
Namun, di hadapan sepuluh golok yang siap menghunus dan aku tidak boleh melawan, keyakinan itu seperti hilang tak berbekas.
__ADS_1
Aku sempat meminta agar uji coba kekebalan agar ditunda. Dul Sanif dengan suara menggelegar langsung berteriak. Bukan karena suaranya yang keras, tapi apa yang ia ucapkan seperti mengembalikan kesadaranku. "Apa kau lupa dengan keinginanmu untuk membalas dendam?"
Keyakinanku segera pulih. Sepuluh orang dengan golok yang telah siap ******* seluruh tubuhku pun tampaknya tahu bahwa aku sedang menunggu.
Dengan gerakan cepat, kuat, dan lincah, mereka ayunkan golok-golok itu menuju tubuhku. Leherku mereka tebas. Punggung dan perutku mereka tusuk. Kaki dan tanganku berusaha mereka potong-potong. Tidak terjadi apa-apa malam itu. Aku baik-baik saja. Tak ada luka, tak ada goresan. Tubuhku kebal. Horeee..! bathinku.
Setelah ujian selesai, besoknya aku pamit dan minta ijin kepada Dul Sanif untuk pulang ke rumah menemui kedua orangtuaku. Di hadapan ayah dan ibu aku memohon restu untuk meninggalkan rumah dalam waktu lama.
Mata ibu berkaca-kaca dan akhirnya tenggelam dalam tangisan. Ayah berkali-kali memintaku agar mengurungkan niat untuk pergi meninggalkan rumah. Aku nekat pergi. Tekadku bulat. Di mataku masih ada bayang-bayang Halimah yang begitu menyakitkan.
Sebagai komplotan rampok pimpinan Dul Sanif, wilayah operasiku adalah hotel berkelas di Jakarta. Suatu hari nasib naas membuat kami terberai. Ada salah seorang anggota berkhianat.
Saat polisi mengepung, aku dan Dul Sanif menyelamatkan diri masing-masing. Teriakan histeris para tamu hotel menambah kengerian hari itu.
Di luar sana, letusan suara pistol seperti menggiring kami masuk perangkap. Aku tak tahu bagaimana nasib Dul Sanif, aku sendiri sibuk mencari celah untuk melarikan diri. Saat mengintip dari jendela kamar hotel di lantai satu, dalam pikiranku hanya nekat meloncat.
Tak peduli dua orang polisi berjaga-jaga di luar sana. Seumur hidupku, itu pertamakalinya aku berkelahi dengan polisi.
Usahaku hampir saja sia-sia. Sekawanan polisi entah dari mana datangnya memergokiku saat berlari kencang menuju gang sempit.
Suara tembakan meletus lagi. Sekadar peluru, aku tak pernah takut menghadapinya. Dul Sanif telah mewariskan ilmu kesaktian agar kulitku kebal peluru.
Namun, keyakinanku runtuh saat ***** panas bersarang di kaki. ***** itu melesak ke dalam daging. Darah mengucur deras. Aku tak bisa melupakan bagaimana menghadapi rasa takut dan mautku saat itu.
__ADS_1