
SATU-PERSATU orang berdatangan ke ladang milik Jauhari untuk saling membantu membersihkan ladang yang baru saja terbakar. Bahkan Jauhari sendiri tidak tahu. Saat mendengar kabar itu dari Wijan, Jauhari langsung pamit kepada guru-guru untuk pergi ke ladang.
Para guru ternyata tidak tinggal diam, setelah menanyakan kepada Wijan, mereka akhirnya mengubah seluruh jam pelajaran menjadi kerja bakti bersama. Para guru meminta murid untuk pulang agar mengganti baju seragam mereka dengan pakaian bebas dan membawa berbagai macam peralatan.
Rupanya, meski Jauhari belum menyetujui rencana tersebut, orang-orang memilih untuk mengambil keputusan sendiri . Toh, mereka tidak mengharap apa-apa dari Jauhari. Seperti upah kerja, misalnya. Tidak sama sekali. Semua berangkat dari simpati dan empati.
Awalnya Kasiman, Memet dan Karjo sedang menuju ladang cengkeh Jauhari menggunakan sepeda. Mereka membawa peralatan masing-masing.
Selama perjalanan, mereka saling sapa satu dengan yang lain. Kenal atau tidak kenal, saling menyapa adalah hal lumrah di desa mereka.
Bermula dari sekadar basa-basi, mereka mcnceritakan sedang ingin membantu membersihkan ladang milik Jauhari. Tanpa disangka, cerita itu lantas menyebar luas. Masing-masing rela meninggalkan pekerjaan mereka.
Ada yang membawa cangkul, pupuk, bibit sayuran dan lain-lain.
Melihat kedatangan orang-orang, Mat Yusi sempat heran. Ia sempat berpikir orang-orang hendak mengusirnya.
Tak ayal, Mat Yusi pun bersiap diri jika mereka bertindak semena-mena. Namun, setelah mereka menjelaskan, Mat Yusi segera menyimpan senjata tajam yang sudah digenggamnya.
Satu-persatu mulai bekerja melanjutkan apa yang sudah dikerjakan Mat Yusi.
“Jangan ada yang menabur bibit dulu. Soal itu, biar Jauhari yang memutuskan. Kita hanya menyiapkan ladang sampai siap tanam saja,” ucap Memet menyarankan.
Usul itu langsung mereka terima. Sementara Jauhari tidak ada, mereka bekerja sesuai perintah Kasiman, Memet dan Karjo. Masing-masing ada yang mencangkul, membakar rumput, menyiapkan air minum dan makanan.
Meski Mat Yusi ada di situ, mereka hampir tidak saling bicara. Ada rasa enggan dan takut jika Mat Yusi menyimpan dendam gara-gara mereka mengadu kepada Jauhari kemarin.
Sementara itu, dari arah waduk, terlihat Jauhari dan Wijan tampak terburu-buru mengendari sepeda motor. Jauhari khawatir terjadi salah paham antara warga dengan Mat Yusi.
Melihat Jauhari datang, Memet langsung datang mendekat. Ia meminta maaf karena mengerjakan ladang tanpa menunggu persetujuan.
__ADS_1
Jauhari tak langsung menjawab. Ia mengawasi semua warga yang hadir dan mencari Mat Yusi. Setelah melihat semua baik-baik saja, tidak ada masalah di antara mereka, Jauhari lantas menanggapi ucapan Memet dengan meminta agar orang-orang berkumpul.
“Saya pribadi mengucapkan terimakasih atas kebaikan dan kepedulian kalian semua. Saya tahu kalian ingin membantu, dan saya meminta maaf karena belum mengambil keputusan apa pun. Saya sendiri belum memiliki kepastian rencana tentang ladang ini. Itu sebabnya saya memilih untuk diam,” Jauhari menjelaskan.
“Bagaimana kalau kita Tanami sayur saja?” saran Memet
“Kami sudah menyediakan bibit dan pupuknya. Jika kurang, akan kami tambah,” ucap warga lainnya.
“Sayur lebih cepat panen. Ladang ini bisa menanam berbagai macam jenis sayuran sekaligus,” pungkas Kasiman.
“Jika Mat Yusi pergi, aku siap merawatnya,” bisik Wijan ke telinga Jauhari.
Tadi malam, mereka berdua sudah mendengar langsung rencana Mat Yusi yang akan meninggalkan ladang.
Berkali-kali Jauhari meminta penjelasan, tapi Mat Yusi memilih diam. Bahkan, Mat Yusi sempat
meminta maaf atas kesalahannya tidak bisa menjaga ladang dan harus pergi bersama Yudha.
Mendengar tawaran Wijan akan mengelola ladangnya menggantikan Mat Yusi membuat Jauhari senang. Baginya, itu bisa mengobati kesedihannya ketika nanti Mat Yusi pergi.
“Kalau begitu, kau harus memberiku saran bagaimana ladang ini selanjutnya. Toh, kau juga yang akan melanjutkan nanti,” tantang Jauhari.
“Aku sepakat kalau ditanami sayur,” jawab Wijan tanpa keraguan. Ia pun langsung ikut berbaur bersama warga.
Saat asyik bekerja, dari jauh terdengar suara gaduh. Semua menoleh ke asal suara tersebut. Ternyata rombongan murid Jauhari bersama para guru berdatangan.
“Baguslah, kita punya tenaga tambahan,” ucap Wijan memberitahu Jauhari agar tidak perlu menegur para guru. “Hargai niat baik mereka. Anggap saja hari ini adalah hari menanam ladang nasional agar semua orang bergotong royong bekerja di ladang,” ucap Wijan bercanda.
“Sontoloyo. Mana ada hari menanam ladang nasional. Ya, sudah. Kamu ajak saja para murid itu membantu,” perintah Jauhari kepada Wijan.
__ADS_1
Setelah melihat semua masing-masing bekerja, Jauhari mendekati Mat Yusi dan mengajaknya berbicara.
“Kau lihat, mereka bahkan tak mengusikmu. Kapan pun jika kau ingin tinggal di sini, aku selalu terbuka untukmu. Jangan sungkan. Paling tidak, jenguklah kami di sini,” ucap Jauhari.
Mat Yusi hanya menganggukkan kepalanya. Namun, iaa tak ingin terbawa suasana sedih. Baginya, perpisahan adalah sesuatu yang teramat berat untuk dijalani.
“Aku ingin membantu mereka. Jadi, tempat ini akan menjadi ladang sayur, bukan?” tanya Mat Yusi memastikan.
“Wijan bersedia merawatnya. Bagaimana pun aku tetap memerlukan orang agar ladang berjalan normal.”
“Baguslah. Seharusnya dari dulu Wijan yang berada di tempat ini. ”
“Jangan salah paham. Wijan dan kamu sudah kuanggap seperti saudara sendiri.”
Mat Yusi menganggukan kepalanya lagi. “Terimakasih sudah menerimaku selama ini. Maaf jika akhirnya mengecewakan,” ucap Mat Yusi langsung membantu orang-orang yang sedang bekerja.
Di antara semua kesibukan warga desa di ladang Jauhari, ada beberapa murid yang sejak tadi sudah memisahkan diri mereka.
“Kita ambil dulu gerobak, mumpung bapakku sedang membantu Jauhari, jadi tidak terpakai,” ucap Sidik kepada teman-teman tim sepakbolanya.
Mereka semua sudah sepakat untuk membantu Sapri setelah diceritakan oleh Sidik dan Ikbal. Bahkan, mereka juga menceritakan keberhasilan mereka menipu anak buah Yudha. Cengkeh yang mereka jual justru dari ladang milik Yudha sendiri.
“Kalau begitu kita harus cepat. Sebagian ikut aku ke ladang cengkeh Yudha, sisanya ikut Sidik mengambil gerobak,” saran Ikbal.
Sapri benar-benar tak menyangka semua tim sepakbola, selain Zian, datang untuk membantunya. “Kalau semuanya kompak, aku yakin seratus karung cengkeh bisa kita dapatkan seharian dan semalaman ini,” ucap Sapri antusias.
“Urusan membakar ladang Yudha, kami sudah mempersiapkan semuanya,” ujar Ikbal memperlihatkan minyak tanah yang mereka bawa.
Sapri sangat senang mendengar persiapan mereka. “Kalau besok subuh kita bakar, berarti kita harus menyimpan dulu cengkeh yang kita panen. Anak buah Yudha pasti semua datang kemari dan gudang pembelian mereka ditutup,” ujar Sapri.
__ADS_1
“Tak masalah. Kita simpan saja dulu di semak-semak belakang sekolah. Di sana aman dan jarang orang melintas,” usul Ikbal yang langsung disetujui semuanya. Dengan begitu, mereka bisa mengawasi cengkeh hanya dari balik jendela kelas.