
TAK banyak hal yang bisa dilakukan Patra di malam hari. Sementara di luar sana kodok mulai memamerkan suaranya seolah ingin memerdukan malam.
Patra menarik sarung yang dipinjamkan Mat Yusi hingga menutupi pinggang. Setelah mengeluarkan beberapa buku pelajaran dari dalam tas, ia pura-pura membacanya.
"Ingat! Besok kau ulangan. Jangan sampai Mat Yusi curiga,” pesan Zian sore tadi ketika pergi meninggalkan gubuk.
Patra kemudian memerhatikan Mat Yusi sedang sibuk mencari sesuatu di tumpukan baju. Ia berharap buku yang dimaksud Zian ada di sana. Saat ini yang membuat Patra cemas adalah memastikan tempat buku itu disimpan. Zian sendiri bahkan tidak tahu.
Seisi ruangan telah diperhatikan Patra, ia tak ingin membuat kesalahan ketika mencari tempat buku itu disimpan. Semua barang yang akan disentuhnya harus kembali ke posisi semula.
Sementara menunggu kepergian Mat Yusi, tatapan Patra tertuju kepada celana sekolahnya yang menggantung di dinding. Ia teringat lipatan kertas tebal yang diberikan Sapri kepadanya tadi siang.
Diambilnya lipatan kertas itu dan membukanya perlahan. Beberapa lembar uang lima ribuan ada di dalamnya. Namun, perhatian Patra justru tertuju pada selembar kertas yang tertindih oleh uang-uang logam.
“Sebagian uang ini hasil dari kami patungan. Sisanya hasil penjualan lonceng sekolah. Setelah kau baca, sebaiknya robek segera.” bunyi pesan dalam kertas itu.
Cepat-cepat Patra melipat kertas kembali dan memasukkannya ke dalam tas sambil merobeknya. Ia tak mengira Sapri akan berbuat sejauh itu.
Meski sudah memutuskan keluar dari tim sepakbola, Patra tak bisa melupakan semua hari yang telah mereka lalui bersama.
Masih asyik melamun, terdengar suara motor mendekati gubuk. Mat Yusi memberi isyarat dengan menempelkan telunjuk jarinya ke mulut. Ia lalu mengambil samurai yang tergantung di dinding. Walau ia sedang menunggu Jauhari dan Sabran, malam selalu membuatnya waspada dengan segala kemungkinan.
Perlahan Mat Yusi membuka pintu. Patra mengikuti dari belakang. Sinar terang dari cahaya lampu motor di depan sana mengalahkan keremangan cahaya lampu teplok yang menggantung di pojok tiang penyangga atap.
Sambil melindungi matanya dari sorot lampu sepeda motor, Mat Yusi mengintip dari celah jari tangan. Tak lama kemudian terlihat Jauhari datang menyusul dengan berjalan kaki mengenakan sepatu bot.
"Hampir saja aku tercebur di waduk. Untung Sabran bisa menahan dengan kakinya," Jauhari langsung menceritakan kepada Mat Yusi saat ban sepeda motor yang mereka tumpangi tergelincir akibat lumpur.
"Kita sebaiknya masuk ke dalam dulu atau bagaimana?" tanya Mat Yusi menunggu keputusan.
"Kau masih di sini?" Jauhari heran melihat Patra masih berada di ladang.
Sabran mendadak gugup. “Aku lupa memberitahumu kalau Patra ada di sini dan Wijan sudah mengijinkannya.”
__ADS_1
"Kau ke rumah Wijan? Sebentar...aku ingin tahu kenapa Patra masih di sini?" selidik Jauhari memandangi Mat Yusi dan Sabran.
Patra sudah bisa menduga hal ini bakal terjadi. Jauhari tak mungkin membiarkannya tidur di pondok tanpa alasan. Seandainya menggunakn alasan yang sama seperti yang ia katakan kepada Mat Yusi dan Sabran, Jauhari bisa saja mencari tahu kebenarannya di sekolah besok hari.
Besok tidak ada ulangan dan rahasianya akan terbongkar. Patra terus berpikir. Kalau ia jujur semua ini rencana Zian, maka akibatnya jauh lebih buruk. Sudah ada tiga orang yang telah dibohongi. Orangtuanya, Mat Yusi dan Sabran.
"Emm...sebenarnya...eee...," Patra bingung harus mengatakan alasan apa kepada Jauhari.
"Dia bilang ingin konsentrasi belajar untuk menghadapi ulangan besok. Jadi dia ingin tidur di sini..." ucap Mat Yusi meneruskan.
"Ya, itu juga alasan kenapa aku memintakan ijin kepada Wijan!" sambung Sabran cepat.
"Benar itu alasannya, Patra?"
Sia-sia bagi Patra untuk memikirkan alasan lain. Ia hanya mengangguk. Satu-satunya harapan adalah agar Jauhari percaya dan tak memeriksa kebenarannya besok hari.
Jauhari lantas menyerahkan bungkusan plastik berisi makanan kepada Patra. "Simpan saja dulu di dalam," pinta Jauhari. Ia kemudian memberi isyarat agar Mat Yusi dan Sabran mengikuti langkahnya menjauh dari gubuk.
"Sepertinya Wijan sudah berubah. Beberapa hari lalu ia menentang Patra bekerja di ladang. Namun, sekarang ia mengijinkan Patra menginap di sini," ucap Jauhari.
"Itu pertanda baik. Aku tidak pernah sebahagia ini sebelumnya. Wijan melunak, dan sekarang Yudha mengajak kita berdamai. Perlu diingat kalau semua ini…” Jauhari berhenti sebentar dan sengaja tak ingin memandang ke arah Mat Yusi, “Itu terjadi bukan karena kekerasan,” sebut Jauhari tertawa bermaksud menyindir Mat Yusi.
"Kalau begitu apalagi yang kalian tunggu?" tanya Mat Yusi tak peduli.
"Seperti kataku, tanpa kekerasan. Aku tidak ingin kau membawa samurai," tegur Jauhari.
Tanpa berlarut-larut, Mat Yusi memenuhi keinginan Jauhari. Meski berat hati, ia segera mengembalikan samurai ke dalam gubuk. Dilihatnya Patra sedang membolak-balik buku pelajaran. Setelah berpikir sebentar, ia kemudian diam-diam menyelipkan trisula ke balik baju.
"Kami harus pergi sekarang. Kunci saja pintunya," pinta Mat Yusi berjalan ke arah pintu.
"Sampai jam berapa?" susul Patra sambil meangunyah pisang goreng yang tadi di bawa Jauhari.
"Mmm...begini saja. Kalau kau mendengar suara orang batuk, itu pertanda aku sudah pulang," pesan Mat Yusi sedikit khawatir meninggalkan Patra sendirian.
__ADS_1
Patra masih berdiri di depan pintu hingga cahaya lampu sepeda motor semakin menjauh. Ia pandangi sekeliling gubuk, gelap gulita. Bulu kuduknya langsung merinding. Namun, kesempatan yang ditunggu-tunggunya sejak tadi, akhirnya datang juga. Tidak sabar Patra segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
Dengan ruangan yang hanya selebar 2,5 meter, seharusnya Patra mudah menemukan buku yang dimaksud Zian. Namun Mat Yusi meletakkan barang-barang miliknya dengan sekadar hanya menumpuk tanpa menyusunnya.
Patra terlihat sibuk mengurut satu persatu barang-barang yang baru saja dipindahkan lalu mengembalikannya kembali. Ada satu tas yang tergantung di bagian atas, namun setelah memeriksanya, hanya ada beberapa pakaian dan jam tangan yang sepertinya sengaja dipisahkan oleh Mat Yusi.
Perlahan Patra membuka kardus mie instan. Ternyata juga berisi pakaian. Ia baru menyadari kalau saat ini Mat Yusi lebih membutuhkan lemari pakaian ketimbang senjata tajam.
Setelah memeriksa setiap sela-sela baju, Patra masih belum menemukan buku yang dicarinya. Zian benar, buku itu pasti penting sehingga Mat Yusi menyimpannya di tempat yang sulit ditemukan, pikir Patra sambil memandangi seisi ruangan.
Ia berusaha mencari tempat-tempat rahasia. Meraba-raba dinding papan yang dilapisi kertas koran, bahkan mengetuk-ngetuk lantai terbuat dari papan yang hanya ditutup dengan tikar.
Perasaan bingung membuat Patra memilih untuk kembali duduk dan mencomot pisang goreng. Ia teringat saat memakan pisang goreng yang dihidangkan Putri beberapa hari lalu. Ramah dan suka bercanda, itulah dua kata tentang Putri yang membuat perasaanya meledak-ledak.
Sambil membayangkan Putri, ia usap bekas lecet di tumitnya. Masih ada nyeri di sana. Sakit yang berusaha ia tahan sekuat tenaga saat berjalan membelakangi Putri dan ibunya.
Ia lantas berdiri dan memeriksa kotak P3K yang tergantung di deretan senjata tajam. Saat ingin meletakkan kotak yang isinya cukup lengkap itu di lantai, Patra penasaran dengan lapisan koran yang tadi tertutup kotak P3K.
Koran itu memiliki sobekan secara vertikal dan dilakukan dengan rapi. Patra semakin bertambah penasaran karena sobekan itu memiliki tinggi sama persis dengan kotak P3K.
Patra segera mendekatkan lampu petromak sambil mengintip di balik sobekan koran. Ia seperti ingin berteriak kegirangan dengan apa yang baru saja ditemukannya.
Sapri memasukkan telapak tangannya dan meraih buku yang terselip di dalam sana. Seperti diminta Zian, Patra segera menyiapkan buku catatan untuk menyalin isi buku yang baru saja ditemukan.
Diterangi cahaya lampu petromak, Patra membuka sampul buku itu. Ia baca halaman demi halaman dan akhirnya terkejut setengah tak percaya. Ia kembali menoleh dinding tempat buku itu di simpan. Sudah tiga kali ia memastikan tak ada buku lain di sana.
Awalnya Patra kecewa karena isi buku itu tak seperti yang disangka oleh Zian. Namun setiap baris kalimat yang tadi sempat dibacanya justru menyisakan rasa penasaran.
Ia baca buku itu kembali. Patra belum menyadari, membaca buku itu seperti sedang mengintip seseorang dari lubang kunci.
Di depan sana ada lorong pengap, dindingnya memantulkan suara jerit kesakitan. Semakin tiap lembaran buku itu dibuka, Patra seperti membuka pintu perlahan, masuk ke dalam lorong dan berusaha mengenali lelaki yang sedang meringkuk dengan tubuh penuh luka.
Dengan cahaya lampu seadanya, tiap-tiap kalimat dibaca oleh Patra dengan bantuan telunjuk jari menyentuh kertas. Telunjuknya seakan-akan menyusuri bagian tubuh yang memar dan sobekan luka.
__ADS_1
Suasana mencekam menyelimuti jiwa Patra. Saat ini satu-satunya yang ingin ia lakukan adalah membaca seluruh isi buku itu.